My Rebel Boy

My Rebel Boy
CHAPTER I


__ADS_3

Sinar mentari pagi yang tak lagi ramah, mulai membakar kulit orang-orang yang sedang berlalu lalang di tengah hiruk pikuknya keramaian kota. Beberapa orang berjalan sambil menutupi wajahnya dengan tangan, seolah-olah mereka sedang berhadapan dengan panggangan bara api yang panas. Terlihat seorang gadis bertubuh kurus sedang berlari kecil menuju sebuah hotel mewah tanpa memperdulikan wajah dan kulitnya yang terbakar sinar matahari.


“Mampus, gue telat…”


Itu ucapan yang dia lontarkan saat dia memasuki sebuah hotel mewah di kawasan Jakarta. Dia berlari sambil mengatur napas, beberapa kali dia melihat jam dan kemudian melihat kearah jalan, sesekali dia menghindari orang yang berjalan di depanya dan beberpa kali juga dia menabrak seseorang. Dan kemudian dia memasuki beberapa ruangan dan sampai pada sebuah ruangn yang penuh dengan loker baju. Seorang wanita paruh baya berjalan mendatanginya, namun gadis itu seolah-olah tak melihat dan langsung membuka loker dan berganti pakaian.


“Sellin Andira, kamu terlambat lagi?” ucap seorang wanita paruh baya tersebut


Gadis tersebut tersenyum dan kemudian membalikkan badanya, “Saya kesiangan bu, soalnya tadi malam saya membantu nenek kontrakan berjualan bu…” ucapnya sambil menundukkan kepala.


“Engga ada alasan lain lagi ya? Tiap terlambat selalu pakai alasan itu…”


“Maaf bu…”


“Saya tidak mau dengar, dan saya tidak mau tau lagi alasan apa yang kamu berikan saat kamu terlambat. Mulai sekarang kalau kamu terlambat lagi, kamu akan saya pecat”


“Iya bu, maafkan saya…”


Sellin Andira, adalah gadis berusia 20 tahun yang sedang berjuang sendiri untuk hidupnya. Dia berjuang, sejak orang tuanya meninggal dan sahabat kecilnya pindah keluar negri, dia menjalani hidup yang sulit. Sejak 2 tahun setelah orangtuanya meninggal dia tidak tau harus tinggal bersama siapa, harta keluarganya diambil oleh saudara ayahnya, dia hidup sebatang kara tanpa bantuan siapapun. Bahkan saudara orangtuanya tak mau tau tentang keberadaan dan keadaanya. Yang dia harapkan saat itu adalah keluarga sahabat kecilnya yang dimana orangtua sahabatnya merupakan teman kecil dari orang tuanya. Namun saat itu dia tak tahu harus menghubungi kemana, hingga sampai 2 tahun berlalu dia sebatangkara bekerja mengidupi dirinya sendiri dengan bekerja menjadi office girl di sebuah hotel mewah di jakarta dan dia tinggal bersama nenek tua disebuah rumah bambu yang sudah reyot.


Sellin bertemu nenek itu saat dia tidur di sebuah ruko yang sudah tutup. Nenek itu datang dan menawarkan sebuah roti yang dia jual dan menyuruhnya memakan. Melihat Sellin yang sebatang kara dan tak tau arah tujuanya, nenek itu menawarkan untuk tinggal bersamanya. Karena nenek itu baru saja kehilangan suaminya, maka nenek itu memohon agar Sellin tinggal bersamanya. Kira-kira sudah hampir setahu Sellin tinggal bersama nenek itu


“Sel, lo telat lagi ya?” tanya seorang cewek berambut panjang berparas wajah cantik dan bertubuh langsing

__ADS_1


“Iya, gue kesiangan lagi” jawab Sellin murung


“Elo sih, tidur malem terus…”


“Ya mau gimana lagi, ga mungkin gue biarin nenek kerja sendirian”


“Iya juga sih, elo sih gue ajak tinggal di tempat gue gak mau. Malah tinggal di tempat reyot…”


“Hush… lo kalo ngomong emang ceplas-ceplos ya?”


“Hehehe, sorry deh… eh, ada tamu ganteng loh di kamar VVIP…”


“Lagi-lagi ganteng, bisa ga sesekali ga bahas ganteng… mending kita kerja aja yuk… kamar mana yang perlu kita beresin?”


