
Karina, atau ralat. Aily yang berjiwa Karina itu mengedipkan matanya berkali-kali saat mendapati dirinya di cermin.
Begitu anggun, dan menawan. Rambut hitam yang berkilau, maaf bukan iklan sun*** tau lah merk shampo, mata biru laut juga pakaian mewah yang tak dapat membuat Karina sadar bahwa ini bukanlah dunia yang biasa ia tempati.
Setelah merenung beberapa saat, Aily melirik ke arah pelayan pribadinya yang katanya bernama Rere. Ia lirik sebentar lalu mengetukkan jari di dagunya. Ia berpikir keras, kok bisa??
"Nama lo, Rere, kan?" tanya nya.
"M-maksud, Tuan Putri?"
"T-TUAN PUTRI!!?" ujar Aily semakin kebingungan.
Ia kembali menghadap cemin. Cocok sih, pikirnya. Tapi ya, jiwa nya yang tidak cocok.
Berasa pengen mati aja deh gue. Kenapa sii gak sekalian langsung terjun ke akhirat aja??
"T-tuan putri, ada apa? Akan saya panggilkan tabib," ucap Rere, kemudian melangkah keluar kamar meninggalkan Aily yang masih sibuk menampar pelan wajahnya.
"Ini gak mimpi, kan?"
"Kok nyata, Anjir!"
"Masa sih spek gini jadi Tuan Putri. Halu halu."
Tak lama, Rere kembali. Gadis itu datang bukan dengan tabib melainkan dengan seorang pria yang tinggi nya hanya sedikit di atas Aily. Melihat itu, tentu tambah membuat Aily kebingungan.
"Aily, kau tak ingat siapa aku?" tanya pria itu.
Aily hanya mampu menggeleng lalu berkata, "Dari modelannya sih, gue tau. Lo raja kan?"
"Apa yang kamu bicarakan, Aily? Mengapa Paman tak dapat memahaminya?"
Aily baru sadar, kalo pria dihadapannya ini raja, maka bahasa yang ia gunakan juga seharusnya lebih anggunly bukan?
"Ehm.. Gini ya om. Saya gak tahu apa-apa. Saya tiba-tiba bangun dan ada di sini."
Raja mengangguk pelan seolah paham tentang kondisi putri mendiang kakaknya. Ia kemudian mendekat dan mengelus puncak kepala Aily, "Paman tahu. Ingatan mu pasti sedang kacau sekarang. Tak apa istirahat kan dirimu karena beberapa hari lagi, Duke Felix dan kau akan mengikat janji suci,"
__ADS_1
Manik Aily otomatis membesar, gadis itu ternganga mendengar penuturan Raja.
"Ma-maksud Paman, menikah?"
"Iya, dan jangan buat Duke Felix kecewa padamu, dia adalah harapan kita satu-satunya untuk memperluas wilayah," ucapnya sembari melangkah pergi dan meninggalkan Aily yang tak berhenti berkedip.
"Re,"
"Iya, Tuan Putri?"
"Gue nikah? Apa-apaan anjir!" keluhnya sambil menutup wajah menggunakan bantal dan mencoba untuk berteriak sekencang-kencangnya.
...*****...
Aily diantar menuju ruang makan istana, di sana sudah ada Raja, Ratu, juga Putri mereka yang sama-sama terduduk di meja makan. Banyak hidangan yang perlahan menggugah selera Aily, lebih tepatnya Karina.
Acara makan malam dimulai, dan semua berjalan lancar sebelum, "Aily, apa kau ingat aku? Kita selalu bermain bersama," ucap sang Putri, Megantha namanya.
"Harus, ya, inget? Kalo semisal gak inget gimana?" tanya Aily.
"Kau bilang apa, Aily? Aku kurang mengerti," ucapnya.
Aily menghela nafas kesal, "Kalo gak paham mending diem aja, gak maksa harus ngerti kok,"
Megantha mengepal tangannya kuat. Baru kali ini ia merasa kalah dari Aily. Gadis lugu yang selama ini selalu tunduk padanya kemana? Aily yang terbiasa untuk dicaci bahkan tak marah saat di ejek oleh Megantha.
