My Perfect Luna

My Perfect Luna
MPL-8


__ADS_3

Aku melihatnya. Mataku tak ingin lepas menatapnya. Ia terlihat sangat cantik malam ini. Dengan dres biru berlengan panjang sampai siku dan menutupi pahanya sampai atas lututnya. Ia berjalan menurunin tangga dengan anggun dan di sebelahnya ada Derin yang menemaninya.


"Luna." Sesampainya di depan mama, Mateku membunggukkan badannya, memberikan hormat.


"Ett- itu dulu. Sekarang, kau lah Lunanya. Dan panggil aku Mama, kamu mengerti sayang?" Mateku mengangguk, pertanda mengerti.


"Cantik sekali," Mama mengangkat dagu Mateku hungga mata mereka bertemu.


"Terima kasih ma," mereka saling melemparkan senyuman dan kemudian berpelukan.


"Oh iya, Devan. Siapa nama Matemu ini?" Mereka melepaskan pelukannya dan berbalik menatapku.


Aku terdiam. Tak tau harus menjawab apa. Jujur aku belum bertanya namanya. Mengapa amu melupakan hal sekecil itu? Dan saat ini mereka semua menatapku heran. Sedangkan aku hanya dapat memasang wajah datarku untuk menutupi rasa malu.


"Mama! Mengapa Mama bertanya kepada kak Devan? Percuma saja Mama bertanya kepadanya, ia tidak akan menjawab. Memangnya kakak tau nama Matenya?" ucap Derin menantang. Beruntung ia Adikku, jika tidak entah apa yang akan aku lakukan.


"Devan, kamu tidak mengetahui nama Matemu? Ceh...ceh..ceh.." Mama menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Baikhlah, kalau begitu Mama akan bertanya sendiri," ucap Mama kasal dan mengalihkan pandangannya kapada Mateku.


"Beri tau Mama siapa namamu, sayang?" tanya Mama halaus sembari memegang pipi kiri Mateku.


"Aurora, Aurora Derlich," jawabnya sedikit gugup.


"Nama yang indah." Mama menurunkan tangannya dan menoleh ke arahku. "Kau dengar itu Devan?"


"Iya, Ma," jawabku singkat.


"Ehem.. apa kita bisa makan sekarang?" Derin menyampaikan niatnya frontal. Sepertinya adikku itu sangat kelaparan.


"Iya sayang," jawab Mama sembari memeluk Derin.


"Baiklah. Sekarang ako kita makan!" Kamipun mendekati meja dan menempati kursi masing-masing.


Aurora POV


Makan pun dimulai. Kami semua makan dangan hikmat tanpa suara apapun selain pisau dan garpu di piring. Saat ini aku berusaha menjaga sikapku. Aku tidak ingin melakukan kesalahan apa pun yang dapat mempermalukanku.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Ayah di sela-sela makan yang berhasil membuatku tersedak.


"Hey- hati-hati, Amour!" dengan sigap Devan memberiku segelas air.


"Lima hari, Yah," jawab Devan tanpa beban. Sementara aku kaget setengah mati dibuatnya.


"Baguslah, lebih cepat lebih baik. Apalagi bulan purnama akan muncul dua minggu lagi. Jadi lebih bagus meresmikan hubungan kalian sebelum bulan purnama.


"Sebentar lagi Mama akan punya cucu nih," goda Mama sembari tersenyum lebar yang diikuti ileh Derin dan Ayah.

__ADS_1


Dengan susah payah aku menelan ludahku. Aku yakin wajahku menjadi merah. Entah apa yang kurasakan sekarang. Semua bercampur, antara bingung, malu, dan ngeri, hinga aku diam mematung dengan tatapan kosong.


Sebuah tangan menggenggam tangan kiriku yang membuatku tersadar dari lamunan. Tangan tersebut tak lain adalah tangan Devan. "Mama."


"Iya sayang. Mama hanya bercanda." Mereka pun tertawadan aku hanya memberikan senyuman canggung.


Makan malam telah selesai. Saat ini aku berada di kamar bersama Devan. Setelah ia keluar dari kamar mandi, sekarang giliranku. Mencuci muka serta menggosok gigi sebelum tidur.


Keluar dari kamar mandi, aku tidak menemukan Devan di kamar. Mungkin ia di ruang kerjanya untuk menyelesaikan tugasnya yang penting atau mungkin juga ada rapat mendadak.


Karena rasa kantuk sudah melandaku. Aku putuskan untuk naik ke atas kasur, merebahkan tubuhku, dan menutup mataku hingga terlelap.


Devaini POV


Aku berada di ruang kerjaku. Menunggu Fano dan Bara datang. Mereka telah mengetahui latar belakang Mateku dan akan memberikan informasi tersebut.


"Masuk," ucapku setelah mendengar ketukan pintu.


Mereka pun masuk ke ruanganku. Aku melirik mereka sekilas. Aku melihat Fano, Bara, dan Ayah. Ayah? Untuk apa ayah kesini?


"Ayah. Ayah ada perlu apa kemari?" tanyaku frontal.


"Ayah ingin menggetahui bagaimana kehidupan calon menantu Ayah sebelum ia bertemu denganmu. Apakah itu salah, Devan?" ucapayah dingin.


"Tidak Ayah," jawabku datar.


