
Malam begitu dingin juga sunyi yang hanya di temani oleh cahaya rembulan. Pantulan bulan di air danau tak kalah indahnya. Laki-laki berambut perak itu menatap pantulan dirinya di cermin.
Ia hirup udara malam yang segar, sebentar saja, dirinya hanya ingin beristirahat dari sibuknya dunia perbisnisan kerajaan Howless.
Ketenangannya tak pernah di usik hingga, indra pendengarannya mendengar sebuah isakan tangis. Ia sedikit ragu untuk memeriksa, bagaimana jika itu suara hantu? Oh, ayolah, Felix bukanlah laki-laki penakut seperti itu, mungkin.
"Maaf, ibu, aku sudah lelah," ucap seorang wanita yang keluar dari pintu belakang bangunan istana, pintu yang terhubung langsung ke gazebo mini dengan air mancur.
Perlu kalian ketahui jika Felix sekarang sedang berada di pesta ulang tahun Putri Raja yang ke-17, Putri Megantha de Howless.
Gadis tadi kembali ke dalam ruangan, hingga suara gaduh mulai menarik perhatian Felix.
"Apa tak cukup bagimu dengan merebut semua cinta ayah ku!?"
"Tak cukup kah kamu dengan semua kesempurnaan yang kamu punya!?"
Suara itu tak lain datang dari mulut Megantha, pusat perhatian pesta saat ini. Sedangkan gadis yang tengah di maki tadi ialah gadis yang sama yang menangis dan bergumam jika dirinya sudah lelah.
"A-aku hanya tak enak saat Nona Faley di perlakukan seperti itu," ucap gadis tadi, Aily.
"Aku tidak membutuhkan alasan mu! Cepat minta maaf pasa anakku sekarang!" titah Ratu.
"Aku tidak akan minta maaf saat aku tidak berbuat salah apapun!"
Aily pergi meninggalkan aula istana yang masih di penuhi oleh tamu undangan Megantha. Sedangkan Felix, hanya tersenyum miring dan berjalan mengikuti Aily. Siapa sangka jika gadis itu hanya berjalan kembali ke gazebo tadi dan mengeluarkan sesuatu dari tangannya. Pisau kecil.
Ia arahkan pisau itu ke pergelangan tangan kirinya, berharap jika dengan cara ini dirinya bisa bebas dan pergi menemui kedua orang tuanya.
TES!
__ADS_1
Darah perlahan mengalir di tangan gadis itu. Sesaat pusing mulai menyerangnya, badan dan kakinya melemas. Keseimbangan Aily sudah tak bisa ia kendalikan lagi. Aily jatuh.
Felix yang melihat itu sontak berlari mendekati Aily. Menutupi luka tangannya dengan kain yang ada di sakunya, guna mengurangi banyaknya darah yang keluar.
"D-duka Felix? Anda sedang apa?" tanya Aily, walau kesadarannya sudah mulai memudar, tapi ia ingat dengan jelas bahwa Felix ada di sampingnya.
"Nona Aily, saya mohon. Tetap bangun dan jangan tutup mata mu," titah Felix.
Di sanalah awal pertemuan mereka, pertemuan yang tak bisa di bilang baik.
...¤¤¤...
"Nona!"
Felix dengan tergesa-gesa membawa tubuh Aily yang kehilangan kesadaran. Hampir 5 menit perjalannya menggunakan kereta kuda yang tadi mereka tumpangi.
Rere yang mendengar itu seketika langsung mengangguk dan berlari keluar kamar. Hanya tinggal Felix dengan perasaan kacaunya. Bisa-bisanya dirinya membuat Aily yang lemah ini pingsan?
Tak lama setelah itu, seseorang seperti meraba dada bidangnya. Seketika itu juga perhatiannya berpusat pada tangan kecil milik Aily. Entah sedang bermimpi apa sampai meraba dada orang lain tanpa izin! Huh! Menggelikan.
"Lo calon suami gue kan?" gumam Aily, kemudian menarik paksa kerah Felix hingga laki-laki itu sedikit menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar tak jatuh di atas tubuh Aily.
"Aily, apa yang kau lakukan?" tegur Felix, sesekali ia coba melepaskan pegangan tangan Aily di kerahnya namun nihil, pegangannya semakin kuat.
"Gak papa, Om. Gue suka kok modelan cowo malu-malu gini,"
Sumpah. Felix benar-benar kurang mengerti dengan tutur kata Aily. Yang ia rasakan hanya kerahnya yang semakin di tarik dan alhasil membuat satu tangan Felix melepas tumpuannya.
Di saat yang sama, Aily mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Felix, ia kecup agak lama, sedangkan Felix, laki-laki itu terlalu terkejut hingga tak mempunyai waktu untuk menolak apa yang Aily lakukan terhadapnya.
__ADS_1
"Maaf, saya menganggu, Yang Mulia," ucap Rere saat mendapati nonanya sedang memaksa seorang lelaki untuk menciumnya dengan posisi Aily terbaring di atas kasur dan Felix yang menahan tubuhnya dengan mengandalkan satu tangan.
Mendengar itu, Felix tentu langsung bangkit dan melepas cengkraman Aily terhadapnya.
"T-tidak. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, aku hanya ... Tidak. Aku tidak berbuat apa-apa," ucap Felix kaget.
Tabib masuk dan menepuk pundak Felix pelan sambil berbisik, "Sebentar lagi kalian juga menikah. Itu wajar di lakukan,"
Seketika itu bulu kuduk Felix rasanya terangkat. Ia sedikit geli saat mendengar kata 'menikah'. Sebenarnya ia tak terlalu mempedulikan hal itu, tanpa rencananya.
"Nona Aily, sepertinya mengalami syok. Ingatannya sedang kacau, jadi wajar jika Nona Aily mengalami syok seperti ini. Memori di kepalanya di paksa untuk mengingat, atau di paksa untuk melupakan," tutur Tabib.
Felix hanya mangut-mangut paham. Dirinya sedikit merasa bersalah saat melihat air mata yang jatuh tepat saat Aily melihat bekas luka sayatannya. Ia pikir gadis itu hanya bercanda soal ingatannya, mengingat seorang Aily itu selalu mengejar cintanya.
Entah sedang lelah atau apa, mungkin alam bawah sadar Aily tidaklah kacau. Buktinya Aily dengan begitu leluasa menarik kerahnya, logikanya, jika Aily sepenuhnya kehilangan ingatan, maka gadis itu tidak akan seberani itu.
Tabib melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Rere juga datang dengan membawa nampan berisi air hangat dan handuk kecil.
Tentu Felix tau itu untuk apa, ia raih handuk kecil itu dan mencelupkannya ke dalam air hangat. Setelah di peras, Felix menempelkan handuk hangat tadi atas kening Aily. Poni se alisnya ia naikkan, telihat sudah dahi Aily yang begitu mulus.
"Kau bisa pergi," titah Felix pada Rere.
"Baik, Tuan." Sesuai perintah Felix, gadis itu pergi dan meninggalkan keduanya sendirian.
Felix perhatikan dengan teliti setiap lekuk wajah Aily. Begitu sempurna dan cantik, garis wajahnya begitu nampak. Tatapannya matanya tak pernah se serius tadi.
"Aily, jika boleh jujur, aku suka cara mu memaksa ku mencium mu," gumam Felix.
"MAMPUSS!!"
__ADS_1