
Sellin melihat kearah uang yang di berikan cowok itu, Sellin terkejut melihat uang yang dia terima. Dia menerima uang 100 dollar dan 50 dollar, dia merasa mungkin cowok itu salah memberinya uang. Mana mungkin uang tips sebanyak ini, Sellin kemudian kembali mengetuk pintu kamar, dan cowok itu membuka pintu sambil tersenyum.
“Lo gak salah terima uang, gue emang ngasih segitu.. terimakasih Sellin…” ucap cowok itu sambil menutup pintunya kembali.
Sellin berjalan kembali keruangan sambil memandangi uang yang dia terima, ternyata cowok itu tak seburuk yang dia pikirkan. Sellin menduduki sebuah box yang berisi tumpukan handuk dan kemudian tersenyum kecil. Rara yang tampak sedang membereskan handuk kotor datang menghampirinya.
“Heh, kenapa lo senyum-senyum sendiri?” tanya Rara sambil menduduki tempat yang kosong di sebelah Sellin.
“Engga apa-apa…” jawab Sellin meringis
“Wow, dapet dari mana duit dollar?”
“Oh, dari tamu kamar…”
“Gilee, bisa-bisanya lo dapet duit segitu… tajir tuh pasti. Om-om ya?”
“Enak aja lo, masih muda kali…”
“Ganteng ga?”
“Ya… begitu lah…”
“Kamar berapa?”
“Kamar VVIP 998”
“HAH! Itukan cowok yang gue bilang tadi… kalo ada tamu ganteng, ternyata tajir ya? Baik pula…”
Rara tampak sumringah membicarakan cowok yang menginap di kamar tersebut, beberapa kali dia bertanya apakah coeok itu memberikan nomer telponya. Namun Sellin menjawab dengan gelengan kepala, tampak raut wajah kewewa di wajah Rara.
“Besok gue mau bersihin kamarnya ah…” ucap Rara sambil mengibaskan rambutnya.
__ADS_1
“Ya… suka-suka elo deh… yuk kita pulang…”
Sellin tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang tak karuan. Beberapa kali Rara merapikan rambutnya yang di urai dan berharap bertemu cowok ganteng saat dia berada di jalan.
“Ga usah banyak gaya, entar yang ada di godain preman” ucap Sellin sambil berjalan cepat menuju jalan raya.
“Ih, ga liat orang lagi seneng ya?”
“Ya kan bahaya Rara cantik…”
“Hahaha, tau aja gue cantik… mampir ke apartemenku yuk, bosan gue sendirian…”
“Boleh…”
“Asik!”
Sesampai di apartemen, Sellin mendapat telpon dari tetangga dimana dia tinggal.
“Di tempat teman bu, kenapa ya?”
“Kamu pulang sekarang ya, Nenek kamu sakit…”
Dengan perasaan kacau balau, Sellin berlari keluar apartement tanpa mempedulikan panggilan Rara yang berulang kali memanggilnya. Dengan cepat Sellin memberhentikan taksi yang melintas di depany, dan menuruh supir taksi untuk melaju cepat ke tempat dia tinngal.
Sesampainya di tempat, terdengar suara isak tangis beberapa ibu tetangga. Dan seorang ibu berjalan menghampiri Sellin, dia memeluk tubuh erat Sellin.
“Kenapa bu?” tanya Sellin pelan
“Nenek mu sudah pergi nak…” jawab ibu itu lirih
__ADS_1
Sellin terdiam sejenak, dia tau suatu saat nanti pasti nenek akan meninggalkanya. Tapi seharusnya tidak dalam keadaan yang terlalu tiba-tiba seperti ini. Sellin belum sempat membalas budi akan kebaikan nenek itu. Jika nenek sudah tidak ada, dia tak tau harus tinggal bersama lagi. Karena memang sebelumnya, rumah itu akan segera kena gusur.
Keesokan harinya, nenek selesai dimakamkan. Rara berjalan menghampiri Sellin yang sedang duduk termenung.
“Kenapa lo?” tanya Rara seraya duduk di samping Sellin
“Menurut lo?” jawab Sellin sinis
“Yaudah sih, mau gimana lagi? Emang lo mikirin apa sih?”
“Gue tinggal dimana lagi coba?”
Mendengar pertanyaan Sellin, Rara tersenyum lebar memamerkan giginya, melihat ke arah Sellin dan mengangkat alisnya berulang kali.
“Gue ga bisa tinggal sama lo…” ucap Sellin menghela nafas.
“Yaelah, jual mahal banget sih lo jadi orang…” sahut Rara kesal
“Ya gue ga bisa hidup enak Ra, gue harus prihatin sama hidup gue…”
“Ya kan lo bisa tinggal dulu sama gue”
“Enggak ah…”
“Bayar deh!” Sellin terdiam dan menoleh ke arah Rara, “Itukan yang lo mau, repot banget deh jadi orang! Kesel gue lama-lama!” lanjut Rara kemudian.
“Nah, boleh tuh kalo gue bayar, anggep aja lo jadi ibu kos”
“Enak aja, gue masih muda keles. Cocoknya jadi kakak kos…”
“Gue lebih tua 1 bulan dari lo”
Selesai menentukan tempat tinggal. Sellinpun bersiap-siap untuk besok memindahkan barang ke apartemen Rara.
__ADS_1