
15 menit berlalu sejak
aku dan Bagas memulai pencarian kucing itu. Mengamati dirinya, ia membuahkan sebuah
pribadi “rata-rata” yang menyerupai halnya tokoh cerita. Sosok ramah yang
selalu mementingkan makhluk lain, perilaku konyol, hingga hati tulus namun lugu
yang ingin berbuat kebaikan pada dunia kejam ini.
Meski begitu, ia juga mengingatkanku kepada seseorang
yang telah lama meninggalkan alam ini… Tiba pada sebuah komplek air mancur,
Bagas memintaku untuk beristirahat sejenak.
“Haah… Haah… Haah… Dika…
Tidak capek??”
“Tidak juga.”
Mengamati kesepian area air mancur, aku menemukan sebuah
sebuah mesin minuman yang terpajang pada sisi timur komplek ini. Kurasa
tergantung waktu, namun mesin itu tidak akan laris ditempatkan di sini.
“Ah! Dika!”
“Hm?”
“Nitip teh!”
Mengacungkan jempol, Bagas rupanya mengetahui motif-ku
mendekati mesin minuman itu. Mengangguk, aku membuka dompet untuk menyumbang
beberapa lembar dari uangku.
“…”
“Danke… Ini
uangnya, Dika.”
“Tidak perlu.”
“…Beneran?? Y-Ya sudah,
makasih lagi!”
Menangkap botol teh yang
telah kulempar, Bagas segera meneguknya hingga tersisa separuh. Duduk dengannya
pada bangku taman, aku membuka kopi susu milikku.
“Lagipula, ada yang
pernah bilang kalau kamu itu baku banget kata-katanya, Dika?”
“…Menarik.”
“K-Kenapa?”
“Tidak… Hanya saja
seseorang pernah mengatakan kata-kata itu padaku. Kurasa wajar, mengingat
diriku yang belum terbiasa dengan kehidupan ini.”
“…Kehidupan seperti ini?
Emang sebelum di Kusumajaya, Dika ngapain?”
“Hmm… Sejujurnya, aku
seringkali berpindah tempat tinggal. Satu-satunya mentor yang menjadi guruku telah tiada, sehingga aku terpaksa melanjutkan hidupku pada tempat ini. Jadi
benar, ini adalah hari pertamaku bersekolah.”
“Hah… Beneran?”
“Selain itu, aku
sebelumnya tidak memiliki waktu untuk bersekolah… Namun sepertinya itu adalah
latar belakang seorang siswa yang kamu tidak dengar setiap hari.”
“B-Benar juga…”
“Hm? Apakah kamu
memercayai perkataanku?”
“Yah… Melihat dirimu, aku
ada perasaan Dika gak bakal cocok untuk berbohong beginian… Eh? Jangan-jangan
itu bohongan??”
“Tidak tidak… Namun kamu
benar juga. Aku tidak dapat cocok untuk berbohong.”
*Crack!*
“—!!”
“…Apa kamu dapat
mendengarnya?”
Bunyi ranting patah menarik perhatian kita menuju
semak-semak yang berdesir tanpa keberadaan angin itu. Sesaat setelah Bagas
berdiri untuk memeriksa suara, seekor kucing berbulu abu-abu dapat terlihat
meninggalkan dedaunan semak tersebut. Melihat ekspresi Bagas, kucing itu
memutuskan untuk duduk seraya memiringkan kepala, seakan menyuarakan
kebingungan padanya.
“Meow?”
“Akhirnya ketemu… Tunggu
aku, Dika!”
“…Silahkan.”
Segera mendekati dan mengangkat kucing bingung itu, Bagas
kemudian berlari menuju arah gerbang utama sekolah, meninggalkanku seorang
diri. Pada saat inilah, aku menemukan keunikan kedua yang dimiliki olehnya… Menyala.
…
“Haah… Haah… Maaf… Aku
lama, Dika…”
“…Tidak masalah.
Bagaimana jika sekarang kita mengambil makanan? Lagipula, sepertinya itu adalah
salah satu tujuan utama dari istirahat ini.”
“Boleh boleh! Ke kantin
aja kalau begitu… Hm? Apaan itu, Dika?”
“…Ini?”
