Nagara Nusantara

Nagara Nusantara
Chapter 3 : Hari Pertama


__ADS_3

            Setiap manusia memiliki masa lalu. Sebagian bercerita,


sebagian menguncinya sedalam mungkin. Hambar, malu, hingga rahasia kelam adalah


beberapa alasannya. Tidak heran jika kita menemui seseorang yang ingin hidup


“normal”, melukis kegelapan masa lalu dengan warna cerah untuk mencegah manusia


tanpa kehormatan menemukannya.


            Aku teringat seorang tokoh cerita dari novel yang kubaca


sebelum tiba di sini. Ia membenci diri dan sekitar karena trauma masa lalunya.


Mengetahui kelembekan ini, ia berharap untuk menjadi sosok yang lebih baik di


masa depan.


            Namun sebuah klise menyerang layaknya penyakit kronis,


menjadikannya penakut dan malas keluar dari cangkang kecilnya demi memperbaiki


jiwa rongsok itu… Seperti seseorang yang tengah menekuni ilmu untuk menjadi


seorang hipokrit.


Perkataan adalah sesuatu


yang murah.


            Kita mungkin tidak mengalami perubahan dalam waktu satu


jentikan jari saja, namun kemauan dan usaha yang lemah tidak akan menghadiahi


siapa pun, bahkan dengan keberuntungan dan takdir dari alam yang prihatin


melihatnya.


            Memudahkan pembaca memahami dan memberikan empati kepada


tokoh seperti itu adalah alasan membosankan yang selalu diutarakan oleh para


penulisnya… Tidak heran jika aku merasa kesal berulang kali menyesuaikan diriku


dengan pecundang sepertinya. Adalah keputusan baik menyumbangkan novel itu pada


suatu instalasi daur ulang sampah.


            Kembali pada kata “normal”. Orang-orang di sekitar


termasuk diriku ingin sekali-kali menemukan sebuah kehidupan normal… Namun apa


maksud dari kehidupan normal di sini? Kehidupan klise dan membosankan dengan


akhir yang mudah ditebak? Kehidupan manusia latar yang menjadi budak dari


seorang penguasa totaliter?


“—Dika.”


            Gagal menemukan artinya, suara familier yang tajam itu


menusuk kedua telingaku, menyadarkanku kembali pada situasi saat ini. Mencari


asal suara, aku menemukan sosok Kiki tengah merajuk kepadaku.


“Pagi, Kiki… Sepertinya


aku melamun.”


“Haah… Saya tahu ini hari


pertamamu bersekolah seperti ini, tapi tolong persiapannya Dika! J-Jangan


panggil Kiki juga!”


“…Tentu saja, Bu Amanda.”


            Mengamati Kiki memasuki sebuah ruangan, aku memutuskan


untuk menangkap dunia sekitar, menemukanku berdiri seorang diri pada suatu


koridor antik yang sepi.


“Tidak salah. Ini adalah


hari pertamaku bersekolah.”


            Menyelesaikan upacara bendera di lapangan utama, aku


kembali mendatangi kantor Kochi pada pukul 8 pagi. Rupanya ia ingin


memberikanku panduan mengenai sistem sekolah ini dan beberapa “keunikan” yang


dimilikinya.


            Membaca sekilas, rupanya Akademi Nasional Kusumajaya


mengadakan sebuah perjamuan untuk merayakan perjuangan para pelajar selama


ujian bulanan, pelatihan berbagai keterampilan yang dapat dipilih oleh pelajar,


aktivitas magang dalam pekerjaan dunia nyata, hingga kebebasan berpergian di


dalam pulau… Hal ini membuat Pulau Kusumajaya sebagai tempat bermain bagi para


pelajar di sini.


(“Anak-anak! Hari ini


kita kedatangan murid baru!)


            Suara Kiki menggema dari ruang kelas di hadapanku,


diikuti oleh bising penasaran dan terkejut para penghuninya. Mengintip dari


jendela pintu, aku menemukan Kiki kini mengangguk perlahan padaku.


“Baiklah.”


*Creak*


“““…”””


            Memasuki ruangan kelas, suasana pasar itu segera


tergantikan oleh kesunyian yang dapat dipecahkan menggunakan sayatan benang.


Menoleh ke kiri, aku menemukan kurang lebih dua lusin pelajar yang tengah


mengarahkan pandangan setajam silet mereka padaku.


