
Setiap manusia memiliki masa lalu. Sebagian bercerita,
sebagian menguncinya sedalam mungkin. Hambar, malu, hingga rahasia kelam adalah
beberapa alasannya. Tidak heran jika kita menemui seseorang yang ingin hidup
“normal”, melukis kegelapan masa lalu dengan warna cerah untuk mencegah manusia
tanpa kehormatan menemukannya.
Aku teringat seorang tokoh cerita dari novel yang kubaca
sebelum tiba di sini. Ia membenci diri dan sekitar karena trauma masa lalunya.
Mengetahui kelembekan ini, ia berharap untuk menjadi sosok yang lebih baik di
masa depan.
Namun sebuah klise menyerang layaknya penyakit kronis,
menjadikannya penakut dan malas keluar dari cangkang kecilnya demi memperbaiki
jiwa rongsok itu… Seperti seseorang yang tengah menekuni ilmu untuk menjadi
seorang hipokrit.
Perkataan adalah sesuatu
yang murah.
Kita mungkin tidak mengalami perubahan dalam waktu satu
jentikan jari saja, namun kemauan dan usaha yang lemah tidak akan menghadiahi
siapa pun, bahkan dengan keberuntungan dan takdir dari alam yang prihatin
melihatnya.
Memudahkan pembaca memahami dan memberikan empati kepada
tokoh seperti itu adalah alasan membosankan yang selalu diutarakan oleh para
penulisnya… Tidak heran jika aku merasa kesal berulang kali menyesuaikan diriku
dengan pecundang sepertinya. Adalah keputusan baik menyumbangkan novel itu pada
suatu instalasi daur ulang sampah.
Kembali pada kata “normal”. Orang-orang di sekitar
termasuk diriku ingin sekali-kali menemukan sebuah kehidupan normal… Namun apa
maksud dari kehidupan normal di sini? Kehidupan klise dan membosankan dengan
akhir yang mudah ditebak? Kehidupan manusia latar yang menjadi budak dari
seorang penguasa totaliter?
“—Dika.”
Gagal menemukan artinya, suara familier yang tajam itu
menusuk kedua telingaku, menyadarkanku kembali pada situasi saat ini. Mencari
asal suara, aku menemukan sosok Kiki tengah merajuk kepadaku.
“Pagi, Kiki… Sepertinya
aku melamun.”
“Haah… Saya tahu ini hari
pertamamu bersekolah seperti ini, tapi tolong persiapannya Dika! J-Jangan
panggil Kiki juga!”
“…Tentu saja, Bu Amanda.”
Mengamati Kiki memasuki sebuah ruangan, aku memutuskan
untuk menangkap dunia sekitar, menemukanku berdiri seorang diri pada suatu
koridor antik yang sepi.
“Tidak salah. Ini adalah
hari pertamaku bersekolah.”
Menyelesaikan upacara bendera di lapangan utama, aku
kembali mendatangi kantor Kochi pada pukul 8 pagi. Rupanya ia ingin
memberikanku panduan mengenai sistem sekolah ini dan beberapa “keunikan” yang
dimilikinya.
Membaca sekilas, rupanya Akademi Nasional Kusumajaya
mengadakan sebuah perjamuan untuk merayakan perjuangan para pelajar selama
ujian bulanan, pelatihan berbagai keterampilan yang dapat dipilih oleh pelajar,
aktivitas magang dalam pekerjaan dunia nyata, hingga kebebasan berpergian di
dalam pulau… Hal ini membuat Pulau Kusumajaya sebagai tempat bermain bagi para
pelajar di sini.
(“Anak-anak! Hari ini
kita kedatangan murid baru!)
Suara Kiki menggema dari ruang kelas di hadapanku,
diikuti oleh bising penasaran dan terkejut para penghuninya. Mengintip dari
jendela pintu, aku menemukan Kiki kini mengangguk perlahan padaku.
“Baiklah.”
*Creak*
“““…”””
Memasuki ruangan kelas, suasana pasar itu segera
tergantikan oleh kesunyian yang dapat dipecahkan menggunakan sayatan benang.
