Nagara Nusantara

Nagara Nusantara
Chapter 4 : Sekutu Dan Musuh


__ADS_3

15 menit berlalu sejak


aku dan Bagas memulai pencarian kucing itu. Mengamati dirinya, ia membuahkan sebuah


pribadi “rata-rata” yang menyerupai halnya tokoh cerita. Sosok ramah yang


selalu mementingkan makhluk lain, perilaku konyol, hingga hati tulus namun lugu


yang ingin berbuat kebaikan pada dunia kejam ini.


            Meski begitu, ia juga mengingatkanku kepada seseorang


yang telah lama meninggalkan alam ini… Tiba pada sebuah komplek air mancur,


Bagas memintaku untuk beristirahat sejenak.


“Haah… Haah… Haah… Dika…


Tidak capek??”


“Tidak juga.”


            Mengamati kesepian area air mancur, aku menemukan sebuah


sebuah mesin minuman yang terpajang pada sisi timur komplek ini. Kurasa


tergantung waktu, namun mesin itu tidak akan laris ditempatkan di sini.


“Ah! Dika!”


“Hm?”


“Nitip teh!”


            Mengacungkan jempol, Bagas rupanya mengetahui motif-ku


mendekati mesin minuman itu. Mengangguk, aku membuka dompet untuk menyumbang


beberapa lembar dari uangku.


“…”


“Danke… Ini


uangnya, Dika.”


“Tidak perlu.”


“…Beneran?? Y-Ya sudah,


makasih lagi!”


Menangkap botol teh yang


telah kulempar, Bagas segera meneguknya hingga tersisa separuh. Duduk dengannya


pada bangku taman, aku membuka kopi susu milikku.


“Lagipula, ada yang


pernah bilang kalau kamu itu baku banget kata-katanya, Dika?”


“…Menarik.”


“K-Kenapa?”


“Tidak… Hanya saja


seseorang pernah mengatakan kata-kata itu padaku. Kurasa wajar, mengingat


diriku yang belum terbiasa dengan kehidupan ini.”


“…Kehidupan seperti ini?


Emang sebelum di Kusumajaya, Dika ngapain?”


“Hmm… Sejujurnya, aku


seringkali berpindah tempat tinggal. Satu-satunya mentor yang menjadi guruku telah tiada, sehingga aku terpaksa melanjutkan hidupku pada tempat ini. Jadi


benar, ini adalah hari pertamaku bersekolah.”


“Hah… Beneran?”


“Selain itu, aku


sebelumnya tidak memiliki waktu untuk bersekolah… Namun sepertinya itu adalah


latar belakang seorang siswa yang kamu tidak dengar setiap hari.”


“B-Benar juga…”


“Hm? Apakah kamu


memercayai perkataanku?”


“Yah… Melihat dirimu, aku


ada perasaan Dika gak bakal cocok untuk berbohong beginian… Eh? Jangan-jangan


itu bohongan??”


“Tidak tidak… Namun kamu


benar juga. Aku tidak dapat cocok untuk berbohong.”


*Crack!*


“—!!”


“…Apa kamu dapat


mendengarnya?”


            Bunyi ranting patah menarik perhatian kita menuju


semak-semak yang berdesir tanpa keberadaan angin itu. Sesaat setelah Bagas


berdiri untuk memeriksa suara, seekor kucing berbulu abu-abu dapat terlihat


meninggalkan dedaunan semak tersebut. Melihat ekspresi Bagas, kucing itu


memutuskan untuk duduk seraya memiringkan kepala, seakan menyuarakan


kebingungan padanya.


“Meow?”


“Akhirnya ketemu… Tunggu


aku, Dika!”


“…Silahkan.”


            Segera mendekati dan mengangkat kucing bingung itu, Bagas


kemudian berlari menuju arah gerbang utama sekolah, meninggalkanku seorang


diri. Pada saat inilah, aku menemukan keunikan kedua yang dimiliki olehnya… Menyala.



“Haah… Haah… Maaf… Aku


lama, Dika…”


“…Tidak masalah.


Bagaimana jika sekarang kita mengambil makanan? Lagipula, sepertinya itu adalah


salah satu tujuan utama dari istirahat ini.”


“Boleh boleh! Ke kantin


aja kalau begitu… Hm? Apaan itu, Dika?”


“…Ini?”


