My Perfect Luna

My Perfect Luna
MPL-4


__ADS_3

"Dia Luna kita", jawabku datar yang membuat semua terkejut.


Tanpa menunggu lama, aku langsung membopong gadis itu dengan kedua tanganku menuju mansion agar segera diperiksa.


"Derin, panggil dokter wanita untuk ke kamarku sekarang!" titahku kepada adikku melalui mindlink.


Sesampainya di mansion, aku disambut oleh para penjaga dan beberapa omega yang melihatku heran. Bagaimana tidak, Alpha mereka yang tidak pernah membawa seorang wanita ke mansionnya, kini tengah menggendong wanita yang penampilannya sungguh berantakan.


"Kak Dev, siapa dia dan kenapa?" aku tidak menanggapai satupun pertanyaan Derin dan langsung menjatuhkan mateku ke kasur kingsize milikku.


"Alpha, maaf telah membuatmu menunggu." tiba-tiba dokter wanita datang dengan menundukkan kepala.


"Cepat periksa dia dan obati lukanya!" perintahku kepada dokter tersebut sebelum keluar dari kamar.


"Kak Devan, jawab pertanyaanku. Siapa perempuan tadi?" Derin mencoba mengintrogasiku.


"Alpha, bagaimana keadaan Luna?" belum sempat aku menjawab, Beta, Gama serta beberapa Warrior yang bersama mateku tadi datang.


"Dia sedang diperiksa", jawabku datar dan sedikit melirik mereka sesaat.


"A.. Alpha, k..kami meminta maaf karena kami Luna terluka." salah satu Warrior memberanikan diri membuka suara.


"Kami siap menerima hukuma apapun dari Alpha." lanjutnya penuh keyakinan.


"Sudahlah Dev, penggal saja kepala mereka semua. Aku akan puas melihatnya." guman Eright melelui Mindlink.


"Kali ini aku memaafkan kalian. Tapi jika terjadi apa-apa kepada Luna, aku tidak akan segan-segan menghukum kalian."


"Te... terimakasih, Alpha." Kelima Warrior tersebut bernapa lega setelah mendengar jawabanku.


"Kalau begitu, kami permisi, Alpha." ucap Beta meminta izin.


"Kalian bisa kembali."


"Bodoh. Mengapa kau melapaskan mereka?" protes Eright tidak terima.


"Mereka hanya melakukan tugasnya dengan baik. Apakah mereka bersalah?"


"Mereka melukai Mate kita. Apa itu bukan kesalahan?


"Mereka belum tau soal itu Righ." ucapku mencoba menjelaskan.


"Terserah kau saja lah." Eright memutuskan mindlink.


Setalah kepergian mereka. Adikku terus menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan, membuat ku terganggu karnanya.


"Apa?" tanpa basa basi aku bertanya maksud dan tujuannya.

__ADS_1


"Luna? Berarti dia kakak iparku?" tanya Derin tak percaya.


"Heem..."


Setelah beberapa menit berlalu, dokter yang memeriksa mateku tadi akhirnya keluar dengan senyum di wajahnya.


"Bagaimana kondisi kakak ipar?" sebelum kubertanya kondisi mateku, entah mengapa adikku ini lebih dulu memebuka suara.


"Keadaan Luna baik-baik saja, Alpha. Luna hanya kecapekan, dan ada beberapa bagian tubuhnya yang leban dan tergores hingga berdarah", jelas doktet tersebut panjang lebar.


"Jadi?" tanyaku to the point.


"Luna hanya memerluhkan istirahat dan saya akan mengganti perban Luna setiap hari", jawabnya.


"Baiklah, kau bisa pergi." tak menunggu lama dokter itupun pergi setelah memberi hormat.


"Kerly, kau bisa datang ke kamarku sekarang?" Aku memindlink Omega kepercayaanku.


Dengan perlahan kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar. Sedangkan Derin, ia sudah pergi untuk les piano. Setelah sampai di dekat kasur aku menatapnya dekat dan detail. Menyeken seluruh wajah dan tubuhnya


"Cantik", entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja.


"Dia memang cantik. Diakan Mateku." Sahut Eright dengan percaya diri.


"Mate kita." Protesku tak mau kalah.


"Maaf Alpha. Apakah Alpha memanggil saya?" tiba-tiba saja Kerly datang dan mengetuk pintu.


"Baik Alpha." Kerly pun langsung melaksanakan tugasnya.


Aku keluar kamar menuju ruang kerja untuk menyelesaikan berkas-berkas yang menumpuk menunggu untuk kukerjakan.


