Nagara Nusantara

Nagara Nusantara
Chapter 7 : Keluarga Fatih


__ADS_3

Bagas merentangkan


kedua tangannya tepat di depan sebuah pagar rumah yang membalut kayunya dengan


hehijauan. Membaca nomor GK1-04 yang terpasang di situ membuatku dengan


perlahan memundurkan langkahku, sebelum melirik kepada barisan rumah yang


terletak pada sebelah kananku.


“…K-Kenapa, Dika?”


“Hm… Aku hanya


sedikit terpesona.”


“Ahaha… Tapi gak gitu


juga ya, Dika… Aku gak sekaya yang kau mungkin kira.”


“Begitu…”


“Oh iya! Masuk masuk,


Dika!”


“…”


(Jadi itu rumah


Kochi)


            Mengikuti Bagas memasuki gerbang


rumahnya, aku menemukan pekarangan luas yang penuh dengan aneka macam tumbuhan,


serta dua sosok pria yang sedang memangkas rumput taman.


“Rumputnya banyak


juga ya? Tono?”


“…Iya Pak Joko… Tapi


mendingan bapak tidak ikut membantu saya. Nanti capek…”


“…Nggak bakal…


Lumayan juga kan untuk olahraga… Eh? Bagas!”


“—P-Pa! Ngapain??”


“Lah? Gak apa-apa


kan? Hanya motong rumput saja…”


“Ish ish ish… Tuan


Bagas, Pak Joko memang keras kepala ya?”


“…K-Kalau gak


dipaksa, pastinya gak akan berubah! Lupakan itu… Temanmu, Gas?”


            Sosok pria paruh baya berkaos putih


itu berdiri dari posisi merunduk dan kini mengarahkan pandangannya kepada kita.


Sementara itu, pria yang sekiranya lebih muda darinya rupanya memutuskan untuk


berdiri dan meninggalkan kita bertiga.


“Dika?”


            Rupanya merangkul bahuku, Bagas kini


mengacungkan jempolnya kepada pria itu. Melihat interaksi antara mereka, aku


memutuskan untuk membungkukkan badanku, masih dalam rangkulan Bagas—sebelum


memperkenalkan diriku.


“Namaku Andika


Raylan. Dika. Senang bertemu dengan anda.”


“Tidak usah


sopan-sopan, Dika… Saya Joko, papa-nya Bagas… Tapi hari-hari beginian saya


malah lebih sering dipanggil Pak Tua.”


“Baiklah, Pak Tua.”


“Hngh! Malah berasa,


datang dari Dika…”


“…”


*Growl*


            Suara gemuruh perut kosong memotong


perkenalan singkatku dengan Pak Tua. Melirik kepada Bagas, ia terlihat


mencurahkan ekspresi datar layaknya patung moai.


“Ehem! K-Karena sudah


siang, kenapa gak ikut makan di sini dengan kita, Dika? Sebagai terima kasih


atas jasamu hari ini!”


“Apa kamu yakin?”


“Silahkan silahkan…


Semua temannya Bagas adalah teman saya.”


“…Kalau begitu aku


menerima tawaranmu.”


“Mantap! Ayo masuk…”


            Seraya mengikuti langkah mereka, aku


memutuskan untuk mengamati sekitaran kompleks rumah ini. Dinding plaster putih


dengan kayu lapis coklat gelap, kolam ikan, hingga gazebo kecil dapat terlihat


sejauh pengamatanku.


*Creak*


“Ah! Ke meja dulu ya?


Aku ingin ngambil sesuatu…”


“…”


            Mengamati meja dengan 8 kursi itu,


aku juga menemukan Pak Tua rupanya sedang menonton TV yang terpasang pada


dinding di seberang meja.


“…Saham?”


“Iya… Saya biasanya


nonton beginian. Barangkali ada perubahan besar kan?”


            Seraya menunggu Bagas, aku memutuskan


untuk duduk pada kursi yang berseberangan dengan posisi Pak Tua, menonton


tayangan saham itu. Aku menemukan saham menjadi sesuatu yang rumit—namun secara


bersamaan, menarik… Kurasa Niki dapat mengajariku setelah ia tiba di sini.


Melihat kembali pada layar, aku kini menemukan sebuah nama perusahaan yang


menarik perhatianku, dengan kenaikan sebesar sebelas persen.


“NRD…”


“…Apakah Dika tahu


NRD?”


“Tidak banyak.”


“Banyak yang bilang


kalau pendirinya itu pengusaha berdarah Eropa Timur... Sudah gitu punya banyak


koneksi dengan mafia dan orang-orang bawah. Tapi… Setelah tewas dalam


kecelakaan, mereka juga bilang kalau NRD ini lagi kacau…”


“…”

__ADS_1


“Yah… Mau gimana


lagi. Kita juga menghormati apa yang telah ia raih… Tapi kita sebagai manusia


juga tidak bisa memprediksi kapan ajal menjemput.”


