
"WOYY!! SINI DONG! JANGAN NGOMONG DOANG!" teriak Karina pada laki-laki berseragam rapi yang beberapa detik lalu memarahinya.
Dia, Keenan. Ketua Osis super tegas yang jika aturannya di langgar maka jangan harap akan bebas dari sanksinya. Tapi sepertinya laki-laki itu terlalu taat terhadap aturan, hingga membuat Karina sahabatnya sendiri sering ia tegur.
Bagaimana tidak.
Karina dengan dasi yang tak sepenuhnya di ikat, kancing seragam atas yang sengaja ia buka, sampai panjang rok yang lebih pendek dari panjang umum di sekolahnya.
Dia adalah Karina Putri Dewantara, gadis tomboi yang selalu terbebas dari hukuman. Bukan karena ia adalah sahabat dari sang Ketua Osis, melainkan kapasitas otak jeniusnya yang selalu menyelamatkannya. Para guru sangat sayang terhadap nilai Karina, tidak dengan sikapnya.
"Terus lo mau apa?" tanya Keenan dingin.
Karina memindahkan posisi permen yang ia makan, mengingat ia baru saja di tegur gara-gara dasinya membuatnya terpikirkan sebuah ide. Ide untuk menjahili Keenan dan itu pasti menyenangkan.
"Tunjukin gimana bentuk dasi yang rapi, kecuali lo mau gue terus langgar aturan yang udah lo buat!" serunya dari jarak sekitar 2 meter.
Keenan terlihat sedikit menghela nafas, ia kemudian berjalan mendekat. Tangannya meraih dasi yang tergantung asal di dada Karina. Seketika pipi Karina memerah, sial. Padahal dia hanya ingin bermain-main saja dengan sahabatnya ini. Mengapa Keenan menganggap serius?
Pertama, Keenan ambil dasi tersebut. Ia kancingkan dengan perlahan seragam Karina, kemudian ia pasangkan dasi tadi. Dengan rapi dan sesekali ia melirik ke wajah Karina yang sudah menyerupai udang goreng.
"Kenapa? Katanya pengen di tunjukin, kenapa malah diem?" goda Keenan. Laki-laki itu tersenyum, ia kemudian mengangkat dagu Karina dan mendekat wajahnya. Bibir keduanya hampir menyatu, sebelum Keenan menarik kembali wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.
"Ngarep bener deh ah!" ucapnya kemudian melangkah meninggalkan Karina yang sudah terlihat lebih rapi. Ia memandang dasi yang Keenan buat.
"Rapi,"
...******...
Tak cukup sampai di situ, bukan Karina jika tidak membuat masalah. Dan yang akan kena imbasnya? Tentu adalah Keenan.
Karina tak sengaja melihat poster yang berisikan tentang 'Balapan liar dan akibatnya'. Karina tersenyum renyah saat mengingat bagaimana bahagianya dia saat berkali-kali memenangkan balapan liar. Sisi, gadis di sampingnya berkata, "Gak bakal ikutan lagi kan?"
Karina menoleh kemudian mengangkat bahunya.
"Entah, lagi pula pasti gue yang bakalan menang," ucap Karina begitu saja.
__ADS_1
Sedetik kemudian, bahunya terasa di pegang oleh seseorang. Sontak ia menggerakkan kepala, menoleh ke arah orang yang memegang bahunya. Itu Rian, rival Karina yang sudah mencari masalah dengannya selama sekolah di sini. Entah apa prinsip hidupnya sampai-sampai melakukan hal yang merepotkan.
"Beneran lo yang bakal menang? Mau tanding gak nih?" tanya nya sombong.
Karina hanya menghembuskan nafas, kepalanya bergeleng pelan kemudian balik menatap laki-laki itu
"Kalo gue yang menang?" tanya Karina memastikan.
"Gue turutin apa yang lo mau, dan kalo gue yang menang. Turutin apa yang gue mau," ujar Rian.
Laki-laki itu mengulurkan tangan, "Deal?"
"Deal!"