            Bagas menunjuk kepada sebuah botol putih kecil yang


tergenggam di dalam kepalan tanganku. Memasukannya ke dalam saku, aku berjalan


menuju bangunan utama sekolah seraya menjawab pertanyaannya.


“Hanya vitamin sebelum


makan.”


“Ish… Seperti orang tua


saja kamu, Dika.”


*Tap* *Tap* *Tap*


“—Aku serius menyukaimu,


Sylvie!”


“Ha—!!”


            Segera menutup mulut Bagas, aku menarik dirinya menuju


perlindungan dari dinding rumah kaca sekolah. Kurasa tidak perlu dikatakan lagi


bahwa alasan atas perlakuan ini adalah untuk menyembunyikan diri dari adegan


penembakan cinta di hadapan kita. Mengintip dari sela-sela dinding, aku


menemukan seorang siswa laki-laki yang sedang berlutut di hadapan Sylvie.


(Maka oleh karena itu,


aku tidak dapat meninggalkan mereka sendirian)


“…Perempuan itu adalah


pelayan pribadiku.”


“Hh—!”


            Kembali menutup mulut Bagas, aku kini mengangkat jari


telunjukku padanya dengan niat untuk menenangkannya. Mengharap komentar


darinya, aku hanya dipertemukan dengan keheningan berlatar suara air mancur.


Sepertinya ia akhirnya memutuskan untuk mendengarkan mereka.


“H-Hwehhh?!!”


            Tidak diherankan, Sylvie segera terkejut mendengar


pernyataan lelaki itu. Selain itu, aku juga menemukan lencana emas dengan motif


yang serupa dengan milik Bagas pada almamaternya.


“…Siapakah dia?”

__ADS_1


“Takeshi Kaoru, 3C… CEO


dari Hanashima, yang jasa personil itu lho…”


(Oh?)


            Seorang siswa yang kebetulan menjadi seorang pengusaha


dan pemilik suatu perusahaan? Kurasa generasi muda pada negeri ini telah


berubah drastis semenjak aku terakhir mengamatinya. Mengolah informasi itu, aku


dapat menyimpulkan suatu hipotesis… Seorang pekerja keras, maupun perusahaan


yang mengikuti sistem keturunan. Sekali lagi, pengalaman rupanya telah


membuatku menjadi paranoid.


“—Kian hari aku


memperhatikanmu, aku semakin jatuh cinta denganmu… Pelayan lain juga bilang


kalau Sylvie sedang tidak berpacaran dengan siapa-siapa…”


“T-Tidak! T-T-Tapi…”


“…Apakah ada alasan


Sylvie tidak bisa berpacaran denganku?”


“M-Maaf… S-Saya tidak


mengetahui Tuan!”


            Membungkukkan badannya, Sylvie dapat terlihat dengan


jelas menolak pernyataan cinta Kaoru. Mengamatinya, aku dapat menemukan tubuh


yang bergemetar, tidak mengetahui jalan keluar dari situasi ini.


“—Setelah pacaran kita


malah bisa kenalan lho… Kalau ada yang kamu kurang suka sama aku tolong bilang


saja, oke? Gak usah disimpan dalam-dalam! Aku tidak suka begitu! Atau…


Jangan-jangan Sylvie sedang menyukai seseorang?”


“…”


            Sepertinya bahkan pasien sebuah rumah sakit jiwa dapat


menemukan berbagai bendera merah yang tampak dengan jelas di dalam adegan ini.


Selain itu, sepertinya Bagas juga mulai tidak menyukai arah dari situasi ini,


“M-Meski tuan s-suka


saya, s-saya tidak tahu ingin bilang a-apa…”


“K-Kalau begitu, kenapa


gak coba sebentar?? Aku serius lho padamu Sylvie… Siapa tahu perasaannya nanti


malah ganti…”


“…Sialan.”


“M-Maaf… S-Saya tidak


bisa pacaran dengan tuan! Sa… Saya juga tidak melihat gunanya mencoba untuk


p-pacaran!”


“Aku setuju denganmu, ini


menjadi buruk… Kepung dia.”


“Hm.”


            Tanpa adanya penjelasan lebih lanjut, rupanya Bagas telah


mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Sylvie dari lelaki itu.


Dengan ini, aku dapat memastikan keunikan ketiga yang Bagas miliki… Kooperatif


dan perseptif.