“Benar.”


“Ehem! Bagaimanapun,


terima kasih sudah berteman dengan Bagas.”


“…Hm? Ini


mengejutkan.”


“Hanya saja…”


“—Pa!”


            Sebelum Pak Tua mengutarakan


perkataannya, Bagas telah lebih dulu memotong percakapan kita. Berbicara dengan


kesan terburu-buru, aku memutuskan untuk menunda informasi itu untuk lain hari…


Lagipula, Pak Tua terlihat mencurahkan ekspresi kelam dan penuh keraguan ketika


ingin melanjutkan perkataannya.


“Hm? Oh… Waktunya


makan ya? Dika bisa minta tolong?”


“…Dengan senang


hati.”


            Berdiri dan melangkah tepat di


belakangnya, aku bergegas mengambil dan menelan beberapa pil dari botol kecil


yang kubawa. Pada saat yang bersamaan, Bagas dapat terlihat keluar dari sebuah


ruangan—berjalan dengan cepat menuju Pak Tua. Secara alami, aku menjaga jarakku


dengan mereka.


“Pa… Hanashima bikin


masalah lagi…”


(Oh?)


“Papa yakin mereka


sekarang hanya ingin ngancam… Kondisi kepemimpinan yang labil akan membuat


mereka terfokus pada diri sendiri. Jangan khawatir.”


            Aku


tentunya tidak menyangka hubungan antara keluarga Bagas dengan Hanashima… Itu


menjelaskan mengapa ia dapat mengenali Kaoru pada hari itu. Jika keluarga ini


berhubungan dengan Hanashima, maka mereka juga dapat menjadi mangsa besar


baginya.



***


“—Sebesar keinginanku


untuk tinggal lebih lama, sayangnya aku memiliki beberapa urusan penting yang


perlu diselesaikan hari ini.”


“Tenang tenang… Tapi


kamu bisa datang kapan saja, Dika…”


“Jangan lupa bawa


oleh-oleh ya!”


“Pa…”


“Aku akan


mengingatnya. Sampai jumpa.”


“…”


menemukannya berbelok ke kiri menjauhi pos satpam perumahan ini… Yah…


Mengetahuinya, sepertinya Dika ingin memeriksa kondisi rumah-rumah


lainnya—kurang lebih sama seperti tadi. Bagaimanapun, aku memutuskan untuk


mengangkat dan melambaikan tanganku dengan pelan kepadanya.


“Temanmu… Menarik…”


“…Maksudnya?”


“Meski terlihat acuh,


dia ternyata cukup sopan…”


“Huh.”


“Heran… Bagaimana


juga kamu bisa temenan sama dia?”


“…K-Kenapa emangnya?


Dika adalah orang yang baik.”



\~\~\~


*THUD*


“Hmphh—W-Woy! Di mana


aku!?”


            Seperti yang kita ketahui, manusia


memiliki naluri untuk melindungi dirinya dalam situasi apa pun… Bahkan jika


mereka sedang berhadapan dengan sosok malaikat pencabut nyawa. Tidak jarang


kita juga menemukan bahwa perlindungan itu membuka sebuah kelemahan


baginya… Sebuah organ bernama amigdala dapat menangani emosi serta ingatan yang


berhubungan dengan ketakutan seseorang.


            Sejujurnya, aku memiliki ketakutan


terhadap kegelapan total. Bagaimana tidak, ketika hampir seluruh tragedi yang


pernah kualami terjadi di dalam kegelapan. Kecelakaan pada malam hari yang


dingin itu, Beliau yang membawaku ke dalam ruangan gelap itu, pembunuhan Tuanku


ketika aku buta atas misiku… Pada dasarnya, mata cemas ini menjadi tidak


berguna dan panik akan dengan cepat mengikutinya. Tidak jarang pula aku


membayangkan keberadaan sosok yang mengamatiku dari dekat.


“H-HEY!!”


“Diam.”


“—WAA!!?”


            Menyalakan sebuah lampu meja, aku


dengan cepat mengarahkannya kepada wajah lelaki di hadapanku. Tangan yang


terikat pada kursi lipat, napas cepat dan berat, hingga wajah berkeringat dan


resah itu menggambarkan kondisi tamuku hari ini. Busana gaul itu tidak


lagi terlihat karena kegelapan yang menenggelamkannya.


“Takeshi Kaoru.”


“S-Siapa kamu!?”


“Kamu mengetahui


siapa aku.”


“…K-Kamu… Tuannya

__ADS_1


Sylvie!!”


“…Tebakan bagus.


