
...Selamat membaca…
...
...***
...
Sepulangnya dari kampus, kedua sejoli yang sekarang ini tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Shaka yang disibukkan di depan laptopnya dan Zea yang sibuk membuat adonan roti untuk mengisi waktu gabutnya sepulang kuliah.
Gadis dengan sweater berwarna coklat di atas lutut yang saat ini masih mengaduk adonan setelah ia campurkan seluruh bahannya. Ia ingin membuat roti bolu kukus pandan.
Dia sedikit menuangkan pewarna hijau ke dalamnya setelah mengaduk adonan dengan rata. Dan mengaduknya kembali hingga perlahan adonan berubah berwarna hijau.
Zea tersenyum kecil ketika adonan nya sangat kalis dan bagus, ia merasa senang jika adonan yang ia buat bisa berhasil seperti ini.
Kemudian Zea segera menuangkan adonan itu ke dalam cetakan dan memasukkannya ke dalam oven kukus.
Sembari menunggu adonan roti nya jadi, Zea kemudian menghampiri tempat Shaka bekerja. Pria itu mengerjakan berkas mahasiswa di ruang tamu dengan kedua alis menyatu di depan laptopnya. Sesekali mengucek matanya karena merasa lelah.
Zea tersenyum kecil melihatnya, kemudian dia meletakkan secangkir teh hangat kedepan meja Shaka yang sempat ia buatkan setelah memasukkan adonan ke oven tadi.
“Kak Shaka..”
Shaka menoleh dan menatap kearah Zea yang terlihat cantik dengan balutan dress di atas lutut berwarna coklatnya, pula dengan rambut di cepol ke atas hingga memperlihatkan leher jenjang gadis itu.
“Udah selesai?” Tanya Shaka dan mengambil gelas berisi teh hangat di depannya.
“Belum kak, masih di oven.” Shaka hanya mengangguk. Lalu ia kembali focus pada laptopnya.Zea menatap wajah Shaka dari samping, dia berjongkok dengan kedua siku menumpu pada lantai dan tangan yang ia letakkan di atas meja untuk peganggan.
Diam-diam Zea tersenyum kecil melihat bagaimana suaminya itu bekerja dengan serius.
“Kak,” Shaka kembali menoleh, kali ini ia meletakkan berkas yang semula ia pegang. Pria itu menyuruh Zea untuk duduk di atasnya, menepuk dua kali pahanya.
Namun Zea menggeleng, dia tidak ingin menganggu Shaka. Dia hanya ingin memanggil pria itu saja.
“Ada apa sayang..”
Melihat Zea hanya diam sembari mengamati seluruh wajahnya membuat Shaka sedikit khawatir jika gadis itu memikirkan hal yang tidak-tidak, “are you okay?” Tanya Shaka meraih tangan Zea di meja dan berganti menautkannya ke jarinya.
Zea yang menyadari tangannya sudah berada di genggaman Shaka sontak perlahan mendekati pria itu, “aku gapapa kak. Aku lagi pengen diem aja, sambil melihat ciptaan Tuhan yang sangat sempurna ini.”
Hal itu perlahan membuat kerutan halus pada dahi Shaka perlahan memudar dan berganti dengan senyuman kecil karena ucapan istrinya ini.
“Zeaa, aku masih bekerja, jangan memancingku.” Peringat Shaka di depan wajah Zea yang menampilkan ekspresi menantangnya.
“Iya, kakak kerja aja, ngga aku pancing kok. Tapi dikit.” Dengan gerakan cepat bibir Zea segera mengecup singkat bibir Shaka yang terbuka setengah.
Setelah berhasil menyematkan ciumannya dengan sengaja menggoda Shaka gadis itu segera berlari kearah dapur ketika mendengar bunyi oven sudah berdenting, Shaka yang masih belum siap menerima serangan mendadak dari Zea sontak melemaskan tubuhnya dengan bibir tipisnya yang menganga.
Dia sudah menahan sekuat tenaga agar tidak melahap istrinya itu yang sengaja dari tadi menggodanya habis-habisan, karena dirinya yang masih harus menyelesaikan beberapa berkas dan memasukkan nilai-nilai mahasiwa ke dalam laptopnya.
Tiba-tiba bau harum khas pandan menyeruak di indra penciumannya. Dengan gerakan cepat, Shaka berdiri dan langsung menghampiri istrinya kini yang sudah memindahkan adonan ke dalam piring.
Shaka melihat Zea yang sibuk memotong rotinya menjadi beberapa bagian dan gadis itu makan.
