
Mobil hitam milik Shaka sudah memasuki pekarangan rumahnya melewati halaman cukup luas setelah satpam yang berjaga di depan membukakakan pintu gerbang putih tinggi menjulang di depan.
Shaka kemudian memarkirkan mobil ke dalam garasi yang terbuka. Setelah mobil selesai di parkir, kemudian Zea segera keluar darisana dengan berlari kecil pergi dari sana.
Meraih gagang pintu dan segera masuk begitu saja setelah ia memutar kuncinya.
Ia berusaha menghindari tatapan mata Shaka yang mengintimidasinya sedari di lampu merah tadi. Dia berusaha tetap tenang dan tidak ingin menunjukkan rasa gugup sedikit pun.
“Zea.” Shaka ikut membuntuti Zea yang masuk begitu saja tanpa menunggunya. Mata pria itu tak lepas sedikit pun dari belakang tubuh gadis itu sedari ia berhasil menyusul masuk gadis itu.
Saat ini Zea ingin minum, tenggorokannya rasanya sangat kering karena sedari ada matkul tadi ia tidak sempat minum sama sekali.
Kemudian dia berjalan menuju ke arah kulkas yang berdampingan dengan meja pantry di sampingnya pas.
Dia sedikit melirik ke arah Shaka yang sudah berdiri menjulang di belakangnya melalui ekor matanya.
Zea berusaha acuh dan tetap mengambil minuman dari dalam kulkas.
Setelah mendapatkannya, kemudian gadis itu hendak menutupnya. Namun ia terkejut ketika sebuah tangan berotot milik Shaka lebih dulu menutup pintu kulkas dan mengukung tubuhnya di tengah kukungan kedua tangannya.
Kedua mata Zea sontak memejam dengan bibir bawahnya ia gigit ke dalam. “Apa ini, kenapa kamu pergi gitu saja,” sewot Shaka di belakang tubuhnya.
Zea berusaha tetap tenang, oh ayolah, dia seperti ini kan karena ingin menghindari pertanyaan dari Shaka.
Kemudian dengan perlahan gadis itu membalik badannya, dengan tangan menyatu ke depan memegang se kaleng minuman.
Saat sudah berhadapan dengan Shaka yang memperhatikannya dengan dahi berkerut. Sontak ketika tubuhnya sudah sepenuhnya menghadap Shaka. Zea berdiri dengan kekehan canggung.
“Apa kak.” Tanyanya pura-pura tidak tahu.
Shaka menaikkan sebelah alisnya mendengar respon Zea. “Apa, kak? Serius kamu nanya apa kak. Kenapa kamu ngga jawab ucapan aku tadi di mobil terus sekarang ninggalin aku gitu aja.” Gerundelnya dengan bibir tipisnya yang berkomat kamit.
Aduh lucunya, Shaka ini kalau lagi marah bawaanya ingin ia cium saja. Tapi Zea sadar, bukan sesuatu yang bagus kalau dia berani mencium Shaka seperti kemarin. Kemarin saja pas buat bolu dia hampir di lahap olehnya.
“Ya ampun kak Shaka, jadi dari tadi kakak ngekorin aku cuman mau mastiin itu, owalaa.”
“Hei, owala? Cuman owala?” sewot Shaka menatap Zea dengan mata melebar.
Zea sedikit mendorong pundak Shaka karena kepala pria semakin mendekat di depan wajahnya. Namun tangan Shaka terangkat untuk mengambil tangannya yang ingin mendorong pundak pria itu dan berganti pria itu genggam dengan lembut di bawah.
“Sayang, jawab dulu ih, kok ngga hirauin aku sih.” Omaygat, Shaka Mahardika. Apakah ia tidak sadar jika Zea itu anaknya gampang sekali baper dengan segala perlakuannya.
“Ya ampun kak Shak, oke, oke, aku jawab. Aku tuh cuman mau ambil minum, karena sedari ada matkul tadi aku belum sepet minum apapun. Tenggorokan aku kering rasanya.”