Rupanya kamu tidak sepadat yang kukira… Berikan tepuk tangan untukmu, Kaoru.”


“Tch! Apa lagi huh?!


Aku sudah gak ngincar Sylvie!! Apa lagi!!?”


*Clack*


“—!!”


            Suara pelatuk besi dapat terdengar


tepat dari belakang punggungnya. Memeriksa asal suara itu, aku menemukan sebuah


moncong silinder yang mengarah tepat pada kepala Kaoru.


“…Jadi kamu dapat


menebak suara apa itu.”


“K-Kamu mau nembak


aku!?”


“—Ini hanyalah


antisipasi jika kamu tidak bekerja sama denganku.”


“…Kerja sama? A-Apa


lagi yang kamu inginkan dariku?!”


“Mengabaikan apa yang


telah engkau perbuat kepada Sylvie, apakah kamu dapat menjelaskan ini… Takeshi


Kaoru?”


“Huh? K-Kok bisa


dapat ini!?”


            Menghiraukan kebingungannya, aku


mengambil dan meletakkan sebuah koper kecil yang sebelumnya tersimpan di


samping kakiku pada permukaan meja yang tersorot lampu ini.


“Arsip Hanashima?


Rahasia… Namun aku menemukan beberapa kejanggalan di sini. Dimana perginya dana


sebesar sebelas juta dollar yang seharusnya dipergunakan sebagai modal para


pegawai perusahaanmu?”


“…Sebelas juta


dollar? T-Tahu apa kamu!?”


“Tidak. Aku bercanda…


Untuk sekarang. Namun yang pasti, perusahaan milikmu rupanya telah memeras


jumlah yang sama dari usaha-usaha kecil di Kusumajaya. Apakah Kaoru tidak


berbelas kasih kepada mereka?”


“Wha—!!”


            Tanpa adanya basa basi, aku dapat


membuktikan apa yang ia telah perbuat dengan kaki-tangan Hanashima itu. Namun


untuk memenuhi dendamku sepenuhnya, alangkah baiknya jika aku menambahkan


beberapa bumbu kepada masakan ini. Lagipula—dengan reaksi berat itu,


maka tidak heran jika ia memercayai apapun yang akan kukatakan sekarang.



“H-Hentikan… K-Kamu


menang!!”


“…Keputusan yang


bijak.”


            Menyadari tumpukan berkas yang kini


berserakan pada meja, aku dapat merasakan senyuman yang mulai terbentuk pada


wajahku, terselimuti kegelapan ini. Bagaimana tidak, ketika mengetahui dendamku


yang telah selesai ini? Kaoru juga tidak dapat kabur lagi dari realita


perusahaan merakyat itu.


“Seumur hidupku, aku


selalu heran kepada manusia yang selalu membohongi dirinya… Cepat atau lambat,


kebohongan itu akan menghitam dan mulai menodai lingkaran yang sebelumnya dekat


denganmu… Anggap dirimu beruntung, Kaoru.”


“L-Lalu… Apa


berikutnya?”


“Melalui kenalan, aku


dapat menyebarkan seluruh bukti ini kepada publik. Karena adanya penyuapan


terhadap kepolisian dan hakim, serta pengacara yang handal, aku kini mengetahui


bahwa kekuatan rakyat negeri ini jauh melampaui mereka… Alhasil, kamu tidak


akan selamat di luar sana.”


“Huh? J-Janga—”


“—Pilihan kedua.


Lengserkan para oligarki yang melekat di dalam perusahaan rusak itu. Peras dana


itu dan sebarkan kepada para pegawai Hanashima, rakyat miskin, serta berbagai


usaha yang terperas oleh kalian. Langkah terakhir—tentunya—mundur dari posisi


yang telah engkau racuni itu.”


“W-Woy!! Gak adil


it—”


“—Tidak adil, Kaoru


katakan? Lalu bagaimana dengan peran kalian sebagai tikus berdasi? Apakah itu


adil?”


“…”


“Waktu tidak akan


berhenti, Kaoru. Moncong yang masih membidikmu itu akan menjadi haus akan


darah.”


“—B-Baiklah!! A-Aku


akan pergi dari sekolah juga!!”


“Oh? Itu adalah


tawaran yang jauh lebih menguntungkan bagi kita… Baiklah, Kaoru. Aku tidak akan


mengingkari janji itu… Lagipula, jika kamu memainkan kartumu dengan benar, aku


yakin kamu dapat menghilang tanpa jejak.”


“…Huh? T-Tungg—”


“Senang berbisnis


denganmu.”


“Tunggu dulu!! Siapa


sebenarnya kamu!?”


“Aku? Hanya seseorang


yang ingin menjalankan hidup normal sebagai seorang siswa SMA.”


__ADS_1


__ADS_2