
Kurang lebih dua dekade lalu, pemerintahan
pusat menjalankan sebuah program reklamasi pulau-pulau terpencil dalam upaya
meningkatkan perekonomian nasional yang kala itu terjun bebas terdampak oleh
krisis moneter.
Selain itu, mereka juga berupaya
dalam menjaga kestabilan politik, pembangunan landasan ekonomi baru, hingga
menyediakan ruang hidup untuk mengatasi masalah pemerataan penduduk. Alhasil,
Kusumajaya menjadi hasil terbaik dari program itu.
Pulau di antah berantah ini menjadi
mangsa lunak bagi para pengusaha maupun rakyat biasa yang ingin menemukan
kesempatan dan kehidupan baru, mengikuti ironi “Living the American Dream”. Sebuah
pedang bermata dua juga mengintip dari cakrawala, menunggu mangsa yang terjatuh
dalam jebakan mautnya.
Kusumajaya juga memiliki status
otonom, memisahkan kewenangan, sistem politik, hingga badan hukum dari negara.
Dengan suasana yang menyerupai lanskap perkotaan Eropa, maka tidak heran jika
terdapat banyak sekali migran daratan utama yang berdatangan menuju pulau
oportunitas ini. Alhasil, pulau seluas 500 kilometer persegi ini kini menampung
lebih dari 200 ribu penduduk.
Sementara itu, Akademi Nasional
Kusumajaya adalah sebuah komplek sekolah yang terletak pada sisi timur Distrik
Brahwana. Lokasi yang dikerumuni oleh kawasan perumahan kelas satu memudahkan
kita untuk menemukan berbagai pelajar berlatar belakang kaya raya, politisi,
pengusaha, hingga yang berdatangan dari mancanegara.
Sekolah daging segar yang belum
meluluskan satu pun pelajar ini memiliki target untuk bersaing pada tingkat
internasional, menghasilkan sumber daya manusia berkualitas yang dapat
menyelamatkan negeri ini dari masa kegelapannya. Moral, ekonomi, kesehatan,
politik, pendidikan, budaya, olahraga… Namakan saja.
Itu
adalah sedikit alasan mengapa ia memilih Kusumajaya sebelum ajal menjemputnya.
Selain lokasi strategis, kompetisi, dan kesempatan yang besar, ia juga ingin
membantuku menemukan kesempatan untuk sesekali hidup dengan “normal”. Utang
besar itu adalah sesuatu yang aku harus tebus selamanya.
…
Pagar hitam yang terbalut oleh
tumbuhan merambat menjaga sisi kiriku, memisahkan trotoar dari
bangunan-bangunan renaisans, bertentangan dengan apa yang kulalui pada pusat
kota. Melalui sela-sela pagar mengancam ini, aku menemukan sebuah taman bunga,
labirin hijau, lapangan olahraga, kolam renang, hingga ampiteater kecil. Pada
saat inilah, aplikasi peta ponselku menyuarakan dirinya. Aku tiba.
Dalam
pencarian gerbang masuk, aku menemui deretan pohon berkanopi tinggi yang melindungi
jalan ganda ini dari amarah matahari, halte bus dengan gaya abad pertengahan,
hingga berbagai gerai pertokoan yang berjejer di seberang jalan.
“…”
Gapura hitam
yang menerangkan “AKADEMI NASIONAL KUSUMAJAYA” menampakkan diri di antara
barisan pagar tinggi ini, lengkap dengan sosok wanita berambut coklat panjang serta
berjas grafit yang tengah bersandar padanya. Gerak-gerik memainkan pena,
ketukan sepatu yang berulang, hingga wajah menggumam menandakan bahwa dirinya
sedang menunggu kedatangan seseorang.
“Ah.”
Saling mengunci mata, wanita berusia
25 tahun itu mengeluarkan respon yang menyerupai kala dirinya menjatuhkan
bahan-bahan saat memasak. Namun ekspresi terkejut segera berganti dengan
anggukan dan senyum kecut dari bibir berlapis lipstik merah muda itu. Melihat
dirinya, aku memutuskan untuk menyuarakan keluhanku.
“…Apa
yang sedang kamu lakukan di sini, Kiki?”
“A-Apa
maksudmu ‘apa yang saya lakukan di sini’?? Ya nungguin kamu datang lah
Dika!”
“Dengan
cuaca pembersih dosa manusia ini? Apakah Kiki baik-baik saja di sana?”
“Hey…
Gak begitu juga! Habisan kamu lama sekali datangnya… Sudah turun dari jemputannya
Roland buat jalan-jalan di Kalimas, berantem sama dua pelaku pelecehan lagi.
Bagus sih yang kedua.”
