
Devan menahan amarahnya dan berusaha menenangkan Eright yang terus saja menggeram di dalam pikirannya, mencoba mengambil alih tubuh Devan.
Geerr
Geraman Eright terdengar. Devan tak dapat menahannya lagi karna ia pun di selimuti kemarahan yang sama.
"Devan!" ucap keduanya tak kala melihat Devan berdiri di sana. Dengan segera mereka melepaskan pelukan satu sama lain.
Brukk..
Tubuh Fano menghantam lantai marmer setelah mendapat pukulan dari Devan tepat di sudut bibirnya. Membuat darah segar mengalir di sana.
Devan menatap sahabatnya itu tajam. Baru kali ini ia berkelahi dengannya. Biasanya mereka melindungi satu sama lain. Namun, sekarang apa?
"Apa maksut lo?" jawab Fano tak mengerti, namun Devan tak memperdulikannya.
Brakk..
Devan melempar tubuh Fano hingga menghantam dinding membuat tubuhnya tergeletak tak berdosa.
Tak ada niatan Fano untuk melawan Alphanya itu. Ia tidak ingin membuat keadaan semakin memburuk dan membuat sedih gadis yang ia sayangi.
Devan mendekati Fano kemudian mengangkat kerah bajunya. Membuat sang empu mau tidak mau berdiri.
"Seharusnya gue yang nanya. Apa maksut lo ngelakuin itu?" Kali ini pukulan Devan yertuju pada perut Fano.
"Devan cukup! Jangan pukul kak Fano lagi, aku mohon. Semuanya nggak seperti yang kau lihat. Aku bisa jelasin semuanya." ucap Rora memohon. Ia mencoba memberanikan diri membuka suara. Sejujurnya ia sangat takut. Devan sangat mengerikan saat ini.
"Kau!" Sekarang, tatapan tajam itu tertuju kapada Rora.
Tanpa ngengucapkan apapun Devan menggenggam tangan Rora dan menariknya kasar.
"Lepaskan! Ini sakit." Rora mencoba memberontak, tapi semakin ia memberontak semakin kuat Devan menggenggam tangannya.
Fano yang melihat itu tak dapat apa pun saat ini. Tulangnya serasa sudah remuk, ditambah dengan rasa sakit di perutnya membuat ia tambah lemas.
"Devan lapaskan aku! Ini benar-benar sakit," ucap Rora lirih. Namun Devan tak memperdulikannya sama sekali. Ia sudah dilingkupi kemarahannya.
Rora terus ditarik oleh Devan hingga ia tau kemana arah tujuan Devan sekarang. Kamar. Yha kamar mereeka tinggal beberapa langkah lagi.
Brakk..
Setelah masuki kamar, Devan membanting pintu kamarnya. Tangannya masih menggenggam tangan Rora yang menjadi sudah biru karna dirinya.
"Lepaskan!" Tak sia-sia usahanya kali ini. Tangannya terlepas juga dari Devan.
"Berhenti di sana!" ucap Rora melihat Devan melangkahkan kakinya tepet ke arahnya.
Melihat itu Rora terus berjalan mundur dan menatap Devan waspada dan dengan rasa takut karna Devan menatapnya seperti mangsa yang akan ditelannya bulat-bulat.
Depp...
Jantung Rora berdegup cepat. Tak ada jalan lagi untuknya.
Devan tetep melangkahkan kakinya mendekati Rora yang telah derdiri diam di sana karna punggungnya talah membentur dinding di belakannya.
Devan menarik tangan Rora lalu melemparkannya ke atas kasur dan diikuti oleh dirinya.
__ADS_1
Rora membuka matanya. Jantunya sekali lagi berdegup kencang melihat Devan berada di atasnya dan kedua tangannya masih di tahan oleh Matnya itu.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanpa Rora sadari air mata telah membasahi kedua pipinya. Ia merasa sangat buruk sakarang.
"Melakukan apa yang kau mau." Setelah mengucapkan itu Devan langsung mendartkan di atas bibir Rora. Melalap habis bibir itu dengan kasar, menyebabkan cairan merah itu keluar.
Rora tak membalas ciuman itu. Ia mencoba memberontak namun, rahangnya sudah dicengkram oleh Devan sangat kuat.
