
Bagas merentangkan
kedua tangannya tepat di depan sebuah pagar rumah yang membalut kayunya dengan
hehijauan. Membaca nomor GK1-04 yang terpasang di situ membuatku dengan
perlahan memundurkan langkahku, sebelum melirik kepada barisan rumah yang
terletak pada sebelah kananku.
“…K-Kenapa, Dika?”
“Hm… Aku hanya
sedikit terpesona.”
“Ahaha… Tapi gak gitu
juga ya, Dika… Aku gak sekaya yang kau mungkin kira.”
“Begitu…”
“Oh iya! Masuk masuk,
Dika!”
“…”
(Jadi itu rumah
Kochi)
Mengikuti Bagas memasuki gerbang
rumahnya, aku menemukan pekarangan luas yang penuh dengan aneka macam tumbuhan,
serta dua sosok pria yang sedang memangkas rumput taman.
“Rumputnya banyak
juga ya? Tono?”
“…Iya Pak Joko… Tapi
mendingan bapak tidak ikut membantu saya. Nanti capek…”
“…Nggak bakal…
Lumayan juga kan untuk olahraga… Eh? Bagas!”
“—P-Pa! Ngapain??”
“Lah? Gak apa-apa
kan? Hanya motong rumput saja…”
“Ish ish ish… Tuan
Bagas, Pak Joko memang keras kepala ya?”
“…K-Kalau gak
dipaksa, pastinya gak akan berubah! Lupakan itu… Temanmu, Gas?”
Sosok pria paruh baya berkaos putih
itu berdiri dari posisi merunduk dan kini mengarahkan pandangannya kepada kita.
Sementara itu, pria yang sekiranya lebih muda darinya rupanya memutuskan untuk
berdiri dan meninggalkan kita bertiga.
“Dika?”
Rupanya merangkul bahuku, Bagas kini
mengacungkan jempolnya kepada pria itu. Melihat interaksi antara mereka, aku
memutuskan untuk membungkukkan badanku, masih dalam rangkulan Bagas—sebelum
memperkenalkan diriku.
“Namaku Andika
Raylan. Dika. Senang bertemu dengan anda.”
“Tidak usah
sopan-sopan, Dika… Saya Joko, papa-nya Bagas… Tapi hari-hari beginian saya
malah lebih sering dipanggil Pak Tua.”
“Baiklah, Pak Tua.”
“Hngh! Malah berasa,
datang dari Dika…”
“…”
*Growl*
Suara gemuruh perut kosong memotong
perkenalan singkatku dengan Pak Tua. Melirik kepada Bagas, ia terlihat
mencurahkan ekspresi datar layaknya patung moai.
“Ehem! K-Karena sudah
siang, kenapa gak ikut makan di sini dengan kita, Dika? Sebagai terima kasih
atas jasamu hari ini!”
“Apa kamu yakin?”
“Silahkan silahkan…
Semua temannya Bagas adalah teman saya.”
“…Kalau begitu aku
menerima tawaranmu.”
“Mantap! Ayo masuk…”
Seraya mengikuti langkah mereka, aku
memutuskan untuk mengamati sekitaran kompleks rumah ini. Dinding plaster putih
dengan kayu lapis coklat gelap, kolam ikan, hingga gazebo kecil dapat terlihat
sejauh pengamatanku.
*Creak*
“Ah! Ke meja dulu ya?
Aku ingin ngambil sesuatu…”
“…”
Mengamati meja dengan 8 kursi itu,
aku juga menemukan Pak Tua rupanya sedang menonton TV yang terpasang pada
dinding di seberang meja.
“…Saham?”
“Iya… Saya biasanya
nonton beginian. Barangkali ada perubahan besar kan?”
Seraya menunggu Bagas, aku memutuskan
untuk duduk pada kursi yang berseberangan dengan posisi Pak Tua, menonton
tayangan saham itu. Aku menemukan saham menjadi sesuatu yang rumit—namun secara
bersamaan, menarik… Kurasa Niki dapat mengajariku setelah ia tiba di sini.
Melihat kembali pada layar, aku kini menemukan sebuah nama perusahaan yang
menarik perhatianku, dengan kenaikan sebesar sebelas persen.
“NRD…”
“…Apakah Dika tahu
NRD?”
“Tidak banyak.”
“Banyak yang bilang
kalau pendirinya itu pengusaha berdarah Eropa Timur... Sudah gitu punya banyak
koneksi dengan mafia dan orang-orang bawah. Tapi… Setelah tewas dalam
kecelakaan, mereka juga bilang kalau NRD ini lagi kacau…”
“…”
__ADS_1
“Yah… Mau gimana
lagi. Kita juga menghormati apa yang telah ia raih… Tapi kita sebagai manusia
juga tidak bisa memprediksi kapan ajal menjemput.”