“—Kenapa harus menolak!?


Enak kan jadi cewek cantik… Diincar lelaki terus! Merasa paling cantik jadi


derajatnya tinggi gitu, huh?!! Bikin kita jatuh cinta, terus matahin begitu


saja layaknya permainan!!”


“…”


“OI!”


“!!!”


“…Tch. Bagas! Keparat


kau, nguping kita!!”


“Aku jijik dengerin kamu


“—Tahu apa kamu!? Gimana


dengan Lu—”


“Diam!! Ini tentang kau!


Bukan aku! Kalau dia mainin hatimu, kenapa kamu malah cinta dia!!?”


*Clap* *Clap* *Clap*


“…Kamu mendengarnya.


Sepertinya sudah cukup, bukankah begitu? Takeshi Kaoru?”


“S-Siapa kamu!?”


“K-Kak D-Dika!”


            Menampakkan diri di belakang Kaoru, aku memberikan mereka


bertiga sebuah ronde tepuk tangan atas pertunjukkan hari ini. Menemukan


diriku, Sylvie segera berlari dan menyembunyikan dirinya di balik punggungku.


Kurasa ini bukanlah waktu yang tepat, namun aku dapat merasakan genggaman yang


mulai mencabik kulitku.


“—Seperti yang dapat


engkau lihat, aku adalah tuan dari Sylvie… Segala masalah yang ia miliki…


Otomatis menjadi masalahku juga. Kini aku menyarankanmu untuk mundur.”


“…Tch. Jadi kamu, huh?


Dasar kalian semua!!”


            Rupanya menemukan pintu keluar lain dari rumah kaca ini,


aku mulai berpikir bahwa blokade Kaoru ini hanya membuahkan sedikit hasil.


Mengabaikan wajah yang berusaha menutupi rasa malu, aku dapat merasakan bahwa


masalah ini tidak akan selesai sekarang.


“…”


“D-Dika… Ninggalin dia


begitu saja?”


“Tidak. Aku akan


memikirkan sesuatu.”


(Kita memiliki urusan


yang lebih penting di sini)


“…K-Kak Dika…”


“H-Hey! Kamu gak apa-apa


ta??”


Merasakan


genggaman yang melemah, aku segera memutar tubuhku untuk menemukan Sylvie kini


terlihat lelah dan pucat.


Merasakan genggaman yang


melemah, aku segera membalikkan badanku untuk menemukan Sylvie kini terlihat


lelah dan pucat. Melihat tubuh yang bergoyah itu segera membuatku menyandarkan


Sylvie padaku. Pada saat yang sama, kaki bergemetar itu segera menyerahkan


dirinya.


“Dika!”


“…Temani aku.”



Apa saja yang seharusnya


siswa baru sepertiku alami ketika ia pertama kali bersekolah? Mungkin sebuah


sambutan ramah menjadi salah satu pilihan terbaik baginya. Rupanya pada kasusku


hari ini, komplikasi segera menyusul orientasiku. Mengamatinya sejak pernyataan cinta Kaoru tadi membuatku berkata…


“Psikogenik.”


“…A-Apa itu?”


“Sylvie tidak dapat


menahan stres dan lelah menghadapi Kaoru.”


            Mengamati jam dinding, aku menemukan waktu telah menunjuk


pukul 11:26. Rupanya keberuntungan membuat kita dapat membawa Sylvie ke sini

__ADS_1


tanpa sepengetahuan seorang pun.


*Tit!* *Tit!*


“37,7… Dia butuh


istirahat.”


“Aku tahu.”


            Mengamati tubuh Sylvie yang terbaring pada kasur klinik,


aku dapat menemukan sebuah tangan sedang meletakkan handuk pada keningnya.


“T-Tapi kamu gak capek?


Gendong dia sampai sini?”


“Tidak juga.”


            Duduk pada kursi di sisi kasur, Bagas memberikan Sylvie


kompresan serta termometer untuk memeriksa suhunya. Sebesar keinginan diriku


untuk merawatnya seorang diri, kekhawatiran Bagas yang melampaui diriku


membuatku hanya bertugas mengawasi ruangan klinik. Bagaimana pun, aku dapat


mengangguk mengetahui Bagas menyimpan rasa menolong bahkan kepada Sylvie,


seseorang yang asing baginya.


