My Diary

My Diary
6


__ADS_3

...Munafik...


Waktu kecil, aku sering mendengarkan orangtuaku saat sedang bergosip dengan orangtua murid yang lain. Entah kenapa, tetapi mendengarkan gosip orang dewasa rasanya seru, hehe.


Saat mereka bergosip, pasti banyak orangtua murid yang mengatakan kata 'munafik'. Waktu itu aku masih SD, aku belum mengerti apa arti kata tersebut.


Suatu hari aku bertanya kepada ayahku; "Ayah, munafik itu apa sih?"


"Munafik itu artinya bertindak tidak sesuai dengan diri kita, contohnya kamu tidak suka warna pink tapi kamu bilang ke temanmu kalau kamu suka warna pink agar tidak dibenci." Jelas ayahku.


"Berarti ayah munafik ya?" Tanyaku asal. Ayahku sampai terdiam mendengar itu.


"Kenapa?" Tanya ayahku.


"Karena tadi waktu bunda tawarkan baso ayah bilang nggak lapar, padahal sejak tadi perut ayah berbunyi."


...Anak tetangga

__ADS_1



...


Sepertinya, semua anak +62 tahu bahwa seberapa pintar atau hebatnya mereka, anak tetangga pasti lebih hebat di mata ibu kita.


Contohnya ya, kan kemarin aku dapat nilai 88 saat ulangan matematika. Aku senang sekali karena itu adalah nilai ulangan matematika terbesar selama aku SMP. Tapi bundaku malah bilang begini:


"88? Coba lihat tuh Aira (anak tetangga) dapat 100!"


Nah, gimana nggak sakit hati coba??


"Lah, tapi mamaku juga sering banding-bandingin aku sama kamu. Katanya kamu nggak les tapi bisa dapat ranking 2 sedangkan aku rangking 4." Katanya.


Mungkin memang di mata mama kita, anak tetangga selalu lebih hebat ya? :/


...Petak umpet versi ekstrem

__ADS_1



...


Petak umpet adalah permainan tradisional yang dikenal semua orang. Hampir semua orang di bumi ini pernah bermain petak umpet saat kecil.


Petak umpet biasanya dikenal sebagai permainan yang menyenangkan. Tetapi hari itu aku dan teman-temanku memutuskan untuk main petak umpet tapi versi ekstrem.


Ketika aku menanyakan apa maksudnya, mereka mengatakan kalau kita akan main petak umpet di rumah kosong, yang ada di belakang restoran K*C didekat kompleks kita. Hm, siapa takut?


Kamis malam sekitar pukul 18.00 kita berkumpul di rumah temanku. Alasanku kepada orangtuaku adalah kerja kelompok meneliti alam. Hehe, iya aku berbohong. Namun siapa sangka kebohongan itu malah hampir mencelakai diriku sendiri.


Nah setelah itu kita bergegas ke rumah kosong itu bersama. Didepan rumah kita hompimpa dulu. Salah satu temanku jadi yang mencari, kami sembunyi.


Aku merasa paling berani diantara yang lain. Teman-temanku yang lain terlihat berlari-lari ketakutan, sedangkan aku biasa saja karena aku memang tidak percaya hantu. Ternyata bukan itu yang harus aku waspadai.


Tiba-tiba hujan deras turun. Aku mulai merasa nggak enak. Aku sembunyi dibelakang tangga. Teman-teman yang lain sudah ditemukan, dan aku belum. Aku ingin keluar menunjukan diriku, tapi aku juga ingin jadi pemenang.

__ADS_1


Tiba-tiba atap yang ada di dekatku roboh, mungkin karena angin. Hampir saja aku tertimpa, untung aku segera menghindar. Teman-temanku yang mendengar itu segera menghampiriku. Setelah itu kami memutuskan pergi dari tempat ini karena berbahaya dan rapuh.


Nah teman-teman, jangan sekali-kali kita menantang diri untuk sesuatu yang berbahaya. Juga, sebelum kita pergi ke suatu tempat jangan lupa berdoa dulu supaya Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.


__ADS_2