My Perfect Luna

My Perfect Luna
MPL-5


__ADS_3

"Auuu...", merasa penasaran aku memencet luka tersebut.


"Apa itu sakit?" suara itu terdengar di kepalaku.


"Verlitiya? Kaukah itu?" tanyaku kepadanya tak percaya. Serigala itu sudah lama tidak berbicara setelah aku menerima cinta kekasihku itu dulu.


"Iya. Ini aku. Apa lukamu itu sakit?" Ia bertanya dengan khawatir. Padahal sebelumnya ia marah.


"Iya sakit bila kutekan," jawaku kesal.


"Berarti semua ini bukan mimpi ra," ucapnya.


"Maksudmu?"


"Berarti ini semua bukan mimpi. Kita adalah seorang Luna." Jelas Litia kepadaku.


"Litia sudah lah, jangan berbicara yang tidak-tidak." Aku berusaha membuat serigala cerewet itu tenang.


"Ada kemungkinankan kalau mate kita seorang Alpha Ra? Kau tau saat aku tidur aku merasakan nyaman, begitu juga dengan kau. Dan aku juga merasakan kehadirannya." guman Litia lirih.


"Kehadiran?"


"Mate kita.." ucapnya kesal.


"Sudah lah Lit. Aku akan mencari taunya nanti."


Setelah selesai dengan ritual pagiku, akupun keluar dari walk in closed dengan handuk kimono yang kulihat di dalam.


"Ini Luna pakaiannya." Melihatku keluar Kerly pun segera memberikan baju ganti yang ia bawa.


"Terima kasih," aku langsung kembali kedalam untuk mencari pakaian tersebut.


Akupun keluar dengan memakai celana jens dan kaus putih berlengan panjang serta rambut yang kucepol.


"Luna anda ditunggu oleh Tuan Putri Derin dibawah untuk sarapan." Aku merasa senang mendengar itu karena perutku ini sudah meraung-raung sedari tadi.


"Baiklah. Kau bisa mengantarkanku?"


"Silahkan Luna, lewat sini." Kami pun langsung keluar dari kamar menuju ruang makan.


Dalam perjalanan ada banyak Maid atau Omega dan para penjaga menundukkan badan, memberi hormat.


Tak lama lagi aku akan sampai di ruang makan. Aku menuruni tangga terakhir untukku bergegas ke ruang makan. Sesampainya aku disana aku melihat seorang gadis yang memakan apel merah ditangannya.


"Kakak ipar. Akhirnya kakak datang juga. Ayo kak kita sarapan." gadis itu berdiri dan menghampiriku lalu menarik tanganku menuju kursi yang derseberangan dengannya.


"Oh iya kita belum berkenalan. Namaku Derinio Alexandro. Kakak bisa memanggilku Derin." gadis di depanku mengulurkan tangannya.


"Aurora. Aurora Derlich. Kau bisa memanggilku Rora atau Rara." aku mengulurkan tanganku membalas tangan Derin. Kamipun tertawa.


Selesai berkenalan dan berjabat tangan, kami memulai sarapan. Mataku terpana melihat sangat banyak makanan yang tertata rapi di meja.


"Ayo kak, ambil makanan yang kau suka. Jika kakak melihatnya terus mereka akan malu." Derin menggodaku sembari tertawa. Aku di buat malu olehnya.


"Kau ini," aku tersenyum malu dengan pipi yang merona.


Aku mengambil nasi , telur, sepotong daging dan sayur kuletakkan di atas piringku.


Kami makan dengan sedikit obrolan yang menyertai. Derin terus saja menceritakn banyak hal kepadaku yang terkadang kutanggapi.


"Mate, mate!" teriak Verlitiya tiba-tiba di kepalaku yang membuatku merasa sedikit pusing.


Aku mencium aroma itu. Kayu manis dan mint serta maskulin. Aroma itu sangat menusuk indra penciumanku. Sehingga aroma itu yang mendominasi aroma yang kucium lainnya.


Tak beberapa lama kemudian datang seorang pria. Ia menarik kursi di sebelahku dan langsung mendudukinya. Jantungku serasa berdetak lebih cepat saat ia menjatuhkan badan tegapnya di kursi sebalahku.

__ADS_1


"Maaf aku terlambat," ia mengambil sarapan dan segera memakannya.


"Ish.., kau membuat suasana menjadi hening saja," ketus Derin yang kurasa kepada cowok yang berada disampingku.


"Kau tidak suka dengan kehadiranku?" balas pria itu datar.