“Apa menurutmu si…


S-Sylvie, pernah ngalamin ini?”


“Ekspresi syok itu tidak


menunjukkan suatu repetisi. Tentu, jika apa yang Kaoru katakan itu benar,


Sylvie tidak mengetahui satu pun pernyataan miliknya.”


“Hmm…”


“…Selain itu, seseorang


yang baru saja mendapatkan pernyataan cinta untuk pertama kalinya tentunya akan


berbeda dengan yang terbiasa dengannya. Cukup?”


“Yah… Cukuplah.”


“Maaf. Aku hanya sedikit


kesal.”


            Keheningan yang tercampur dengan suasana canggung dan


tegang mulai merasuki klinik ini. Tidak mengherankan, mengingat kita sebagai


manusia adalah makhluk yang penuh atas berbagai emosi—khususnya setelah


mengalami tragedi seperti ini.


“…”


“O-Omong-omong, Dika.”


“…Hm?”


            Berdiri dari kursi hitam itu, Bagas dengan perlahan


menggerakkan kakinya menujuku—seraya merentangkan kedua tangannya layaknya


mayat hidup. Setelah tiba, ia segera menggenggam kedua bahuku.


“Dika.”


“…Benar.”


“Aku akan bertanya


kepadamu…”


“Silahkan.”


“A… Apa hubunganmu…


Dengan pelayan bernama S… Sylvie ini?”


            Mengamati Sylvie yang tertunjuk oleh jari telunjuk Bagas,


aku tidak dapat membantu menahan kepalaku yang mulai memiringkan dirinya.


“…Pelayan pribadiku?”


“A-Aku tahu kalian anak


kelas A bisa dapat pelayan pribadi… Tapi…”


“…Tapi?”


“K-Kok pelayanmu cantik


banget Dika?? Pantesan lelaki di sini pada naksir dia bahkan sebelum kamu


sekolah di sini!”


“Tunggu… Sebelum aku tiba


di sini?”


“Iya! Sejak awal semester


lho... Apalagi ditambah kepolosan dan baik hatinya itu, meleleh semuanya!”


“…Begitu. Sepertinya para


hiu telah menjadikan Sylvie sebagai mangsa…”


“…”


“…Itu saja.”


“T-Tapi kan...”


“Jangan khawatir… Aku


akan menyelesaikan masalah ini. Untuk sekarang…”


            Mengambil kesempatan untuk menggapai dan menurunkan kedua


tangan Bagas, aku kini mengulurkan tangan kananku padanya, seperti halnya tadi.


“…Ngapain?”


“Mari kita sepakat untuk


berteman, Bagas Galang Saputra.”


“Huh? Gak usah! Semenjak


tadi, aku sudah nganggap kamu jadi temanku, Dika!”


“Itu bagus… Tidak


masalah, ulurkan tanganmu.”


“O-Oke oke!”


“…”


“…Sekarang apa?”


“Aku akan mengunjungi


kepala sekolah.”


“Pak Natsuke?!”


“…Ada masalah?”


“Yah… Bisa dibilang…”


“…”


(Apa yang telah engkau


tanamkan kepada mereka, Kochi?)


“Aku akan mengawasinya


setelah kembali. Sementara Bagas dapat melanjutkan istirahat yang kamu


tunggu-tunggu.”


“Ya sudah… Duluan, Dika.”


“...Bagas.”


“Paan?”


“Terima kasih.”


“Ya ya…”


*Jegleg*


“…”


            Mengamati bayangan manusia yang telah meninggalkan pintu


klinik, aku berjalan menuju sisi Sylvie untuk memeriksa kondisinya. Khawatir


akan suara keras Bagas yang dapat membangunkannya, aku menemukan dirinya masih


tertidur dengan damai. Tanpa kesadaran, rupanya aku menemukan tanganku mengusap


rambut hitam yang menutup kening itu dengan sendirinya.


(Waktunya pembalasan)


            Melangkah keluar dari klinik, aku tersambut oleh koridor


yang jauh lebih ramai daripada sebelumnya. Aku menghitung diri kita beruntung


dengan kondisi koridor terbengkalai tadi. Mengarah ke timur, kini aku bergegas


menuju kantor Kochi.



\~\~\~


“…K-Kakak…”


__ADS_1


__ADS_2