Bagas menunjuk kepada sebuah botol putih kecil yang
tergenggam di dalam kepalan tanganku. Memasukannya ke dalam saku, aku berjalan
menuju bangunan utama sekolah seraya menjawab pertanyaannya.
“Hanya vitamin sebelum
makan.”
“Ish… Seperti orang tua
saja kamu, Dika.”
*Tap* *Tap* *Tap*
“—Aku serius menyukaimu,
Sylvie!”
“Ha—!!”
Segera menutup mulut Bagas, aku menarik dirinya menuju
perlindungan dari dinding rumah kaca sekolah. Kurasa tidak perlu dikatakan lagi
bahwa alasan atas perlakuan ini adalah untuk menyembunyikan diri dari adegan
penembakan cinta di hadapan kita. Mengintip dari sela-sela dinding, aku
menemukan seorang siswa laki-laki yang sedang berlutut di hadapan Sylvie.
(Maka oleh karena itu,
aku tidak dapat meninggalkan mereka sendirian)
“…Perempuan itu adalah
pelayan pribadiku.”
“Hh—!”
Kembali menutup mulut Bagas, aku kini mengangkat jari
telunjukku padanya dengan niat untuk menenangkannya. Mengharap komentar
darinya, aku hanya dipertemukan dengan keheningan berlatar suara air mancur.
Sepertinya ia akhirnya memutuskan untuk mendengarkan mereka.
“H-Hwehhh?!!”
Tidak diherankan, Sylvie segera terkejut mendengar
pernyataan lelaki itu. Selain itu, aku juga menemukan lencana emas dengan motif
yang serupa dengan milik Bagas pada almamaternya.
“…Siapakah dia?”
__ADS_1
“Takeshi Kaoru, 3C… CEO
dari Hanashima, yang jasa personil itu lho…”
(Oh?)
Seorang siswa yang kebetulan menjadi seorang pengusaha
dan pemilik suatu perusahaan? Kurasa generasi muda pada negeri ini telah
berubah drastis semenjak aku terakhir mengamatinya. Mengolah informasi itu, aku
dapat menyimpulkan suatu hipotesis… Seorang pekerja keras, maupun perusahaan
yang mengikuti sistem keturunan. Sekali lagi, pengalaman rupanya telah
membuatku menjadi paranoid.
“—Kian hari aku
memperhatikanmu, aku semakin jatuh cinta denganmu… Pelayan lain juga bilang
kalau Sylvie sedang tidak berpacaran dengan siapa-siapa…”
“T-Tidak! T-T-Tapi…”
“…Apakah ada alasan
Sylvie tidak bisa berpacaran denganku?”
“M-Maaf… S-Saya tidak
mengetahui Tuan!”
Membungkukkan badannya, Sylvie dapat terlihat dengan
jelas menolak pernyataan cinta Kaoru. Mengamatinya, aku dapat menemukan tubuh
yang bergemetar, tidak mengetahui jalan keluar dari situasi ini.
“—Setelah pacaran kita
malah bisa kenalan lho… Kalau ada yang kamu kurang suka sama aku tolong bilang
saja, oke? Gak usah disimpan dalam-dalam! Aku tidak suka begitu! Atau…
Jangan-jangan Sylvie sedang menyukai seseorang?”
“…”
Sepertinya bahkan pasien sebuah rumah sakit jiwa dapat
menemukan berbagai bendera merah yang tampak dengan jelas di dalam adegan ini.
Selain itu, sepertinya Bagas juga mulai tidak menyukai arah dari situasi ini,
“M-Meski tuan s-suka
saya, s-saya tidak tahu ingin bilang a-apa…”
“K-Kalau begitu, kenapa
gak coba sebentar?? Aku serius lho padamu Sylvie… Siapa tahu perasaannya nanti
malah ganti…”
“…Sialan.”
“M-Maaf… S-Saya tidak
bisa pacaran dengan tuan! Sa… Saya juga tidak melihat gunanya mencoba untuk
p-pacaran!”
“Aku setuju denganmu, ini
menjadi buruk… Kepung dia.”
“Hm.”
Tanpa adanya penjelasan lebih lanjut, rupanya Bagas telah
mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Sylvie dari lelaki itu.
Dengan ini, aku dapat memastikan keunikan ketiga yang Bagas miliki… Kooperatif
dan perseptif.
