Nagara Nusantara

Nagara Nusantara
Chapter 5 : Balasan Pertama


__ADS_3

“Jadi… Anda ingin


mengambil intel mengenai Takeshi Kaoru, Hanashima yang menaunginya, juga


informasi beberapa siswa lainnya… Mengapa?”


            Berdiri menghadap jendela besar dari ruangan Kochi seraya


mengamati lapangan serta siswa-siswi yang sedang berolahraga, aku menanyakan


pertanyaan itu kepada Kochi yang sedang menyeruput mie instannya.


“Sudah merupakan tugas


sebagai tuan dari pelayanku untuk melindunginya. Langkah pertama,


tentunya—yaitu mengurus siapa pun yang memiliki urusan dengannya. Bukankah


begitu?”


“Jangan-jangan…”


“Rupanya beberapa lelaki


di sekolah ini berusaha untuk mendapatkan hati gadis milik Sylvie. Aku tidak


bermasalah dengannya… Namun setelah Kaoru mengungkapkan perasaannya,


Sylvie mengalami demam psikogenik.”


“Haah… Saya sudah mengira


masalah seperti ini akan terjadi…”


“…Mengapa?”


“Seperti yang Dika telah


mengerti, Kusumajaya—layaknya berbagai kota yang ada di belahan timur maupun


barat bumi ini—selalu bekerja dengan kekuasaan hierarki yang ada. Lihat pada


keberagaman yang dimiliki oleh siswa… Tidak. Bahkan warga-warga Kusumajaya,


mereka akan selalu berusaha mendapatkan apa yang mereka inginkan. Suatu


kompetisi, seperti apa yang sedang kita lakukan.”


“…”


“Jika skala itu


diperkecil, contohnya apa yang telah Kaoru lakukan, para siswa yang mengetahui


berita itu akan segera mengambil kelengahan itu dan melaksanakan misi mereka… Mendapatkan hati pelayan anda.”


“…Jadi keseimbangan


kekuasaan telah runtuh.”


“Benar sekali. Lalu di


manakah respon dari Kochi dan bawahanmu?”


“Setelah mengetahui ini?


Segera. Sepertinya mengandalkan pepatah tidak ada kata terlambat tidak


akan menyelamatkannya sekarang… Jika anda segera menyerangnya dengan cepat dan


terbuka, maka kemungkinan besar sisa lelaki dengan hati berdegup mereka akan


mundur dari usahanya.”


“Aku memiliki ide… Oleh


karena itu aku membutuhkan berbagai informasi mengenai mereka semua. Cari


berbagai kotoran yang melekat pada Kaoru dan khususnya Hanashima. Dendamku akan


menunggu dengan penuh kesabaran.”


“Baiklah… Saya akan


menyediakan informasinya. Tapi sebagai kepala sekolah, saya tidak menyetujui


penggunaan kewenangan sekolah hanya karena masalah simpel ini. Ilegal, bahkan…”


“Oh? Lihat perkataan yang


datang dari seorang agen pemerintah sepertimu.”


“…B-Benar juga.”


“Bagaimana pun, aku akan


kembali sebelum Kiki menangkapku dengan kedua tangannya sendiri… Dan satu lagi,


aku butuh informasi mengenai Sylvie.”


“…Baiklah. Apakah


informasi Sylvie dibutuhkan sekarang?”


“Tidak juga… Aku hanya


ingin memeriksa latar belakang yang ia miliki.”


“Boleh juga…”



\~\~\~


*Creak!*


“Hadeh… Dika ada-ada


saja. Hari pertama sekolah sudah telat masuk kelas…”


“…Kiara.”


“Ada apa, sayang~?”


“Gkh! K-Kiara pernah


melihat Dika ngambil informasi pribadi seseorang di luar tugasnya?”


“Hm… Kalau tidak salah


cuma sekali, beberapa hari setelah pacaran sama Niki kan?”


“Benar juga…”


“…Kenapa emang?”