Malam semakin larut. Aku masih berada di ruang kerjaku bersama berkas-berkas yang menemaniku. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Merasa kelelahan, aku memutuskan untuk segera mengakhiri pekerjaanku dan langsung pergi ke kamar.


Aku mengambil beberapa helai pakaianku dan segera beranjak ke walk in closet untuk mandi. Selasai mandi aku keluar hanya dengan celana pendek tanpa atasan.


Tanpa menunggu lama aku langsung membaringkan tubuhku di samping mateku dan memejamkan mataku. Beberapa menit kemudian mataku terbuka, karna secara tiba-tiba kasur bergoyang. Menandakan mateku berherak. Ia mengubah posisi tidurnya menghadapku dan menyandarkan kepalanya ke dada bidangku. Secara refleks aku memeluknya dan kembali terlelap.


*****


Aurora POV


Aku menggeliat di atas kasur. Entah mengapa kasur yang aku tempati terasa lebih empuk dan nyaman, membuatku ingin berlama-lama menutup mataku.


Beberapa menit kemudian terasa senuah selimut yang tebal, halus, dan hangat menutupi tubuhku sampai di bahuku.


Matahari pagi menyinari wajahku dengan cahayanya. Perlahan-lahan mataku terbuka karena silaunya. Aku langsung mengambil posisi duduk dan memandangi sekitar.

__ADS_1


Bayangan pertama kali yang tertangkap oleh retina mataku adalah tempat dimana aku berada sekarang ini. Aku tidak tahu ini dimana. Semuanya terlihat sangat asing bagiku.


Yang ku tahu, aku berada di sebuah kamar dengan cat warna putih dan cream serta lantai bermarmer hitam pekat. Selain itu kasur yang kugunakan untuk tidur lumayan besar dengan spray berwarna putih.


Aku mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Oke. Sekarang aku mengingat semuanya. Terakhir kali aku pingsan di tengah hutan bersama Warrior-Warrior penjaga sialan itu. Tapi, mengapa aku berada di sini. Bukannya seharusnya aku berada di penjara karena melanggar batas teritorial.


"Selamat pagi, Luna. Bagaimana keadaan Luna sekarang?" dalam seketika pandanganku teralihkan oleh wanita paruh baya yang berada di depan pintu.


"Badanku terasa remuk. Aku sangat capek", jawabku jujur.


"Siapa kau? Dan dimana aku?" tanyaku saat tersadar aku merasa asing dengan wanita paruh baya tersebut.


"Saya adalah salah satu maid disini. Luna bisa memanggil saya Kerly." wanita tersebut memperkenalkan diri. Aku hanya mengangguk pertanda mengerti.


"Aku Aurora Derlich. Kau bisa memanggilku Rora atau Rara." aku mengulurkan tanganku untuk berjbat tangan dan ia membalasnya dengan sedikit canggung.


"Baik Luna Rora." ia tersenyum ramah.


"Luna? Kenapa kau memanggilku Luna?" Tersadar ia memanggilku dengan sebutan Luna aku langsung bertanya.


"Karna kau Luna kami", jawab Kerly dengan percaya diri dan aku pun langsung tertawa.


"Apakah aku masih tertidur? Bermimpi apa aku ini?" aku tertawa semakin keras. Sedangkan Kerly menatapku bingung.


"Hah, sudah lah. Apa aku bisa mandi? Aku sangat gerah." karena wajahnya terlihat sangat bingung, maka aku alihkan pembicaraan.


"Silahkan Luna. Kau bisa mandi di sana." Kerly menunjuk sebuah pintu yang tidak jauh dari ranjang.


"Tapi aku tidak membawa pakaianku", gumanku.


"Saya akan membawakan pakaian putri Derin untuk Luna," jawab Kerly dengan sopan.


Tanpa berfikir panjang aku segera menuju ke arah pintu yang di tunjukkan Kerly kepadaku. Dia saat aku membukanya, aku langsung dikejutkan dengan apa yang saat ini kulihat.


Rumah ini mempunyai kamar mandi yang tak kalah besar dengan kamar tidurnya. Bukan hanya besar, tetapi juga lengkap, serta mewah. Kalau seperti ini ingin rasanya berlama-lama mandi disini.


Perlahan kubuka pakaian yang kugunakan. Entah pakaian milik siapa ini, aku tidak tau dan tidak peduli soal itu. Setelah membuka dres panjang yang ku gunakan, aku melihat luka di lutut kananku yang sudah ditutupi oleh perban.


"Auuu..."


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2