Nagara Nusantara

Nagara Nusantara
Chapter 8 : Operasi Kusumajaya


__ADS_3

*Clap* *Clap*


“Menakjubkan.”


“Terima kasih.”


            Sesaat setelah para bawahan Kochi


menutup wajah Kaoru dan membawanya keluar, Kochi akhirnya menyalakan lampu


ruangan untuk membantuku merapikan dokumen bukti kejahatan Kaoru dan


Hanashima pada sebuah aktentas hitam.


“Saya yakin jika Ryo


melihat anda, ia akan bangga menjadi guru besar dari Dika.”


“…Jika kamu


mengingatnya, ia selalu menggunakan kekerasan untuk memeras korbannya.”


“Lah? Bagus kan??


Anda di sini hanya mengancamnya!”


“Bagaimana denganmu?


Mengarahkan sebuah M9 kepada siswa sendiri… Apakah kamu yakin agensi telah


meluluskan dirimu?”


“A-Anda kira saya


menjadi agen karena nepotisme?”


“Aku… Harap tidak.”


“Tapi licik juga


anda… Sebagian besar bukti selain pemerasan itu palsu isinya.”


“Stres akan membuat


siapapun kehilangan fokusnya. Mengetahui diri yang mudah resah itu, aku


memutuskan untuk menghadapinya dengan kenyataan terlebih dahulu. Rupanya itu


cukup untuk membuatnya paranoid atas apa yang akan kukatakan berikutnya…


Lagipula, tingkat literasi dan berpikir kritis yang rendah membuat teknik ini


sayang untuk dilewatkan begitu saja.”


“Hmm… Menarik juga


ide anda untuk menculik Kaoru di tengah-tengah keramaian Kalimas, menggunakan


anggota Divisi Gagak yang menyamar sebagai warga sipil untuk menariknya dari


pengawalannya. Menambah lautan manusia yang ada, tidak heran jika kebingungan


segera muncul pada mereka… Sepertinya Dika sudah belajar banyak dari Ryo.”


“…Bagaimana laporan


mengenai Operasi Kusumajaya… Dan juga Sylvie?”


“Nah!”


            Duduk pada kursi bekas Kaoru, Kochi


memberikan Berreta miliknya padaku, sebelum mengeluarkan beberapa lembaran


dokumen dari balik jas itu.


“…Yang mana dulu?”


“Sylvie.”


“Hmmm… Ia kehilangan


kedua orang tuanya ketika berusia 4 tahun.”


“...Oh?”


“Rupanya kerabat


ayahnya memutuskan untuk mengasuhnya… Punya perkebunan di kawasan Arjuno-Welirang…


Kelihatannya dia sukses juga tuh.”


“…”


“Pelayan anda itu


sebenarnya pintar juga, dari kecil selalu dapat beasiswa.”


“Menarik… Ada lagi?”


“Banyak. Tapi saya


akan langsung memberikan kertas-kertas ini ke Dika… Capek juga saya membacanya


nanti…”


“Baiklah… Bagaimana


dengan Operasi Kusumajaya?”


“Ini.”


*Plak*


            Menampar dokumen yang berbeda pada


meja, aku menemukan simbol “S” yang tercetak dengan tebal pada bagian tengah


lembaran kertas itu. Ditambah dengan keberadaan simbol bunga wijayakusuma pada sisi


bawah dapat membuatku memastikan keasliannya.


“…Rupanya persiapan


telah selesai. Pak Agung dan Niki juga telah bersiap-siap untuk pelaksanaan


operasi ini.”


“Arief juga


melaporkan seluruh anggotanya yang sedang bergerak menuju Kusumajaya.”


“…”


“…Bagaimana langkah


berikutnya, komandan?”


“Aku membutuhkan


pemandangan yang baik.”


“Haha! Saya telah


memesan tiket untuk anda menyaksikan grand opening malam ini.”


“Oh? Aku menerima


tawaranmu, Kochi.”



***


*Vrooom!!!*


            Deru mesin mobil tua itu


menenggelamkan kesunyian malam hari Hutan Kusumajaya, sebuah area yang menutupi


sebagian besar pulau ini. Meski memiliki kecepatan tinggi pada masanya,


nyatanya hanya orang bodoh dan buronanlah yang berani membawanya dengan cepat


pada lokasi dan waktu seperti ini.


“Aku tidak mengira

__ADS_1


Kochi masih memiliki mobil antik ini.”


