
"Kamu harus minta maaf!"
"Minta maaf, dia kan sepupu mu, sesama keluarga jangan ada saling benci."
"Karina! Sampai kapan kamu mau mempermalukan keluarga!?"
"Gak bisa cuman gue aja yang lo sakitin!?"
Aily itu sakit sedangkan Karina hancur. Dua jiwa yang hidup menderita namun dengan masalah yang berbeda. Mereka mirip, hanya saja takdir mempertemukan mereka di portal ruang dan waktu.
Saat ini, Karina tengah mengapung di atas air dengan sinar matahari yang cukup terik. Sedari tadi, sudah ada berbagai macam kata, namun semuanya sama-sama menggunakan kata 'minta maaf'.
Karina itu kuat, Aily itu lemah. Kurang lebih seperti itu. Karina mengubah hidupnya, ia jadi hidup sesuka hatinya dan tak mendengarkan pendapat siapapun. Ia terlalu jijik mendengarnya.
"Karina," panggil seseorang pelan.
Gadis itu menoleh ke kanan juga kiri, ia cek setiap sudut dalam batas penglihatannya. Tak ada seorang pun di sana, apa ini yang orang rasakan saat hendak menuju kematian?
"Karina," panggil suara itu lagi.
Namun sekarang, sebuah layar besar terpampang jelas. Di dalamnya, sebuah memori ingatan seseorang terputar menunjukkan beberapa part penting di hidupnya. Dalam memori itu terdapat sebuah nama 'Felix'.
Apa maksudnya?
...¤¤¤...
"Aily!" panggil Megantha.
Lamunannya buyar saat gadis dengan rambut merah menyalanya itu berdiri tepat di hadapannya. Usia mereka sama namun dengan kepribadian yang berbeda.
"Apaan sih? Gak jelas lo ah," gerutu Aily, masih dengan tutur kata yang sama.
"Katakan apa rahasia mu untuk mendapatkan Duke Felix!?"
__ADS_1
"Ha? Harus banget gue jawab? Ya tentu karena gue jodohnya lah," balas Aily.
Megantha sedikit merasa geram, pasalnya Aily yang ia kenal bukan orang seperti ini, "Oh iya, lupa. Lo kan taunya gue yang gemulay gemulay, kan? Itu dulu, sekarang enggak," tutur Aily.
Gadis dengan rambut hitamnya itu melangkah meninggalkan gazebo. Satu yang terlintas di benaknya, "Apa aku harus balas dendam?"
...¤¤¤...
Hari paling di tunggu semua orang di kerajaan Howless ialah pernikahan yang sudah lama di umumkan. Duke Felix ra Vegras, berhasil memikat hati putri tunggal raja terdahulu bernama Aily de Gogde Oydis.
Semua orang di istana tengah sibuk, termasuk Aily. Ia agak merasa tidak nyaman mengenakan gaun pengantin yang berat rok nya bukan main. Meski desainnya simple seperti gaun pada umumnya, namun gaun yang Aily kenakan di pesan langsung oleh Felix dari penjahit terkenal dan harganya bisa beribu-ribu emas.
"Si Om ngapain sih beli khusu segala?" tanya Aily pada dirinya sendiri.
Tapi jika di lihat-lihat, Aily memang cocok memakai gaun ini. Kulit bersihnya, rambut hitam juga netra berwarna biru laut, sangat cantik, batin Karina.
Paras Aily memang sedikit lebih istimewa dari Karina yang tipikal gadis tomboi dan tak punya waktu untuk mengurusi dirinya sendiri. Terkadang Karina merasa bingung pada orang lain termasuk ibunya yang malah menyebutnya cantik, heran.
"Ini gue beneran jadi istri orang nih? Oh jadi gini ya rasanya nikah sama om-om, kalo ganteng sih ya gak papa, Duke Felix tajir juga," gumam Aily dalam hati.
Felix menghadapkan tubuhnya di hadapan Aily, dan sialnya Aily lupa jika pernikahan akan ada sesi ini. Setelah kedua mempelai saling bertukar cincin, Felix mengelus pipi kanan Aily, kemudian perlahan menariknya dan mendaratkan bibirnya di bibir Aily.
Sorakan kian terdengar dengan resminya pernikahan mereka, namun Aily, ia nampak terkejut pada perlakuan Felix terhadapnya.
"Kenapa, Aily? Padahal tiga hari yang lalu kau menarik kerah ku dan merebut ciuman ku," goda Felix.
Percayalah jika Aily sekarang tengah kepanasan, wajahnya memanas hingga ia memalingkan wajah. Ini memalukan!
"Kapan gue maen narik-narik kayak gitu!?" tanya Aily dengan sedikit emosi.
"Sudah ku bilang, tiga hari yang lalu. Kau mungkin tidak mengingatnya, tapi kenapa saat itu bibirmu sangat pandai merebut?"
"Dih sok tau! Gue bukan cewe kayak gitu kali," ucap Aily.
__ADS_1
Sudahlah ia terlalu malu membahasnya, toh umurnya saja baru 17 tahun, tapi ia tak tau umur Aily itu berapa. Apa jangan-jangan ia dirasuki setan sehingga bisa berbuat seperti itu.
Huft! Semakin di pikirkan semakin membuat jantung Aily berdebar tak karuan. Melihat rahang tegas Felix saja sudah membuatnya lemas, apalagi saat ... Eits! Kenapa Aily jadi berpikiran seperti ini!?
...¤¤¤...
Aily merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya, berdiri terus menerus memandangi tamu ia jenuh!
Aily sedang asyik menikmati waktu santainya namun sepertinya dunia tak membiarkan hal itu. Sebuah ketukan pintu terdengar kemudian terbukalah pintu tersebut, menampilkan sosok tinggi dengan pakaian pengantin.
"Kenapa kau tidur di sini, Nona? Kita akan pulang ke rumah ku," ucap Felix.
Laki-laki berkacak pinggang saat melihat istrinya tak menanggapi perkataannya. Ia sedikit merasa sebal, kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang. Sepertinya Aily tertidur.
"Nona, aku tidak suka jika harus memaksa seseorang. Tapi karena kau istri ku maka aku akan langsung membawa mu tanpa izin siapa pun," gumam Felix.
Ia angkat dengan mudah tubuh mungil Aily, ia berjalan keluar kamar dan sesekali bertemu pelayan yang berjaga di istana. Saat hendak berbelok, ia berpapasan dengan seorang putri berambut merah, Megantha.
"Tuan, apa sebaiknya Aily biarkan saja tidur di sini? Aku khawatir saudari ku merasa tidak nyaman," ucapnya.
Langkah Felix terhenti, "Jadi kau berpikir jika istri ku tak nyaman saat suaminya berbuat seperti ini?" ucapnya cukup tajam tanpa menoleh.
Setelah itu, Felix lanjutkan lagi langkahnya, menuju kereta kuda milik Felix.
"Duke Felix, apa Aily tertidur?" tanya Raja.
"Iya, Yang Mulia. Aily sepertinya kelelahan, jadi aku berniat untuk pulang dan beristirahat di kediaman ku," ucap Felix.
Raja mengukir senyum kemudian berkata lagi, "Tentu, Duke. Segeralah buat cucu untuk ku,"
Felix tertegun kemudian membalas candaan Xavior dengan tawa. Ia belum berpikir sampai sana, ia hanya berniat untuk segera menyelamatkan gadis yang berhutang budi padanya.
Felix tau hidup Aily itu berat, maka dari itu, sebisa mungkin ia ingin selamatkan.
__ADS_1