
Kebetulan ketika kedua sepasang sejoli ini tidak pergi ke kampus karena Zea yang jadwal matkulnya di undur nanti sore dan Shaka yang tidak ada jadwal mengajar di pagi hari.
Jadinya membuat kedua sepasang suami istri itu dengan leluasa bermesra mesraan di atas sofa ruang tamu.
Shaka yang menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Zea sedangkan istrinya memeluk erat pundak Shaka dan ia tempelkan pipinya pada rambut suaminya.
Zea anteng menonton drakor dan Shaka yang masih sedikit mengantuk karena tidurnya katanya kurang akhirnya memilih mendusel ke leher istrinya untuk sekedar memejamkan mata di sana.
Keduanya sama-sama tak bersuara dan hanya terdengar suara dari film yang Zea tonton.
Zea yang tak mendapat pergerakan dari suaminya pun perlahan melepas pelukannya dan melirik ke arah Shaka yang ternyata memejamkan mata dengan hembusan nafas beraturan.
Ternyata pria itu ketiduran, kemudian dia menatap jam di dinding, sekarang masih pukul delapan pagi Shaka dan dirinya belum sempat sarapan pagi karena Zea yang tidak di perbolehkan Shaka masak.
Katanya ngga mau jauh-jauh dari istrinya.
Kemudian Zea hendak melepas tangan Shaka dari lehernya, namun sayangnya Shaka yang ternyata tidak sepenuhnya tidur itu pun menahan lengannya di leher Zea.
“Kakk, aku mau masak. Kita belum sarapan lho dari tadi.” Bisiknya pelan tepat di telinga Shaka.
Pria itu mengerjapkan matanya lucu, lalu mendongak guna menatap istrinya yang juga sedang menatap ke arahnya intens.
“Kamu aja aku makan gimana.” Zea mendengus lalu berhasil melepaskan kedua tangan Shaka yang melilit lehernya.
“Mesti aneh-aneh, heran aku tuh sama kakak.” Shaka beralih menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa dan mendongak menatap istrinya yang sudah berdiri menatapnya.
Ia terkekeh kecil mendengar ucapan Zea. “Aneh dari mana sayang, aku ini ngode loh.”
Zea memutar bola matanya malas dan memilih berjalan ke arah dapur dengan kedua telinga ia tutup rapat-rapat, malas mendengar ocehan Shaka tentang kode-kode. Yang tau-taunya pria itu meminta buat anak, sudahlah Zea sudah hafal.
Shaka lagi-lagi terkekeh, dia hafal betul tentang gestur istrinya kalau lagi salting, ya begitu.
Kemudian dia kembali menolehkan kepalanya. Dia melirik ke arah tv yang menyala, dan melihat drakor yang tadi di tonton istrinya itu. Lalu dirinya berdecak.
“Yang di tonton selalu genre romance, tapi giliran di romantisin malah ngacir, dasar istriku.” Dengus Shaka, namun beberapa detik kemudian dia tertawa kecil karena mengingat kemarin dirinya yang berhasil menggoda Zea berkali-kali.
Sedangkan dari arah dapur baru saja Zea hendak megiris wortel, namun gerakan tangannya berhenti ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi.
Zea pun kembali meletakkan pisaunya dan berjalan hendak membukakan pintu, namun tangannya segera di cekal oleh Shaka ketika dirinya hampir sampai di pintu. Pria itu menariknya dengan lembut mendekatinya.
“Biar aku saja yang bukain, kamu lanjutin masak aja.”
“Ngga apa-apa aku aja kak yang bukain, kakak balik nonton tv aja.”
Shaka menipiskan bibirnya karena Zea tak mau menurut, bukan masalah siapa yang datang ke rumahnya, tapi masalahnya adalah, pakaian yang Zea pakai saat ini seksi sekali. Baju crop lengan panjang nerawang yang memperlihatkan **********.
Shaka tidak mau keindahan tubuh istrinya terlihat oleh mata laki-laki lain.
Namun ketika keduanya beradu argumen di depan pintu, tiba-tiba suara seseorang memecahkan argumen keduanya.
“Shakaa, Zeaaa, yuhuu, ini mamiii kalian di rumah kahh?” Zea yang medengar itu sontak menjulurkan lidahnya ke depan Shaka.
“Iya mi bentarr. Mami, biar aku aja yang buka.” Putus Zea dan diangguki Shaka.