“A-Apa maksud Dika masih


memiliki mobil antik ini?? Tentu saja saya masih punya bayi ini! Warisan


ayah saya kok!”


            Kochi mengemudikan mobil Mach


Mustang hitam miliknya yang telah dimodifikasi berat. Meski 52 tahun telah


berlalu, mobil ini kini dilengkapi oleh bodi antipeluru, rangka besi, serta


suku cadang balapan, membuatnya mampu bersaing dengan mobil sport masa kini.


“Putih adalah warna


mobil ini 2 tahun lalu, sebelum engkau resmi bergabung dengan Sidorova…


Modifikasinya juga tidak seberat ini.”


“Benar… Pada kala itu


saya juga pertama kali bertemu dengan Dika.”


“Tepat setelah


hukuman itu selesai. Kiki juga masih berpacaran denganmu.”


“Haha… Gak nyangka. 6


bulan sudah lewat begitu saja.”


            Kochi sesekali memperhatikan


cincinnya yang berlinang di bawah sinar bulan. Mengamatinya cukup untuk


membuatku menghembuskan napas seraya memperhatikan dan meraba jari keempatku.


“Masa itu adalah


sebuah mimpi yang indah… Aku hanya berharap ia tidak terbunuh pada hari itu. Tidak


adil jika itu adalah harga yang harus ia bayar untuk memperbaiki diriku.”


“…Apakah Dika masih


ngalamin itu?”


“Tentu saja. Namun


tidak seburuk dugaanmu.”


“Jadi anda masih


konsultasi ke Rais?”


“Benar.”


“Haah… Gimana lagi


ya… Setelah hari itu, dia segera mundur dari Sidorova dan malah kerja di


Jakarta. Kematian Ryo pasti memengaruhinya…”


“…”


“…Baiklah. Kita sudah


sampai, Dika.”


            Mengamati lanskap gelap di balik


kaca depan, aku menemukan sebuah penanda hijau yang mengeja “Bukit Buana, +139


meter” terpancang seorang diri pada tiang besi. Kochi menghentikan laju


mobilnya pada sebuah lahan terbuka beralaskan kerikil, tidak jauh dari pagar


pembatas yang memisahkan kita dan bukaan ini dengan jurang penuh dengan hutan


belantara.


“…”


*Shut*


pandanganku untuk menyambut pemandangan malam hari Kota Kusumajaya, Distrik


Cikara, Buana, Maro, serta bangunan megah dari Akademi Nasional Kusumajaya di


kejauhan. Ribuan bintik cahaya menyerang angkasa malam, memaksanya untuk


menyembunyikan bintang indah mereka.


“…Sepi.”


“Siapa juga yang ke


sini pas tengah malam, Dika? Pendaki? Dukun??”


“…The fault, dear


Brutus, is not in our stars, but in ourselves.”


“Haah… Dia ngutip


Shakespeare lagi.”


            Gemerincing retsleting jaket yang


menenggelamkan kesunyian malam ini membuatku berbalik badan untuk menemukan


Kochi sedang duduk pada jok mobil, mengelap kacamata seraya membuka laptopnya.


Duduk di atas kap mobil, aku kembali mengamati pemandangan malam seraya


mengeluarkan ponselku.


*Tut*


“Yo! Kak dela,


Dika??”


“Ya v poryadke.”


“Ho? Makin lancar aja


kamu!”


“…Terimakasih, Simpatichnaya Niki.”


“Dika…”


“Maaf… Aku ingin


mendengar suaramu.”


“Kamu tidak


sendirian…”


“Dika lagi gatel


itu!”


“Ah! Kochi di situ


juga??”


“Mhm.”


“Oiya… Berarti sudah


waktunya pembukaan ya?”


“Tenang, Niki… Ini


hanya sekedar acara pembuka dari cerita kita berikutnya.”


“Lah tidak begitu


juga… Malah pembukaan ini penting agar para penonton terpesona dengan aksi yang


akan kita lakukan!”

__ADS_1


“…Baiklah. Apa kamu


sedang berdiri pada beranda itu?”


“Kok tau!? Jangan


jangan Dika esper??”


“Aku memiliki caraku


tersendiri.”


            Memperhatikan gerakan jarum jam


tangan yang terus berjalan, aku menoleh pada Kochi, menemukannya kini


mengacungkan jempol kanannya padaku.


