
Tanpa berpikir panjang aku langsung mendekatinya yang berdiri di ujung lorong penghubung antar ruang.
"Lo kemana aja? Baru sekarang lo muncul." Baru saja sampai disana aku langsung disambut dengan omelan Tania.
"Lo tau nggak sih kita itu nyariin lo," ucap Tania tampak khawatir. Aku hanya dapat tersenyum canggung menanggapinya.
Aku dan Tania berjalan menuju kantin. Menurut kami disanalah tempat yang paling cocok untuk mengobrol.
"Kalian? Siapa aja?" tanyaku disela-sela perjalanan.
"Yha siapa lagi kalau bukan aku, Shila, sama pacarmu." Sudah aku duga ia pasti masih mencariku.
"Ohh" jawabku santai.
"Lo kok santai benget sih? Seharusnya lo itu panik," ucap Tania ketus.
"Panik? Kenapa gue harus panik?" Kami tida dikantin. Segara kami duduk di kursi yang tersedia.
"Lo nggak tau? Pacar lo mau NIKAH," jawab Tania sontak membuatku tersentak karena kaget.
"Ternyata tuh cowok brengsek banget sih. Nggak nyangka gue. Baru lo tinggalin beberapa hari aja udah mau nikah sama cewek lain." Tania mengoceh tak jelas.
"Ya udah kalik. Lagian gue udah putus kok sama dia," jawabku santai sembari mengalihkan pandangan.
"Putus? Kapan?" tanya Tania penasaran.
"Setelah pesta perpisahan angkatan kita," ucapku jujur.
"Dan setelah itu, lo menghilang?" Tania mengarahkan telunjuknya kepadaku den meninggihkan volume suaranya yang membuat semua orang menatap ke arah kami.
Melihat semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah kami, aku langsung menutupi wajahku dengan buku daftar menu, sedangkan Tania tersenyum cenggung kepada mereka.
"Dia ninggalin lo demi cewek itu?" ucap Tania tak percaya.
"Bukan dia yang mutusin, tapi gue."
"Memengnya kenapa kalau dia mutusin gue demi cewek itu?" tanyaku penasaran dengan alasan yang nanti dilontarkannya.
"Dari segi manapun lo tuh lebih dari cewek itu. Lebih cantik, lebih tinggi, lebih seksi," oceh Tania mulai tak jelas.
"Lo tuh udah kayak model."
"Lha emang gue model kan?" jawabku santai. Aku memang seorang model. Demi mencukupi kubutuhan hidupku aku berkerja sebagai model. Yha walaupun tidak terlalu terkenal.
"Nah... itu sebebnya lo lebih dari pada dia," ucap Tania yangat percaya diri.
"Enggak semua juga. Mungkin dia lebih mencintai dia daripada aku, lebih sabar, lebih perhatian, lebih ramah. Yang pasti lebih pintar, dia juara umum lho." jelasku panjang lebar kepada Tania. Sudah seharusnya "dia" bersamanya, Matnya.
"Yha.. iya juga sih. Tapi kok lo malah belain dia sih. Hubungan kalian putus karena cewek itu kan?" Tania memandangku curiga.
"Bu-kan. Yha emang nggak jodoh aja." Aku bingung harus menjawab apa, pernyataannya tak sepenuhnya salah. Jawabanku enggak salah juga kan?
"Cepet banget sih move onnya, pasti udah ada ganti yha?" Ia bertanya dan seperti menyelidiki kebohongan di kedua mataku.
__ADS_1
"Eng-"
"Ayo pulang!" Ucapanku terpotong oleh seseorang dari belakangku. Sepertinya suara ini tak asing lagi ditelingaku.
Aku menoleh kebelakang. Memperlihatkan Devan yang menatapku lekat dengan wajah datarnya. Sedangkan Tania bingung dalam situasi ini.
"O..oke. Tania aku balik sekarang yha." Aku berdiri dari dudukku. "Eh.." tiba-tiba saja Tania menarik tanganku, membuat kepalaku mendekat kearahnya.
"Apa dia pacar baru lo? Pantas saja lo mudah melupakan mantan lo itu. Rupanya lo udah punya yang baru. Mereka sih sama sama ganteng. Tapi kau tau tau yang ini lebih cool.
"Apaan sih," aku melepaskan genggaman Tania dan melakukan apa yang sempat tertunda tadi.
Aku melangkah mendekati Devan. Ia langsung melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Aku duluan. Salam buat Sila," ucapku sebelum beranjak dari sana.
"Oke.. aku tunggu undangan kalian!" teriak Tania kepada kami yang sudah berjalan menjauh.
*******
Author POV
Matahari telah tenggelam. Malam ini Lunar bersinar dengan cahayanya yang terangnya. Memberikan pertanda baik bagi pasangan yang akan menikah malam ini.
"Kau sudah siap?" Seorang pria berjas coklat dengan celana senada berdiri di belakang perempuan yang memandangi pantulan dirinya di cermin.
"Iya. Ayo berangkat." Perempuan tersebut berdiri dari duduknya dan mendekati pria yang sudah menunggunya.
"Mama dan Ayah tidak ikut?" Mereka berjalan melewati lorong-lorong menuju teras mansion.
Mobil berhenti di tempat pernikahan diselenggarakan. Pernikahan ini bertemakan "Cople Fasion Weding". Namun yang datang tidak harus membawa pasangan mereka. Banyak para Alpha baru yang belum menemukan pasangannya. Intinya semua yang ada disini menggunakan karpet merah sebagai lantainya.