Zea pun membukakan pintu, setelah pintu itu terbuka lebar, seorang wanita paruh baya yaitu mami Shaka yang semula berdiri hendak kembali memencet bel pun langsung tersenyum sumringah ketika pintu dibukakan oleh Zea.
__ADS_1
Sontak wanita paruh baya itu menubrukkan tubuhnya memeluk Zea. Zea yang belum siap mendapat serangan itu hampir jatuh ke belakang, namun dengan sigap tangan Shaka menahan tubuh belakang istrinya.
“Anak mami yang cantik,” sorak mami Shaka setelah memeluk Zea dan mengelus rambut panjang Zea dengan sayang.
“Apa kabar sayang, ya ampun kangen banget mami sama kamu.” Shaka di belakang mendengus, padahal yang anaknya ini dia loh, tapi yang paling disayang mantunya.
“Oh, Zea kabarnya baik kok mi. Kak Shaka jagain aku terus, hehe.” Mami Shaka menatap ke arah anaknya sebentar lalu kembali menatap Zea.
“Ohya, bagus kalau begitu. Dia ngga ada apa apain kamu kan, nak?” Shaka medengus lagi.
“Ngga ada mi,” jawab Zea jujur, mami pun mengangguk.
“Tapi di apa apain pun gapapa kok, kan udah halal.” Mami Shaka lantas cengegesan sendiri.
Zea melirik ke arah Shaka yang berdiri tepat di belakang tubuhnya, lalu Shaka menggeleng kecil menatap Zea.
“Mami ngapain ke sini?” mami Shaka sontak menghentikan cengengesannya dan menatap datar anaknya.
“Kamu ngga lihat mami lagi temu kangen sama menantu mami, sama ini lho bawain makanan kesukaan kamu.”
“Kenapa ngga kabarin dulu mi, tau begitu Zea juga bakal masakin buat mami.” Jawab Zea tak enak hati.
“Engga papa sayang. Kemarin mami udah telepon suamimu mau ngabarin kalau mau ke sini besok tapi ngga tau kenapa buru-buru di matiin, padahal mami pengen ngobrol juga sama kamu.” Mata Zea melirik ke arah Shaka yang beraut datar padahal dia sedang berhadapan dengan maminya loh.
Kemudian pria itu menjawab, “mau godain dia biar dikira aku lagi telponan sama cewek lain mi.” Jawab Shaka kelewat santai hingga membuat mami menggeleng kecil karena tingkah anaknya, sedangkan Zea sudah melototkan matanya tak percaya.
Jadi kemarin itu Shaka sedang telponan sama maminya.
“Suamimu nih suka iseng, omelin sana, mami mau masuk dulu yaa.” Zea masih mengangakan mulut mendengar jawaban Shaka.
“Maaf ya.” Zea mencubit kesal perut suaminya. Namun Shaka malah terkekeh dan mencium puncak kepala Zea gemas.
***
Keesokan harinya. Shaka baru saja turun ke lantai bawah dengan setelan rapi dengan kemeja berwarna putih yang lengannya di tekuk hingga sebatas siku serta di padukan dengan celana hitam.
Pria itu membawa sebuah tas berisi berkas-berkasnya, saat sudah sampai di bawah, dia menyempatkan diri untuk mendekati istrinya yang masih berkutat di dapur untuk membersihkan piring-piring kotor bekas sarapan tadi.
Zea masih belum menyadari jika Shaka sudah berdiri di belakangnya, gadis itu terlalu fokus mencuci piring, hingga akhirnya ia terkejut ketika sebuah tangan kekar suaminya memeluk pundaknya dari belakang.
“Astaga kak Shaka ih, ngagetin.” Dengus istrinya.
Kemudian gadis itu membasuh tangannya setelah selesai mencuci piring lalu mengelapnya ke tisu.
Kemudian dia membalikkan badan guna berhadapan dengan suaminya. Shaka mengganti posisi tangannya berganti meletakkannya di pinggang Zea dan yang satunya menenteng tas kerjanya.
“Aku mau berangkat ngajar dulu ya.” Zea mengangguk, dia diam-diam memperhatikan tampilan Shaka dengan detail. Nampak ada yang berbeda. Kemarin pria itu membuat rambutnya hair up. Dan sekarang pria itu menyisirnya menjadi belah tengah.
“Kakak ganti model rambut begini makin ganteng.” Shaka terkekeh.