Menoleh ke kiri, aku menemukan kurang lebih dua lusin pelajar yang tengah
mengarahkan pandangan setajam silet mereka padaku.
“…”
Ingin atau tidak, seorang pendatang seperti aku akan
menjadi sorotan bagi para penetap. Setidaknya melalui kesan pertama, mereka
akan menilai penampilan, gaya bicara, bahasa tubuh, hingga ekspresi diri,
sebelum menentukan tingkat hierarki-ku di antara mereka.
Berdiri pada sisi kiri Kiki, aku mengamati seisi kelas
yang penuh dengan pelajar beralmamater merah dan hiasan mengkilap mereka,
menatap jiwaku. Aku teringat kepada sebuah pementasan drama, di mana sesaat
lagi sang tokoh utama akan memperkenalkan dirinya.
“Namaku Andika Raylan,
kalian dapat memanggilku Dika… Umurku 15 tahun. Hobi-ku adalah membaca buku,
mendengarkan pertunjukkan musik, dan bermain… Aku harap aku dapat berteman
dengan kalian semua.”
(“…15 tahun?? Muda banget
dia… Menurutmu aksel atau nukar?)
(“Mungkin anak aksel
pindahan dari luar…”)
(“T-Tapi… Kok mukanya
datar? Eman, kayaknya dia cakep tuh…”)
“Terima kasih. Itu saja
dariku.”
“Kamu bisa duduk di kursi
itu, Raylan.”
Kiki menunjuk sebuah kursi yang terletak pada bagian
belakang kelas, bersandar tepat pada dinding dan jendela yang menghadap ke
__ADS_1
luar. Merasakan sebuah déjà vu, aku menemukan satu kursi kosong pada sisi
tengah kelas, juga kursi kosong yang bersebelahan dengan tempatku. Secara
bersamaan, aku dapat merasakan tatapan teman kelasku menghilang satu persatu.
“Baik anak-anak… Kita
akan melanjutkan materi turunan trigonometri minggu lalu.”
Kiki kini bermain peran sebagai wali kelas serta guru
matematika pada sekolah ini. Mengabaikan kepala mudah panas itu, Kiki
mencurahkan kesetiaannya dalam menghabiskan 5 bulan setelah pernikahannya hanya
untuk menyamar dan bekerja sebagai seorang “guru”, membantuku dan Niki
mewujudkan kembali sebuah “kehidupan normal”…Aku menghela napas mengetahui
hidup ini telah memelankan dirinya agar kita semua dapat menikmatinya.
“—Raylan, berapa
hasilnya?”
“-2.”
Aku hanya berharap
semuanya dapat berjalan sesuai rencana.
…
“Hm.”
Dalam
satu sisi, matematika memiliki sebuah persamaan dengan lukisan abstrak, di mana
mereka hanya dapat dimengerti oleh manusia tertentu. Rupanya sebagian dari
teman kelasku telah terbiasa menghadapi masalah seperti yang Kiki tunjuk pada
papan, melihat minimnya reaksi mereka.
Sejenak,
aku mengamati sisi luar dari jendela di sisi kirku. Karena posisi matahari yang
cukup tinggi, aku tidak perlu menyesuaikan mataku untuk melawan sinar
menyilaukannya. Air mancur taman utama sekolah adalah objek pertama yang
kutemui, diikuti oleh barisan pepohonan, kebun, rumah kaca, hingga sungai
buatan yang mengelilinginya.
Mengamati
salah satu pohon, aku menemukan sebuah sarang burung dengan induk yang tengah
memberi makan anakannya. Melihat mereka membuatku berpikir apakah diriku dapat
melindungi Niki dan Sidorova, setelah sekian banyak tragedi yang telah kualami.
Aku kembali teringat pada tokoh cerita daur ulang itu,
melihat keluar dari jendela dan menanyakan beberapa pertanyaan pesimistis pada
dirinya… Apakah aku pantas mendapatkan semuanya? Mengapa diriku menjadi sampah
busuk ini? Adakah cara agar aku bisa menghilangkan derita ini?
