
Setelah tiba di kediaman Felix, Aily membuka matanya saat cahaya lampu mulai mengenai wajahnya. Ia edarkan pandangan untuk tahu dimana letaknya berada. Sial. Ini dimana? Pikir Aily.
Gadis itu masih mengenakan gaun pengantin, ternyata pernikahan bukanlah sebuah mimpi. Apa ini adalah balasan dari dosanya ketika hidup sebagai Karina?
Tak lama pintu terbuka, Felix masuk dan berjalan mendekati ranjang, "Apa yang kau butuhkan?" tanya nya.
Suaminya ini kenapa terasa begitu dingin? Aily hanya memalingkan wajahnya, "Kenapa om dingin banget sii!?" ketus gadis itu. Felix sedikit di buat bingung olehnya.
"Lagi-lagi bahasa yang kau gunakan itu tidak bisa aku mengerti. Darimana kau belajar bahasa itu, dan untuk apa?"
"Kalo gue cerita emang bakalan percaya?"
Felix mulai berpikir, percaya, ya? Memangnya apa yang terjadi setelah gadis itu jatuh ke danau? Apa separah itu?
"Nih, ya, Om. Gue ini Karina bukan Aily." Gadis itu bangkit dan berjalan keluar kamar, hanya untuk melihat-lihat.
Setelah melewati berbagai ruangan, telinganya mendengar suara tangis bayi. Aily mengerutkan dahinya bingung, Felix itu duda?
Aily ikuti suara tangisan tersebut. Ternyata berasal dari ruangan di depan kamar Felix, ya, Aily tahu itu kamar laki-laki itu. Aily buka perlahan pintu tersebut, dan tampaklah sosok laki-laki tinggi yang cekatan menggendong seorang bayi yang terus merengek.
"Dia, siapa?" tanya Aily.
Mendengar itu, Felix berbalik kemudian berkata, "Dia bukan siapa-siapa. Aku hanya kasihan padanya, mungkin orang tuanya adalah korban perang kemudian aku menemukannya dan membawanya,"
Aily mendekat saat mendengar penjelasan Felix, "Om gak duda, kan?" tanyanya.
"Mau aku buktikan?" tanya Felix.
Aily langsung menggeleng kuat, meski dirinya sudah resmi menikah, jiwa Karina itu masihlah di bawah umur.
Aily kemudian menyentuh pipi gembul bayi yang ada di gendongan Felix, "Dia perempuan atau laki-laki?" tanya Aily.
"Laki-laki,"
"Nama?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu." Felix perlahan menyerahkan bayi tersebut karena tangan Aily yang sudah siap untuk menggendong, "Kau tahu nama yang cocok?" tanyanya.
"Iaros. Nama yang kuat." Setelah Aily mengatakan itu, sang bayi dengan ajaibnya berhenti merengek. Apa bayi itu mulai menyukainya?
"Baik. Sekarang bayi itu menjadi tanggung jawab mu. Anggap dia sebagai anak mu sendiri, jangan biarkan dia kedinginan, jangan biarkan dia menangis, ia jang—"
"Gue tahu kali. Udah ah sono! Om mau ganti baju, kan? Sana sana!"
Ya, mengusir.
Felix melangkah sambil menghela nafas. Kini tinggal Aily yang menggendong Iaros. Percaya atau tidak, saat menjadi Karina, ia sudah terbiasa untuk mengasuh bayi, karena ya, Karina mempunyai seorang adik.
"Lo anak beruntung. Kata gosip, bapak kau tuh kejam, eh tahu nya malah adopsi anak. Lucu, kan?" gumamnya sendiri. Aily sangat gemas pada bayi dengan nama Iaros ini. Sangat menggemaskan.
"Ohok! Ohok!"
...¤¤¤...
Felix kembali saat telah selesai mengganti pakaiannya. Ia cari di mana keberadaan istrinya juga, ekhem. Anaknya.
"Aily, kau bawa kemana anak itu!?" gumamnya sambil terus melangkahkan kaki.
