My Perfect Luna

My Perfect Luna
MPL-13


__ADS_3

"Kau bisa pergi Bara." Devan mengalihkan pandangannya. Ia mengacuhkan Rora yang masih dia berdiri di sana.


"Kalau begitu saya permisi Alpha, Luna." Bara bergegas pergi keluar, tak ingin mencampuri urusan pribadi Alphanya.


"Kamu mau Fano pergi ke Red Moon Pack?" Dengan frontalnya Rora bertanya kepada Devan.


"Urusan pack," jawab Devan tak acuh.


"Aku nggak setuju."


"Aku tidak membutuhkan persetujuanmu."


"Baiklah." Hembusan napas berat terdengar dari mulut Rora. "Kita tidak akan menikah." Rora melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Tubuh Rora tertarik ke belakang hingga membentur tembok di sampingnya.


"Kenapa? Karna tak ada keberadaan Fano hm?" Kedua tangan Devan bersandar di tembok, membuat Rora tak ada jalan untuk menghindar.


"Menututmu?" Rora mengangkat kepalanya. Tanpa rasa takut Rora membalas tatapan tajam Devan yang di lontarkan kepadanya.


"Apa rencanamu?" Devan semakin menipiskan jarak antara dirinya dengan Rora. "Apa yang kalian rencanakan?"


"Aku tidak tau apa yang kamu katakan, tapi JIKA KAK FANO TIDAK DAPAT HADIR AKU TIDAK AKAN MAU MENIKAH." ucap Aurora dengan menekan akhir kalimatnya.


Bola mata Devan memerah, kemarahannya sudah memuncak. Pandangannya tertuju pada bibir merah muda yang berada di depannya. Ia menyentuh bibir itu dengan ibu jarinya sebelum melahap rakus bibir yang seperti permen untuknya itu.


Devan melahap bibir Aurora tanpa ampun. Ia menggigit bibir bawah Aurora membuat bibir itu berbuka. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Devan memasukkan lidahnya ke mulut Aurora, mengapsen isi mulut Matenya yang seperti madu itu.


Tak ingin mengulangi kejadian sebelumnya, Aurora mendorong bahu Devan sekuat tenaga hingga tubunnya terdorong menjauh.


Plak...


Pipi Devan memanas. Tamparan keras mendarat tepat di pipinya. Membuatnya terdiam.


*****


Bau anyir tercium di mana-mana. Banyak mayat-mayat tergeletak tak bernyawa membuat genangan darah yang masih segar di sana. Sliver Moon Pack sudah hancur. Tak ada satupun yang tersisa.


"Alpha, sepertinya kita terlambat." Sebuah rombongan terhenti tatkala melihat jasad di mana-mana.


"Iya, kau benar Bily." balas seseorang yang dipanggil 'Alpha' tersebut.


"Apa sebaiknya kita kembali saja?" Tak ada yang dapat dilakukan lagi. Semuannya sudah selesai.


"Tidak, lebih baik kita berkeliling, mencari apakah ada yang masih hidup di antara mereka." Titah Dave sebagai Alpha.


"Baik Alpha," jawab Bily patuh.


"Seperti apa yang diperintahkan Alpha. Semuanya berpencar! Jika ada yang masih hidup bawa mereka. Kita akan berkumpul di sini setelah selesai." titah Bily kepada kepada para Warrior dengan meninggihkan volume suaranya.


"Baik," ucap Warrior serempak.


Semua pergi berpencar. Deve, Bily, dan Arlon(Gama) bergegas bersama. Mereka berkeliling memastikan keadaan aman dari penyerangan pihak munsuh.


"Uhuk- uhuk.." telingan Dave mendengar suara seseorang.


"Siapa di sana?" Mandangan Dave tertuju pada semak-semak yang ditutupi oleh dahan pohon yang cukup besar.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" Tak memperdulikan ucapan itu Deve berjalan mendekat dan mencoba memindahkan dahan pohon tersebut.


Devan membulatkan matanya. Ia menemukan seorang anak laki-laki yang sekitaran berumur tujuh tahun yang meringguk dengan beberapa luka di tubuhnya.


"Jangan takut. Kami dari Blue Moon Pack. Kami tidak akan melukaimu." Dave berusaha meyakinkan anak tersebut hati-hati. Melihat anak itu ia teringat kepada putranya saat ini.


Anak itu menatap Dave dengan tatapan menyelidik. Dave yang mengetahui itu memberikan senyuman terhangatnya layaknya seorang ayah.


Setelah memberikan anggukan, anak itu pun perlahan keluar.


"Siapa nama kamu?" tanya Dave sangat berhati-hati.


"Elfano," jawab anak itu jujur.


"Elfano, mengapa kamu bisa berada di dalam sana?"


"Kemarin aku mencari Ayah, tapi setelah bertemu Ayah di tengah perang Ayah menyuruhku masuk ke dalam sana sampai Ayah datang kembali." Sebuah bendungan tercipta di kedua mata anak itu. Ia menahan air matanya walaupun ingin rasanya ia menangis.


Tak kuat lagi mendengarkan ucapan anak itu Dave langsung membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku tau Ayah tidak akan kembali dan menemuiku, tapi apakah kau mau menemaniku mencarinya?" Perasaan getir dirasakan Dave. Anak itu sudah tau apa yang terjadi tanpa susah-susah ia menjelaskannya.


Lagi-lagi Dave memberikan senyuman hangat dan menganggukkan kepalanya.


*****


Hari ini perayaan besar-besaran di adakan di Pack house Blou Moon Pack. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua penghini Blue Moon Pack.