“…”


            Ingin atau tidak, seorang pendatang seperti aku akan


menjadi sorotan bagi para penetap. Setidaknya melalui kesan pertama, mereka


akan menilai penampilan, gaya bicara, bahasa tubuh, hingga ekspresi diri,


sebelum menentukan tingkat hierarki-ku di antara mereka.


            Berdiri pada sisi kiri Kiki, aku mengamati seisi kelas


yang penuh dengan pelajar beralmamater merah dan hiasan mengkilap mereka,


menatap jiwaku. Aku teringat kepada sebuah pementasan drama, di mana sesaat


lagi sang tokoh utama akan memperkenalkan dirinya.


“Namaku Andika Raylan,


kalian dapat memanggilku Dika… Umurku 15 tahun. Hobi-ku adalah membaca buku,


mendengarkan pertunjukkan musik, dan bermain… Aku harap aku dapat berteman


dengan kalian semua.”


(“…15 tahun?? Muda banget


dia… Menurutmu aksel atau nukar?)


(“Mungkin anak aksel


pindahan dari luar…”)


(“T-Tapi… Kok mukanya


datar? Eman, kayaknya dia cakep tuh…”)


“Terima kasih. Itu saja


dariku.”


“Kamu bisa duduk di kursi


itu, Raylan.”


            Kiki menunjuk sebuah kursi yang terletak pada bagian


belakang kelas, bersandar tepat pada dinding dan jendela yang menghadap ke

__ADS_1


luar. Merasakan sebuah déjà vu, aku menemukan satu kursi kosong pada sisi


tengah kelas, juga kursi kosong yang bersebelahan dengan tempatku. Secara


bersamaan, aku dapat merasakan tatapan teman kelasku menghilang satu persatu.


“Baik anak-anak… Kita


akan melanjutkan materi turunan trigonometri minggu lalu.”


            Kiki kini bermain peran sebagai wali kelas serta guru


matematika pada sekolah ini. Mengabaikan kepala mudah panas itu, Kiki


mencurahkan kesetiaannya dalam menghabiskan 5 bulan setelah pernikahannya hanya


untuk menyamar dan bekerja sebagai seorang “guru”, membantuku dan Niki


mewujudkan kembali sebuah “kehidupan normal”…Aku menghela napas mengetahui


hidup ini telah memelankan dirinya agar kita semua dapat menikmatinya.


“—Raylan, berapa


hasilnya?”


“-2.”


Aku hanya berharap


semuanya dapat berjalan sesuai rencana.



“Hm.”


Dalam


satu sisi, matematika memiliki sebuah persamaan dengan lukisan abstrak, di mana


mereka hanya dapat dimengerti oleh manusia tertentu. Rupanya sebagian dari


teman kelasku telah terbiasa menghadapi masalah seperti yang Kiki tunjuk pada


papan, melihat minimnya reaksi mereka.


Sejenak,


aku mengamati sisi luar dari jendela di sisi kirku. Karena posisi matahari yang


cukup tinggi, aku tidak perlu menyesuaikan mataku untuk melawan sinar


menyilaukannya. Air mancur taman utama sekolah adalah objek pertama yang


kutemui, diikuti oleh barisan pepohonan, kebun, rumah kaca, hingga sungai


buatan yang mengelilinginya.


Mengamati


salah satu pohon, aku menemukan sebuah sarang burung dengan induk yang tengah


memberi makan anakannya. Melihat mereka membuatku berpikir apakah diriku dapat


melindungi Niki dan Sidorova, setelah sekian banyak tragedi yang telah kualami.


            Aku kembali teringat pada tokoh cerita daur ulang itu,


melihat keluar dari jendela dan menanyakan beberapa pertanyaan pesimistis pada


dirinya… Apakah aku pantas mendapatkan semuanya? Mengapa diriku menjadi sampah


busuk ini? Adakah cara agar aku bisa menghilangkan derita ini?


            Memikirkannya membuatku mengira bahwa semua itu hanyalah


omong kosong. Namun mengetahui diri hipokrit ini, aku memutuskan untuk


menahannya.


*RING*


“Baik anak-anak… Materi


hanya dari bab satu dan dua. Mohon persiapannya untuk ujian minggu depan.”


