
*Clap* *Clap*
“Menakjubkan.”
“Terima kasih.”
Sesaat setelah para bawahan Kochi
menutup wajah Kaoru dan membawanya keluar, Kochi akhirnya menyalakan lampu
ruangan untuk membantuku merapikan dokumen bukti kejahatan Kaoru dan
Hanashima pada sebuah aktentas hitam.
“Saya yakin jika Ryo
melihat anda, ia akan bangga menjadi guru besar dari Dika.”
“…Jika kamu
mengingatnya, ia selalu menggunakan kekerasan untuk memeras korbannya.”
“Lah? Bagus kan??
Anda di sini hanya mengancamnya!”
“Bagaimana denganmu?
Mengarahkan sebuah M9 kepada siswa sendiri… Apakah kamu yakin agensi telah
meluluskan dirimu?”
“A-Anda kira saya
menjadi agen karena nepotisme?”
“Aku… Harap tidak.”
“Tapi licik juga
anda… Sebagian besar bukti selain pemerasan itu palsu isinya.”
“Stres akan membuat
siapapun kehilangan fokusnya. Mengetahui diri yang mudah resah itu, aku
memutuskan untuk menghadapinya dengan kenyataan terlebih dahulu. Rupanya itu
cukup untuk membuatnya paranoid atas apa yang akan kukatakan berikutnya…
Lagipula, tingkat literasi dan berpikir kritis yang rendah membuat teknik ini
sayang untuk dilewatkan begitu saja.”
“Hmm… Menarik juga
ide anda untuk menculik Kaoru di tengah-tengah keramaian Kalimas, menggunakan
anggota Divisi Gagak yang menyamar sebagai warga sipil untuk menariknya dari
pengawalannya. Menambah lautan manusia yang ada, tidak heran jika kebingungan
segera muncul pada mereka… Sepertinya Dika sudah belajar banyak dari Ryo.”
“…Bagaimana laporan
mengenai Operasi Kusumajaya… Dan juga Sylvie?”
“Nah!”
Duduk pada kursi bekas Kaoru, Kochi
memberikan Berreta miliknya padaku, sebelum mengeluarkan beberapa lembaran
dokumen dari balik jas itu.
“…Yang mana dulu?”
“Sylvie.”
“Hmmm… Ia kehilangan
kedua orang tuanya ketika berusia 4 tahun.”
“...Oh?”
“Rupanya kerabat
ayahnya memutuskan untuk mengasuhnya… Punya perkebunan di kawasan Arjuno-Welirang…
Kelihatannya dia sukses juga tuh.”
“…”
“Pelayan anda itu
sebenarnya pintar juga, dari kecil selalu dapat beasiswa.”
“Menarik… Ada lagi?”
“Banyak. Tapi saya
akan langsung memberikan kertas-kertas ini ke Dika… Capek juga saya membacanya
nanti…”
“Baiklah… Bagaimana
dengan Operasi Kusumajaya?”
“Ini.”
*Plak*
Menampar dokumen yang berbeda pada
meja, aku menemukan simbol “S” yang tercetak dengan tebal pada bagian tengah
lembaran kertas itu. Ditambah dengan keberadaan simbol bunga wijayakusuma pada sisi
bawah dapat membuatku memastikan keasliannya.
“…Rupanya persiapan
telah selesai. Pak Agung dan Niki juga telah bersiap-siap untuk pelaksanaan
operasi ini.”
“Arief juga
melaporkan seluruh anggotanya yang sedang bergerak menuju Kusumajaya.”
“…”
“…Bagaimana langkah
berikutnya, komandan?”
“Aku membutuhkan
pemandangan yang baik.”
“Haha! Saya telah
memesan tiket untuk anda menyaksikan grand opening malam ini.”
“Oh? Aku menerima
tawaranmu, Kochi.”
…
***
*Vrooom!!!*
Deru mesin mobil tua itu
menenggelamkan kesunyian malam hari Hutan Kusumajaya, sebuah area yang menutupi
sebagian besar pulau ini. Meski memiliki kecepatan tinggi pada masanya,
nyatanya hanya orang bodoh dan buronanlah yang berani membawanya dengan cepat
pada lokasi dan waktu seperti ini.
“Aku tidak mengira
__ADS_1
Kochi masih memiliki mobil antik ini.”
