My Rebel Boy

My Rebel Boy
Chapter 7


__ADS_3

Jam menunjukkanpukul 09.00 malam. Selesai makan, Sellin diantar Brian ke apartemen Delta. Sellin diantar tepat di depan pintu kamar apartement. Tanpa mengetuk pintu kamar, tiba-tiba pintu sudah terbuka dan Delta terlihat terkejut melihat Brian yang ikut mengantar Sellin sampai ke depan pintu.


“Eh, Del, tau aja kita udah di depan pintu” ucap Brian seraya melambaikan tangan.


Wajah Delta tampak kebingungan dan pucat, “Gue bukan nguping ya, kebetulan aja gue mau keluar” balas Delta seraya merogoh isi kantongnya.


“Ya, gue ga bermaksud nuduh lo nguping. Kirain lo nungguin si sellin”


Delta memandang Sellin dan kemudian membuang muka, “Ga mungkinlah” ucap Delta ketus.


“Yaudah, kalo lo mau keluar kita turun bareng”


Delta mengikuti Brian yang berjalan keluar setelah berpamitan dengan Sellin. Delta yang tak banyak bicara membuat Brian sedikit penasaran.


“Mau pergi kemana Del?” tanya Brian membuka pembicaraan.


“Mau cari angin aja” jawab Delta singkat.


“Lo, marah gue ajak keluar Sellin?”


Delta menoleh, “Kenapa gue harus marah?” lanjut Delta sedikit menaikkan nada bicaranya.


“Ya, siapa taukan lo ga suka kalo gue ajak Sellin keluar. Lagian cuma makan aja kok, ga kemana-kemana”


“Ya ga usah laporan juga kali, santai aja. Lagian terserah lo mau ajak dia keluar atau engga, ga ada hubunganya sama gue. Gue juga udah punya Fanny”.

__ADS_1


Brian mengangguk dan tersenyum.


Sellin yang barusaja meletakkan badanya di kasur, tiba-tiba mendengar suara dari ruang tamu. Sellin cepat-cepat beranjak keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Terlihat Delta sedang berdiri di depan TV dan memandang ke arah Sellin.


“Elo, kalo numpang, tolong tau diri!” ucapnya seraya melempar botol minuman yang dia bawa ke lantai.


Sellin terkejut dan bingung, “Gue salah apa sama lo?” balas Sellin.


“Ya lo tau diri dikit lah!”


“Iya, gue bakal tau diri! Tapi salah gue apa?!”


“Salah lo banyak! Ga tau diri, ga tau diri, dan ga tau diri!”


“Eh, jadi orang jangan nyebelin ya!” ucap Sellin kesal dan berjalan mendekati Delta yang hanya berdiri terdiam, “Gue tanya sekali lagi, salah gue apa? Kenapa lo benci banget sama gue? Hah?!” lanjut Sellin seraya menarik baju Delta.


Sejenak sellin berdiri kaku kan tak bisa bergerak, matanya melotot seakan-akan mau keluar. Dan dengan kekuatan penuh, Sellin mendorong badan Delta hingga terjatuh di sofa.


“App-pa apaan lo!” ucap Sellin marah. Delta yang terduduk di sofa hanya terdiam, wajahnya tertunduk dan matanya terpejam. Sellin yang menyadari bahwa Delta tak bergerak langsung berlari menghampiri delta.


“Delta, Delta” ucap Sellin seraya menggoyangkan badan Delta, “Elo kenapa?” tanya Sellin seraya menegakkan badan delta yang lemas, Sellin memerhatikan muka Delta yang masih memerah dan badanya terasa panas.


Segera Sellin berlari mencari botol minuman yang Delta lempar ke lantai, setelah mendapati botol minuman yang dia lempar. Sellin langsung berlari menghampiri Delta dan mencoba melepaskan pakaian Delta.


“Bego banget sih, dia ga sadar ya minuman yang dia minum ada kafeinya? Udah tau ga bisa minum minuman kafein, masih aja di sruput” guman Sellin seraya meluruskan kaki Delta, “Pantes dia cium gue, hiks,.. itu ciuman pertama gue… hiks…” rintihnya kemudian.

__ADS_1


Sejak kecil Delta memang tidak bisa meminum minuman yang ada kandungan kafeinya, waktu kecil pernah sekali dia minum minuman yang mengandung kafein. Beberapa menit setelahnya dia langsung pingsan setelah bergumam ngalor-ngidul. Karena Sellin sudah terbiasa mendapati Delta yang seperti itu, dia tidak panik setelah melihat Delta yang terkuai lemas di sofa.


Ke esokan harinya, Sellin yang sedang siap-siap untuk berangkat ke kampus. Mendengar suara langkah kaki Delta yang sedang berjalan melewati pintu kamar Sellin. Rasanya jantung Sellin seakan-akan melompat mendengar dentuman suara langkah kaki Delta.


“Kira-kira dia inget ga ya…” gumam Sellin seraya mengatur nafas. Sellin melangkahkan kaki pelan menuju pintu dan beberapa kali dia mempersiapkan diri dan mengatur nafas untuk bertatap muka dengan Delta. Hendak membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara teriakan Delta dari balik pintu.


“Woi! Niat bareng ga sih lo!” Delta berdecak kesal.


Sellin yang hampir jatuh karena kaget, spontan langsung menarik gagang pintu dan menahan tubuhnya yang hampir terpleset, dengan posisi kaki terbuka lebar dan sedikit jongkok. Delta yang masih berdiri di depan pintu menatap Sellin tanpa berkomentar, dahinya menyrengit, seolah-olah akan bertanya ‘ngapain lo?’ tapi kemudian dia memalingkan muka dan pergi.


“Kalo lo ga niat bareng, ato lo bakal di jemput sama Brian, bilanglah! Jd gue ga perlu nunggu kaya kemaren” kata Delta seraya memakai jaket yang dia bawa.


Sellin terhenti dari langkahnya, dia tak menyangka bahwa Delta menunggunya kemarin. Biasanya Delta langsung pulang kalau Sellin terlambat 10 menit atau 5 menit.


“Kenapa lo nungguin gue? Bukanya lo sering ninggalin gue kalo gue telat?” tanya Sellin seraya berlari kecil menngikuti langkah Delta.


Delta mengacuhkan pertanyaan Sellin, dia hanya sibuk merapikan barang yang dia bawa tanpa mempedulikan Sellin yang menunggu jawabnya, “Kenapa ga di jawab?” tanya Sellin lagi ambil memperhatikan tingkah


Delta yang aneh.


“Berisik lo!” jawab Delta ketus seraya berjalan keluar.


Perasan Sellin bak sedang menari-nari diatas salju, dia tak menyangka bahwa Delta masih mempunyai sikap baik terhadapnya. Meskipun terkadang dia super galak.


Sesampai dikampus, Delta memberhentikan mobilnya di parkiran mobi yang tak jauh dari gedung kampus.

__ADS_1


“Ntar lo pulang nunggu gue diboulvard!” Ucap delta dengan nada tinggi seraya berjalan meninggalkan Sellin.


“Dih, maksa amat sih. Bilang kek baik-baik kalo mau ngajak pulang”


__ADS_2