“…Sebagai
Commander-in-chief, kurasa akan bijak jika aku gesit mempelajari medan dan
suasana sekitar sebelum pertempuran kita dimulai. Lagipula, itu adalah kesalahan
mereka… Bagaimanapun, di mana Kochi? Aku harus mengganggu posisi barunya
sesaat.”
Melewati Kiki, aku dapat merasakannya
menggapai tanganku yang tengah menarik koper hitam ini, membuatku kembali
menghentikan langkah.
“Tunggu
dulu, Dika.”
“…Ada
apa, Kiki?”
“Untuk
sekarang, panggil kita sebagai Pak Natsuke dan Bu Amanda. Paham kan kenapa?”
Jadi begitu. Kurasa aku harus
mengingat bahwa mulai sekarang, mereka adalah guru pedoman di mataku. Lagipula,
siapa yang tidak akan terkejut jika aku memanggil guruku menggunakan nama
kesayangannya.
“Tentu
saja.”
“Sungguh
praktis. Sip.”
Mengacungkan jempolnya, Kiki kini
berjalan menuntunku masuk ke dalam benteng sekolah ini. Memutar kepala, aku
melihat gerbang raksasa itu menutup secara perlahan, memisahkan kita dengan dunia
di luar sana.
“E-Emang
kamu tahu kantornya Kotaro di mana?”
“Tidak.”
“…Haah.
Anak ini.”
Melihat wajah cemberut itu kembali
mengingatkanku atas wanita apa Kiki sebenarnya. Gestur kecil yang mudah kesal
itu juga menunjukkan perhatian dan keimutannya. Kamu benar-benar pria yang
beruntung telah menikahinya.
…
Ruangan gelap dan sunyi ini
mengingatkanku pada latar dan suasana cerita berjenis “murder mystery”. Korden
coklat tertutup yang menahan tumpahan cahaya matahari, dinding merah garnet,
__ADS_1
rak yang penuh dengan warna-warni buku tebal, hingga lampu antik yang berdiri
seorang diri pada meja kayu besar di tengah ruangan.
Melampaui furnitur klasik itu, sebuah
kursi kantoran hadir membelakangiku. Karena sandaran yang menjulang dan tertutup,
aku tidak dapat melihat apa yang tersembunyi di baliknya… Namun aku segera
menebak seseorang dengan kebiasaan ini ketika diriku menemuinya.
“Kochi.”
Kursi yang berputar perlahan
mengungkapkan seorang pria dengan jas hitam dan kacamata persegi panjang yang
menghiasinya, melengkapi perawakan emo itu. Tersenyum melihatku, pria berusia 26
tahun itu berdiri dari kursinya dan segera berjalan mendekatiku. Ia masih
mengenakan jam tangan hadiah pernikahan dariku pada tangan kirinya.
“…Akhirnya
anda datang. Haha! Dika langsung ketemu masalah aja ya?”
“Tidak
dapat dibantu lagi. Mereka berhasil mendidihkan darahku.”
“Bahkan
kota maju seperti Kusumajaya tidak akan terbebas dari penyakit kronis itu. Sepertinya
‘opportunity’ gagal bekerja dalam diri mereka… Silakan duduk, komandan.”
Menunjuk sofa kulit yang bersandar
pada sudut ruangan, aku mempersilakan diri untuk melepaskan barang bawaanku,
sebelum duduk menyamankan diri pada bantalan empuk itu.
“…Jadi,
gimana menurut anda?”
“Mengenai
Kusumajaya? Cukup menarik… Namun aku terkejut dengan keputusan Pak Agung untuk
mengangkat dirimu sebagai kepala sekolah di sini. Kamu tidak apa-apa, Kochi?”
“Saya
baik-baik saja Dika. Sebagai kepala sekolah, saya juga mendapatkan posisi dan
kekuasaan dalam lingkup Kusumajaya, khususnya pada skala pendidikan dan kabinet
pemerintahan Papa Agung. Meski hanya sepeser, itu adalah pijakan yang baik.”
“Oh? Itu
bagus untukmu.”
“…Dan
dengannya, Kiara pasti akan memberikan banyak tugas untuk Dika di sini. Huh.”
“Jangan
khawatir… Itu termasuk penebusanku kepada Kak Ryo.”
“Mengapa
anda tidak meminta bantuan Sidorova? Daripada sendirian kerja?”
“Aku
telah mendapatkan banyak sekali bantuan… Tidak ada alasan bagi mereka untuk
mengotori tangannya sekarang karena tugas yang dipercayakan padaku.”
“Cukup
adil… Nih, kunci kamar Dika untuk asrama di sini. Anda bisa langsung istirahat
atau mengelilingi sekolah rancangan Ryo ini.”
“Aku
akan beristirahat di kamar.”