“A-Apa maksud Dika masih
memiliki mobil antik ini?? Tentu saja saya masih punya bayi ini! Warisan
ayah saya kok!”
Kochi mengemudikan mobil Mach
Mustang hitam miliknya yang telah dimodifikasi berat. Meski 52 tahun telah
berlalu, mobil ini kini dilengkapi oleh bodi antipeluru, rangka besi, serta
suku cadang balapan, membuatnya mampu bersaing dengan mobil sport masa kini.
“Putih adalah warna
mobil ini 2 tahun lalu, sebelum engkau resmi bergabung dengan Sidorova…
Modifikasinya juga tidak seberat ini.”
“Benar… Pada kala itu
saya juga pertama kali bertemu dengan Dika.”
“Tepat setelah
hukuman itu selesai. Kiki juga masih berpacaran denganmu.”
“Haha… Gak nyangka. 6
bulan sudah lewat begitu saja.”
Kochi sesekali memperhatikan
cincinnya yang berlinang di bawah sinar bulan. Mengamatinya cukup untuk
membuatku menghembuskan napas seraya memperhatikan dan meraba jari keempatku.
“Masa itu adalah
sebuah mimpi yang indah… Aku hanya berharap ia tidak terbunuh pada hari itu. Tidak
adil jika itu adalah harga yang harus ia bayar untuk memperbaiki diriku.”
“…Apakah Dika masih
ngalamin itu?”
“Tentu saja. Namun
tidak seburuk dugaanmu.”
“Jadi anda masih
konsultasi ke Rais?”
“Benar.”
“Haah… Gimana lagi
ya… Setelah hari itu, dia segera mundur dari Sidorova dan malah kerja di
Jakarta. Kematian Ryo pasti memengaruhinya…”
“…”
“…Baiklah. Kita sudah
sampai, Dika.”
Mengamati lanskap gelap di balik
kaca depan, aku menemukan sebuah penanda hijau yang mengeja “Bukit Buana, +139
meter” terpancang seorang diri pada tiang besi. Kochi menghentikan laju
mobilnya pada sebuah lahan terbuka beralaskan kerikil, tidak jauh dari pagar
pembatas yang memisahkan kita dan bukaan ini dengan jurang penuh dengan hutan
belantara.
“…”
*Shut*
pandanganku untuk menyambut pemandangan malam hari Kota Kusumajaya, Distrik
Cikara, Buana, Maro, serta bangunan megah dari Akademi Nasional Kusumajaya di
kejauhan. Ribuan bintik cahaya menyerang angkasa malam, memaksanya untuk
menyembunyikan bintang indah mereka.
“…Sepi.”
“Siapa juga yang ke
sini pas tengah malam, Dika? Pendaki? Dukun??”
“…The fault, dear
Brutus, is not in our stars, but in ourselves.”
“Haah… Dia ngutip
Shakespeare lagi.”
Gemerincing retsleting jaket yang
menenggelamkan kesunyian malam ini membuatku berbalik badan untuk menemukan
Kochi sedang duduk pada jok mobil, mengelap kacamata seraya membuka laptopnya.
Duduk di atas kap mobil, aku kembali mengamati pemandangan malam seraya
mengeluarkan ponselku.
*Tut*
“Yo! Kak dela,
Dika??”
“Ya v poryadke.”
“Ho? Makin lancar aja
kamu!”
“…Terimakasih, Simpatichnaya Niki.”
“Dika…”
“Maaf… Aku ingin
mendengar suaramu.”
“Kamu tidak
sendirian…”
“Dika lagi gatel
itu!”
“Ah! Kochi di situ
juga??”
“Mhm.”
“Oiya… Berarti sudah
waktunya pembukaan ya?”
“Tenang, Niki… Ini
hanya sekedar acara pembuka dari cerita kita berikutnya.”
“Lah tidak begitu
juga… Malah pembukaan ini penting agar para penonton terpesona dengan aksi yang
akan kita lakukan!”
__ADS_1
“…Baiklah. Apa kamu
sedang berdiri pada beranda itu?”
“Kok tau!? Jangan
jangan Dika esper??”
“Aku memiliki caraku
tersendiri.”
Memperhatikan gerakan jarum jam
tangan yang terus berjalan, aku menoleh pada Kochi, menemukannya kini
mengacungkan jempol kanannya padaku.