Tersadar tangan Devan telah melapaskan tangan kirinya, Rora memukul bahu serta lengan Devan, berusaha memisahkan tubuhnya dengan tubuh Devan.
Rora terus memukul Devan dengan sekuat tenaga hingga meninggalkan tanda merah bekas pukulan disana namun, Devan belum juga melepaskan bibir mereka.
Sudah puas membuat bibir Matnya membengkak, Devan menghentikan aksinya, memberikan jarak antara mereka.
Lagi-lagi tangan Devan mencengkram tangan Kiri Rora yang sudah memukulinya. "Dari tadi cuman segini kemampuan lo? Ck.. LEMAH."
Air mata keluar lagi, mengalir membasahi pipi yang sudah merah karna lelah itu. Kata-kata Devan terlalu tajam untuknya. Yha, dia lemah saat ini. Tidakkan mungkin ia melawan Devan yang predikat sebagai Alpha.
Kedua mata Devan berubah warna menjadi merah. Kini Eright telah menguasai tubuh Devan.
Devan memindahkan kedua tangan Rora ke atas kepala Rora. Ia menahan kedua tangan Rora dengan satu tangannya kemudian melahab habis bibir Rora.
Ciuman Devan turun di leher mulus Matenya. Menciuminya, menggigitinya, menjilitinya, dan menciumnya lagi hingga meninggalkan bercak-bercak merah di sana.
Rora menggigit bibir bawahnya, menahan suara desahan yang keluar dari mulutnya.
Semakin lama Devan semakin kalut. Ciumannya semakin turun kebawah, beralih ke dada putih Rora.
Merasakan itu Rora merasa takut, takut bila Devan berbuat lebih kepadanya. Itu tidak benar. Tak seharusnya Devan melakukan 'itu'. Tidak dengan cara seperti ini.
"Devan, aku mohon hentikan," pinta Rora lirih, berharap Matenya itu mau mendengarkannya.
Ia terus menciumi leher Matenya. Berusaha mencari tempat yang tepat untuk menancapkan taringnya.
Ciuman Devan berhenti. Ia telah menemukan spot yang tepat untuk menandai Matenya.
Beberapa kali Devan mencium singkat tempat tersebut dan ini saatnya menancapkan taringnya. Menjadikan Rora miliknya. Hanya miliknya.
Leher Rora terasa dingin ketika napas Devan berhembus di sana. Tak lama ia merasakan benda kenyal menyentuh lehernya lembut dan kemudian dua benda tajam menembus kulit lehernya, membuat sakit yang luar biasa.
Tangan Rora terlepas dari cengkraman Devan dan beralih ke kepala dan punggung Devan. Ia meremas rambut dan kaus Devan untuk mengurangi rasa sakitnya.
Perlahan kesadaran Rora menurun. Tenaganya sudah terkuras habis. Ditambah rasa sakit membuatnya lemas. Ia pingsan.
Merasa sudah cukup, Devan menarik taringnya dan menjilati darah yang keluar di leher Matenya kemudian menciumnya singkat. Yha, dia telah menandai Rora.
*****
Cahaya mata hari menerobos masuk dari lubang-lubang ventilasi, membuat cahayanya menyinari pata gadis yang masih tertidur.
Merasa terusik, Rora membuka matanya perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
Rora bangun, duduk sebentar di atas kasur. Dia memandangi sekitarnya sebentar. Kejadian semalam terputar lagi di otaknya.
Rora menghembuskan napas beratnya, kemudian bergegas pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Sesampainya di sana, Rora pun melapas satu per satu pakaiannya. Tanpa sengaja ia melihat pantulannya di cermin.
__ADS_1
Apakah ia sangat mengenaskan saat ini? Dengan keadaannya sekarang. Rambut berangakan, kantung mata tampak di kedua matanya, bibir yang sedikit sobek, lebam di pergelangan tanganya, serta bercak-bercak merah dari leher sampai buah dadanya.
Dan satu lagi. Sebuah tato berbentuk bulan sabit dengan keenam bintang yang mengelilinginya. Sangat indah. Itu adalah tanda yang diberikan Devan untuknya. Tanda kepemilikan Devan.