Berdiri dari sofa coklat ini, aku
menggapai kembali koper, ransel, serta kunci yang menggantung pada tangan kanan
Kochi. Kemudian, aku berjalan menuju pintu ganda ruangan misteriusnya, untuk
mengingat kembali kata-kata yang hampir menghilang dari pikiranku.
“Ruangan
yang bagus.”
“Haha…
Terima kasih, Dika. T-Tunggu! Satu lagi!”
“Hm?”
“Selamat
“…Heh.
Cukup lama untukmu mengatakannya, Bapak Kotaro yang terhormat.
“Guh…
Jijik mendengarnya.”
…
Meninggalkan Kochi, aku berjalan menuju bangunan asrama menyerupai
hotel antik yang terletak pada sisi utara komplek utama sekolah. Sepanjang
perjalanan, aku menemui berbagai pelajar yang tengah berpiknik di bawah pohon,
memancing pada danau buatan, hingga berlatih taekwondo di bawah naungan gazebo.
Kini aku ingin mengetahui seberapa
besar dana yang telah mereka keluarkan untuk mewujudkan dunia fantasi ini. Haah…
Kalian seharusnya meminta pertolonganku juga untuk masalah seperti ini.
Ekspektasi atas interior asrama
berkedok hotel antik ini hancur terpecah belah oleh kontras warna cerah serta
berbagai furnitur dengan kesan modern. Dinding bata putih, dekorasi tumbuhan,
hingga lukisan dan patung memenuhi setiap sudut lobi. Aroma sitrus juga hadir
menyerang indra penciumanku.
“Ah!”
“…”
Terkejut melihatku, seorang
perempuan segera berdiri dari sofa lobi, sebelum berjingkrak dengan langkah
kecilnya menujuku… Mengamatinya, kata unik mulai terbentuk di dalam pikiranku.
Alasannya tidak terletak pada
reaksi, cara berlari, maupun ekspresi gembira terbalut gugupnya, melainkan gaun
hitam yang menutupi lutut dan lengan, serta apron putih dengan hiasan dan pita
merah pada kerahnya. Kostum pelayan?
“Uhh…
A-Apakah anda… Tuan Andika Raylan?”
“…Benar.
Siapa kamu dan apa maksud dari pakaian itu? Kamu akan melayaniku?”
Mendengarnya, pelayan bermata mata
berlian ini memundurkan dirinya untuk membungkukkan tubuh hingga membentuk
sudut 45 derajat… Siapakah dia?
Tidak banyak yang mengetahui diriku
selain adanya koneksi dengan Kochi, Kiki, Nikita, maupun Sidorova. Terlebih
lagi, sosok ini lebih mencurahkan kesan bocah lugu yang tengah bermain
kepelayanan denganku.
“N-Nama
saya Sylvie Anastasia Halina! Mulai hari ini saya akan menjadi pelayan pribadi
Tuan Raylan!”
“…”
Mencerna kata-kata yang membuat bulu
kuduk berdiri itu, aku kini menyadari keberadaan orang-orang sepertinya yang
sedang menyapu lobi, menyiram tanaman, membawa nampan makanan, hingga mengikuti
para pelajar beralmamater merah. Kochi.
Engkau sengaja membutakanku dari informasi
vital ini. Kini aku dapat merasakannya terkekeh dengan puas dari gua
kelelawarnya.
“…T-Tuan
Raylan?”
Mendengar pe—Sylvie dari ujung
__ADS_1
kesadaran, aku menemukannya masih menahan posisi bungkuknya. Apa ia tidak
kelelahan?
“Maaf…
Aku hanya sedikit terkejut. Berdiri, Sylvie.”
“B-Baik,
Tuan Raylan!”
“Apa
kamu bisa mengantarku pada kamarku?”
“Siap!
Dengan senang hati, Tuan Raylan!”
Mengabaikan kejutan ini, aku harus
memikirkan cara untuk mencegah ketakutan Sylvie padaku, khususnya setelah
mengamati sosok yang senantiasa memaksakan dirinya untuk mengeluarkan hasil
sempurna dalam kinerjanya. Selain itu, jika kita mengabaikan hubungan yang tidak
stabil ini, maka dirinya akan membawa ancaman di masa depan.
…
“I-Ini dia, Tuan Raylan! Kamar 101!”
*Jegleg*
Mengamati
isi ruangan, aku menemukan desain dan furnitur yang menyerupai halnya kamar
hotel bintang 4. Beranda pribadi, TV layar datar, kasur berukuran besar, hingga
dapur dapat kutemui di dalam kamar ini. Sylvie yang telah lebih dulu masuk
segera memeriksa kondisi kamar mandi.
“K-Kamar ini memiliki fasilitas shower
dan bak mandi, keduanya juga tersedia air panas, Tuan Raylan!”
