
Semenjak tiga menit yang lalu setelah Kana memberitahu tentang rumor Shaka, Zea mencoba untuk menelepon Shaka, beberapa kali juga ia mencoba mengirim pesan kepada suaminya, namun hingga sekarang belum pria itu jawab sama sekali.
Meski sudah sangat jelas foto yang ditunjukkan Kana tadi, yaitu pak Shaka yang tengah berduaan dengan dosen perempuan sepantaran Shaka. Entah mengapa Zea masih ingin berpositif thingking.
Ia tidak mau menyalahkan suaminya begitu saja, jika ini hanya salah paham.
Namun, panggilan telepon yang ke lima pun tidak diangkat dengan pria itu. Semakin ke sini ia semakin merasa was-was.
“Kak Shaka kemana sih.” Zea berjalan di belakang Kana, sedangkan gadis yang menjadi segala sumber informasinya itu masih sibuk bermain ponselnya. Mungkin gadis itu sibuk mengetik komentar untuk berita tentang Shaka.
Zea menjadi khawatir, jika berita itu benar bagaimana. Meskipun Shaka adalah seorang dosen, tak jarang Zea mendengar mahasiswi-mahasiswi termasuk Kana terkadang tengah membicarakan Shaka secara terang-terangan di depannya.
Apalagi jika tengah memuji ketampanan pria itu sebenarnya Zea ingin sekali merujak mulut mereka. Bisa-bisanya memuji suaminya di depannya. Tapi bagaimana pun juga, ini juga kesalahannya karena menyuruh Shaka untuk menyembunyikan status keduanya.
Dengan alasan Zea yang masih belum siap mempublish hubungan keduanya ke teman-temannya.
Kana dan Zea menuju kantin fakultasnya, sembari berjalan Zea beberapa kali masih mencoba mengirim pesan kepada pria itu.
Hingga ia spam hampir ratusan, namun tidak ada satupun yang dibaca dan hanya centang.
Padahal sesibuk-sibuknya Shaka, biasanya pria itu menyempatkan diri untuk membalas pesan Zea, meski hanya berupa jawaban singkat.
Zea sampai pada sebuah meja dan lekas duduk di kursi, ia dan Kana memilih kantin untuk mereka menunggu jam matkul mereka.
Zea hampir merasa seperti orang frustasi karena tidak ada satupun chat yang dibalas Shaka. Kemudian daripada benar-benar frustasi, lebih baik ia matikan saja data ponselnya dan ia simpan ke dalam tas ponselnya.
“Lo mau makan dulu ngga?” Zea menoleh menatap Kana, kemudian dia menggeleng.
“Lagi kurang mood.” Kana mengernyit.
“Lah cepet banget mood lo berubah. Perasaan tadi lo kelihatan fine-fine aja deh,” ujar Kana. Zea memutar bola matanya malas.
“Gara-gara lo ini.” Kedua mata Kana melotot lebar, lah kok jadi dia yang di salahin.
“Kok jadi gue sih,”
“Kalo lo ngga,” ucapan Zea terhenti ketika ia hampir keceplosan mengucapkan. Kalo lo ngga nunjukkin berita pak Shaka gue bakalan kelihatan fine sampai saat ini.
Namun ia hanya bisa meneruskannya dalam hati, karena tidak mungkin ia mengungkapkan perkataannya.
“Apa? Kok diem.” Zea menatap Kana, lalu gadis itu menggeleng.
“Ngga jadi. Pokoknya gue ngga mood, jadi jangan ajak gue bicara dulu.” Putus Zea lalu meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya, sembari menatap ke arah pintu masuk kantin.
Karena hatinya masih merasa tidak tenang padahal dia sudah berusaha mengalihkan pikirannya. Namun dia masih butuh bukti untuk menyangkal berita Shaka tadi.
Ia ingin membuktikannya langsung. Saat Kana asik makan karena gadis itu sudah pesan makanan tadi, tiba-tiba dirinya terkejut dan hampir menyemburkan es nya karena Zea yang berdiri secara tiba-tiba dan menyenggol meja di depannya.
“Santai kak, untung makanan aing selamat.” Ujar Kana dengan mengelus dadanya sabar.
“Eh, mau kemana lo.” seru Kana ketika melihat Zea sudah melangkah pergi.
“TOILET!” jawab Zea dengan berteriak karena gadis itu yang sudah berada di depan pintu keluar.
Zea sudah keluar kantin, dan tujuan dirinya adalah ingin mencari Shaka. Entah di mana pria itu, ia harus mencarinya meski mengelilingi fakultasnya sekalipun.
