
Sellin kemudian berjalan bolak-balik, dan meletakkan baju yang dia pegang di kasur. Dan kemudian dia menepuk-nepuk kasur seolah-olah sedang merapikannya. Cowok itu tertawa kecil, dan berjalan ke arah meja sofa. Jantung Sellin rasanya mau copot saat cowok itu berjalan melewatinya, sellin berjalan kaku menuju pintu. Rasanya lututnya tak bisa dia gerakkan, sehingga membuat jalanya seperti robot yang rusak.
Cowok itu tertawa kecil.
“Maaf, saya tadi cuma…cuma…” Sellin akhirnya angkat bicara
“Ya, engga apa-apa kok. Silahkan lanjut kerjanya…” balas cowok itu sambil menahan tawa
Saat keluar dari kamar, rasanya Sellin tak mampu lagi untuk melangkah. Lututnya lemas dan kaku, rasanya dia lebih baik tertimpa gajah daripada malu seperti ini. Cowok ganteng yang sedang menertawakan dia tak akan tau rasanya bagaimana di permalukan seperti ini. Beberapa kali dia memukul kepalanya dan menyesali telah melakukan hal bodoh seperti itu. Dia tak akan mampu jika harus bertatapan dengan cowok itu lagi.
Sellin berjalan lemas menuju ruang office girl, rasanya dia tak mampu mampu mendorong trolly yang dia bawa. Rara berlari kecil menghampirinya.
“Kenapa lo?” tanyanya sambil mendorong trolly
“Gak apa-apa…” jawab Sellin lemah
“Kok lemes gitu?”
Sellin terduduk lemas.
“Lo belum makan ya?” tanya Rara khawatir, “Gue traktir makan yuk?” lanjut Rara seraya menarik lengan Sellin menuju rumah makan dekat hotel.
“Gue habis syok!” ucap Sellin, matanya menatap kosong ke arah jalanan.
“Lah, emang kenapa?” balas Rara penasaran.
Sellin menceritakan kejadian konyol waktu dia berada di kamar tadi. Beberapa kali dia memukul kepalaya dan kemudian terdiam. Rara yang mendengar cerita Sellin tertawa tak berhenti-henti.
“Hahaha, parah banget sih lo! Sumpah gue ga nyangka!” ucap Rara sambil tertawa.
“Udah sih, gue udah malu banget” balas Sellin murung
“Kalo lo mau coba-coba baju bagus, pake aja baju gue. Kalo ga kita bisa shopping bareng…”
“Ogah… baju lo kan aneh-aneh”
“Hahaha, bukan aneh.. tapi modelnya begitu…”
Selesai makan, Sellin dan Rara memasuki hotel dan mulai menjalankan pekerjaanya kembali. Rara sibuk dengan bagianya dan Sellin yang sekarang giliranya untuk berantai-santai.
__ADS_1
“Sel, lo lagi sibuk ga?” tanya Anto teman Sellin di bagian resepsionis
“Engga, kenapa?” balas Sellin seraya berdiri
“Bagus deh, gue mau minta tolong. Bisa anterin paket ini ke kamar VVIP nomer 998?”
“Ooh, Oke…”
Sambil berjalan menuju kamar VVIP, Sellin kembali berpikir apakah kamar ini sama dengan kamar yang dia bersihkan tadi siang. Jika memang sama, lebih baik dia menyuruh Rara untuk memberikanya. Setelah di cek ternyata beda satu lantai di bawah dari kamar yang dia bersihkan tadi siang.
“Untung bukan kamar yang tadi…” gumam Sellin seraya berjalan menuju kamar 998
Sellin mengetuk pintu kamar, tapi tak ada tanggapan dari dalam kamar. Beberapa kali Sellin mengetuk pintu tapi tak kunjung ada jawaban juga. Akhirnya Sellin memutuskan untuk kembali ke ruanganya, namun saat akan hengkang, seorang cowok tinggi berpakaian rapi yang kira-kira masih seumuran dengannya menghalangi jalan Sellin. Tangan cowok itu tampak di gulung perban, dan dia berjalan sedikit pincang.
“Maaf, silahkan lewat...” ucap Sellin seraya menyingkir dari jalan.