"Bahasa mu kurang sopan, Aily! Cepat minta maaf pada Megantha!" ujar Ratu dengan sedikit penekanan.
"Untuk apa meminta maaf? Salah sendiri gak ngerti,"
Aily bangkit dan berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Kepalanya serasa mau pecah dengan semua pertanyaan di benaknya. Kenapa dia malah nyasar ke sini sih!?
"Yang Mulia!" seru seorang pengawal yang datang dengan nafas tak karuan.
"Duke Felix telah tiba," ujar pengawal itu.
Dahi Aily berkerut, Felix? T-tunggu! Itu nama laki-laki yang akan menikah dengannya kan!? "Mampus nih gue,"
__ADS_1
"Aily, ayo. Duke Felix mungkin hendak menjenguk calon istrinya yang sedang sakit," ucap Xavior.
"Harus banget? Ish!" gerutu Aily.
Sedangkan Megantha hanya mendengus sebal melihat perlakuan ayahnya yang begitu lembut kepada sepupunya. Ia sedikit cemburu, kenapa harus Aily yang akan menikah dengan Duke Felix? Kenapa tidak dirinya!?
Aily tiba di sebuah ruangan yang baru ia lihat lagi. Baru beberapa ruangan yang ia ketahui di istana ini, dan kali ini ia sepertinya di bawa ke ruang kerja Xavior.
"Aily, kabar mu?" tanya seorang lelaki berbaju bangsawan biru gelap, maniknya sedikit tajam namun rambut peraknya mengubah pandangan buruk tentangnya.
"Maaf, Duke Felix. Karena insiden kemarin, kepala Aily sedikit terbentur dan menyebabkan ingatannya tidak terbentuk sempurna. Jika Aily salah berbicara, mohon di maafkan," ucap Xavior.
Felix terlihat sedikit terkejut, ia kemudian mendekat dan mengelus pipi kanan Aily dengan lembut, "Maafkan aku yang lalai menjaga mu,"
"Ish! Om jangan sentuh-sentuh deh! Pipi gue masih perawan," ujar Aily, lebih tepatnya Kinan.
"Apa? Maafkan aku, sayang. Bagaimana jika kita menghirup udara segar?" tawar Felix.
Aily sempat mau menolak, namun batin Karina merajalela, tentu saja. Siapa juga yang mau menolak ajakan seorang bangsawan yang gagah, berambut perak namun dengan tatapan yang cukup tajam, ia adalah Felix.
Akhirnya Aily setuju, keduanya pergi ke kereta kuda yang ada di depan istana. Mereka naik dan mendudukkan bokongnya di sana, Aily sempat memberi salam sampai jumpa pada Xavior.
Beberapa saat kemudian, kereta kuda itu perlahan bergerak dan meninggalkan kawasan istana, "Kau tidak sedang berpura-pura untuk menarik perhatian ku, kan?" tanya Felix.
Percaya atau tidak, Aily dibuat merinding saat ini. Kenapa gadis itu baru sadar sekarang? Tatapan yang cukup tajam tadi adalah kode, tatapan jijik yang cukup menarik perhatian Aily. Mengintimidasi.
"Apa? Lo pikir gue bohong!? Nih, ya Om. Gue gak tau harus mulai darimana, karena lo gak bakalan percaya," balas Aily yang cukup membuat laki-laki di hadapannya bungkam.
"Bahasa mu agak berbeda, Nona Aily. Aku pikir Yang Mulia Xavior tidak sedang bercanda mengenai rusaknya ingatan mu." Felix mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti saja.
Tangan kanan Felix terulur, ia raih pergelangan tangan kiri Aily kemudian sedikit membuka baju bagian lengan gadis itu, guna menunjukkan pergelangan tangannya dengan lebih jelas lagi.
Ada bekas sayatan di sana, "Kau tak mengingat ini?" tanyanya.
Aily memusatkan perhatiannya pada sayatan di sana, ada sesuatu dalam dirinya yang menyesakkan dadanya. Nafasnya terdengar tercekat, hingga tanpa sadar, Aily meneteskan air mata di pipinya. Kemudian ia rasakan sekujur tubuhnya yang melemah dan berakhir di pangkuan Felix.
"Sudah ku duga, dia tidak akan mengingatnya."
__ADS_1