“Enggak enggak, cuma


kepikiran saj—eh t-tunggu itu mie punyaku! Tolong jangan dimakan semua…”



***


*RING!!*


“Y-Yo… Namaku Bagas


Galang S-Saputra, 3B… S-Senang bertemu denganmu, Sylvie…”


“N-Nama


saya S-Sylvie le Bienveillant… K-Kelas 1A… Saya p-pelayannya Kak Dika…”


“…”


            Pukul 3 sore, memasuki kembali klinik setelah berakhirnya


jam sekolah, aku memutuskan untuk memeriksa Sylvie dengan Bagas—menemukannya


sedang duduk menghadap jendela yang kini menumpahkan cahaya jingga padanya


serta ruangan ini. Mengabaikan pemandangan yang menyerupai sebuah lukisan


romantisme, aku memiliki ide untuk memperkenalkan mereka berdua—korban dengan


pahlawannya.


“…Bagas adalah sosok yang


menyelamatkanmu darinya tadi.”


“P-Penyelamat kamu


bilang…”


“M-Makasih… Tu… Tuan


S-Saputra…”


“Eh?? S-Sama-sama,


Sylvie… Tapi kamu bisa panggil aku K-Kak Bagas saja…”


            Melirik padaku, Sylvie dengan jelas mencari


persetujuaanku atas permintaan Bagas. Memberikan anggukan padanya, Sylvie


kembali menatap Bagas—tentunya dengan keraguan berat karena peristiwa siang


ini.


“B-Baik… Kak B-Bagas…”


“Apa kamu dapat menunggu


di luar? Aku ingin berbicara sejenak dengannya.”


“S-Silahkan silahkan!”


            Menunggu keberangkatan Bagas dari klinik, aku memutuskan


untuk berjalan dan duduk pada kursi di hadapan Sylvie. Tidak diherankan, aku


masih dapat menemukan ekspresi syok dari mata yang berusaha menahan dirinya

__ADS_1


dari menangis.


“Bagaimana keadaanmu?”


“S-Saya tidak apa-apa


kak! Hanya sedikit le-lelah saja…”


“Maaf… Sebagai tuanmu,


aku seharusnya memiliki kewajiban untuk melindungi dirimu.”


“!!—T-Tidak kak! Maafkan


saya karena tidak bisa berbuat apa-apa…”


            Mencondongkan badan, aku meletakkan tangan kananku pada


bahu kanan Sylvie. Jika semua bergantung padaku, maka aku akan terpaksa


mengikuti klise yang kubenci sekali lagi.


“Bagaimana dengan ini…


Ketika kamu menjumpai masalah seperti tadi, bayangkan bahwa aku selalu


mengamati kalian dari jauh. Tidak masalah jika kamu takut, karena sesungguhnya


ia kalah jauh dengan pentingnya perasaanmu. Gunakan segala cara untuk


memenangkannya. Aku akan menjagamu.”


“…”


“…Tunggu. Itu tidak masuk


akal.”


            Sepertinya menghiraukan apa yang kukatakan, Sylvie segera


mengelap wajahnya dan memberikan senyuman yang terhias oleh air matanya. Kini


aku dapat menghela napas lega, mengetahui ekspresi sedih dan penyesalan yang


menghilang itu.


“…T-Terima kasih, kak…


Tapi…”


“Jangan khawatir akan


Bagas… Untuk sekarang, mari kita sepakat bahwa ia adalah teman baruku di sini.


Setuju?”


“Pfft! B-Baik, Kak Dika!”


“Itu lebih baik.”


(…Takeshi Kaoru)



Seseorang pernah berkata


padaku bahwa generasi ini menjadi lemah karena adanya keberadaan egoisme serta


ketergantungan berlebihan dalam hidupnya. Ingin atau tidak, aku selalu


mendapati diriku terpaksa mengikuti regimen beliau agar dapat bertahan hidup di


dalam kebun binatang bernama bumi ini.


            Melihat kembali nasihat itu 5 tahun kemudian, aku


kini menemukan sepotong kebenaran di dalamnya. Akan selalu ada manusia yang


diharuskan untuk menunduk dari posisi terbawahnya dalam suatu hierarki, hanya


dapat mengikuti orang lain hingga terkendalikan layaknya boneka yang dimainkan


oleh dalangnya. Sementara itu, seluruh manusia juga berlomba-lomba untuk


mendapatkan kejayaan mereka.


“…Anjir… Gepreknya enak


lho, Sylvie!”