“Sebagai sutradara,


aku perlu menyaksikan semua ini secara langsung… Jika Nikita beruntung, media


akan segera mengangkat cerita hangat ini nanti.”


“Aku akan menyediakan


cemilan.”


“Uvidimsya.”


“Hm!”


“…”


“…Sepertinya acara


akan segera dimulai. Kochi, sampaikan mereka.”


“Sudah duluan.”


            Menghembuskan napas, Kochi


mengangkat walkie talkie-nya dan mulai mengucapkan kata-kata yang


ternilai menyindir diri kita sebagai manusia. Namun ini hanyalah sebuah kutipan


darinya, sosok sutradara sesungguhnya.


“Bunga mawar yang


terlindung dari kejahatan manusia, gagak hitam yang mengawasi segala kematian


bumi ini, matahari telah terbit untuk menampakkan sisa-sisa kehancuran mereka.”


*Clack* *Clack*


            Menjentikkan jemarinya, Kochi


kembali bersandar pada jok mobil, kini mengeluarkan kotak rokok dari balik jaketnya.


Berjalan mendekatinya, aku menahan tangan yang ingin meraih batang putih itu.


“?”


“Apakah menurutmu


mereka menemukan masalah?”


            Menunggu di balik kesunyian yang


anehnya damai ini, Kochi segera mengarahkan telunjuk yang telah mengangkat


rokok menuju pusat kota.


“…Lihat di sana.”


            Melirik arah yang tertunjuk, aku


mulai menemukan berbagai pilar cahaya yang bermunculan dari atap-atap bangungan


pencakar langit Kusumajaya. Untuk menghiasinya, ledakan berbagai kembang api


dapat terlihat di angkasa layaknya ingin merayakan pergantian tahun. Kurasa ini


adalah cara Sidorova memperkenalkan diri mereka… Bagaimana dengan orang-orang


yang sedang tertidur?


“Wahaha… Gimana?


Bagus kan??”


“…Aku kagum. Ini


sempurna.”


            Aku menemukan kedua lenganku


terbentang ke samping layaknya ingin diriku untuk memainkan peran tokoh utama


dalam cerita ini. Aku yakin jika kita semua hadir di sini, Kak Ryo akan menarik


kita untuk berswafoto menggunakan pemandangan ini sebagai latar. Ini


benar-benar menjadi salah satu keinginannya.


“Kemuliaan bagi para


pembela tanah air.”



***


            Aku yakin bahwa setiap orang


memiliki ingatan atas masa kecil mereka. Pada umumnya, ingatan tersebut


berisikan atas kenangan yang paling berpengaruh kepadanya. Sayangnya, aku tidak


dapat menerima keberuntungan itu. Bagaimana tidak, jika ingatan pertamaku


adalah diriku yang terbaring pada sebuah kasur rumah sakit, sadar namun tidak


dapat menggerakkan satupun anggota tubuhku.


            Lampu ruangan putih itu menjadi


satu-satunya objek yang dapat kuamati. Jujur saja, setelah mengamatinya dengan


lama, rasa membutakan mata itu perlahan menghilang seakan aku telah terbiasa


melihatnya dengan lama. Kurasa itu cukup untuk memberikan gambaran berapa lama


aku harus menempati tubuh yang tidak dapat bergerak ini.


            Selain lampu membosankan yang


sesekali berkedip setiap kiranya 74 detik, aku dapat mendengar berbagai


peralatan medis yang terus menyerang indra pendengaranku setiap hari. Apakah


ini yang seringkali disebut sebagai white torture?


            Pada suatu hari, aku dapat merasakan


pikiranku terkejut mengamati sosok berjubah putih yang datang mengamati diriku


ini… Namun sayangnya itu tidak cukup untuk menyadarkan tubuhku. Kembali


memusatkan kesadaran goyah ini, aku juga menemukan sosok bersetelan hitam yang


berdiri tepat di sisi dokter itu. Ditambah mata berwarna merah darah


itu, sosok berjubah putih itu terkejut menyadari keberadaannya.


            Setelah sekiranya berbincang-bincang


tepat di sisiku, aku dapat merasakan senyuman tajam yang melukis wajah berkabut


dan misterius itu ditujukan padaku, layaknya sosok pendendam yang telah


menyatakan kemenangannya.



Aku tidak mengetahui

__ADS_1


bahwa diriku akan menjadi mesin penghancur miliknya.



__ADS_2