Berkali-kali kepala gadis itu celingukan, saat ini dirinya sudah berada di lantai dua, dia akan mencari Shaka di sini karena di lantai satu tadi, ia tidak menemukan batang hidung pria itu sama sekali.
__ADS_1
Kebetulan juga di lantai dua ini ada ruangan Shaka, ia pun berjalan untuk mencari Shaka di sana, siapa tau pria itu ada di sana.
Namun ketika sampai di depan ruangan Shaka dan Zea membuka pintu ruangan Shaka lalu menyembulkan kepalannya ke dalam. Ternyata ruangan pria itu sepi.
Kemudian langkah gadis itu membawanya menuju ke taman yang terletak di tengah-tengah koridor, dia berjalan menuju ke sana.
Hingga akhirnya presensi Shaka bisa terlihat oleh matanya, senyum Zea terukir sesaat sebelum akhirnya menjadi redup ketika ia melihat dengan jelas jika di depan suaminya ada dosen perempuan itu yang tadi fotonya di tunjukkan Kana.
Posisi keduanya masih sama seperti terakhir kali di foto.
“Kak S-shaka?” lirih Zea, ia sudah hampir sampai ke sana, namun pergerakannya urung ketika dia melihat pemandangan itu.
Zea memilih menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat oleh Shaka. Dia bisa melihat dengan jelas jika pria itu sedang berbincang ringan dengan dosen itu, pula dengan wajah dinginnya yang berubah sumringah ketika bersama dosen itu.
“Jadi ini yang bikin kakak ngga jawab chat aku.” Hatinya merasa sudah di khianati oleh Shaka.
“Aku dari tadi nyariin kakak. Kak Shaka malah asik berduaan dengan dosen itu.” Tidak tau kenapa setelah melihat pemandangan menyakitkan di depannya, Zea menjadi malas harus berpositif thingking lagi.
Dirinya merasa benar-benar seperti di khianati oleh lelaki itu. Setelah melihat itu Zea sontak segera pergi dari sana, dia meremat erat peganggan tas ranselnya sembari beberapa kali menahan air matanya yang sudah mau keluar.
Sedangkan di balik tembok lain, ada seseorang yang melihat tingkah aneh Zea sedari tadi. Dirinya semakin yakin, jika gadis itu memang seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Ngga salah kalo gue berangkat satu jam lebih awal.”
***
Sudah selesai dengan matkul dan waktunya pulang. Zea Anindita, gadis itu beranjak berdiri dan niatnya ingin langsung pulang.
Dia tidak akan pulang dengan Shaka, karena gadis itu sudah memesan ojek online.
Dan tanpa babibu lagi, Zea segera menaiki ojol tersebut.
Sebelumnya dia melihat Shaka yang melambai ke arahnya dari arah parkiran fakultasnya, namun karena mengingat kejadian tadi sekarang rasa semangat Zea benar-benar hilang begitu saja melihat presensi pria itu.
Dirinya memilih langsung memasang helm dan tidak mau repot-repot menoleh ke arah Shaka.
Sedangkan dari posisi Shaka sekarang, pria itu terlihat kelimpungan dengan perubahan Zea tadi. Jika biasanya dengan riang gadis itu menghampirinya, sekarang boro-boro, dia pulang saja naik ojol tidak mau dengannya.
Padahal biasanya Zea hanya mau pulang dengan Shaka.
“Ck, pasti gara-gara berita itu.” Jika dipikir pria itu tidak mengetahui rumor itu, maka salah, pria itu dengan jelas tau rumor apa yang menimpanya tadi.
Namun ketika dirinya berhasil menghidupkan kembali ponselnya setelah sempat mati tadi, kedua mata Shaka tiba-tiba membola.
“Ck, pantes.” Pasti sekarang gadisnya benar-benar marah dan salah paham. Apalagi ketika dia baru tahu jika istrinya berulang kali mengiriminya pesan dan memanggilnya berkali-kali. Bodoh sekali dirinya.
***
Zea sudah sampai di depan rumahnya, dia juga sudah turun dari atas motor dan memberikan helm ke pak ojolnya. Lalu dirinya mengambilkan uang dan ia serahkan kepada ojol tersebut.
Setelah selesai, kini Zea mulai masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Dia sudah masuk ke dalam rumah, kemudian ia membuang begitu saja tas ranselnya dan ia merebahkan tubuhnya yang pegal ke atas sofa yang empuk itu.
Sembari memejamkan matanya yang panas karena sempat menangis tadi.
Kemudian gadis itu kembali membuka matanya saat mendengar suara mesin mobil Shaka sudah sampai dan cowok itu parkir di garasi. Zea sedikit mengintip melalui jendela.