“T-Terima kasih, kak.”


“…”


“Astaga… Dari tadi Dika


melamun terus. L-Lihat! Piringmu masih banyak isinya!”


“…Saya yakin Kak Dika


hanya ingin menikmati suasana tempat ini!”


“Benar juga.”


            Menyegarkan kesadaran, aku menemukan Bagas di hadapanku


Sebaiknya ia berhati-hati agar tidak tersedak olehnya.


            Hari ini adalah hari kamis, 3 hari setelah insiden itu.


Sylvie rupanya memutuskan untuk mengajak kita makan bersama sebagai rasa terima


kasih. Rasa sungkan dan repot dengan cepat memudar karena tiada pilihan selain


menyetujuinya… Namun di sini aku berkata layaknya itu adalah hal yang buruk.


            Gazebo taman di mana aku menyaksikan perempuan silat itu


menjadi pilihan atas lokasi makan siang kita. Naungan pohon dan pemandangan


danau buatan sepertinya cukup menjadi alasanku memilih tempat ini. Bagaimana


pun, aku lega melihat Sylvie telah menghilangkan rasa takut itu. Dan


juga—memperhatikannya hari ini—ia terlihat lebih terbuka kepada kita daripada


hari itu.


            Mengenai hari itu dan khususnya Kaoru, aku beberapa kali


menemukan diriku berhadapan dengannya. Cukup mengamatinya dari jauh, aku hanya


ingin membuatnya memaafkan dirinya. Sungguh sebuah cara halus untuk menyerang


diri acuh itu berkali-kali tanpa perlu turun tangan.


“Ini kak, teh-nya!”


“…S-Sylvie gak makan? Enak


lho padahal masakanmu!”


“Ah! Kalau begitu…”


“…”


            Bagaimana pun, ini adalah suasana yang nyaman dan damai.


Hasratku kini kembali muncul untuk menginginkan keberadaan Nikita di sini


sekarang… Bersama-sama kabur dari masalah sepele yang dimiliki oleh dunia ini. Ignorance


is bliss.


*Clank*


“…Astaga.”


“Ada apa, Bagas?”


            Rupanya Bagas dengan sengaja menjatuhkan sendoknya.


Apakah ia ingin berlagak dramatis sebelum menyuarakan apa pun keluhannya?


“Mi… Minggu depan…”


“Ah! Jangan-jangan karena


minggu ujian, Kak Bagas?”


“Kgh! S-Stop… Aku malah


jadi tambah ingat…”


“…”


            Ujian. Kochi telah mengajariku sejenak mengenai ujian ini. Meski hanya memahami dasarnya, aku lebih terkejut mengetahui ujian seperti


ini memiliki beberapa kemiripan dengan tes yang pernah diberikan padaku di masa


lampau.


“S-Saya rasa apa yang


ingin Kak Bagas katakan adalah ujian sekolah ini… B-Bisa dikatakan punya


standar berbeda kak.”


“…Anggap saja seperti


anak TK yang mengerjakan intergral.”


“…Bagaimana kemampuanmu,


Sylvie?”


“Y-Yah… Saya mungkin akan


mendapat peringkat 10 besar dari angkatan saya…”


“K-Kalian semua terlalu


pintar…”


“Bagaimana kondisimu,

__ADS_1


Bagas?”


“Pe… Peringkat 4 dari 24


siswa…”


“…Itu tidak buruk,


melihat jumlah siswa pada sekolah ini.”


“L-Lah tapi Dika bisa


dapat beasiswa masuk sini? Kelas A lagi… Emang puinter atau jenius gitu??”


“…Tidak. Aku diundang


oleh sekolah ini.”


“Ah… Diundang… Kok bisa


seberuntung itu…”


            Kehabisan kata-kata, aku memutuskan untuk mengangkat


bahuku demi mengembalikan keheranan Bagas.


“Haah… Aku menyerah. Gimana


ya cara dapetin nilai bagus nanti?”


“…K-Kenapa kita tidak


belajar bersama, Kak Dika, Kak Bagas?”


“…”


“…”


“S-Sylvie… Kita semua


berbeda kelas.”


“Ah! B-Benar juga—”


“Mengapa tidak? Tidak ada


salahnya kita mencoba.”