"Sudah selasai." Penata rias mengangkat tangannya dan melihat takjub di cermin.


"Apa semua sudah siap Risa?" Clara muncul di lubang pintu dan menghampiri calon menantunya itu.


"Sudah Luna Clara," ucap penata rias dengan memberi hormat. "Apakah ada yang kurang Luna?"


"Sepertinya tidak," Clara menundukkan badannya, menyamakan tingginya dengan Rora.


"Cantik," ucap Clara singkat yang membuat pedua pipi Rora memerah dan sebuah senyuman tercipta di sana.


"Kau sudah siap sayang?" Rora terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu. Ia mengembangkan senyumannya dan mengangguk pelan.


"Kalau begitu, kita tinggal menunggu Fano datang."


*****


Seorang pria menatap dirinya di dalam cermin. Dengan jas merah tua, kemeja putih serta rompi dan dasi kupu-kupu hitam di dalamnya.


Entah apa yang dia rasakan sekarang. Ragu, bimbang, dan rasa bersalah masih menyelimutinya. Apakah 'dia' masih akan menerimanya setelah kejadia itu.


"Devan, hai!" Rendra langsung memasuki kamar sahabatnya itu tanpa permisi.


"Kau kenapa? Bukankah hari ini kau akan menikah?" tanya Rendra penasaran dengan raut wajah sahabatnya itu.


"Apa kau mau aku menggantikanmu?" Tatapan tajam langsung mengarah kapada Rendra.


"Aku hanya bercanda. peace peace," ucap Rendra dengan mengangkat kedua jarinya seperti huruf V.


"Kalian mau turun atau tetap berdiri di situ?" Suara terdengar dari lubang pintu. Terdapat Dave yang berdiri di sana.

__ADS_1


"Om Dave!" Rendra yang melihat Dave di lubang pintu langsung berjalan menghampirinya dan menyalami tangannya.


"Iya nih om. Belum apa-apa udah lemes." Tak menggubris perkataan candaan Rendra Devan melangkah tenang ke samping ayahnya.


"Baiklah, sekarang kita turun, takut Mama kamu ngomel-ngomel," ucap Dave dengan di akhiri tawanya.


*****


Para tamu undangan telah datang membuat ramai suasana. Warna merah putih dan biru muda mendominasi dekorasi ruangan.


Devan sudah menunggu di atas altar pernikahan tinggal menunggu kehadiran Matnya, Rora untuk mengucapkan janji pernikahan mereka.


Sudah lumayan lama Rora membuat Devan menunggu. Perasaan Devan semakin tidak enak.


"Lihatlah putramu, terlihat sangat cemas. Semua baik-baik saja kan? Dan dimana Rora, kenapa dia belum juga keluar?" Baru saja Clara menjatuhkan badannya di kursi ia langsung dilontari banyak pertanyaan dari suaminya.


"Kau, bersabarlah dulu. Mereka pasti akan segera datang. Putramu cemas mungkin karna grogi saja." balas Clara logis.


"Dave!" Teringat sesuatu Clara memanggil suaminya.


"Ada apa Amour, mengapa wajahmu cemas seperti itu?" Melihat perubahan wajah Matnya Dave menggenggam gangan Clara.


"Tadi aku melihat leher Aurora sudah terdapat tanda disana. Apakah Devan sudah menandai Rora?" ucap Clara sedikit takut.


"Memangnya kenapa? Jika Rora mengizinkannya itu bukan masalah kan?" Dave mengeratkan genggamannya, mencoba menenangkan Istrinya.


"Iya. Semoga tidak terjadi masalah di antara mereka." balas Clara dengan penuh rasa harap yang diangguki oleh Dave.


Saat yang ditungu-tunggu akhirnya tiba. Aurora datang bersama Fano yang digandengnya.


Fano. Ternyata dia adalah kakak Aurora. Yha, setelah adegan Rora menampar Devan yang membuat Devan marah karenanya, Rora mengatakan dengan teriakannya bahwa Fano adalah kakaknya dan itulah alasan mengapa ia tak ingin melakukan pernikahan tanpa kehadiran Fano.


Rora melangkahkan kakinya perlahan mendekati Devan yang telah berdiri menunggunya di sana.


Suasana yang tadinya ramai menjadi sunyi. Semua mata pertuju pada Rora. Rora mengangkat kedua sudut bibirnya, menciptakan senyuman manis terlukis di sana.


Gandengan tangan Rora mengerat. Ia merasa gugup saat ini. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa Devan adalah yang terbaik untuknya.


Rora dan Fano telah sampai di depan altar. Devan memberikan senyuman lebar dan mengulurkan tangannya.


Pandangan Rora beralih menatap sang kakak yang masih berada di sampingnya.


"Lakukan yang menurutmu benar. Pilihlah yang menirutmu yang terbaik," ucap Fano melali mindlink.


Tangan Rora beralih menggandeng tangan Devan dan segera naik ke atas altar pernikahan.


Mata Devan menatap Aurora begitupun sebaliknya. Mereka saling menatap seolah saling membaca pikiran dan mencari keparcayaan di dalam sana.


"Devanio Alexandro apa kau berjanji untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan." Suara pendeta memulai mengucapkan janji pernikahan mendominasi suara lainnya.


"Aku bersedia." ucap Devan lantang.


"Aurora Derlich apa kau berjanji untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan."


Susana hening. Tak ada seorang pun yang berani bersuara bahkan dengam volume kecil. Semuanya menunggu Aurora membuka suara.


"Aku.. "

__ADS_1


__ADS_2