“Repot ya kalau jadi orang ganteng, di apa-apain pun tetep ganteng, jadi boleh nih aku pakai model begini?” Zea langsung tersadar dari lamunannya ketika pria itu bertanya.
“Lho gapapa kok kak, terserah kakak aja.” Jawab Zea.
“No problem? Yakin nih?”
__ADS_1
“Yakin lah kak, kan itu rambut kakak ngapain nanya aku.”
“Kan kemarin lusa kamu ngga ngebolehin aku terlalu ganteng sayang, biar aku ngga di lirik yang lain gitu kan kata kamu.” Zea memejamkan mata sebentar, oh iya dirinya lupa.
“Engga apa-apa, memangnya mau dibuat apapun kakak juga tetep ganteng kan. Aku salah nyalahin kakak, seharusnya kemarin itu yang aku salahin mereka yang natap kakak kegenitan.” Shaka mengambil tangan Zea untuk ia kecup.
“Gemes banget istri Shaka. Makin ngga rela deh kalo di tinggal kerja.” Zea mendengus.
“Nanti juga ketemu di kampus.”
“Lama, kan kamu ada matkulnya siang sayang.”
“Yaudah nanti datangnya cepetan biar kak Shaka ngga makin rindu aku.” Shaka tertawa puas mendengar jawaban polos istrinya. Lucu sekali pokoknya, Shaka sampai mendekatkan wajah istrinya menuju dadanya dan ia peluk erat tubuh mungil istrinya.
“Pokoknya cuman Zea Anindita yang bisa bikin hati aku kacau begini.”
***
Seperti ucapannya tadi pagi kepada Shaka, kini Zea berangkat satu jam lebih awal dari jam matkulnya. Dia baru saja keluar dari grab car dan berjalan menuju fakultasnya berada.
Sembari berjalan dia mengetikkan pesan kepada suaminya jika dia sudah berada di kampus.
Ketika dia sudah menyimpan ponselnya ke dalam tasnya, Zea melongakkan kepalanya dan dikejutkan dengan tubuh Kana yang tiba-tiba datang dan berdiri di depannya.
Gadis itu menghalang jalannya dengan ekspresi seperti habis menemukan harta karun.
Zea melirik wajah Kana lalu bertanya, “lo kok udah di sini? Jam matkul masih kurang satu jam lagi kan.” Kana mengangguk, lalu dirinya teringat.
“Lah elo juga di sini sekarang ngapain?” habis sudah Zea, dirinya kelagapan sendiri karena pertanyaannya jadi putar balik ke dirinya.
“Oh ituu, karena gue, gue bosen di rumah jadinya gue berniat berangkat lebih awal hehe.” Kana lantas mengangguk tak menaruh curiga sama sekali.
“Lo harus tau kenapa gue bisa ada di sini sekarang.” Sosor Kana secara tiba-tiba hingga membuat Zea terkejut dengan reaksi tak terduga Kana.
“Agak ngga peduli sih ya kalo lo di sini atau engga sekarang, tapi kalo itu ada hubungannya sama berita penting okelah gue mau denger beritanya aja.” Dasar ya mulut Zea ini.
“Untung gue udah kenal lo orangnya gimana.” Zea memutar bola matanya.
“Jadi ngga sih lo.”
“Jadi, ih iya sabar kali. Masih ngatur kata-kata ini.” Zea mendengus sebal, padahal dia ini mau menemui Shaka. Malah waktunya terbuang sia-sia karena Kana.
“Pak Shaka.” Telinga Zea dengan tajam medengar nama itu disebutkan oleh Kana.
Ini berita apa sih, plis deh jangan buat hatinya amburadul.
“Pak Shaka, terkena rumor.” Mata Zea perlahan melirik Kana yang berbisik lirih sekali mendekati telinganya.
“Rumor? Beliau ada masalah?” Kana menggeleng.
“Bukan yang kayak gitu, tapi rumor dekat dengan dosen perempuan.” Jleg, hatinya langsung merasa gundah gulana mendengar ucapan Kana barusan. Entah mengapa dirinya yang mudah overthingking jadi membayangkan kejadian yang tidak-tidak.
Dia melirik Kana, menatap gadis itu intens. Takut jika sahabatnya ini hanya membual. Tapi ketika Kana menunjukkan sebuah base lambe turah kampus dari ponselnya. Mata Zea sontak membulat sempurna, tentu saja dengan hatinya yang berhasil dibuat bergemuruh melihat foto itu dengan caption di atasnya.
...***...
__ADS_1