“Sebagai sutradara,
aku perlu menyaksikan semua ini secara langsung… Jika Nikita beruntung, media
akan segera mengangkat cerita hangat ini nanti.”
“Aku akan menyediakan
cemilan.”
“Uvidimsya.”
“Hm!”
“…”
“…Sepertinya acara
akan segera dimulai. Kochi, sampaikan mereka.”
“Sudah duluan.”
Menghembuskan napas, Kochi
mengangkat walkie talkie-nya dan mulai mengucapkan kata-kata yang
ternilai menyindir diri kita sebagai manusia. Namun ini hanyalah sebuah kutipan
darinya, sosok sutradara sesungguhnya.
“Bunga mawar yang
terlindung dari kejahatan manusia, gagak hitam yang mengawasi segala kematian
bumi ini, matahari telah terbit untuk menampakkan sisa-sisa kehancuran mereka.”
*Clack* *Clack*
Menjentikkan jemarinya, Kochi
kembali bersandar pada jok mobil, kini mengeluarkan kotak rokok dari balik jaketnya.
Berjalan mendekatinya, aku menahan tangan yang ingin meraih batang putih itu.
“?”
“Apakah menurutmu
mereka menemukan masalah?”
Menunggu di balik kesunyian yang
anehnya damai ini, Kochi segera mengarahkan telunjuk yang telah mengangkat
rokok menuju pusat kota.
“…Lihat di sana.”
Melirik arah yang tertunjuk, aku
mulai menemukan berbagai pilar cahaya yang bermunculan dari atap-atap bangungan
pencakar langit Kusumajaya. Untuk menghiasinya, ledakan berbagai kembang api
dapat terlihat di angkasa layaknya ingin merayakan pergantian tahun. Kurasa ini
adalah cara Sidorova memperkenalkan diri mereka… Bagaimana dengan orang-orang
yang sedang tertidur?
“Wahaha… Gimana?
Bagus kan??”
“…Aku kagum. Ini
sempurna.”
Aku menemukan kedua lenganku
terbentang ke samping layaknya ingin diriku untuk memainkan peran tokoh utama
dalam cerita ini. Aku yakin jika kita semua hadir di sini, Kak Ryo akan menarik
kita untuk berswafoto menggunakan pemandangan ini sebagai latar. Ini
benar-benar menjadi salah satu keinginannya.
“Kemuliaan bagi para
pembela tanah air.”
…
***
Aku yakin bahwa setiap orang
memiliki ingatan atas masa kecil mereka. Pada umumnya, ingatan tersebut
berisikan atas kenangan yang paling berpengaruh kepadanya. Sayangnya, aku tidak
dapat menerima keberuntungan itu. Bagaimana tidak, jika ingatan pertamaku
adalah diriku yang terbaring pada sebuah kasur rumah sakit, sadar namun tidak
dapat menggerakkan satupun anggota tubuhku.
Lampu ruangan putih itu menjadi
satu-satunya objek yang dapat kuamati. Jujur saja, setelah mengamatinya dengan
lama, rasa membutakan mata itu perlahan menghilang seakan aku telah terbiasa
melihatnya dengan lama. Kurasa itu cukup untuk memberikan gambaran berapa lama
aku harus menempati tubuh yang tidak dapat bergerak ini.
Selain lampu membosankan yang
sesekali berkedip setiap kiranya 74 detik, aku dapat mendengar berbagai
peralatan medis yang terus menyerang indra pendengaranku setiap hari. Apakah
ini yang seringkali disebut sebagai white torture?
Pada suatu hari, aku dapat merasakan
pikiranku terkejut mengamati sosok berjubah putih yang datang mengamati diriku
ini… Namun sayangnya itu tidak cukup untuk menyadarkan tubuhku. Kembali
memusatkan kesadaran goyah ini, aku juga menemukan sosok bersetelan hitam yang
berdiri tepat di sisi dokter itu. Ditambah mata berwarna merah darah
itu, sosok berjubah putih itu terkejut menyadari keberadaannya.
Setelah sekiranya berbincang-bincang
tepat di sisiku, aku dapat merasakan senyuman tajam yang melukis wajah berkabut
dan misterius itu ditujukan padaku, layaknya sosok pendendam yang telah
menyatakan kemenangannya.
…
Aku tidak mengetahui
__ADS_1
bahwa diriku akan menjadi mesin penghancur miliknya.
…