Nagara Nusantara

Nagara Nusantara
Chapter 6 : Eksekusi


__ADS_3

Menemukan tempat sepi


tidak jauh dari perpustakaan, aku memeriksa kembali koridor kosong ini untuk


mengamankan para calon penguping. Memastikan kesunyian ini, aku akhirnya


mengangkat ponsel yang terus mengeluarkan bunyi itu.


“…Apakah meja hijau di


sana?”


“—Rupanya menemukan


ruangan sepi adalah tugas yang rumit. Abaikan itu, aku akan menduga Kochi telah


mendapatkan informasi mengenai mereka semua.”


“Tentu saja.”


“…Silahkan.”


“Jadi… Hanashima itu pada


dasarnya perusahaan yang menawarkan jasa-jasa seperti sopir, koki, pelayan,


pengirim paket, pengawal, joki tugas… Namakan saja. Dan juga, menurut Divisi


Gagak, sepertinya mereka mulai menghemat pengeluaran dengan merekrut orang-orang


biasa.”


“Oh? Sepertinya itu


adalah kebijakan yang biasa dilakukan pada perusahaan-perusahaan besar masa


kini… Khususnya dengan pemimpin sepertinya.”


“…Oleh karena itu, mereka


sepertinya memiliki hubungan dengan beberapa perusahaan lokal Kusumajaya. Usut


punya usut, mereka terpaksa membayar Hanashima demi perlindungan atas


kehancuran bisnisnya.”


“Pemerasan? Cukup umum.


Sayangnya bagi kita, perusahaan menengah yang beroperasi di Kusumajaya seperti


ini akan selalu menyisihkan dana untuk membayar kepolisian dari penangkapan


mereka… Sebuah penyuapan.”


“Benar… Tentunya melihat


keadaan yang tidak stabil ini, Kaoru pastinya akan melakukan segala cara untuk


menyelamatkannya. Saya menduga… Bahwa pelayan anda sebenarnya hanya akan


digunakan untuk kepuasannya dari stres yang menumpuk…”


“…”


“Saya juga mendapatkan


dokumen hubungan mereka dengan beberapa pengacara, politikus, hingga pemilik


saham besar… Dokumen pemusatan aset para pegawai, penyetaraan


penghasilan karyawan… Apakah mereka ingin kembali pada masa komunis?”


“…Maka itu akan menjadi


sebuah kartu as bagi kita.”


“Benar sekali… Jadi


bagaimana, Dika?”


“…”


            Mengesampingkan dendam pribadi ini, rupanya aku secara


kebetulan menemukan harta karun yang lebih besar dari Kaoru dan Hanashima. Kini


aku menjadi prihatin atas pikiranmu ini.


“…Kochi ke Dika.”


“—Bagaimana dengan


ruangan hitam itu? Aku selalu ingin mencobanya sendiri.”


“Haha! Sudah mikir sampai


situ saja! Baiklah… Bagaimana dengan rumah saya di Griya Kusumajaya?”


“Baiklah…”


“Saya akan mempersiapkan


Divisi Gagak untuk menangkapnya… Itu saja, Kochi keluar.”


*TUT*


“…”


*Tap* *Tap* *Tap*



\~\~\~


“…”


“…”


“…Sepertinya itu terlihat


susah, Kak Bagas…”


“Gahh!! S-Sylvie! Fuuh…”


“Ah!! M-Maaf Kak Bagas…”


“…T-Tidak tidak… Tidak


Apa… Apa…”


            Tanpa kusadari, pelayan Dika—Sylvie—telah mendekatkan


dirinya kepadaku yang sedang mempelajari materi hari ini… Jujur saja, ini


memang susah. A-Astaga aku juga bisa merasakan aroma parfumnya! Sebaiknya aku


segera merubah kesunyian yang canggung ini!


“Ehem! Sylvie… Sudah


berapa lama kamu melayani Dika?”


“Sejak senin kak!


Kenapa?”


“…?”


“Ka… Katakan… Apakah Dika


sudah punya pacar?”


(Sial! Itu adalah topik


yang jelek!)


“…M-Menurut saya


sepertinya iya, Kak Bagas…”


H-Hah? Beneran?!


