
Kondisi bangunan istana saat Aily pergi, masih sama dengan saat gadis itu masih ada. Sepi, Aily tak pernah berisik sekali pun Megantha sering mengajaknya untuk bermain. Namun gadis itu, hanya selalu terdiam.
Dalam pikiran Aily, gadis itu adalah seorang benalu dalam keluarga istana. Beban yang seharusnya dibuang. Walau hatinya berkali-kali memberontak ingin melawan, namun tetap tertahan.
Berbeda dengan Megantha, gadis itu malah senang saat tahu kelak dirinya akan menjadi penerus kerajaan, bukan Aily.
"Ayah, kenapa ayah menjodohkan Duke Felix dengan Aily? Kenapa tidak dengan ku saja?" keluh Megantha di ruang kerja ayahnya.
Gadis berambut merah itu cemberut, kenapa hal yang selalu ia inginkan pasti Aily yang akan mendapatkannya, termasuk kasih sayang.
"Kamu masih muda untuk menikah, Megantha. Ayah juga akan mencarikan pasangan untuk mu nanti," ucap Xavior.
Tak lama, ketukan pintu terdengar dan membuat keduanya menoleh. Angin bertiup masuk lewat jendela dan menggoyangkan sedikit rambut perak Felix. Ya, laki-laki itu datang ke istana.
"Selamat siang, Yang Mulia." Felix sedikit membungkuk untuk memberi hormat.
"Ada apa, Duke? Aku ingat telah memberi mu cuti karena baru saja menikah,"
"Ada hal lain yang ingin aku bicarakan. Ini tentang kerajaan,"
Megantha tak paham apapun, hingga gadis itu coba untuk mencairkan suasana, "Duke Felix, bolehkah aku mencintaimu?"
Felix tertegun, tapi tidak terkejut. Ia sudah tahu bagaimana Megantha mengejar cintanya. Namun, rasa cinta yang Felix miliki agak sedikit berbeda dari rasa cinta pada umumnya. Mungkin Felix itu, obsesi?
"Maaf, Putri Megantha, aku adalah seorang suamisekarang, yang lebih tepatnya suami saudari mu, janji suci ku sudah terikat jelas," ucap Felix. Laki-laki tak menoleh sedikit pun, padahal dari dulu ia sudah tahu perasaan Megantha. Hanya saja, Felix dari dulu memang tidak tertarik pada gadis lain.
"Megantha! Sudahi sikap kekanak-kanakan mu itu!" tegas Xavior.
"Kamu bisa kembali ke kamar mu, Megantha." Xavior menatap putrinya dengan tatapan tajam, pria itu jarang menunjukkan tatapan seperti ini.
Dengan langkah yang berat, gadis itu melangkah keluar. Hatinya terasa begitu sakit, dari dulu! Aily memang tak bermaksud merebut Felix darinya, tapi perlakuan laki-laki itu berbeda padanya. Dingin, juga kaku.
"Berkali-kali aku selalu berharap menjadi dirimu, Aily!" gumam Megantha dalam hati.
...¤¤¤...
"Haduh, sepi banget!" ucap Aily, gadis itu kini sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit ruangan.
"Om Felix kapan baliknya, ya?"
"Masih lama gak, ya?"
"Eh, kok gue jadi mikirin om om itu terus sih!?"
Tanpa sadar, Aily marah-marah tak jelas di kamarnya.
__ADS_1
"Maaf, Duchess. Ada tamu yang berkunjung," ucap Pelayan yang diketahui namanya adalah Fiera.
"Oh, oke. Makasih." Aily bangkit dan menata rambutnya, merapikannya agar tak terlihat berantakan.
Gadis itu berjalan menuju taman depan, tamunya itu sepertinya telah menunggu lama, hah! Aily tak peduli.
Tamu yang datang itu laki-laki, kenapa Fiera tak bilang? Rambutnya pirangnya bergerak diterpa angin. Tangannya mengangkat cangkir teh dan menyeruput perlahan.
"Maaf, gue lama, ya?" ucap Aily kemudian duduk.
Wajah laki-laki itu tidak terlihat terkejut atas apa yang ia ucapkan, "Persis dengan rumor yang sering aku dengar, kau berubah setelah kejadian itu, Aily."
Aily memiringkan kepalanya, kenapa malah dirinya yang dibuat bingung?
"Kalau begitu, mungkin kau sekarang tidak ingat, perkenalkan, aku Gerald, sepupu jauh mu," ucap laki-laki itu.
"Oh, oke. Salam kenal."