Shaka mencebik tak suka. “Kalo gitu ngapain ngga bilang dari tadi,”
“Ya aku pikir---” ucapan Zea tiba-tiba terpotong ketika melihat Shaka yang menurunkan kukungan tangannya dan berganti mengambil ponsel di balik saku celanannya, ketika ponsel itu mengeluarkan bunyi.
Namun tangan pria itu yang semula menggenggam tangannya bergerak ke depan seolah memperingatinya.
Zea masih diam memperhatikan suaminya, hingga akhirnya pria itu mengangkat telefon dan menatap wajah Zea sebentar. Kemudian pria itu pergi setelah menunjuk ponsel di telinganya kepada Zea dan berjalan menuju ruang tamu untuk mengangkat telefon di sana.
__ADS_1
Mata Zea memicing mengikuti pergerakan sang suami yang mencurigakan.
“Ngapain coba ngangkat telefon sampai sana, sini kan juga bisa.” Decaknya dan membuka kaleng minumannya dengan kesal.
Dia berjalan menuju meja mini bar yang berada di tengah dapur, serta matanya menatap lurus ke arah Shaka yang sedang berkomat kamit, berbicara dengan seseorang di balik telefon.
Saat matanya menangkap wajah Zea yang kepo, Shaka dengan jahil menarik sudut bibirnya ke atas.
Namun Zea yang sudah tertangkap basa menatap dirinya seperti itu sontak memalingkan wajah dengan cepat dan meneguk cepat minuman kaleng di tangannya.
Kekehan kecil pun keluar dari bibir Shaka ketika melihat Zea yang sepertinya salah tingkah di sana.
Kemudian Zea dengan perlahan menurunkan minuman kaleng di tangannya. Ia kembali memperhatikan Shaka yang sekarang tengah tersenyum senyum sendiri. Namun tatapan pria itu tidak lagi mengarah kepadanya.
“Wah, ngga bahaya ta.” Celetuk Zea kemudian meletakkan kaleng minumannya di atas meja mini bar, dan berjalan menyusul ke arah Shaka di ruang tamu.
Shaka yang melihat Zea berjalan menghampirinya pun sontak segera mematikan telefonnya namun Shaka terlebih dahulu meminta izin untuk mengakhiri obrolan dengan orang di balik telefon.
“Kak Shaka?” panggil Zea dengan jantung yang berdetak dengan resah ketika gadis itu sudah sampai satu meter di depan Shaka.
“Iya?” jawab Shaka kemudian bangun dari duduknya dan menyimpan ponsel di saku celanannya.
“Habis di telefon siapa? Kok kayaknya privasi banget, ya.”
“I love you.” Zea menyatukan kedua alisnya bingung saat pertanyaan darinya dan jawaban dari Shaka sangat tidak sinkron.
“Kak Shak ngapain? Aku tanya.”
Ulangnya dengan sabar.
“Kak?”
“Apa, sayang.. Aku lho cinta sama kamu. Masih belum jelas hm.” Shaka menunjuk tepat di depan wajah gadisnya, dengan kepala menunduk menyamakan tinggi gadis itu.
Zea hanya diam mengikuti gerakan telunjuk Shaka yang mengarah ke padanya.
“Satu hal yang harus kamu tahu, aku memang diciptakan untukmu, untuk seorang Zea Anindita. And now, I’m in love with all your charm, Zea. ” Setelah mengatakan hal itu dengan suara rendahnya, dengan perlahan tubuh Shaka kembali tegak dengan tangan yang sudah tak lagi mengacung di depan Zea.
Mulut Zea bahkan sampai terbuka setengah ketika mendengar penuturan tersebut dari suaminya, kata-katanya sangat mendebarkan hatinya saat ini. Hingga dirinya tak bisa membalas dengan kata-kata lagi.
Dan hatinya sudah meleleh untuk yang ke tiga kalinya karena suaminya.
Pria ini sangat sulit di tebak pemikirannya, tapi Shaka hanya tersenyum sembari menunjukkan jarinya mengacung ke atas.
“Satu kosong.” Kemudian Shaka melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Zea yang masih terdiam terpaku di sana namun dengan kepala mengikuti setiap pergerakan tubuh Shaka yang mulai berjalan menaiki tangga ke atas.