“H-Hah? Beneran?!”


            Rupanya memilih topik yang dapat mengarahkanku masuk ke


dalam ranjau darat telah mendaratkanku kepada suatu penemuan baru… Dan


tentunya, sangat mengejutkan.


“T-Tapi itu tidak pasti,


kak! S-Saya hanya menebak dari ekspresi Kak Dika saat melihat hape-nya…”


“…Huh? Seperti


tersenyum-senyum gitu?”


“I…Iya, Kak Bagas…”


“Haah… Kalau beneran, dia


memang orang yang beruntung… Gimana gak kaget, tahu ekspresi mengantuk itu,


masih aja dia dapat…”


“…”


“S-Sylvie… Aku tidak tahu


senyuman itu membuatku percaya diri atau malah mengoleskan garam pada lukaku.”


“!!—S-Saya tidak


bermaksud begitu, Kak Bagas…”


            Menyadarinya, Sylvie segera menyembunyikan wajah merah


miliknya dengan kedua tangan bersarung tangan putih itu… Juga merasakan rasa


malu, aku memutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengganti


topik.


(…Tapi apa??)


            Berusaha mencari sebuah ide, aku memutuskan untuk


mengalihkan pandanganku menuju pintu perpustakaan, menemukan seorang siswa yang


sedang memeriksa jam tangannya sambil berjalan ke sini.


“N-Nah itu dia sudah

__ADS_1


balik kan!”


“S-Ssstt K-Kak Bagas!


Ki—kita lagi di perpustakaan ini…”


“O-Oh… Be—Benar juga…


Maaf maaf…”


“…Ada apa dengan kalian?”


“Ndak ndak… Gak ada


apa-apa, Dika…”


“…Baiklah. Mengingat


urusanku yang telah selesai, bagaimana jika aku membantumu menyelesaikan


masalah itu?”


“Huh? K-Kok kamu tahu,


Dika??”


“Aku akan membiarkanmu


menebaknya.”



***


*Clack* *Clack* *Clack*


Akhir


minggu berlalu dan senin menunggu kita di ambang pintu. Dengan lima belas mata


pelajaran, empat puluh lima jam, serta 5 hari. Menggerakan pena untuk mengisi


pertanyaan pada lembaran kertas putih ini, aku menemukan diriku mengamati


pergerakan tangan dari teman-teman kelasku.


            Meski terlihat sulit, aku terbiasa mendapatkan perlakuan


serupa pada masa lalu, terpaksa mengikuti tes seperti ini hingga menderita


sakit kepala setiap hari… Namun melihat kembali, aku bersyukur kepada diriku


untuk memilih itu daripada sebuah bongkahan timah yang menyangkut di dalam


otak.


“…”


            Mengamati seisi kelas, aku dapat menemukan beberapa dari


teman kelasku mengeluarkan sebuah kertas kecil yang sebelumnya tersembunyi pada


seragam mereka. Bahkan aku tidak sebodoh itu untuk mengetahui apa isi dari


kertas-kertas tersebut. Dan juga, aku mungkin tidak membawanya sekarang… Namun


bagaimana jika kesempatan itu hadir? Apakah pada saat itu, ujian ini akan


benar-benar dikatakan adil?



***


*Tap* *Tap* *Tap*


“…”


            Rupanya tanpa kita sadari, minggu ujian telah berlalu


dengan cepat, dan hari sabtu memutuskan untuk datang menyambut kita pulang dari


medan perang ini. Karena suatu alasan, Bagas memintaku untuk mengikutinya


menuju atap bangunan asrama. Keadaan sunyi ini membuatku menyimpulkan bahwa ia


tidak mengajakku untuk mengamati prosesi matahari tenggelam.


“Sini sini! Duduk, Dika!”


“Hm? Ada apa dengan situs


sekolah?”


            Duduk dengannya pada bangku besi yang ada, Bagas segera


menunjukkanku layar ponselnya—rupanya mengungkapkan laman resmi milik sekolah.


“Jadi di sini kita bisa


lihat langsung nilai ujian, juga dengan rata-rata dan peringkat kelasnya…”


“…Begitu?”