Namun langkahnya terhenti saat melewati halaman belakang, di sana terdapat sebuah bangku dan di depannya terdapat danau yang memantulkan langsung cahaya bulan.
Tentunya, di bangku tadi ada seorang gadis yang terduduk tenang menghadap danau. Emosi Felix hendak meluap, bagaimana tidak. Tengah malam, membawa bayi keluar dan malah duduk santai? Apa mereka tidak kedinginan?
"Aily!" panggil Felix dari kejauhan. Tak ada balasan. Kesal, Felix berjalan mendekat.
"Ail—"
"Bangun, Ail!" teriak Felix.
Kondisi Aily sepertinya mampu membuat luapan emosi Felix berubah menjadi cemas. Telapak tangan gadis itu berdarah, terluka? Tidak. Aily terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Sedangkan Iaros, bayi itu tertidur tenang.
"T-tuan Felix? Maaf, aku hanya ingin menghibur bayi ini. Tapi entah kenapa, dadaku terasa sangat sesak," ucap Aily sembari mengukir senyum di bibirnya yang berdarah.
__ADS_1
"Aily, bertahan lah," ucap Felix panik.
Di saat seperti ini laki-laki itu benar-benar bingung. Tanpa berpikir lagi, Felix mengangkat tubuh mungil Aily yang masih menggendong Iaros.
"Aku mohon, bertahanlah!"
...¤¤¤...
"Saya tidak bisa mengetahui penyakit apa yang di derita oleh Nyonya Duchess," ucap Tabib yang sengaja Felix panggil di tengah malam seperti ini.
"Kau seorang tabib! Temukan atau kau tidak akan bisa pulang dengan selamat!" ancam Felix. Kesal, tentu saja. Rasa cemasnya sekarang sudah berada di tingkat paling tinggi.
"T-tapi, Tuan Duke. Penyakit Nyonya sangatlah langka."
"Lakukan apapun demi menyelamatkannya!"
"Kurangi beban pikirannya, ia tak boleh stres dan harus tetap tenang, mungkin hanya itu yang bisa memperlambatnya," ucap tabib.
Felix bingung, apa yang Aily pikirkan hingga menjadi seperti ini? Laki-laki hanya mengangguk paham kemudian membiarkan tabib tadi pulang. Felix membuang nafas gusar, masalah terus saja berdatangan padanya.
Laki-laki itu berjalan mendekat, ia mengelus rambut Aily kemudian mengecup keningnya singkat, "Aku tahu kau kuat, Aily. Tapi bertindak seperti ini, aku tak suka," ucapnya.
Felix kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh Aily hingga leher. Baru di tinggal sebentar sudah seperti ini, di tambah sebentar lagi akan ada perjalanan bisnis, apa Aily akan baik-baik saja tanpanya? Pikir Felix.
Saat hendak berdiri, tangan laki-laki itu tertahan, Aily membuka matanya walau tak terbuka sempurna, "Ada apa?"
"Om mau kemana? Kita kan suami istri masa tidur nya pisah ranjang sih!" gerutu Aily, dengan jiwa bar bar Karina.
Felix memalingkan wajahnya, kenapa wajahya mendadak memanas? Dan di saat yang sama, tangannya di tarik hingga membuatnya jatuh tepat di sisi ranjang.
"Kau agresif ternyata." Aily mengulurkan tangannya dan memeluk pinggang Felix. Sedangkan laki-laki itu, selalu di kejutkan dengan perilaku Aily terhadapnya.
"Kau memang kehilangan ingatan mu, Aily." Felix ikut memeluk tubuh Aily.
Malam ini, begitu banyak hal yang terjadi, pikir Felix. Matanya tertutup, tapi tidak dengan pikirannya. Ia masih memikirkan cara agar tenang meninggalkan Aily juga Iaros.
__ADS_1
Ia takut hartanya kembali di rampas okeh orang yang dia benci. Felix tidak suka itu, maka dari itu sebisa mungkin Felix harus bisa selalu ada di mana pun Aily berada. Janjinya harus selalu ia lindungi.