"Calon Alpha dan Calon Luna Blue Moon Pack tiba." Pintu mobil terbuka. Devan keluar dari mobil dan diikuti oleh Aurora.
Mereka melangkah perlahan dengan tangan Devan yang melingkar di pinggang Matenya.
"Selamat datang Pangeran Devan, saya ucapkan 'Selamat datang dan selamat, pangeran telah menemukan Mate anda.' Semoga anda dapat menikmati acara pernikahan ini." ucap salah seorang pria. Yha dia adalah Alpha Red Moon Pack.
"Aku harap juga seperti itu. Dan kami, meminta maaf atas ketidak hadiran Alpha dan Luna." ucap Devan penuh kewibawaan.
"Tak apa Pangeran, kalau begitu silahkan masuk," Tanpa meninggu lagi Aurora dan Devan melangkah masuk, menghampiri kedua pengantin yang tampak mengobrol dengan para tamu lainnya.
"Pangeran Rendra?" Devan memegang pundak pundak pengantin pria yang berada di hadapannya.
"Hei.! Devan, apa kabar?" Mereka berdua pun berpelukan. Mereka bersahabat sejak kecil. Walaupun sifat mereka berbeda 180°, dengan sifat Devan yang dingin, cuek, dan ketus, sedangkan Rendra yang frendly, ramah, dan perhatian, mereka dapat bersahabat.
"Selamat atas pernikahanmu," ucap Devan setelah melepaskan pelukannya.
"He'em,"
"Dan ini," Devan melirik Aurora sebentar sebelum menatap Reyhan kembali, "Mateku, Aurora."
Mata Rendra langsung tertuju menatap Aurora. Nama itu tidak asing di telinganya.
__ADS_1
Kedua mata mereka bertemu. Rendra sedikit kaget melihat siapa Mate sahabatnya itu. Aurora, yha dia adalah wanita yang mengisi hatinya sebelum ia menemukan Matnya saat ini.
Flace back
"Sila! Semuanya sudah berangkat?" Aurora menepuk pundak sahabatnya. Ia baru sampai di kampus pagi ini.
"Sepertinya sudah, sudah lumayan rame juga." Merekapun melangkah ke dalam menunggu halaman sokolah.
Hari ini adalah acara perpisahan kelulusan mahasiswa Wilingson University. Halaman sudah ramai dengan orang-orang yang mengambil foto dengan memenfaatkan dekorasi.
"Rendra!" teriak Aurora memanggil pacarnya.
"Udah samapi?" Rendra mengacak-acak rambut Aurora.
"Yha elah, lo nggak liat kita ada di sini? Berarti udah nyampai." ucap Sila ketus, ia sudah merasa menjadi 'obat nyamuk.'
"Jangan dia acak-acak! Nanti berantakan giaman?" Aurora berusaha merapikan rambutnya kembali.
"Emangnya kalau acak-acakan? Masih cantik kok," ucap Rendra menggoda.
"Udah ah gue mau pergi," ketus Sila merasa terabaikan kedua sejoli itu.
"Ya udah pergi aja sonoh, lagian siapa yang suruh lo perdiri di situ?" ucap Reyhan tak kalah ketus dari Sila. Ia hanya niat bercanda.
"Lo ma nyebelin. Gue heren deh kenapa Rara bisa betah 3 tahun pacaran sama orang kayak lo?" ucap Sila dengan nada heran.
"Yha karena gue baik, gensom, dan, manis," ucap Renhan dengan percaya dirinya.
"Pede amat lo,"
"Mau bukti? Tanya aja sama kakak angkatan, temen satau angkatan, dan adik angkatan. Pasti mereka bakalan berkata gua seperti yang gue omongin tadi," tantang Renhan kepada Sila.
"Serah lo lah. Ra gue pergi dulu, bay!" Sila berjalan menjauh, membiarkan kedua sejoli itu.
Untuk menghabiskan waktu, Rendra dan Aurora mengobrol di kursi yang terdapat di bawah pohon swmbari melihat pentas seni di atas panggung.
Ponsel Aurora berdering. Tertanda Erina menelfolnya.
"Halo Erin, ada apa?" ucap Aurora membuka suara.
'Anak-anak pada kumpul nih, bahas acara makan-makan minggu depan. Lo kesini gih!'
"Ooo, oke. Gue kesana sekarang." Aurora memarikan dan memasukkannya ke dalam saku.
"Sory, gue pergi ke kelas dulu ya? Pada kumpul soalnya," pamit Aurora kalepada Randra.
"Ooo, oke nggak papa kok. Nati kalau pulang telpon aku." Aurora menganggukkan kepalanya, dan bergegas menuju kelas.
Hari semakin siang. Aurora telah selesai rapat langsung menuju halaman untuk menemui Randra kembali.
Tak butuh waktu lama untuk mencari Rendra. Hanya dibutuhkan waktu 5 menit saja biasanya dia sudah terlihat.
Aurora berhenti. Ia tak ingin melanjutkan langkahnya. Dia telah menemukan Rendra. Rendra yang bergandengan tangan dengan seorang perempuan.
__ADS_1
"Ra, lo nggak papa?" Sila menepuk pundak Airora cukup keras dari belakang. Namun, tak ada pergerakan oleh sang empunya.
Tak menunggu jawaban dari Aurora, Sila mengikuti arah tatapan sahabatnya itu. "I.. itu Rendra kan?"