“O-Okelah… Nanti sore


setelah selesai sekolah ke perpus?”


“Boleh kak!”


“Mhm.”


*RINGG!!*


“Dih! Sudah bunyi saja…”


“…Aku akan membantumu,


Sylvie.”


“Huh? Ah! T-Terima kasih,


Kak Dika!”


“Ma… Makasih, Sylvie…


T-Tunggu! Kok Dika sudah selesai makan!?”



***


*Tap* *Tap* *Tap*


“…Kak Bagas seharusnya sudah


di sana ya, Kak Dika?”


“Mungkin saja.”


“Ah! Di sana, kak!”


            Mengalihkan pandangan dari Sylvie yang sedang menelusuri


koridor sekolah bersamaku, aku menemukan sosok siswa beralmamater merah rupanya


sedang bersandar pada pilar beranda, melambaikan tangannya kepada kita.


“Yo! L-Lama amat kalian!”


“…Aku hanya menunggu


Sylvie menyelesaikan projek kelas miliknya.”


“O-Oh… Gimana kalau


langsung masuk saja? Aku tadi lihat di dalam sudah ramai saja tuh, belajar


untuk minggu depan.”


            Membuka pintu ganda serta memasuki perpustakaan sekolah,


kita rupanya disambut oleh sebuah ruangan besar dengan dua tingkat serta atrium


besar pada bagian tengahnya, menunggu siapa pun untuk mendongak ke atas untuk


mengapresiasi atap mosaik bundar itu. Dinding dan lantai yang menggunakan bahan


andesit serta mabel juga berhasil memberikan kesan dingin, tertutup, nan


misterius bagi pengunjungnya.


“*Sniff* *Sniiff* Haah…


Aroma buku lama memang beda…”


“Kak! Ada meja kosong di


sana!"


“…”


            Memilih dan duduk pada meja yang terletak pada salah satu


sudut perpustakaan, Bagas segera mengeluarkan berbagai macam buku pelajaran


dari dalam ransel abu-abu yang ia rupanya rangkul.


“Hgh! Matematika…


Manajemen… Sains politik…”


“…Harus aku katakan, itu


adalah pilihan yang menarik.”


“Te… Terima kasih? Aku


sih cuma ingin kerja di perusahaannya papaku… Meski gitu, aku… P-Punya sedikit


keinginan untuk jadi politikus…”


“…Politikus? Itu


mengejutkan.”


“K-Kak Bagas ingin masuk


dunia politik??”


“I-Itu gak pasti! Tapi


dulu sih iya… Cuman ngelihat kenyataannya sekarang, aku yakin diriku gak bakal


selamat kalau tidak punya visi dan ketahanan yang bagus. Sheesh… Apalagi terjun


di dalam dunia itu aku bisa diincar serigala setiap saat… Hahaha…”


“…”


            Sayangnya, itulah kenyataan yang sedang terjadi pada


beberapa belahan bumi ini. Seorang pemimpin membutuhkan dukungan rakyatnya.


Mendengarkan dan menyelesaikan permasalahan sosial, merendahkan dirinya meski


memegang posisi tersohor, hingga membaur dengan rakyat… Bukan seorang


penguasa yang hanya dapat menyengsarakan dan menundukkan rakyat di bawah


telapak kaki mereka.


            Menambahkan kewenangan yang didapatkan, mereka juga dapat


membersihkan catatan hidup dari segala kotoran yang pernah ada. Dengan semua


itu, maka kita tidak dapat menyalahkan rakyat yang merasa terkhianati atas


terbongkarnya kejahatan itu… Segalanya harus dilaksanakan untuk mencegah


keterlambatan akhir itu.


*Pleep!*


            Muncul dari kehampaan, aku dapat mendengar dering yang


menyerupai sebuah PDA, rupanya berasal dari ponsel yang tersimpan pada saku


celanaku. Melirik kepada Sylvie dan Bagas, tidak diherankan jika aku menemukan


mereka menatapku kembali.


“…Siapa tuh yang nelpon?”


“…Maaf, namun aku perlu


menjawab ini.”


“Wokeh tenang aja.”


“Silahkan kak!”

__ADS_1



__ADS_2