Dengan iseng, Shaka perlahan mendekati Zea dan berdiri di belakang gadis itu. Lalu, ia mendekatkan tangannya dan melingkarkannya pada perut gadis itu.
Kepalanya sedikit menunduk untuk menyamakannya dengan leher gadis itu. Ia menduselkan kepalanya disana dan sesekali menciumi leher Zea hingga gadis itu mengeluarkan bunyi erangan yang membuat sudut bibir Shaka tersungging ke atas.
“Kak ih, jangan begitu. Nih makan, rotinya udah jadi. Roti buatan Zea Anindita. Dijamin uwenakk..” tangan Zea menyodorkan kearah bibir Shaka saat pria itu berhenti menciumi lehernya dan berganti menumpukan dagunya ke pundak Zea.
“Masak sih,” Shaka semakin erat memeluknya dari belakang.
“Aaa, coba aja kalo ngga percaya.” Shaka membuka mulutnya ketika mendengar instruki dari Zea untuk membuka mulut.
Setelah roti itu masuk ke dalam mulutnya dan ia kunyah perlahan, “oh, tidak buruk, lumayan lahh..”
__ADS_1
Shaka sedikit mengendurkan pelukannya agar Zea bisa membalik tubuhnya untuk berhadapan dengannya.
Mata Zea berbinar, “bener kan.” Shaka terkekeh kecil dengan tangan kembali memegang pinggang istrinya yang saat ini sudah memutar tubuh, berhadapan dengannya.
“Kakak bisa makan ini sambil bekerja, jangan dibiarin perutnya kosong, biar ngga pusing oke..” Shaka tersenyum dan ia menyematkan kecupan kecil di pelipis gadisnya karena ia yang hendak mencium bibir gadis itu urung karena kepala Zea menoleh ke belakang.
“Nanti malam antarin ke salon buat potong rambut.” Zea kembali menatap Shaka yang menunjuk rambut gondrongnya dengan anggukan kecil sebagai jawabannya.
***
Saat ini dirinya dengan sahabatnya Kana Maharani tengah berada di sebuah taman yang letaknya di tengah-tengah koridor kanan-kiri, taman kecil yang diberi kursi panjang dan meja di depannya.
Matahari dari atas sedikit menyempil dan memancar kearah taman itu hingga menghasilkan pencahayaan yang sedikit terang.
Zea yang mempelajari materi dengan Kana yang sibuk mengetik sesuatu di laptop.
Kedua sahabat itu masih disibukkan dengan tugasnya masing-masing, hingga akhirnya ketika telinga Zea mendengar suara mahasisiwi lain tengah membicarakan seseorang di belakangnya pun perlahan mendongakkan kepala.
“Itu Pak Shaka? Astaga, ganteng banget.” Zea terdiam.
“Iya ih, potongan baru, makin guwanteng buwanget. Apalagi jidat pari purnanya kelihatan. Meleleh sudah hati ini.”
Dari jarak tak terlalu jauh dengan taman, Shaka yang terlihat tengah berbincang dengan seorang dosen lainnya menjadi pusat perhatian mereka lantaran gaya rambut pria itu yang berubah.
Jika biasanya rambut depannya gondrong, kali ini Shaka memangkas sedikit rambut depannya dengan gaya rambut hair up hingga memperlihatkan jidatnya yang pari purna.
Zea yang mendengar itu menjadi mendecih sinis, tak suka.
Kana mendongak ketika mendengar suara decihan dan decakan itu dari Zea, “ kenapa lo?”
Zea menoleh kearah Kana, “ada orang genit, males.”
Kana terdiam sebentar, masih mencerna ucapan Zea.
“Dalam konteks?”
“Ganggu punya orang.”
Tentu saja bingung, apalagi ketika Zea sudah membersihkan bukunya dan berdiri hendak pergi.
Namun pergerakannya menjadi urung ketika Kana menghentikannya.
“Mau kemana lo. Gue belum selesai Ze…”“Gue mau ke kelas, mau tidur sebentar.”
“Ck ih, masak gue ditinggalin, ya ikut dong..”
“Yaudah ayo.” Zea dengan sabar menunggu Kana si gadis cerewet dan sedikit penakut ini.
Saat dirinya kembali menoleh kearah Shaka, tidak sengaja tatapan keduanya bertemu sebentar hingga Zea yang lebih dulu memutuskan sambungan matanya lebih dulu.
Kemudian dirinya melangkah pergi diikuti Kana yang sudah membereskan peralatannya.
Shaka yang melihat wajah murung istrinya menjadi bertanya-tanya, ada apa dengan gadis itu.