…
“—Kenapa harus menolak!?
Enak kan jadi cewek cantik… Diincar lelaki terus! Merasa paling cantik jadi
derajatnya tinggi gitu, huh?!! Bikin kita jatuh cinta, terus matahin begitu
saja layaknya permainan!!”
“…”
“OI!”
“!!!”
“…Tch. Bagas! Keparat
kau, nguping kita!!”
“Aku jijik dengerin kamu
“—Tahu apa kamu!? Gimana
dengan Lu—”
“Diam!! Ini tentang kau!
Bukan aku! Kalau dia mainin hatimu, kenapa kamu malah cinta dia!!?”
*Clap* *Clap* *Clap*
“…Kamu mendengarnya.
Sepertinya sudah cukup, bukankah begitu? Takeshi Kaoru?”
“S-Siapa kamu!?”
“K-Kak D-Dika!”
Menampakkan diri di belakang Kaoru, aku memberikan mereka
bertiga sebuah ronde tepuk tangan atas pertunjukkan hari ini. Menemukan
diriku, Sylvie segera berlari dan menyembunyikan dirinya di balik punggungku.
Kurasa ini bukanlah waktu yang tepat, namun aku dapat merasakan genggaman yang
mulai mencabik kulitku.
“—Seperti yang dapat
engkau lihat, aku adalah tuan dari Sylvie… Segala masalah yang ia miliki…
Otomatis menjadi masalahku juga. Kini aku menyarankanmu untuk mundur.”
“…Tch. Jadi kamu, huh?
Dasar kalian semua!!”
Rupanya menemukan pintu keluar lain dari rumah kaca ini,
aku mulai berpikir bahwa blokade Kaoru ini hanya membuahkan sedikit hasil.
Mengabaikan wajah yang berusaha menutupi rasa malu, aku dapat merasakan bahwa
masalah ini tidak akan selesai sekarang.
“…”
“D-Dika… Ninggalin dia
begitu saja?”
“Tidak. Aku akan
memikirkan sesuatu.”
(Kita memiliki urusan
yang lebih penting di sini)
“…K-Kak Dika…”
“H-Hey! Kamu gak apa-apa
ta??”
Merasakan
genggaman yang melemah, aku segera memutar tubuhku untuk menemukan Sylvie kini
terlihat lelah dan pucat.
Merasakan genggaman yang
melemah, aku segera membalikkan badanku untuk menemukan Sylvie kini terlihat
lelah dan pucat. Melihat tubuh yang bergoyah itu segera membuatku menyandarkan
Sylvie padaku. Pada saat yang sama, kaki bergemetar itu segera menyerahkan
dirinya.
“Dika!”
“…Temani aku.”
…
Apa saja yang seharusnya
siswa baru sepertiku alami ketika ia pertama kali bersekolah? Mungkin sebuah
sambutan ramah menjadi salah satu pilihan terbaik baginya. Rupanya pada kasusku
hari ini, komplikasi segera menyusul orientasiku. Mengamatinya sejak pernyataan cinta Kaoru tadi membuatku berkata…
“Psikogenik.”
“…A-Apa itu?”
“Sylvie tidak dapat
menahan stres dan lelah menghadapi Kaoru.”
Mengamati jam dinding, aku menemukan waktu telah menunjuk
pukul 11:26. Rupanya keberuntungan membuat kita dapat membawa Sylvie ke sini
__ADS_1
tanpa sepengetahuan seorang pun.
*Tit!* *Tit!*
“37,7… Dia butuh
istirahat.”
“Aku tahu.”
Mengamati tubuh Sylvie yang terbaring pada kasur klinik,
aku dapat menemukan sebuah tangan sedang meletakkan handuk pada keningnya.
“T-Tapi kamu gak capek?
Gendong dia sampai sini?”
“Tidak juga.”
Duduk pada kursi di sisi kasur, Bagas memberikan Sylvie
kompresan serta termometer untuk memeriksa suhunya. Sebesar keinginan diriku
untuk merawatnya seorang diri, kekhawatiran Bagas yang melampaui diriku
membuatku hanya bertugas mengawasi ruangan klinik. Bagaimana pun, aku dapat
mengangguk mengetahui Bagas menyimpan rasa menolong bahkan kepada Sylvie,
seseorang yang asing baginya.