"Yha.. kau menbuat Kak Rora terdiam seribu bahasa." Mendengar terkataan Derin aku langsung terkejut dan tersedak.


Melihatku tersedak pria yang bisa dibilang Mate-ku tersebut menyodorkan segelas gelas air untukku minum.


Aku pun menerima gelas tersebut dan meminumnya sampai habis.


"Te..terima kasih," ucapku sedikit canggung tanpa melihatnya.


"Baikhlah kalau begitu aku akan pergi." Setelah meminum segelas airnya sampai habis, ia berdiri dan menggenggam tanganku. Ia menarikku dan beranjak dari ruang makan.


"Tapi jangan membawa Kak Rora. Hai..!!!" teriak Derin saat melihatku ditarik oleh mateku.


Sepanjang perjalanan ada banyak pasang mata nyang memandang kani dan langsung menundukkan kepalanya ketika tertangkap basah olehku dan mateku.


"Litia, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku bingung dengan situasi ini.


"Ikuti saja kemana Mate kita pergi," jawabnya sangat yakin.


"Tapi juka dia berbuat macam-macam, atau mencelakanku bagaimana?"


"Dia Mate kita, Ra. Dia tidak akan berbuat yang tidak baik kepada kita. Kau saja yakin dengan 'pria bodoh' sialan itu, apakah sekarang kau meragukan Mate kita?" protes Verlitiya panjang lebar.


"Oke. Oke. Baiklah aku akan percaya kepadanya." Tak ada pilihan lain selain patuh dengan Verlitiya. Jika tidak ia akan mengungkit-ungkit mantan kekasihku lagi.


Aku merasa sudah cukup ku berjalan dari ruang makan hingga ke tempak ku berada sekarang ini. Yha walaupun kami belum berhenti berjalan.


Saat ini aku berjalan tepat di samping kanannya. Ia menggenggam tangan kiriku, berjalan dengan kecepatan sedang, dan menatap lurus kedepan.


Dalam perjalan ini tak ku siasiakan waktuku dengan melihat lihat desain interior di rumah ini. Rumah ini sangat besar dan mempunyai banyak ruangan. Karna besarnya, rumah ini dapat di sebut sebagai "Istana". Semua yang berada si rumah ini semuanya terlihat sangat mewah dan clasik. Aku suka itu.


"Salam Alpha, Luna. Apakah Alpha akan pergi?" Pria tersebut memberi salam dan bertanya setelah memberi hormat.


"Iya, aku akan pergi bersama Luna. Aku percayakan semua kepadamu. Fano," Mateku memegang memegang pundak pria tersebut dengan penuh keparcayaan.


"Saya tidak akan menghianati kepercayaan Alpha," jawab pria yang kutau bernama Fano, tak kalah yakin dengan ucapannya.


Selesai mereka bercakap-cakap, kami, aku dan mateku menuju mobil merah yang sudah disiapkan. Ia membukakkan pintu untukku, aku dibuat bingung karenanya.


"Tunggu apa lagi?" Melihatku mematung ia membuka suara.


Takut akan kemarahannya, aku segera masuk dan duduk di kursi penumpang. Kemudaian ia masuk di kursi pengemudi , yang berada di sebelah kiriku.


Mobil yang kami tumpangi langsung melesat menyelusuri hutan yang lebat ini. Mataku tidak lepas dari pemandangal yang dapat lihat dari kaca. Sampai-sampai aku mengabaikan pria yang tepat di sebelah kiriku.


Dua puluh lima menit sudah kami menembus hutan. Sekarang kami berada di kota atau di dunia manusia. Selama perjalanan di kota mataku hanya manatap lurus ke arah jalan yang lumayan padat.


Ki..kita mau kemana?" Dengan memberanikan diri aku bertanya, mencari tau jawaban dari rasa ingin tauku.


"Ke Mall", jawabnya singkat dengan mata yang masih menatap lurus kedapan.


"Buat apa?" Secara refleks kepalaku menoleh kearahnya, sehingga mataku menatap wajahnya. Sepernya aku pernah melihat pria ini, tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya.


"Membeli perlengkapanmu. Aku tidak suka kau terus memakai pakaian milik Derin." jelasnya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa tidak kerumahku? Aku kan bisa mengambil pakaian dan perlengkapan lamaku", ucapku memberi saran. Namun tidak ada jawaban darinya.


Tak lema kemudian kami akhirnya sampai di sebuah mall. Setelah memarkirkan mobil aku dan pria dingin di sampingku ini langsung menuju pintu masuk.