"Begini Alpha. Luna Aurora berasal dari keluarga Derlich. Dulu ia tinggal di Sliver Moon Pack. Ia adalah-"


"Tunggu. Sliver Moon Pack? Bukannya pernah terjadi perang besar di sana sekitar 10 tahun yang lalu? Dan pack mereka baru bangkit kembali setelah 2 tahun berlalu." Ayah memotong ucapan Bara.


"Iya Alpha, itu benar. Bahkan Luna Aurora kehilangan ayahnya akibat perang tersebut. Ayahnya yang tidak lain adalah Gama Silver Moon Pack." Bara menjawab pertanyaan Ayah panjang lebar.


Samar-samar kudengar suara geraman dari Fano. Sepertinya ia sedang menahan emosinya. Namun karna apa?


"Setelah kejadian tersebut, Luna Rora dan ibunya memilih tinggal bersama manusia. Meninggalkan packnya. Memulai hidup baru di sana. Dua tahun berlau, ia merasakan kehilangan lagi. Mamanya meninggal karena penyakit yang dideritanya," ucap Fano dengan nada semakin pelan.


"Luna adalah lulusan Wilingson University. Ia baru lulus tahun ini." lanjut Fano dengan menaikkan volumenya.


"Wilingson University. Universitas milik Om Rio?" tanyaku dan dijawab anggukan oleh Fano dan Bara.


Malam semakin larut. Sebelum matahari menampakkan dirinya, aku memutuskan untuk tidur. Mengistirahatkan pikiranku serta tubuhku.


Aurora POV


Aku terbangun dari tidur nyeyakku dan mendapati sebuah tangan yang melingkar di pinggangku. Dari aromanya aku sudah mengetahui itu tangan Devan. Ia memelukku dari belakang hingga tubuhku tak dapat bergerak.


Perlahan kucoba melepaskan pelukannya. Namun itu hanya sia-sia. Tangannya tidak bergerak sama sekali. Walaupun aku sudah mengeluarkan seluruh tenagaku.

__ADS_1


"Devan?" Aku memberanikan diriku untuk membangunkannya.


"Hem-"


"Aku mau mandi. Jadi apa kau bisa melepaskan tanganmu?" tanyaku berhati-hati.


Tak lama kemudian ia melepaskan tangannya dan mengusap wajahnya kasar. Aku langsung bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi.


Setelah 20 menit aku mandi akhirnya selesai. Aku keluar dari kamar mandi setalah memakai pakaian di walk in closed dan mendapati Devan yang tengah berdiri tapat di depan pintu, menunggu gilirannya mandi.


"OMJ. Dia terlihat sangat cool walaupun baru bangun tidur," Alice mulai memujunya.


"Maaf... permisi." Aku langsung mengalihkan pandanganku dan beranjak dari pintu.


"Tunggu." Mendengar itu tubuhku terdiam seketika walaupun dia tidak menggunakan Alpha tondnya.


"Selelah sarapan kita akan pergi. Jadi bersiap-siaplah," lanjutnya datar.


"Baik," jawabku singkat.


Sebelum bersiap aku memutuskan untuk membereskan kasur. Kurapikan selimut dan bantal-bantalnya. Setelah itu mendekati meja rias untuk bersiap-siap.


Oke, kurang dari lima belas menit aku sudah selesai memoleskan make up tipis serta menggelombangkan rambutku bagian bawah. Biasanya sih aku jarang menggunakan make up. Tapi aku harus terlihat sempurna ketika bersama Deven. Aku tak ingin dia merasa risi karena penampilanku yang mungkin kurang bisa diterima olehnya.


Kaus hitam berlangan panjang, dipadukan dengan rompi putih tanpa lengan sampai menutupi pahaku, dan celana jens hitam. Tak lupa sepatu kets putih telah melekat di tubuhku.


Berapa menit kemudian kulihat Dave telah keluar dari kamar mandi dengan kemeja hitam lengan panjang tang ditekuk sampai siku dan celana jens hitam, serta sepatu snakres hitam putih. Sepertinya ia sudah siap untuk turun.


******


Mobil kami melaju menyelusuri hutan yang lebat. Entah Devan akan membawaku kemana. Aku hanya duduk diam serta memandang diluar kaca.


"Kita akan kemana?" tanyaku penasaran


"Kau juga akan tau nanti," jawabnya datar tanpa menatapku. Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.


Mobil berhenti. Kamipun turun. Banyak pasang mata yang menatap kami terkagum-kagum. Siapa lagu kalau bukan Devan dan mobil Lamborgini modifikasi merahnya.


Aku merasa tempat ini tidak asing bagiku. Kampus. Tak salah lagi. Ini adalah kampus tempatku berkuliah.


"Kita kenapa ke kampus?" Kami memasuki pintu utama tanpa memperdulikan suasana sekitar.


"Aku ada urusan di sini." Ia melirikku sekilas.


*******


Selagi Devan di ruang pemilik Universitas Wilingson, aku memilih berkelililing melihat-lihat lingkungan sekitar yang tidak jauh berbeda saat terakhir kali aku lemari.

__ADS_1


"Rara. Hai..!" Aku memutar kepalaku 90° ke arah sumber suara. Aku mendapati sesorang yang melambaikan tangannya kepadaku.


__ADS_2