“Mhm, muncul setiap


selesai ujian.”


            Mengikutinya, aku mulai menekan layar ponselku untuk


tabel yang berisikan berbagai identitas siswa, nilai total, serta peringkat


kelas.


“…S-Sudah pasti kan… 4


dari 28 lagi lho! Rata-rata 93 lagi… Kalau kamu berapaan, Dika?”


“92… Peringkat 4 dari 24…


Tidak buruk untuk percobaan pertamaku.”


“Yah… Benar juga…”


“Namun… Sepertinya


seorang siswa tidak memiliki nilai dan perangkat.”


“Eh? Coba lihat!


Ichimatsu… Harumi?”


“…Apa kamu mengenalnya?”


“Ah… Ada yang bilang


kalau dia itu siswa paling pintar di angkatanmu… Tapi dia lagi ada urusan


keluarga, jadi belum bisa sekolah untuk sekarang…”


“…”


“Oh iya! Aku hampir


lupa!”


“Hm?”


“…Dika besok sibuk?”


“Tidak.”


“Nah… Temui aku di


gerbang sekolah, oke?”


“…Aku akan menerima


tawaranmu.”


(Ichimatsu… Harumi… Nama


itu terdengar familier…)



*Tap* *Tap* *Tap*


            Langkah kaki membaur dengan


kawanannya di tengah-tengah keramaian. Mendongak ke atas, kita rupanya dapat


menggunakan penampilan serta wajah dari berbagai manusia untuk menyembunyikan


diri di antara mereka… Orang-orang akan mengira diriku sedang berada di dalam


pasar, tempat wisata, atau bahkan kerusuhan. Nyatanya, aku masih berdiri tepat


pada jalan utama menuju gerbang dari sekolah ini, Akademi Nasional Kusumajaya.


“…”


            Banyak siswa rupanya menghabiskan


akhir pekan mereka untuk meninggalkan sekolah ini. Sesuai peraturan, kita tidak


dapat meninggalkan pulau, namun memiliki kebebasan berpergian di dalamnya…


Seakan membuat keseluruhan Kusumajaya layaknya fasilitas milik sekolah.


            Melewati gerbang utama, aku kembali


menyadari jumlah siswa yang bersekolah di sini. Lautan manusia terus saja


memenuhi pemandanganku… Namun aku bertaruh bahwa mereka dapat melindungi


dirinya ketika berkeliaran di pulau ini, mengingat insiden minggu lalu.


(Sekarang… Dimana


dia?)


            Memeriksa waktu pada jam tangan, aku


mulai mengitari trotoar untuk mencari Bagas. Usut punya usut, aku menemukan


sosok lelaki yang tengah memperhatikan ponselnya, tidak jauh dari posisiku.


Perangkat earphone pada telinganya menjelaskan alasan mengapa ia tidak


dapat mendengar langkahku, meski diriku yang telah berdiri tepat di


belakangnya.

__ADS_1


“Hmm… Hmm… Hm? Bwah!!


D-Dika!?”


“…”


“…B-Bikin kaget saja


kau astaga… Jadi… Selama aku nunggu di sini kamu ngapain saja??”


“Tidak banyak… Hanya


menikmati pemandangan dari beranda kamarku.”


“Kurang kerjaan


banget…”


“Lupakan itu. Ke mana


kita akan pergi?”


            Memasukkan earphone dan


ponsel ke dalam tas selempangnya, Bagas kini mulai berjalan menelusuri lautan


manusia ini menuju arah Distrik Cikara.


“…Untuk sekarang,


kita akan pergi ke Kalimas! Ikuti aku, Dika.”


“Tentu saja.”



            Keramaian pada Jalan Kalimas


memiliki kondisi yang serupa dengan minggu kemarin, dengan satu-satunya


perbedaan yang terletak pada keberadaan siswa-siswi Sekolah Kusumajaya.


“Sini, Dika.”


            Mengikuti Bagas, kita rupanya mulai


memasuki suatu butik. Berbagai busana dapat terlihat memajangkan diri mereka


pada dinding serta rak toko. Sebagai seseorang yang telah memiliki kekasih,


maka tidak heran jika aku mulai membayangkan bagaimana penampilan Niki ketika


ia mengenakan busana seperti ini.


