My Perfect Luna

My Perfect Luna
MPL-3


__ADS_3

Cewek itu adalah.... Mateku," air mataku lagi-lagi lolos dari mataku begitu saja.


"Ra, gue minta tolong. Lo bisa kan ngertiin gue?" Cowok itu memegang kedua tanganku dan menatapku lakat.


"Yha, gue bisa kok ngertiin lo." ia bernapas laga. "Mungkin ini saatnya," lanjutku. Ku lihat ia mengerutkan dahinya, sedangkan aku hanya tersenyum labar.


"Saatnya?" tanya cowok tersebut polos.


"Saatnya untuk mengakhiri hubungan kita ini." dengan penuh keyakinan aku mengatakannya. Tak lupa kuberikan senyum lebarku kepadanya dan melepaskan tangannya yang masih menggegam tanganku.


"Tapi, kenapa?"


"Kau sedah menemukan matemu, Ren." dari matanya aku dapat melihat kekecewaannya.


"Enggak. Bukan itu yang gue inginin."


"Lalu apa?"


"Lo."


"Lo yang gue inginin."


"Lo cinta kan sama mate lo, Ren?" entah mengapa pertanyaan itu keluar dari mulutku.


"Gu.. gue, mencintainya."


"Tapi, rasa cinta gue ke dia tak sebesar rasa cinta gue ke lo." mendengar hal itu sontak membuatku terkejut. Aku tidak menyangka ia akan menjawab seperti itu.


"Enggak Ren."


"Gue nggak mau jadi orang ketiga dalam hubungan kalian." kulihat ranghang cowok itu mengeras dan menatapku tajam.


"Lepas Ren. Lepasin gue!" Cowok itu langsung memegang tanganku erat dan menarikku ke mobilnya.


"Cepat masuk!" Ia mendorong tubuhku ke dalam mobil.


"Lo mau bawa gue kemana?" Aku mencoba menahan tubuhku dengan memegang bagian luar mobil kuat-kuat.


"Cepat, lo masuk aja." Aku tau cepat atau lambat, mau tidak mau tubuhku ini terdorong masuk."


"Lo mau bawa gue kemana?" tanyaku sedikit berteriak saat aku melihat ia membawa mobil ini masuk ke dalam hutan.


"Gue nggak akan nglepasin lo, Ra. Lo cuma buat gue. Lo milik gue."


"Ren, sadar. Gue bukan mate lo. Gue bukan milik lo." aku sedikit berfikir jika cowok ini sudah gila.


"Gue nggak peduli soal itu, Ra."


"Yang gue mau cuma lo selalu ada di samping gue." Cowok tersebut tersenyum lebar disertai sorot mata yang tajam.


"Hentikan mobilnya!" Aku berteriak tepat di telinganya.

__ADS_1


"Jangan harap," jawabnya tak kalah kencang.


"Hentikan mobilnya atau aku loncat." Dalam seketika mobil yang kami tumpangi langsung berhenti.


Tak menyia- nyiakan kesempatan, aku langsung membuka pintu dan berlari ke dalam hutanyang tak ku ketahui namanya ataupun letak wilayahnya.


"Ra, tungguin gue! Jangan harap lo bisa lepas dari gue gitu aja," mendengar teriakkannya itu kupercepat langkah kakiku.


Dua puluh menit sudah aku berlari ke arah selatan. Kurasa aku sudah jauh dari cowok gila itu.


Dia adalah mantan kekasihku. Mantan, aku menganggap hubungan kami telah berakhir setelah ia bertemu dengan matenya.


Tersadar aku memasuki hutan terlalu dalam, aku langsung kehilangan arah. Belum lagi matahari telah terbenam dan digantikan oleh rembulan. Maka dari itu aku memutuskan untuk bermalam disini. Semoga saja tidak ada hewan buas atau hewan yang menjijikkan yang menggangguku.


"Berhenti di sana, penyusup." Aku tersentak kaget dan segera membalikkan tubuhku 180°.


Aku melihat para warior penjaga yang sedang menghampiriku dan sekarang mereka mengepungku dengan mengelilingiku. Ada sekitar 7-8 warior yang sedang mengepungku dengan tatapan tajam dan posisi siapa menyerang.


Aku tidak tau harus bagaimana. Aku seorang shewolf menyerang 8 warior sendirian? Yang benar saja. Jika aku menyerahkan diri? Aku masih mempunyai harga diri.


Melihatku tanpa memberikan serangan, salah satu warior itu mendekatiku secara waspada dan langsung menarik tanganku serta mengunci pergerakanku.


"Aku mohon lepaskan aku. Aku bukan penyusup, mata-mata, atau apapun itu yang merugikan pack kalian." Aku memohon dengan setulus hatiku.


"Shewolf."


"Katakan dari pack mana kau berasal" salah satu Warrior tersebut berterian tepat di telingaku yang membuat telingaku berdengung.


"Aku tinggal di dunia manusia. Aku hanya tersesat disini. Aku mohon lepaskan aku." jujur aku bingung harus menjawab apa. Pack? Sudah lama aku tidak tinggal di pack.