Selesai bercermin Rora menghidupkan shower, membasahi dirinya dari ujung rambut sampai bawah. Ia mencoba membuat tubuhnya kembali segar dan lebih tenang.
Kegiatan mandi akhirnya selesai. Rora keluar dengan turtleneck lengan panjang perwarna peach agar menutupi lehernya dan jens putih panjang.
Setelah membersihkan kamarnya Rora bergegas keluar dan menuruni tangga. Ia mencari kebaradaan seseorang.
Rora bergegas pergi ke tempat di mana di malam itu Devan memululi Fano dengan kemarahannya. Sesampainya di sana ia tak menamukan seseorang yang ia cari.
"Kakak! Ayo sarapan!" Sebuah tangan mendarat di bahu kanak Rora, membuat si empu kaget dan langsung berbalik arah.
"Derin! Kau mengagetkanku. Kuy!" Mereka bergegas menuju ruang makan yang lumayan jauh dari tempat mereka berada saat ini.
Lima menit kemudian mereka sampai di ruang makan yang sudah ada Clara, Dave dan Devan. Derin mengambil kursi di samping Mamanya, sedangkan Rora di samping Devan tentunya.
Rora duduk diam di samping Devan yang tengah asik melahap makanannya tanpa suara. Setelah Derin salasai mengambil sarapannya, ia pun mengambil sarapan untuknya.
"Rora, kau sakit?" tanya Clara khawatir melihat calon menantunya pakaian yang cukup tebal dan tertutup.
"Tidak ma, hanya sedikit kurang enak badan," jawab Rora seadanya.
"Setelah sarapan minum obat. Mama nggak mau kamu sakit. Bukankah lusa kalian akan menikah?" Menikah. Sesaat ia berfikir, masih percayakah ia dengan Devan?
"Devan!" Merasa terpanggil Devan menolehkan kepalanya kepada Clara. "Jaga Matemu!" Titah Clara yang dibalas anggukan oleh putranya.
"Ma! Mama lihat kak Fano? Karena kawatir Rora langsung bertanya seseorang yang tengah ia cari.
Rahang Devan mengeras melihat Matenya menanyakan keberadaan pria lain. Namun, Devan memilih untuk diam, melihat apa yang akan dilakukan Matenya.
"Oh iya, Mama lupa. Tadi pagi waktu Mama dan Ayah pulang, Fano tergelatak di lorong depan aula belakang dengan wajah lebam. Kemudian Ayahmu menyuruh beberapa Warrior untuk membawanya ke kamar." Clara bercerita panjang lebar. Ada rasa kehawatiran di sana. Clara mengangap Fano sebagai putranya sendiri. Dia tidak pernah membedakan Devan dan Fano, begitupun juga dengan Dave.
"Apa ada penyusup? Semua baik-baik saja kan, Devan?"
Devan menganggukkan kepalanya. "Iya Ayah. Semua baik-baik saja." Devan menjawab tegas seolah tidak terjadi apapun.
*****
Perasaan lega terasa di hati Rora setelah melihat kondisi Fano yang baik-baik saja. Pria itu tak memikirkan keadaannya, malah ia malah kawatir jika Devan bermain tangan dengan Rora.
Saat Fano menanyakan keadaannya ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ia tak ingin membuatnya kawatir.
"Fano bisa pergi ke sana, kenapa tidak dia saja yang mewakiliku?" Terdengar suara Devan dari dalam ruang kerjanya. Mereka membicarakan Fano. Sontak saja membuat Rora berhenti dan mendengarkannya.
"Bukankah dia masih sakit?"
"Dia sudah baik-baik saja. Dia bisa pergi besok." Devan meminta Fano pergi. Kemana? pikir Rora.
"Bukankah lusa adalah pernikahan Alpha dan Luna Rora? Dan bukakkah tugas di Red Moon Pack selama lima hari?"
"Iya, tapi tak apa kan kalau Fano pergi ke sana."
Kleek..
Pandangan kedua pria yang berada di dalam tersebut mengarah kapada pintu masuk yang dibuka secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Luna!" Melihat Rora, Bara langsung menundukkan kepalanya memberi hormat.