
"Maaf, Karina. Aku menyakiti mu,"
"Lo siapa anjir!"
"Jaga Duke Felix untuk ku, ya?"
Mata Karina membulat. Ia ingat, tempatnya saat ini adalah tempat yang sama dengan yang ada di mimpinya. Lalu gadis di hadapannya ini, sepertinya Karina pernah melihatnya.
"Lo Aily?" tanya Karina.
"Kita Aily, Karina. Aku hanyalah suara hati mu."
"Ya, Oke. Kalo gitu kasih tahu gue dong apa-apa tentang lo. Yakali gue hidup kayak amnesia."
"WOYY!" teriak Karina saat mendapati tubuh Aily mulai memudar dari pandangannya. Karina mulai berlari mengikuti kemana angin membawa pudarnya Aily.
Karina terus coba untuk mengejar, namun sayang, sebuah pintu terbuka dan keluar cahaya yang sangat terang dari sana. Karina seperti di tarik masuk ke pintu tersebut. Dalam hatinya, ia berharap, "Kalo emang ini jalan menuju Om Felix, gue rela deh!" ucapnya.
Kemudian, tubuhnya terhempas begitu ringan, tersedot ke dalam pintu dengan cahaya bagai magnet.
...¤¤¤...
Aily terperanjat. Ia membuka matanya dengan cepat lalu mengedarkan pandangan. Nafasnya naik turun di sertai keringat dingin dan tangan yang sedikit gemetar.
Masih di sini, pikir Aily. Ruangan yang sama dengan semalam, kamar Felix. Aily mengucek matanya kemudian turun dari ranjang, rambutnya yang sedikit berantakan, ia ikat dengan asal kemudian turun ke lantai bawah.
Maniknya terus menerus mencari sosok Felix, jahat sekali om om itu meninggalkan nya sendirian.
Tengah sibuk mencari, hidungnya menangkap aroma lezat dari ujung rumah. Sepertinya itu dapur, pikir Aily. Gadis itu dengan cepat melangkah kedua kakinya ke sana, di dukung oleh perutnya yang mulai keroncongan.
Saat tiba, itu memang dapur. Pelayan di sana mengarahkan letak meja makan dan menyuruh Aily untuk duduk.
"Om Felix, dimana?" tanya Aily.
"Tuan sedang di dapur," ucap Pelayan itu.
Dahi Aily berkerut, "Lagi ngapain?"
"Sedang memasak, Nyonya. Masakan beliau sangat lezat, anda harus mencobanya." Setelah mengatakan itu Pelayan tadi langsung meninggalkan Aily dengan alasan hendak membantu Felix di dapur.
Karena memang malas, Aily hanya duduk menunggu makanan datang. Namun kepalanya sepertinya mengingat sesuatu. Iaros!
Aily berjalan dengan cepat menuju kamar Iaros. Ia lihat bayi itu sedang terduduk memainkan mainan di lantai. Karena gemas, Aily kemudian mengangkat bayi itu dan menjahilinya.
__ADS_1
"Lo mau ikut gak? Gue kasih permen deh," ucap Aily.
Iaros hanya terdiam sambil memusatkan perhatiannya pada manik biru milik Aily. Bayi itu perlahan mendekat dan mencium pipi kanan Aily. Kaget? Tidak. Malu? Tidak. Salting? Iya!!
"Eits! Lo kecil-kecil dan main cium-cium aja, gak baik tahu!" ujarnya.
"Siapa yang berani mencium istri Duke Felix?" tanya Felix dari ambang pintu di belakang Aily.
"Anak nakal! Jangan merebut apa yang Papa mu punya!"
"Iya, kan?" goda Aily.
Felix mulai merasa bingung, "Bahasa mu sudah mulai kembali, Aily. Terus pertahankan, aku kurang suka," ucap Felix.
"Emang perlu om suka ya,"
"Tentu. Aku pemilik rumah ini dan kau harus menuruti permintaan ku." Felix mendekat kemudian mengecup bibir Aily, ciuman itu terjadi cukup lama hingga Aily hampir saja kehilangan nafasnya.
Saat Felix menarik kembali wajahnya, dada bidangnya langsung mendapat sebuah pukulan dari Aily, "Om yang nakal! Ada anak kecil maen cium aja! Dah lah, semua cowo itu sama aja!"