"Aku tidak berbohong. Lepaskan aku!" Aku memohon dengan suara yang lebih pelan dan memelas. Tanpa sadar air mataku telah membasai kedua pipiku.


Salah seorang Warrior mendekatiku dan mencengkram rahangku. "Kami tidak akan terpengaruh dengan air matamu ini bodoh." Ia memhempaskan rahangku dengan kasar.


"Cepat bawa dia ke Pack House! Kita lihat saja bagaimana ia membuka mulutnya saat diintrogasi oleh beta nanti." mereka langsung menarik paksa tanganku yang ku yakin mereka akan membawa ke Pack House mereka.


"Lepaskan aku. Lepaskan..!" Aku masih saja memberontak walaupun semua itu akan sia-sia. Aku tidak dapat mengimbangi kekeuatan mereka.


Semakin lama hutan semakin terasa gelap. Dengan demikian penglihatan pun sedikit berkurang.


Bruukk...


Tubuhku terjatuh karena tersandung batu yang lumayan besar yang membuat lututku berdarah karnanya.


"Jalan tuh lihat-lihat. Punya mata kan?"


"Jangan sampai kubuat kedua matamu tidak berfungsi lagi," kedua Warrior tersebut menarik kedua tanganku, berusaha membuatku berdiri kembali.


"Mata gadis itu atau mata kalian yang akan tidak berfungsi?" suara dingin tersebut terdengar dari balik semak-semak.


Dengan spontan kami semua mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Di sana aku dapat melihat tiga orang pria yang menatap kami tajam.

__ADS_1


"Alpha." Kelima Warrior yang tersisa itu sontak langsung menunduk, memberikan hormat kapada mereka.


Tiba-tiba saja pandanganku pudar. Tubuhku mulai lemas dan kehilangan keseimbangan. Kepalaku terasa sangat berat, dan perlahan kesadaranku mulai menghilang. Mataku mulai tertutup dan tubuhku terjatuh di atas tanah.


Devanio POV


Hari sudah malam. Matahari sudah tenggelam. Cahaya bulan menerangi kaum warewolf dengan cahaya indahnya.


Saat ini Aku, Beta, Gamaku serta beberapa Warrior telah selesai menghabisi para rogue yang menyusup daerah barat packku. Kami langsung kembali ke Pack Hous.


Dalam perjalanan tiba-tiba aku mencuim aroma yang sangat aku rindukan. Lavender mint, itu aroma yang mencuri perhatianku saat ini.


"Mate... mate. Akhirnya kita dapat bertemu dengannya lagi. Dev cepat cari diadan jangan biarkan dia lepas," guman Eright melalui mindlink dan aku pun menyetujuinya.


"Alpha, apakah ada ada sesuatu yang mencurigakan?" Fano, Betaku bertanya. Ia melihatku berhenti secara tiba-tiba.


Aku tidak menjawab ataupun menanggapinya. Aku langsung mencari asal aroma yang membuatku candu tersebut. Tanpa perintah dariku mereka mengikutiku dari belakang.


Langkahku langsung terhenti ketika melihat pemilik aroma tersebut di depan mataku. Tepatnya di sebalik semak-semak yang tinggi di hadapanku. Aku dapat melihatnya dari lubang-lubang kecil di balik semak-semak ini.


Aku melihat ia berpenampilan sangat kacau. Matanya bengkak, kedua tangannya lebam dan rambut yang berantakan, menutupi wajah cantiknya. Serta lututnya yang terluka.


"Jalan tuh lihat-lihat, kau punya mata kan?"


"Jangan sampai kubuat kadua matamu tidak berfungsi." salah satu warriorku berteriak kepadanya.


"Berani-beraninya mereka menyentuh mateku. Sipapun yang berani menyentuhnya apalagi melukainya tanpa seizinku akan kuhancurkan semua tulang-tulang yang ada di tubuhnya," Eright menggeram di pikiranku.


"Mata gadis itu yang akan tidak berfungsi atau mata kalian," ucapku yang sedari tadi kutahan.


Mereka semua sontak melihat ke arahku. Lebih tepatnya ke semak-semak yang menutupiku. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung menebas semak-semak tersebut sehingga memperlihatkanku, Beta, dan Gamaku.


"Alpha." kelima Warrior tersebut membungkuk, memberiku hormat. Namun tidak mate-ku. Ia menunduk ketakutan melihatku beserta kedua orang di belakangku.


Beberapa detik kemudian mate-ku ambruk, jatuh di atas tanah. Ia pingsan. Melihatnya pingsan aku langsung berlari ke arahnya dam memaruh kapalanya di pangkuanku.


"Aku mohon, bangunlah." tanganku menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi wajahnya dan kemudian mengelus pipinya.


"Alpha mengenal gadia itu?" Gamaku yang merasa heran dengan sedikit rasa takut memberanikan dirinya untuk membuka suara. Bukan dia saja yang merasa heran, semua yang berada di sini dibuat heran melihatnya.


"Dia Luna kita," jawabku datar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2