Aily bingung saat ini, tak biasanya gadis itu terdiam tanpa mengobrol seperti ini. Tangan Aily meraih gelas teh kemudian meminum perlahan teh tersebut, gugup.
"Aku tak menyangka kau akan mendadak menikah seperti ini, padahal pertanyaan ku dulu masih belum kau jawab." Gerald, laki-laki tersenyum hingga matanya berubah menjadi satu garis. Senyum yang manis.
"Oh, ya? Kayaknya kalah cepet deh sama Om Felix," kekeh Aily. Dilamar oleh laki-laki tampan di depannya? Itu mimpi!
"Gue gak merasa pernah nolak lo, deh."
"Aku tahu."
Aily ikut tersenyum sekarang, Gerald mampu mengubah suasana diantara mereka. "Nah, tersenyum lah seperti itu. Aku tak akan segan mengarahkan pedang ku pada leher laki-laki mana pun yang membuat mu sedih,"
"Termasuk suami mu," lanjut Gerald.
Laki-laki itu bangkit dan meninggalkan Aily, gadis itu masih tersenyum.
"Hadiahnya aku letakkan di ruang kerja Duke Felix, kau bisa membukanya sekarang, Aily. Maksud ku, Duchess." Kini, Gerald benar-benar pergi.
Laki-laki itu terlihat agak rapuh dari belakang. Punggung nya terlihat berat, sepertinya ia menanggung banyak beban, sangat disayangkan Aily tidak bisa mengingat bagaimana Gerald mencintainya, apa itu akan sangat indah?
"Aily, bisa gak sih memorinya bagi-bagi sama gue?"
"Gue juga mau kali tau gimana rasanya dicintai, pasti seru!"
Mendadak, pandangannya kabur. Sekelilingnya berubah menjadi gelap. Nafasnya memburu, ia edarkan pandangannya panik. Tempat apa ini? Kenapa sangat asing!?
Aily, ralat, Karina mengerjap beberapa kali. Menyadarkan kepalanya kalau ini semua hanyalah ilusinya saja. Namun nihil, sekelilingnya tetap gelap, Karina bingung kenapa bisa seperti ini. Ditambah kepalanya yang berdenyut membuat nya pusing.
__ADS_1
"Karina."
Kepalanya menoleh, ke kanan juga kiri mencari keberadaan suara tersebut. Ia kenal siapa pemilik suara cantik itu, Aily.
"Karina."
"Aily! Bisa stop gak sih!? Kalo emang gak mau mati ya balik sini lagi! Kasian noh para cowo lo, lo tinggal gitu aja!" teriak Karina kesal.
"Aku tidak bisa, Karina. Aku lemah, sedangkan kau tidak."
"Maaf merepotkan mu, tapi hanya kamu harapan ku satu-satunya. Duke Felix bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dan jika aku pergi, kau tahu apa yang akan terjadi pada kerjaaan kita? Hancur."
"Lo terlalu khawatir sama apa yang bahkan gak pernah peduli sama lo! Termasuk Om Felix! Cowo itu gak peduli sama lo, nyadar gak sih!?"
"Aku tahu."
"Tapi Duke Felix tidak lah seperti itu."
Keduanya terdiam, Karina yang menatap Aily tertegun, apa Aily memang secantik ini? Selama ini, apa ia merusaknya? Apa yang ada dihadapannya kini hanyalah sosok Aily yang lemah yang senyumnya mampu menghangatkan jiwanya.
"Kau bilang ingin mengingat semuanya, kan?"
"Kau yakin?"
"Gue yakin! Apapun itu, gue juga gak mau hidup sendiri tanpa tau apa-apa," keluh Karina. Kini gadis itu bangkit, menatap Aily yang terduduk tenang di bawah.
"Aku terlalu mencintai Duke Felix, Karina. Maafkan aku. Maaf jika ingatan ku juga perlahan menyakiti mu. Aku minta maaf."
Aily ikut bangkit, gadis itu mendekatkan wajahnya. Dahi mereka menyatu, Karina refleks menutup matanya saat berbagai jenis ingatan mulai masuk dan memenuhi kepalanya. Tapi, kebanyakan dari ingatannya adalah, rasa sakit?
Perlahan ia rasakan air hangat menjalar di kedua pipinya, apa sesakit itu hidup Aily?
"Maaf telah membuat mu menunggu, Aily. Aku tak tau kalo bakalan sesakit ini," Karina terkekeh renyah sedangkan air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
"Lindungi semuanya untuk ku, Karina."
"Ya, dengan cara ku sendiri."
...¤¤¤...
Halo!
Support author lewat follow akun ig @beecold.wp
Klik like dan tambahkan favorit yaa><
__ADS_1