__ADS_1
Namun karena dia benar-benar sedang malas bertatap muka dengan Shaka, dirinya memilih untuk pergi dan mengambil tasnya yang semula ia taruh di atas sofa.
Dia membawa tasnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman.
Saat ia mendengar suara pintu terbuka dengan cepat ia hendak berlari menaiki atas tangga, namun gerakannya yang sudah terbaca oleh Shaka segera pria itu tahan.
Dia merangkul erat Zea ketika gadis itu berusaha untuk melepas pelukannya.
“Sayang, kamu marah?” Tanya Shaka lembut. Zea yang sudah lelah karena tenaga suaminya lebih kuat darinya pun berhenti dan hanya bisa mendengus.
Shaka yang sudah melihat istrinya mulai diam pun menarik sudut bibirnya ke atas. “Sayang, kamu marah ya sama aku?” bibir mungil istrinya berdecak.
“Menurut kakak.” Sudah tau, tidak perlu lagi di jelaskan jika gadisnya ini benar-benar marah dengannya.
Kemudian Shaka melonggarkan pelukannya dan membalik tubuh gadisnya agar berhadapan dengannya.
“Coba cerita apa yang bikin kamu marah ke aku.” Mata Zea melirik sinis ke arah Shaka dan lagi-lagi gadisnya berdecak.
“Menurut kakak.” Balasnya tetap sama. Shaka kemudian memilih mengambil kedua tangan istrinya untuk ia genggam di bawah.
“Okey, aku salah, maaf karena ngga bales chat dari kamu. Alasannya karena batrai aku tadi habis dan tiba-tiba mati.” Mata Zea melirik ke arah Shaka. Tidak percaya.
“Minggir, aku mau ke kamar.”
“Ayo, barengan aja kalau gitu.” Zea melepas kasar tangan suaminya.
“Jangan ikut-ikut.” Shaka sudah kebingungan melihat Zea nya benar-benar marah menatap dirinya.
“Sayanggg.” Saat Zea sudah berjalan menaiki tangga dan Shaka yang hanya memperhatikan istrinya dari bawah dengan wajah sudah sangat melas.
Zea kembali melirik ke belakang lalu melihat Shaka menundukkan kepalanya, “ck.” Dia tidak tega, kemudian dia berbalik arah dan memilih menghampiri Shaka.
“Kakak itu harusnya peka, aku bela-belain berangkat lebih awal dari jam matkul dan udah aku spam in chat sampai aku teleponin tapi ngga diangkat sama sekali, tau-taunya malah berduaan sama dosen perempuan. Di depan mata aku lagi.” Kepala Shaka kembali mendongak.
“Ngga cuman itu, emang boleh kakak senyum ramah ke depan dosen perempuan itu kayak gitu. Aku yang lihat cemburu lho kak. Kakak mana paham sama yang aku rasain. Mana pas dapat rumor itu, kakak ngga ada hubungin aku sama sekali.
“Capek aku kak dibuat overthingking seharian.” Shaka menarik kedua sudut bibirnya, dirinya berhasil membuat Zea mengeluarkan seluruh uneg-unegnya tanpa ia minta lagi.
Kemudian Shaka kembali mendekati Zea, karena posisi gadis itu berdiri di tangga pertama.
“Udah puas ngeluarin uneg-unegnya? Atau masih ada lagi?” kedua mata Zea sontak melotot lebar.
“Kak shak—“ dan dengan cepat, Shaka membungkam bibir istrinya dengan bibirnya.
“Itulah mengapa aku suruh kamu ngeluarin uneg-uneg kamu. Udah kan? Kalo udah aku jawab, iya aku emang ngga sempet bales chatkehabisan batrai. Kedua aku ngobrol sama dosen perempuan itu untuk membahas hal penting seputar kuliahan sayang.
“Dan juga aku ramah ke dia alasannya adalah dia itu teman aku dari masa Sma. Masih ngga percaya? Gapapa, kamu ngga harus percaya sama ucapan aku. Tapi maafin aku ya, udah buat kamu overthingking seharian.
“Pasti capek.”
Tau bagaimana reaksi Zea? Tentu saja gadis itu sudah menangis dengan air mata megalir deras mendengar setiap ucapan Shaka. Itu berarti dirinya sudah salah paham.
“Kak Shaka, maafin aku juga udah nyalahin kakak lagi.” Dia kemudian menubrukkan tubuhnya dan memeluk erat Shaka. Pria itu tersenyum dan mengelus lembut rambut istrinya.
“No problem sayang, selagi kamu mau dengar penjelasan aku. Jangan marah lagi ya. Aku sayang sama kamu.”
...*** ...
__ADS_1