“Benar.”
“Ehem! Bagaimanapun,
terima kasih sudah berteman dengan Bagas.”
“…Hm? Ini
mengejutkan.”
“Hanya saja…”
“—Pa!”
Sebelum Pak Tua mengutarakan
perkataannya, Bagas telah lebih dulu memotong percakapan kita. Berbicara dengan
kesan terburu-buru, aku memutuskan untuk menunda informasi itu untuk lain hari…
Lagipula, Pak Tua terlihat mencurahkan ekspresi kelam dan penuh keraguan ketika
ingin melanjutkan perkataannya.
“Hm? Oh… Waktunya
makan ya? Dika bisa minta tolong?”
“…Dengan senang
hati.”
Berdiri dan melangkah tepat di
belakangnya, aku bergegas mengambil dan menelan beberapa pil dari botol kecil
yang kubawa. Pada saat yang bersamaan, Bagas dapat terlihat keluar dari sebuah
ruangan—berjalan dengan cepat menuju Pak Tua. Secara alami, aku menjaga jarakku
dengan mereka.
“Pa… Hanashima bikin
masalah lagi…”
(Oh?)
“Papa yakin mereka
sekarang hanya ingin ngancam… Kondisi kepemimpinan yang labil akan membuat
mereka terfokus pada diri sendiri. Jangan khawatir.”
Aku
tentunya tidak menyangka hubungan antara keluarga Bagas dengan Hanashima… Itu
menjelaskan mengapa ia dapat mengenali Kaoru pada hari itu. Jika keluarga ini
berhubungan dengan Hanashima, maka mereka juga dapat menjadi mangsa besar
baginya.
…
***
“—Sebesar keinginanku
untuk tinggal lebih lama, sayangnya aku memiliki beberapa urusan penting yang
perlu diselesaikan hari ini.”
“Tenang tenang… Tapi
kamu bisa datang kapan saja, Dika…”
“Jangan lupa bawa
oleh-oleh ya!”
“Pa…”
“Aku akan
mengingatnya. Sampai jumpa.”
“…”
menemukannya berbelok ke kiri menjauhi pos satpam perumahan ini… Yah…
Mengetahuinya, sepertinya Dika ingin memeriksa kondisi rumah-rumah
lainnya—kurang lebih sama seperti tadi. Bagaimanapun, aku memutuskan untuk
mengangkat dan melambaikan tanganku dengan pelan kepadanya.
“Temanmu… Menarik…”
“…Maksudnya?”
“Meski terlihat acuh,
dia ternyata cukup sopan…”
“Huh.”
“Heran… Bagaimana
juga kamu bisa temenan sama dia?”
“…K-Kenapa emangnya?
Dika adalah orang yang baik.”
…
\~\~\~
*THUD*
“Hmphh—W-Woy! Di mana
aku!?”
Seperti yang kita ketahui, manusia
memiliki naluri untuk melindungi dirinya dalam situasi apa pun… Bahkan jika
mereka sedang berhadapan dengan sosok malaikat pencabut nyawa. Tidak jarang
kita juga menemukan bahwa perlindungan itu membuka sebuah kelemahan
baginya… Sebuah organ bernama amigdala dapat menangani emosi serta ingatan yang
berhubungan dengan ketakutan seseorang.
Sejujurnya, aku memiliki ketakutan
terhadap kegelapan total. Bagaimana tidak, ketika hampir seluruh tragedi yang
pernah kualami terjadi di dalam kegelapan. Kecelakaan pada malam hari yang
dingin itu, Beliau yang membawaku ke dalam ruangan gelap itu, pembunuhan Tuanku
ketika aku buta atas misiku… Pada dasarnya, mata cemas ini menjadi tidak
berguna dan panik akan dengan cepat mengikutinya. Tidak jarang pula aku
membayangkan keberadaan sosok yang mengamatiku dari dekat.
“H-HEY!!”
“Diam.”
“—WAA!!?”
Menyalakan sebuah lampu meja, aku
dengan cepat mengarahkannya kepada wajah lelaki di hadapanku. Tangan yang
terikat pada kursi lipat, napas cepat dan berat, hingga wajah berkeringat dan
resah itu menggambarkan kondisi tamuku hari ini. Busana gaul itu tidak
lagi terlihat karena kegelapan yang menenggelamkannya.
“Takeshi Kaoru.”
“S-Siapa kamu!?”
“Kamu mengetahui
siapa aku.”
“…K-Kamu… Tuannya
__ADS_1
Sylvie!!”
“…Tebakan bagus.