Seraya
mendengarkan Sylvie, aku memutuskan untuk meletakkan barang-barangku pada sisi
kasur, sebelum berdiri meregangkan dan membunyikan tulang-tulang kaku ini. Hm…
Sepertinya aku semakin usang.
“—L-Lalu di meja sudah ada perlengkapan
sekolah, Tuan Raylan!”
“…”
“…”
“Hm? Kenapa, Sylvie?”
“Y-Yah—s-saya hanya menunggu perintah
dari Tuan Raylan!”
“Begitu? Sebenarnya…”
“…I-Iya, Tuan Raylan?”
“Sylvie. Berapa umurmu?”
“15 tahun, Tuan Raylan!”
Oh?
15 tahun adalah usia yang sangat muda untuk merangkul pekerjaan seperti ini.
Apakah alasannya terlempar kembali pada dirinya yang ingin mencari kesempurnaan
di mata dunia? Keinginan menolong untuk mengganti kesalahannya pada masa lalu?
Heh… Lihat perkataan yang muncul dari sosok seperti aku.
“J-Jangan khawatir, Tuan Raylan! S-Saya
juga bersekolah di sini! SMA k-kelas 1A!”
“Itu bagus… Bagaimana jika kamu memanggilku
dengan Kak Dika? Tuan Raylan menempatkan kita pada posisi yang sangat jauh,
sementara aku tidak ingin Sylvie merasa tertekan, terpaksa, atau bahkan kaku
denganku. Lagipula, mulai esok kamu juga akan menjadi adik kelasku… Tentu saja,
jika Sylvie menyetujuinya.”
“…”
“Sylvie?”
“Ah! M-Maaf, Tu—K-Kak Dika! H-Hanya
saja saya tidak pernah memanggil seseorang seperti itu…”
“Tidak apa-apa.”
Aku
menahan mulutku untuk menanyakan kehidupan pribadinya, seperti sebelum menetap
dan bersekolah di sini, serta alasan menekuni pekerjaan kepelayanan ini.
Lagipula, kemajuan kecil ini lebih baik daripada ketegangan sebelumnya.
“Sylvie… Aku tidak akan memaksamu menjalankan
perintah berat yang melelahkan dan membatasi waktu luangmu. Sebaiknya, kamu
juga harus menjaga kondisi tubuh dalam mengimbangi peran sebagai pelayan dan
siswa di sini… Bagaimana jika sebagai terima kasih dariku, Sylvie dapat
menggunakan waktu ini untuk beristirahat?”
“…E-Eh? A-Apakah tidak memberatkan
K-Kak Dika??”
“Tidak sama sekali. Apakah aku harus
menulis sebuah pernyataan resmi mengenai ini?”
“T-Tidak perlu, Kak Dika! Tapi…
T-Terima kasih banyak… S-Saya akan menggantinya, Kak Dika!”
“Tawaran yang bagus. Silakan, Sylvie.”
“Baik! S-Selamat menginap, Kak Dika!”
“…”
Mengamatinya
meninggalkan kamar, aku memperhatikan kesunyian yang kembali merasuki diriku.
Mengangkat ponsel, aku membuka aplikasi pesan untuk mengetuk sebuah nama kontak
yang tersematkan pada posisi teratas, menemukannya dalam mode aktif.
*Tuut* *Tuut*
“…”
“Selamat datang di jaringan Sidorova,
ada yang bisa dibantu?”
Menjawab
panggilanku adalah suara sosok perempuan yang terdengar serak. Cukup dengan mengamati
jam dinding, aku dapat menyimpulkan alasan serak itu tanpa perlu
mempertanyakannya.
“Aku ingin memesan satu paket Nikita
Sidorova dengan tujuan Kusumajaya… Pastikan dirinya terbungkus dengan baik. Kirim
catatan bahwa aku akan menjemputnya seorang diri.”
“Pfft! Gitu amat hahaha! Kstati,
gimana kondisi di sana, bro?”
“Cukup menarik. Sayangnya aku belum
bisa membawakanmu kencan dalam waktu yang dekat.”
“Jangan khawatir my love. Sesuai
prosedur, aku bakal sampai di sana Bulan November setelah semuanya teratasi.”
“…Aku ingin kembali meminta maaf telah
meninggalkanmu, dan Sidorova Rezidentsiya.”
“Tidak, Dika… Aku seharusnya yang
berterima kasih karena kamu ingin melanjutkan cita-cita kakak. Makanya aku akan
selalu berdiri di belakangmu. Terima kasih, Dika… Semangat! Love you!”
“Ya tozhe tebya lyublyu,
Nikita.”
*Tut*
“…”
Menutup
panggilan, aku kembali mengingat tujuan menempati pulau di antah berantah serta
sekolah tingkat internasional ini. Seperti apa yang telah mereka katakan, aku ingin
__ADS_1
menyelesaikan tugas yang dipercayakan padaku.
…