“Selamat datang kembali,


Mas Bagas…”


(Oh?)


“Pagi Mbak Ani… Uhh…


Di Dalam ada Pak Ahmad?”


“Ada… Silahkan


masuk.”


“Makasih… Ah m-maaf,


Dika! Aku ada urusan dengan manajer toko… T-Tolong tunggu aku!”


“Baiklah…”


“…”


“Hm.”


“…Ada yang bisa


dibantu, dek?”


            Memutuskan untuk menunggu Bagas


menyelesaikan urusan yang ia rupanya miliki, aku mengamati berbagai


busana yang terpajang pada sisi toko… Untuk menemukan “Mbak Ani” mendekati


diriku ini. Kurasa ia mengira aku akan membelanjakan diriku beberapa busana


yang ada. Baiklah… Selagi kita di sini, mengapa tidak?


“…Apa saja busana


yang sering dikenakan oleh perempuan pada musim seperti ini?”


“Hmmm… Biasanya


pakaian yang lebih tipis untuk memudahkan sirkulasi udara—seperti ini… Tapi


biasanya juga didobel dengan warna cerah, dan bawahan jins pendek atau rok.”


“Begitu? Terimakasih.


Aku akan memikirkannya.”


“Silahkan…”


(Kurasa sekarang aku


akan keluar)


            Keluar dari toko dan mengamati Jalan


Kalimas, keramaian ini memiliki potensi untuk menarik berbagai peluang dan


kesempatan… Bermacam-macam pengunjung yang berbelanja di sini dapat memberikan


para penjual omset tinggi. Mudahnya, mereka telah memiliki lokasi yang cukup


strategis.


“…”


            Mengamati ruas jalan, aku menemukan


sebuah mobil sedan hitam yang berhenti tepat pada parkiran di sebelah suatu


toko elektronik. 3 pria bersetelan hitam keluar, diikuti oleh sosok yang


mengenakan pakaian bertema sama dengan pakaian yang diriku kenakan… Jika kamu


ingin menyamar, maka para pengawalan itu akan membuatmu terlihat bodoh.


Bagaimanapun… Target terdeteksi.


*Pleep!


            Bersandar pada dinding eksterior


butik seraya mengamati pergerakan mereka, aku mengangkat panggilan dari ponsel


yang telah lama kugenggam pada tangan kiriku.


“Kochi… Sepertinya


mereka telah menemukannya.”


“Mhm. Sekarang mereka


hanya menunggu perintah anda.”


“—Laksanakan.”


“Siap.”


*Tut*


“…”


“Aku sudah selesai,


Dika… Eh? N-Ngapain senderan di situ??”


“Aku hanya mengamati


iklan di sana… Lupakan itu, sekarang ke mana kita akan pergi?”


“Ayo.”



            Kembali mengikuti Bagas memasuki


berbagai toko-toko di Kalimas, aku juga mengamati pergerakan Sang Amatir serta


Divisi Gagak, berharap bahwa kita tidak akan berhadapan langsung dengan mereka.


“A-Ada apa, Dika? Eh!


N-Nggak bosenin kan?? M-Maa—”


“Jangan khawatir


mengenai itu. Hanya saja…”


“Huh?”


“—Sepertinya kamu


sedang mengurus pekerjaan yang engkau katakan pada hari itu… Biar kutebak…


Usaha mikro dan menengah? Distribusi suplai? Pemeriksaan? Manajemen?”


“K-Kurang lebih… Tapi


aku malah kaget kamu bisa mikir begituan!”


“…Melihat pergerakanmu


barusan, bagaimana tidak?”


“Abaikan itu… Apa


yang sedang kita lakukan di sini?”


            Turun dari taksi, kita tiba pada


kawasan Griya Kusumajaya, tiga belas kilometer sebelah utara kompleks sekolah.


Rupanya para lokal seringkali menyebut lokasi ini sebagai pusat para elit Kusumajaya… Tidak salah, karena mayoritas penghuni yang menembus angka


jutaan dollar di balik dompet murahan mereka.

__ADS_1


“Ini dia! Rumahku!”


__ADS_2