Memikirkannya membuatku mengira bahwa semua itu hanyalah
omong kosong. Namun mengetahui diri hipokrit ini, aku memutuskan untuk
menahannya.
*RING*
“Baik anak-anak… Materi
hanya dari bab satu dan dua. Mohon persiapannya untuk ujian minggu depan.”
Mengamati ruang kelas, aku melihat Kiki merapikan alat
mengajarnya. Setelah itu, ia memberikanku gerakan mulut untuk “menikmati” hari
ini, sebelum meninggalkan kelas dengan raut tersenyum. Aku juga menemukan jarum
“Aku boleh nanya gak?”
“…”
Rupanya beberapa dari teman kelasku telah menyempatkan
waktu mereka untuk mengerubungiku. Aku mulai menduga beberapa pertanyaan yang
dapat dilemparkan oleh mereka.
“Silakan.”
“—Pindahan dari mana?”
“Makassar.”
“—Suka apa saja dari
hobimu??”
“Novel romansa, musik
klasik, dan catur.”
Sejauh ini, pertanyaan yang mereka utarakan cukup mudah
untuk dijawab olehku. Aku tidak ingin membocorkan segala informasi dan rahasia
yang dapat digunakan untuk menusuk punggungku, namun pada saat yang sama aku
juga harus mendirikan reputasi di sekolah ini.
“Aku tanya kamu, Raylan.”
Mengarahkan mata pada kursi barisan tengah, aku menemukan
seorang siswa dengan bangganya melipat tangan dan mengangkat leher ketika
mengeluarkan kata-kata itu. Mengamati penampilan dan gaya tubuhnya, kurasa dia
adalah sosok penguasa lokal dari kelas ini. Perempuan yang sebelumnya menduduki
kursi di sisinya kini juga berdiri memberikan lelaki itu pijatan, seraya
memberikanku tatapan sinis.
“Hm.”
“…Novel cinta-cintaan,
huh? Emang dirimu sudah punya pacar?”
“““…”””
Ah. Pertanyaan sejuta dollar itu tiba. Tidak mengejutkan
dari sosok yang ingin menundukkan siapa pun pada sepatunya. Aku menemukan
hampir seisi kelas kembali mengarahkan pandangan mereka padaku, dengan pelajar
siswi yang memiliki reaksi terbesar.
“Jangan khawatir. Aku
memiliki pacar.”
Mendengarnya, aku menemukan teman kelasku berbisik dengan
satu sama lain. Sementara itu, lelaki tadi mulai mengangguk seraya
mempermainkan wajah perempuan itu layaknya balon.
(“Sudah gak usah mikirin
dia, sayang”)
Mengamati sekitar, aku menemukan beberapa dari teman
kelasku tengah melakukan aktivitas istirahat mereka. Tentu saja, kita perlu memanfaatkan
satu jam ini untuk menyegarkan diri, serta mempersiapkan program keterampilan
sekolah berikutnya.
“…”
Berdiri dari kursi, aku menggapai ranselku demi mengambil
sebuah botol kecil berwarna putih. Memasukkannya pada saku celana, aku
__ADS_1
melangkah menuju pintu kelas untuk meninggalkannya. Tanpa pemikiran panjang,
rupanya aku telah mengetahui bahwa taman yang terlihat dari jendela kelas
menjadi destinasi atas istirahatku.
…
“Hm~ Hm~ Hm~”
Mengepel lantai kamar milik Kak Dika, aku sekejap
teringat dengan penampilannya kemarin. Rambut hitam yang acak-acakan itu masih
menemukan cara untuk terlihat tampan pada siang kemarin. Selain itu, pakaian
kemeja putih serta celana hitam yang ia kenakan seakan membuatnya seperti akan
melamar kerja di tempat ini… Apalagi ekspresi terkejutnya setelah menyadari
posisiku sebagai pelayan pribadinya.