"Pulang sekolah, gue tunggu depan gerbang,"
Karina hanya membalas oke dan kembali melangkahkan kakinya menuju kelas. Hingga, sore datang begitu cepat. Tanpa menunggu siap-siapa, Karina langsung menjalankan motor sport nya dengan kecapatan sedang. Saat dirinya telah menangkap sosok Rian, baru ia berhenti tepat di sampingnya.
"Gue bilang satu kita mulai," ucap Rian.
NGENGGGG
Karina melaju cepat meninggalkan Rian yang malah mengumpat tak jelas. Ia salah bicara ternyata. Tak mau kalah, laki-laki itu mengejar motor Karina dengan kecepatan di atas rata-rata. Begitu cepat, hingga nyaris menyusul gadis itu.
Beberapa menit telah berlalu, dan mereka masih belum tau siapa yang menang. Dengan cepat Rian menancap gas dan mendahului Karina. Sedangkan gadis itu, dengan geram ia juga melajukan motornya.
Namun naas, mobil truk datang dari arah kanan pertigaan jalan. Menghempas tubuhnya kuat, hingga kesadarannya hilang. Untuk beberapa detik, masih Karina rasakan ada seseorang yang mendekat ke arahnya.
Meneriaki namanya yang terdengar mulai pelan dan perlahan menghilang diikuti pandangannya yang menggelap.
...*******...
Aily De Gogde Oydis. Nama yang begitu indah, begitu juga dengan sifat dan tata krama nya yang diketahui banyak orang. Keponakan raja yang lugu, ramah, juga anggun.
Banyak rakyat yang ingin menjadi dirinya. Kehidupannya hampir sempurna, jika saja kedua orangnya tidak meninggalkannya. Jika saja mereka tau, menjadi seorang Aily tidaklah se sempurna yang mereka inginkan. Apa mereka sanggup membalas cacian dengan senyuman?
__ADS_1
Sepertinya baru beberapa saat lalu Aily tersenyum, berbeda dengan kondisinya sekarang. Setelah tenggelam di danau kerajaan yang lumayan dalam, mungkin saja gadis itu masih pingsan.
"Bagaimana keadaan putri Aily?" tanya raja kepada tabib kerajaan kepercayaannya.
Sang tabib hanya terdiam sambil membereskan peralatan kedokterannya, "Detak jantungnya melemah,Yang Mulia. Hamba tidak tahu apakah Putri akan terbangun atau malah tidur selamanya," jawabnya.
"Aku tidak mau tau! Kau harus segera membangunkannya! Jika tidak, kau pasti tahu akibatnya, bukan?" ancam raja.
Xavior namanya, Raja Xavior de Holwes. Ia dikenal dengan kemampuan berpedangnya yang ditakuti banyak orang, tapi dengan kemampuannya tersebut. Sudah hampir 5 tahun masa jayanya mempertahankan keamananan kerajaan Timur.
"B-baik, Yang Mulia. Saya paham,"
Xavior melangkahkan kakinya keluar kamar. Menyisakan tabib juga pelayan pribadi Aily, Rere namanya.
"Putri sepertinya membutuhkan istirahat, panggil saya jika butuh apa-apa," ucap Tabib.
Rere mengangguk paham. Ia menarik selimut lembut itu untuk menutupi tubuh Aily yang mendingin. Dilihatnya sang Putri yang begitu menyedihkan. Menanggung banyak beban bertahun-tahun tapi masih bisa tersenyum.
"Putri?" tanya Rere saat melihat Aily telah membuka matanya. Alis nya berkerut, bagai sedang memikirkan sesuatu.
Kemudian ia menoleh ke arah Rere, awalnya terdiam hingga ia membulatkan mata terkejut, "Anjir!! Lo siapa!?" tanyanya.
Rere sedikit bingung mendengar penuturan Aily, mengapa sang Putri menjadi terkejut saat melihatnya? Apa jangan-jangan sang Putri kehilangan ingatannya?
"Putri, ini saya Rere. Apa Putri baik-baik saja?" tanya Rere lagi.
"Putri? Siapa Putri? Gue Karina co!"
-BERSAMBUNG-
Yuhu~~
Yuu yang belum tekan tombol like dan votenya hayuk di tekan, karena di eps selanjutnya akan ada banyak tokoh Tamvan!!
Tambahkan ke favorite juga^^
__ADS_1