Hari ini mall cukup ramai. Banyak pengunjung yang datang. Mulai dari orang tua, remaja hingga anak-anak. Ada yang sendirian, bersama pasangan, keluarga dan bergerombolan.

__ADS_1


Tak berlama-lama kami segera menuju salah satu lapak atau kios pakaian yang berbrend yang cukup terkenal.


Selama perjalanan, banyak pasang mata gadis-gadis manatap kami. Lebih tepatnya kepada pria yang deralan di sampingku. Melihat itu aku merasa risih dan segera pulang.


Sesampainya di salah satu lapak atau kios pakaian yang berbrend yang cukup terkenal, karena dia yang memintanya, aku memilih baju-baju yang aku suka. Sedangkan pria itu hanya berdiri di belakangku dengan tangan yang melipat dada.


Beberapa menit memilih, akhirnya aku menemukan pakaian yang aku suka. Sebuah bluse putih dengan kerutan tali yang berada di setiap lengannya.


Aku mengambilnya dan melihat harganya. Aku mengembalika bluse tersebut dengan tersenyum kecut. Bagaimana tidak, harga satu bluse tersebut setara dengan 3 bulan biaya hidupku.


"Kenapa dikembaliin? Kamu sukakan? Ambil aja!" ucap pria itu tanpa beban.


"Nggak sesuai aja sama harganya," jawabku jujur.


"Ambia aja!" ucapnya memberi keyakinan. "Nggak menerima penolakan." lanjutnya tegas. Mendengar perkataannya itu aku pun mengambil bluse tersebut.


Oke pakaian sudah selesai. Aku mengambil 10 atasan, 12 bawahan, dan dalaman masing masing selusin. Memang banyak, ini semua gara gara dia, Mate-ku itu.


Devanio POV


Selseai membeli pakaian untuk Mateku, kali langsung menuju tempat parkir tanpa membawa barang belanjaan. Aku tidak ingin repot-repot membawa semua belanjaan itu dan tidak mau melihat mateku membawanya sendiri. Sehingga aku memanggil beberapa Warriorku untuk membawanya ke Pack Haus.


Saat ini aku dan Mateku berada dalam mobilku yang menuju rumahnya. Yha aku memutuskan untuk menghantarkan Mateku mengambil perlengkapannya.


"Kita mau kemana?" Mateku terkejut setelah mobil yang kami tumpangi tidak menuju hutan, melainkan pusat kota.


"Ke rumahmu. Kau bisa kan menunjukkan jalannya?" tanyaku dan di balas anggukan dan senyuman tentunya.


Selepas memberikan alamat rumahnya dan dibantu mengarahkan jalan olehnya, akhirnya kemi pun sampai di rumah Mateku.


Rumahnya sederhana, sangat sederhana. Tidak terlalu besar dan didak terlalu kecil juga. Mungkin memiliki luas 30m2.


Tanpa aba-aba atau perintah dariku, Mateku langsung keluar dari mobil. Melihat itu aku langsung menyusulnya menuju pintu masuk.


Dengan kunci cadangan pintu pun terbuka. "Silahkan masuk."


Aku masuk dan duduk di salahsatu sofa ruang tamunya. "Mau minum apa?" ucapnya seolah-olah aku adalah tamu.


"Ambil saja barang-barangmu, setelah itu kita akan pulang," jawabku datar sembari menatapnya.


"O..oke," setelah mengatakan itu mateku langsung menuju kamarnya.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Eright melalui mindlink.


"Apa?" seperti orang bodoh aku berbalik bertanya.


"Mengapa kau tidak menerima tawarannya? Kau malah membalasnya dengan ketusan bodohmu itu. Ia msaih canggung kepadamu, dan sekarang kau membuat lebih canggung," protes Eright panjang lebar.


"Oke...oke, nanti aku akan mencuba memperbaikinya," kataku mengalah.


Sembari menunggu Mateku mengemasi pakaiannya aku melihat- lihat sekeliling ruangan ini. Mataku menangkap sebuah benda yang manarik perhatianku. Sebuah foto yang berukuran 5×10 cm, dengan dengan figura yang membingkainya terpajang di atas meja kecil disudut ruangan.


Aku lendekati meja tersebut untuk melihatnya lebih jalas. Aku mengambil mengambil dan mengangkat figura tersebut.


Foto tersebut menampiklan sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia. Ada seorang pria yang menggendong gadis kecil yang cantik, dan seorang wanita memeluk putranya yang berumir sekitar 9-10 tahun dari belakang. Mereka semua tersenyum bahagia.


Brukk....


Terdengar suara yang berasal dari kamar Mate-ku.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2