Tapi juga mengingat kembali, mengapa aku memiliki
aspirasi untuk menjadi seorang pelayan? Kurasa jawaban satu-satunya yang dapat
aku berikan adalah keinginan untuk membantu papa dan mama di rumah. Mengikuti
jejak pelayan ini telah membantuku bisa melakukan banyak pekerjaan rumah
sekaligus menunjukkan upayaku menjadi sosok yang berguna… Pasinya, keinginan
itu terwujud karena program kepelayanan di sekolah ini. Sepertinya siapa pun
bisa melihat bahwa Kak Dika menjadi tuan pertamaku.
*RING!!*
“Ah!”
Mendengar bunyi bel istirahat dari pengeras yang
terpasang di sudut kamar, aku segera merapikan alat bersih-bersih di dalam
lemari khusus tepat di sebelah pintu kamar Kak Dika. Setelah itu, aku bergegas
keluar dari kamar, mengunci pintu, dan segera berjalan menuju rumah kaca.
(Waktunya nyiram!)
“…”
*Tap* *Tap* *Tap*
…
\~\~\~
*Chirp!* *Chirp!*
*Chirp!*
Kicauan burung yang menenggelamkan kesunyian damai ini,
pepohonan rindang yang menghalangi sinar kehidupan dari matahari, hingga bangku
taman yang bersih dan tersusun dengan rapi. Kombinasi tersebut membuat taman
sekolah ini sempurna untuk mencari sebuah pelarian dari keganasan dunia ini.
*Rustle* *Rustle*
“…”
Mengelilingi taman besar ini, aku dapat mendengar suara
gemerisik dari semak-semak yang secara naluri membuatku memudarkan keberadaan
tubuhku. Namun kehampaan aura darah dan permusuhan dapat membuatku menurunkan
kewaspadaanku, bersamaan dengan langkah pelanku menuju asal suara itu.
“Haah… Kamu lari ke mana
sih??”
Rupanya aku menemukan seorang siswa laki-laki sedang
merangkak menghadap semak-semak di depannya, tidak jauh dari posisiku.
Almamater merah serta celana putih yang memiliki beberapa noda tanah, juga
napas berat seraya menyeka keringat menandakan seberapa lama ia telah melakukan
ini… Memikirkan apa yang telah ia lakukan pada semak-semak berantakan di
sekitarnya cukup membuatku menghembuskan napas.
“Haah… Apa yang sedang
kamu lakukan?”
“EH!!?”
Layaknya terkena setruman dari sebuah tiang listrik,
lelaki itu segera memutarkan tubuhnya untuk menemui mataku. Motif lencana emas pada lengan kiri itu
menandakan kedudukannya sebagai siswa kelas 3.
“O-Oh astaga kaget aku
dek! Fuuh… A-Aku sedang mencair kucing di sini…”
“…Kucing?”
“Yep… Tapi sepertinya dia
sudah berpindah tempat. Hup!”
Melompat dari posisi semi-merangkak itu, lelaki kelas 3
ini membersihkan seragam sekolahnya dari noda tanah, sebelum mengulurkan tangan
kanannya kepadaku.
“—Namaku Bagas Galang
Saputra, 3B… Biasa dipanggil Galang atau Bagas saja.”
“…Andika Raylan, 2A.
Panggilan, Dika.”
“Sepertinya aku gak
pernah lihat Dika sebelumnya… Ah! Si anak beasiswa itu kan??”
“Benar.”
Sesaat aku menjabat tangan kanan itu, aku rupanya
melupakan apa tujuan utamaku memanggil dirinya.
“…Jadi… Apakah Bagas
memiliki dendam kepada seekor kucing?”
“Hahaha… Gak juga sih…
Hanya saja kucing itu punyanya penjual toko di seberang jalan. Katanya dia
ngelihat kucingnya masuk sini tadi pagi.”
“…Sejak pagi?”
“Mhm.”
“…”
“T-Tenang! Aku juga
ngikutin pelajaran kok! Tapi sejak jam kosong tadi, aku ke sini saja…”
“…Bagaimana jika aku
membantumu mencari kucing itu?”
“B-Beneran?! Apa gak
keberatan?? Taman sekolah itu luas lho!”
“Kita masih memiliki 53
menit lagi.”
“Wah, makasih lho Dika…
Ayo cari dia!”
…
__ADS_1