***
Zea yang duduk di kursi baris ke empat sebelah kiri menjadi tak focus saat dosen di depan menjelaskan. Matanya masih berkeliaran membayangkan wajah tampan Shaka dengan rambut barunya.
Ditambah setelan modis pria itu, yaitu kemeja berwarna hitam dengan lengan di lipat hingga siku dipadukan celana berwarna cream. Sangat modis dan rapi. Jika sudah begini kan yang kerepotan hatinya.
“Kapan selesainya sih,” Kana melirik wajah Zea yang sedari tadi nampak tak semangat, lebih tepatnya semenjak kembali dari taman tadi.
“Lo kenapa sih sebenarnya?” Tanya Kana setengah berbisik.
“Hoaamm, ngantuk.”
“Hah? Udah tidur masih ngantuk?”
__ADS_1
Bukan itu alasannya, yang benar itu dia ingin segera menemui suaminya dan memberi pria itu peringatan agar tidak datang ke kampus dengan setelan modis dan wajah tampan agar gadis lain tak melihatnya dan memujinya secara terang-terangan di depannya seperti tadi.
“Masih, disini ngga nyenyak, lebih nyenyak di rumah,” karena bisa sambil pelukan.
Kana menatap heran Zea, temannya ini sangat sulit ditebak, sebentar senang, sebentar murung, sebentar lagi apalagi?
“Kenapa lo natap gue?”
Kana dengan cepat menggeleng lalu kembali focus ke depan.
***
Pulang dari kampus, Zea berjalan sendirian menuju tempat parkir di belakang fakultasnya, dia mengendap-endap untuk mencari mobil Shaka karena pria itu sudah menunggunya disana dari tadi katanya.
Saat melihat sekitarnya aman karena tak ada seorang pun, dengan cepat Zea berlari kecil menghampiri mobil berwarna hitam milik Shaka yang mencolok di matanya. Dia segera menaikinya dan duduk dengan nafas sedikit tersengal-sengal seperti habis dikejar zombie.
“Kamu kenapa?” Tanya Shaka terkejut melihat tingkah istrinya.
“Ngga papa hehe,”
Shaka kemudian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Di dalam perjalanan pulang, tangan Shaka mengambil tangan istrinya untuk ia genggam di atas pahanya.
Karena sedari tadi gadis itu nampak diam dan seperti banyak pikiran.
“Kamu kenapa sayang..?”
Aduh meleleh, kenapa pria ini selalu berhasil melelehkan hati mungilnya.
“Gak ke---“
“Jangan bohong. Dari tadi mukamu cemberut gitu. Mau tak sun.” Mata Zea melebar.
“Emang boleh se frontal itu ngomongnya.” Shaka mengendik.
“Di depan istri.”
Zea kembali diam, apa ia katakan saja ya kegundahan hatinya kepada Shaka, tapi jika hal itu membuat Shaka tidak nyaman bagaimana?
Sudahlah yang penting hatinya merasa plong dulu, “kak Shak,” panggil Zea. Tangannya yang digenggam Shaka pria itu elus dengan lembut.
“Iya?”
“Jangan ganteng-ganteng dong kalo datang ke kampus.” Akhirnya.
Shaka dengan cepat menoleh, ia mengerutkan dahinya, “emang kenapa? Bukannya tambah bagus jika aku kelihatan tampan, supaya kamu bisa mikir dua kali kalo mau selingkuh dariku.” Mata Zea sontak melebar dengan bibir ia gigit ke dalam.
“Omongannya ya.”
“Bukan gitu kali kak.”
“Terus,” Tanya Shaka lembut.
“Yang repot aku jadinya. Cewek lain jadi mandang kakak sama muji-muji kakak. Emang boleh mereka muji suami orang secara terang-terangan di depan istrinya.” Adu Zea dengan bibir melengkung ke bawah.
Shaka hampir syok dibuatnya, kenapa istrinya sangat menggemaskan sih!
“Yaudah kamu maunya gimana sayangg..”
Tuhkan Zea jadi meleleh dua kali.
“Maunya kakak jangan ganteng-ganteng, biar ngga dipuji mereka depan aku.” Uhh, sangat posesif. Tapi Shaka suka.
Shaka menoleh kearah Zea, ketika kebetulan ada lampu merah menyala. Shaka menghadapkan seluruh tubuhnya menghadap Zea, kemudian menatap gadis itu dengan tatapan serius.
“Salah. Yang benar, ayo publish hubungan kita.”
...***
__ADS_1
...
...Jika suka dgn part ini bisa like dan komentar masukannya ya. Terimakasih.......