“Ya, tapi kamu menutupi pintu kamar saya…” balasnya tersenyum seraya memamerkan lesung pipinya.
“Oh... maaf…” Sellin menyingkir dari tempat berdiri sembari tersenyum, “Ini, ada paket yang di titipkan di resepsionis…” ucap Sellin sambil menyodorkan paket yang di tanganya.
“Oh… kalau begitu bisa bantu saya? Tolong bukakan pintu kamar saya dan letakkan paket di atas meja…” balas cowok itu dengan bahasa sedikit formal
“Kenapa panggil saya pak?”
“Eh, maaf mas… saya keceplosan…”
Cowok itu tertawa, “Kita kayakya masih seumuran kok…” ucapnya sambil memasuki kamar.
Sellin yang merasa tak enak telah menyinggungnya, berjalan mengikuti tamu itu dan meletakkan paket diatas meja.
“Saya permisi…” ucap Sellin seraya berjalan menuju pintu
“Tunggu…”
Sellin menghentikan langkah dan membalikkan badanya.
“Iya…”
“Lo bisa benerin perban gak?” tanya cowok itu dengan bahasa yang sudah tak formal
__ADS_1
Sellin melihat kearah tangan cowok itu yang di gulung perban secara acak acakan.
“Bisa sih…”
“Nah, bagus… Lo coba kesini, gue risih sama ini perban. Ga jelas banget sih kaya cuma di gulung-gulung” omel cowok itu dengan muka kesal
Sellin tersenyum kecil dan berjalan menuju cowok itu. Sellin mulai mengendorkan perban yang ada di tangan cowok itu, terlihat rintihan kecil saat Sellin mencoba membuka perbanya. Beberapa kali dia meringis kesakitan, namun saat Sellin menatapnya, dia tersenyum seolah-olah tak merasakan sakit.
“Sakit ya?” tanya Sellin polos
“Hahaha, ketauan ya? Sebenernya ini cuma kesleo, gara-gara waktu menyebrang jalan di depan ada bapak-bapak nabrak gue pake motor. Katanya sih gak liat, soalnya matanya rabun…” oceh cowok itu sambil melihat ke arah jendela.
“Lain kali hati-hati, soalnya disini memang begitu pengendaranya…”
“Iya, disini berubah total… Soalnya gue baru kali ini balik ke indonesia, berubah total… apalagi Jakarta…”
Sellin terdiam, dia teringat akan sahabat kecilnya yang pergi meninggalkannya waktu masih di bangku kelas 1 SMA. Sudah lama rasanya, tak pernah sekalipun dia mengirim kabar, bahkan email yang ku berikan tak pernah ada pesan yang masuk.
“Kenapa bengong?” tanya cowok itu sambil melihat kearah Sellin.
“Eh, enggak… Heran aja, tinggal diluar tapi bisa ngomong pake elo gue”.
“Oh… soalnya gue pindah pas masih SMP kelas 3, jadi gue fasih dong ngomong pake gue elo…”.
Sellin mengangguk dan tersenyum, “Sudah selesai…” ucap Sellin seraya berdiri dari tempat dia duduk.
“Wah, rapi… Lo bakat jadi suster…” ucap cowok itu tertawa senang, “Nama lo Sellin kan? Makasih ya…” lanjutnya seraya memberikan sebuah uang tips.
“Saya tidak di perbolehkan menerima uang…” tolak Sellin halus.
“Ini bukan tips, ini nomer telpon gue…”
“Tapi saya juga tidak boleh bertukar nomor dengan tamu…”
“Yaudah, kalo gitu ini hati gue…”
Sellin tediam sejenak, rasanya cowok ini sudah mulai menghawatirkan. Sellin mengambil langkah mundur perlahan, dia berjalan mundur sambil tersenyum. Cowok itu datang menghampirinya, Sellin semakin mempercepat langkahnya. Sesampai di pintu Sellin berdiri di luar pintu, dan cowok itu berdiri tepat di depan Sellin, dia tersenyum manis.
“Ga usah takut, gue bukan penjahat. Ambil aja uang ini, ini bukan tips… tapi ini uang terimakasih…” cowok itu menyelipkan uang di tangan Sellin dan kemudian menutup pintu
__ADS_1