***
Sore harinya, setelah Shaka yang berhasil membuat bingung dirinya dengan segala ucapannya yang mampu membuat dirinya merinding sekaligus senang bukan main.
Saat ini dirinya dan Shaka sudah berada di dalam mobil untuk pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
Shaka dengan setelah kaos oblong berwarna hitam di padukan dengan jaket berwarna senada dengan celana pendek di atas lutut.
Dengan Zea yang memakai pakaian kaos putih yang di masukkan dengan di padukan celana kulot high waist berwarna hitam.
Keduanya berencana ingin pergi ke mall karena seorang Shaka yang katanya ingin mengajak jalan-jalan sore istrinya itu ke mall. Karena sebelumnya Shaka melihat gadis itu yang lelah dan suntuk di dalam rumah.
Tak butuh banyak waktu untuk sampai di mall, akhirnya mobil mereka telah sampai di basement tempat parkir mobil. Setelah selesai memarkir di dalam base, keduanya pun berjalan keluar menuju ke dalam mall yang hari ini nampak ramai.
Shaka menatap Zea yang tersenyum ke arahnya. Dia pun membalas senyuman Zea kemudian mengambil tangan gadis itu untuk ia genggam, ia mulai berjalan dan menarik sedikit tudung jaketnya menutupi rambutnya.
Memperhatikan istrinya yang sangat antusias seperti ini saat memandangi mall besar membuat Shaka menarik senyum kecil di bibirnya, karena pemandangan seperti ini tidak boleh ia sia-siakan.
Zea berjalan memimpin dengan Shaka yang berjalan di belakang gadis itu. Tangan Shaka pun tak tinggal diam ketika banyak orang berjalan dan sedikit berdesak- desakan pada lantai dua, karena keduanya ingin menuju lantai tiga di mana tempat bioskop berada.
Shaka terus memegang kedua sisi pinggang Zea agar gadis itu merasa aman.
Saat keduanya hendak sampai escalator untuk naik ke atas, tidak di sengaja jika Kana, sahabat Zea yang kebetulan selesai dari lantai tiga dan turun menggunakan escalator. Melihat Zea.
Begitupun Zea yang sudah panik bukan main ketika kedua tangan Shaka masih memegang pinggangnya. Dengan cepat Zea melepas tangan Shaka dari pinggangnya.
“Sayang, nanti kamu hilang.”
“Kak, ada Kana sahabat aku.” Shaka mendongak dan membelalakkan mata, kemudian dengan cepat membalik badannya dan berpura-pura sedang menelfon.
“Zeaaa.” Sapa Kana setelah sampai di bawah. Zea tersenyum menatap Kana.
Kana nampak celingukan, “Ada apa Na?”
tanya Zea saat mendapati sahabatnya nampak celingukan.
“Gue kayak ngelihat pak Shaka deh, apa gue salah lihat ya.” Mata Zea melebar menatap depan. Kemudian ia menormalkan ekspresinya begitu Kana menatap dirinya.
“Masak sih.” Kana mengangguk dua kali.
“Di sini tadi, di belakang lo.” Kana menunjuk tempat tadi Shaka berdiri. Namun ntah kemana pria itu sekarang bersembunyi.
“Oh ya, lo sama siapa ke sininya Ze?” Tanya Kana.
Zea tergugup ketika ia sedang mencari jawaban yang pas dari otaknya. “Oh gue, sendiri, iya gue sendiri kok ke sininya.” Jawab Zea memaksakan senyumnya di hadapan Kana.
“Oww.” Gadis itu mengangguk.
“Mau kemana?” Ya ampun, ini kenapa Kana banyak tanya sih.
“Nonton.”
“Ohh, yaudah kalo begitu. Have fun ya Ze, gue pamit dulu mau pulang soalnya habis belanja.” Kepala Zea terangguk angguk dengan cepat.
Kemudian setelah berpamit, gadis itu pun segera pergi darisana. Dan meninggalkan Zea yang sudah bisa bernafas dengan lega sekarang.
“Hampir aja ketahuan.”
__ADS_1
...***
...