“Apa menurutmu si…
S-Sylvie, pernah ngalamin ini?”
“Ekspresi syok itu tidak
menunjukkan suatu repetisi. Tentu, jika apa yang Kaoru katakan itu benar,
Sylvie tidak mengetahui satu pun pernyataan miliknya.”
“Hmm…”
“…Selain itu, seseorang
yang baru saja mendapatkan pernyataan cinta untuk pertama kalinya tentunya akan
berbeda dengan yang terbiasa dengannya. Cukup?”
“Yah… Cukuplah.”
“Maaf. Aku hanya sedikit
kesal.”
Keheningan yang tercampur dengan suasana canggung dan
tegang mulai merasuki klinik ini. Tidak mengherankan, mengingat kita sebagai
manusia adalah makhluk yang penuh atas berbagai emosi—khususnya setelah
mengalami tragedi seperti ini.
“…”
“O-Omong-omong, Dika.”
“…Hm?”
Berdiri dari kursi hitam itu, Bagas dengan perlahan
menggerakkan kakinya menujuku—seraya merentangkan kedua tangannya layaknya
mayat hidup. Setelah tiba, ia segera menggenggam kedua bahuku.
“Dika.”
“…Benar.”
“Aku akan bertanya
kepadamu…”
“Silahkan.”
“A… Apa hubunganmu…
Dengan pelayan bernama S… Sylvie ini?”
Mengamati Sylvie yang tertunjuk oleh jari telunjuk Bagas,
aku tidak dapat membantu menahan kepalaku yang mulai memiringkan dirinya.
“…Pelayan pribadiku?”
“A-Aku tahu kalian anak
kelas A bisa dapat pelayan pribadi… Tapi…”
“…Tapi?”
“K-Kok pelayanmu cantik
banget Dika?? Pantesan lelaki di sini pada naksir dia bahkan sebelum kamu
sekolah di sini!”
“Tunggu… Sebelum aku tiba
di sini?”
“Iya! Sejak awal semester
lho... Apalagi ditambah kepolosan dan baik hatinya itu, meleleh semuanya!”
“…Begitu. Sepertinya para
hiu telah menjadikan Sylvie sebagai mangsa…”
“…”
“…Itu saja.”
“T-Tapi kan...”
“Jangan khawatir… Aku
akan menyelesaikan masalah ini. Untuk sekarang…”
Mengambil kesempatan untuk menggapai dan menurunkan kedua
tangan Bagas, aku kini mengulurkan tangan kananku padanya, seperti halnya tadi.
“…Ngapain?”
“Mari kita sepakat untuk
berteman, Bagas Galang Saputra.”
“Huh? Gak usah! Semenjak
tadi, aku sudah nganggap kamu jadi temanku, Dika!”
“Itu bagus… Tidak
masalah, ulurkan tanganmu.”
“O-Oke oke!”
“…”
“…Sekarang apa?”
“Aku akan mengunjungi
kepala sekolah.”
“Pak Natsuke?!”
“…Ada masalah?”
“Yah… Bisa dibilang…”
“…”
(Apa yang telah engkau
tanamkan kepada mereka, Kochi?)
“Aku akan mengawasinya
setelah kembali. Sementara Bagas dapat melanjutkan istirahat yang kamu
tunggu-tunggu.”
“Ya sudah… Duluan, Dika.”
“...Bagas.”
“Paan?”
“Terima kasih.”
“Ya ya…”
*Jegleg*
“…”
Mengamati bayangan manusia yang telah meninggalkan pintu
klinik, aku berjalan menuju sisi Sylvie untuk memeriksa kondisinya. Khawatir
akan suara keras Bagas yang dapat membangunkannya, aku menemukan dirinya masih
tertidur dengan damai. Tanpa kesadaran, rupanya aku menemukan tanganku mengusap
rambut hitam yang menutup kening itu dengan sendirinya.
(Waktunya pembalasan)
Melangkah keluar dari klinik, aku tersambut oleh koridor
yang jauh lebih ramai daripada sebelumnya. Aku menghitung diri kita beruntung
dengan kondisi koridor terbengkalai tadi. Mengarah ke timur, kini aku bergegas
menuju kantor Kochi.
…
\~\~\~
“…K-Kakak…”
…
__ADS_1