Rupanya kamu tidak sepadat yang kukira… Berikan tepuk tangan untukmu, Kaoru.”
“Tch! Apa lagi huh?!
Aku sudah gak ngincar Sylvie!! Apa lagi!!?”
*Clack*
“—!!”
Suara pelatuk besi dapat terdengar
tepat dari belakang punggungnya. Memeriksa asal suara itu, aku menemukan sebuah
moncong silinder yang mengarah tepat pada kepala Kaoru.
“…Jadi kamu dapat
menebak suara apa itu.”
“K-Kamu mau nembak
aku!?”
“—Ini hanyalah
antisipasi jika kamu tidak bekerja sama denganku.”
“…Kerja sama? A-Apa
lagi yang kamu inginkan dariku?!”
“Mengabaikan apa yang
telah engkau perbuat kepada Sylvie, apakah kamu dapat menjelaskan ini… Takeshi
Kaoru?”
“Huh? K-Kok bisa
dapat ini!?”
Menghiraukan kebingungannya, aku
mengambil dan meletakkan sebuah koper kecil yang sebelumnya tersimpan di
samping kakiku pada permukaan meja yang tersorot lampu ini.
“Arsip Hanashima?
Rahasia… Namun aku menemukan beberapa kejanggalan di sini. Dimana perginya dana
sebesar sebelas juta dollar yang seharusnya dipergunakan sebagai modal para
pegawai perusahaanmu?”
“…Sebelas juta
dollar? T-Tahu apa kamu!?”
“Tidak. Aku bercanda…
Untuk sekarang. Namun yang pasti, perusahaan milikmu rupanya telah memeras
jumlah yang sama dari usaha-usaha kecil di Kusumajaya. Apakah Kaoru tidak
berbelas kasih kepada mereka?”
“Wha—!!”
Tanpa adanya basa basi, aku dapat
membuktikan apa yang ia telah perbuat dengan kaki-tangan Hanashima itu. Namun
untuk memenuhi dendamku sepenuhnya, alangkah baiknya jika aku menambahkan
beberapa bumbu kepada masakan ini. Lagipula—dengan reaksi berat itu,
maka tidak heran jika ia memercayai apapun yang akan kukatakan sekarang.
…
“H-Hentikan… K-Kamu
menang!!”
“…Keputusan yang
bijak.”
Menyadari tumpukan berkas yang kini
berserakan pada meja, aku dapat merasakan senyuman yang mulai terbentuk pada
wajahku, terselimuti kegelapan ini. Bagaimana tidak, ketika mengetahui dendamku
yang telah selesai ini? Kaoru juga tidak dapat kabur lagi dari realita
perusahaan merakyat itu.
“Seumur hidupku, aku
selalu heran kepada manusia yang selalu membohongi dirinya… Cepat atau lambat,
kebohongan itu akan menghitam dan mulai menodai lingkaran yang sebelumnya dekat
denganmu… Anggap dirimu beruntung, Kaoru.”
“L-Lalu… Apa
berikutnya?”
“Melalui kenalan, aku
dapat menyebarkan seluruh bukti ini kepada publik. Karena adanya penyuapan
terhadap kepolisian dan hakim, serta pengacara yang handal, aku kini mengetahui
bahwa kekuatan rakyat negeri ini jauh melampaui mereka… Alhasil, kamu tidak
akan selamat di luar sana.”
“Huh? J-Janga—”
“—Pilihan kedua.
Lengserkan para oligarki yang melekat di dalam perusahaan rusak itu. Peras dana
itu dan sebarkan kepada para pegawai Hanashima, rakyat miskin, serta berbagai
usaha yang terperas oleh kalian. Langkah terakhir—tentunya—mundur dari posisi
yang telah engkau racuni itu.”
“W-Woy!! Gak adil
it—”
“—Tidak adil, Kaoru
katakan? Lalu bagaimana dengan peran kalian sebagai tikus berdasi? Apakah itu
adil?”
“…”
“Waktu tidak akan
berhenti, Kaoru. Moncong yang masih membidikmu itu akan menjadi haus akan
darah.”
“—B-Baiklah!! A-Aku
akan pergi dari sekolah juga!!”
“Oh? Itu adalah
tawaran yang jauh lebih menguntungkan bagi kita… Baiklah, Kaoru. Aku tidak akan
mengingkari janji itu… Lagipula, jika kamu memainkan kartumu dengan benar, aku
yakin kamu dapat menghilang tanpa jejak.”
“…Huh? T-Tungg—”
“Senang berbisnis
denganmu.”
“Tunggu dulu!! Siapa
sebenarnya kamu!?”
“Aku? Hanya seseorang
yang ingin menjalankan hidup normal sebagai seorang siswa SMA.”
…
__ADS_1