...¤¤¤...
Aily menyantap hidangan yang ada di meja makan, seperti yang Pelayan tadi bilang, semua masakan ini dibuat khusus oleh tuan rumahnya, Felix.
"Apanya?"
"Makanannya, apa sesuai dengan selera mu?" tanya nya lagi.
Aily meraih gelas lalu menuangkan air putih, "Gimana, ya. Suka semua sih, masakan om enak lagi. Mantap deh!" seru gadis itu.
Felix terkekeh, "Hari ini aku tidak akan pulang, tidak apa, kan?"
Dahi Aily berkerut, gadis itu merasa heran. Memangnya Felix akan pergi kemana sampai tidak akan pulang? "Kenapa?" tanya Aily.
"Ada perjalanan bisnis yang harus aku kerjakan. Tidak akan lama, sekitar satu minggu," ucapnya.
"Seminggu!? Itu lama, om!"
"Kenapa? Kau akan merindukan ku?"
"E-enggak! Ngapain juga, cuma ya takut aja kalo di tinggal sendiri."
Felix bangkit dari duduk, kemudian berjongkok di depan Aily, "Aku akan segera pulang setelah pekerjaan selesai, jaga Iaros untukku."
__ADS_1
Aily cemberut saat Felix begitu saja bangkit dan meninggalkannya di meja makan. Felix pikir dia ini adalah barang? Bisa ditinggal begitu saja, baru juga kemarin menikah masa harus udah di tinggal lagi, pikir Aily.
Gadis itu ikut bangkit dan mengikuti Felix, "Janji ya cepet pulang," ucap Aily.
"Janji."
"Awas kalo boong!"
"Kau tak percaya pada suami mu?" tanya Felix sembari memutar badan.
Aily tak menjawab, gadis itu hanya berjalan mendahului Felix dan masuk ke kamar Iaros. Dilihatnya sang anak kecil sepertinya sedang tertidur pulas. Namanya bayi, kerjaan nya pasti tidur terus.
"Iaros, pas lo udah gede jangan lupa buat bales dendam ya sama Papa. Marahin aja dia! Salah siapa ninggalin kita berdua di sini, ya?" ucap Aily.
Ia colek-colek pipi gembul anak itu. Iaros itu tampan walau masih kecil, Aily bisa lihat dengan jelas. Yang ganteng mah nomor satu!
Rambut hitam kebiruan Iaros sangat cocok dengan kulit putihnya, bola mata abu-abu dan jangan lupa, bibir Iaros itu sangat ... Sexy. Aily bisa lihat detail-detail itu dengan jelas. Ia berharap kelak Iaros menjadi pria yang tampan tapi dengan sifat tegas seperti Felix.
Sudahlah! Aily terlalu memikirkan masa depan.
Gadis itu menoleh saat seseorang mengetuk pintu, ah itu Felix. Dengan cepat gadis itu berbalik, tak mau memperlihatkan wajahnya.
"Aku akan pergi sekarang. Kau tidak ingin mendapat pelukan perpisahan?" tanyanya.
"Sini aja kalo berani!"
Felix mendekat, aroma mint langsung masuk ke penciuman Aily. Sangat harus namun ada sensasi dingin juga, "Kalau seperti ini bagaimana?"
Felix memeluk Aily dari belakang, laki-laki itu mendekap tubuh Aily untuk beberapa saat.
"Jangan lama-lama ih!" ucap Aily.
"Sebentar lagi, Aily. Aku masih ingin memeluk, mu." Felix mengecup singkat pipi gadis itu. Sontak saja wajah Aily memerah menahan malu.
"Kalau begitu aku pamit. Aku berjanji akan pulang secepatnya," ucap Felix.
Laki-laki itu berjalan keluar di ikuti Aily, mau tidak mau gadis itu tentu harus mengantarkan 'suaminya' tepat ke pintu keluar.
"Dah~!" ucap Aily dengan tangan yang di lambaikan.
Felix tersenyum kemudian masuk ke kereta kuda, tangannya ikut di lambaikan. Kereta kuda itu bergerak meninggalkan kawasan kediaman Felix. Setelah di rasa cukup jauh, Aily masuk lagi ke dalam.
"BEBAS!!" serunya kencang lalu masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Akhirnya."