“Ih, lo gak asik deh. Gue jadi penasaran nih, lo suka cowok engga sih sebenernya?”


Rara Winiandra adalah teman kerja Sellin dan juga sahabat Sellin waktu masih SMA. Sebenarnya dia anak orang kaya, namun orang tuanya tak pernah mempedulikan Rara sejak dia masih SD, dia selalu sendirian di rumah besarnya. Sampai akhirnya dia muak dengan semua yang terjadi pada dirinya dan dia mengambil keputusan untuk mengambil uang orang tuanya dan kabur dari rumah. Uang yang dia ambil, dia belikan sebuah apartemen mewah di Jakarta, dan dia tinggal sebatang kara disana dan kemudian bekerja di sini. Saat itu orang tuanya sangat khawatir akan keberadaan Rara, namun setelah mengetahui Rara tinggal disebuah apartemen mewah, orang tuanya hanya membujuknya sekali dan kemudian membiarkanya.


Jam menunjukkan pukul 10.00, beberapa orang sedang sibuk lalu lalang di lobby hotel. Beberapa diantaranya adalah seorang bapak-bapak yang sedang asik berbincang, dan diantaranya beberapa pasangan muda mudi dan juga om-om genit yang suka memperhatikan lekuk tubuh wanita.


“Eh, liat tuh ada om-om genit!” ucap Rara seraya menunjuk seseorang.


“Heh, jangan tunjuk-tunjuk juga kali…” balas Sellin sambil menyenggol lengan Rara

__ADS_1


“Habisnya gue kesel, om-om mesum berkeliaran”


“Kalo ada cowok-cowok ganteng berkeliaran, lo bakal kesel juga?”


“Hahaha, Kalau itu engga dong…”


“Ya, ya,ya,.. berkhayalah selagi bisa…”


“Ya, siapa tau kan ada yang jadi Cinderella…” ucap Rara sambil tersenyum lebar.


“Lo kan udah kaya…”


“Bukan gue, tapi elo…”


“Oke, cukup berkhayalnya. Kita kerja aja yuk…”


“Lagi-lagi kerja…”


“Terus, lo mau ngapain dong? Mejeng?”


“Ya… pengenya sih gitu, gimana kalo sekali-kali kita nginep disini sebagai tamu? Sambil ngeceng!”


“Buang-buang duit!”

__ADS_1


Sellin berjalan menuju ruangan office girl dan meninggalkan Rara yang sedang mengoceh kesana kemari. Sampai di ruangan, Sellin mendapat tugas untuk membersihkan kamar yang sudah di pakai tamu. Beberapa kali dia harus bolak-balik menuju kamar satu ke yang satunya lagi, yang membuat kaki Sellin terasa sakit dan lemas. Betapa enaknya mereka yang bisa menghambur-hamburkan uang hanya utuk memakai kamar ini dalam semalam. Sesekali dia membayangkan bahwa dirinyalah yang berada di kamar ini, sesekali dia tersenyum dan tertawa, selesai berbenah dia bergulung-gulung santai di kamar yang sedang iya bersihkan. Dia melihat beberapa barang yang di tinggalkan tamu di atas meja. Membuka lemari baju yang didalamnya ada beberapa baju wanita dan beberapa helai pakaian dalam, dia mengambil satu helai gaun dan menempelkan dibadanya dan memutar-mutar cantik di depan lemari. Dalam pikiranya, mungkin yang memesan kamar ini adalah pasangan suami istri baru. Dia masih asik memutar-mutar badanya didepan kaca rias, melompat kecil bergaya seolah-olah akan di foto.


Tiba-tiba seseorang memasuki kamar, Sellin yang posenya masih sedang bergaya tak bisa bergerak saat melihat orang yang memasuki kamar adalah seorang cowok yang sedang memesan kamar ini. Tubuhnya kaku, keringat dingin keluar, air liur rasanya tak bisa di telan lagi. Dia merasa sangat malu, dan rasanya ingin melompat keluar dari jendela. Perlahan dia menurunkan tanganya yang berada di pinggang, dan melihat sekeliling. Cowok itu masih terdiam dan memandanginya, hal itu semakin membuat Sellin ingin bunuh diri, rasa malunya sudah di ubun-ubun.


__ADS_2