            Mengamati ruang kelas, aku melihat Kiki merapikan alat


mengajarnya. Setelah itu, ia memberikanku gerakan mulut untuk “menikmati” hari


ini, sebelum meninggalkan kelas dengan raut tersenyum. Aku juga menemukan jarum


“Aku boleh nanya gak?”


“…”


            Rupanya beberapa dari teman kelasku telah menyempatkan


waktu mereka untuk mengerubungiku. Aku mulai menduga beberapa pertanyaan yang


dapat dilemparkan oleh mereka.


“Silakan.”


“—Pindahan dari mana?”


“Makassar.”


“—Suka apa saja dari


hobimu??”


“Novel romansa, musik


klasik, dan catur.”


            Sejauh ini, pertanyaan yang mereka utarakan cukup mudah


untuk dijawab olehku. Aku tidak ingin membocorkan segala informasi dan rahasia


yang dapat digunakan untuk menusuk punggungku, namun pada saat yang sama aku


juga harus mendirikan reputasi di sekolah ini.


“Aku tanya kamu, Raylan.”


            Mengarahkan mata pada kursi barisan tengah, aku menemukan


seorang siswa dengan bangganya melipat tangan dan mengangkat leher ketika


mengeluarkan kata-kata itu. Mengamati penampilan dan gaya tubuhnya, kurasa dia


adalah sosok penguasa lokal dari kelas ini. Perempuan yang sebelumnya menduduki


kursi di sisinya kini juga berdiri memberikan lelaki itu pijatan, seraya


memberikanku tatapan sinis.


“Hm.”


“…Novel cinta-cintaan,


huh? Emang dirimu sudah punya pacar?”


“““…”””


            Ah. Pertanyaan sejuta dollar itu tiba. Tidak mengejutkan


dari sosok yang ingin menundukkan siapa pun pada sepatunya. Aku menemukan


hampir seisi kelas kembali mengarahkan pandangan mereka padaku, dengan pelajar


siswi yang memiliki reaksi terbesar.


“Jangan khawatir. Aku


memiliki pacar.”


            Mendengarnya, aku menemukan teman kelasku berbisik dengan


satu sama lain. Sementara itu, lelaki tadi mulai mengangguk seraya


mempermainkan wajah perempuan itu layaknya balon.


(“Sudah gak usah mikirin


dia, sayang”)


            Mengamati sekitar, aku menemukan beberapa dari teman


kelasku tengah melakukan aktivitas istirahat mereka. Tentu saja, kita perlu memanfaatkan


satu jam ini untuk menyegarkan diri, serta mempersiapkan program keterampilan


sekolah berikutnya.


“…”


            Berdiri dari kursi, aku menggapai ranselku demi mengambil


sebuah botol kecil berwarna putih. Memasukkannya pada saku celana, aku

__ADS_1


melangkah menuju pintu kelas untuk meninggalkannya. Tanpa pemikiran panjang,


rupanya aku telah mengetahui bahwa taman yang terlihat dari jendela kelas


menjadi destinasi atas istirahatku.



“Hm~ Hm~ Hm~”


            Mengepel lantai kamar milik Kak Dika, aku sekejap


teringat dengan penampilannya kemarin. Rambut hitam yang acak-acakan itu masih


menemukan cara untuk terlihat tampan pada siang kemarin. Selain itu, pakaian


kemeja putih serta celana hitam yang ia kenakan seakan membuatnya seperti akan


melamar kerja di tempat ini… Apalagi ekspresi terkejutnya setelah menyadari


posisiku sebagai pelayan pribadinya.


            Tapi juga mengingat kembali, mengapa aku memiliki


aspirasi untuk menjadi seorang pelayan? Kurasa jawaban satu-satunya yang dapat


aku berikan adalah keinginan untuk membantu papa dan mama di rumah. Mengikuti


jejak pelayan ini telah membantuku bisa melakukan banyak pekerjaan rumah


sekaligus menunjukkan upayaku menjadi sosok yang berguna… Pasinya, keinginan


itu terwujud karena program kepelayanan di sekolah ini. Sepertinya siapa pun


bisa melihat bahwa Kak Dika menjadi tuan pertamaku.


*RING!!*


“Ah!”


            Mendengar bunyi bel istirahat dari pengeras yang


terpasang di sudut kamar, aku segera merapikan alat bersih-bersih di dalam


lemari khusus tepat di sebelah pintu kamar Kak Dika. Setelah itu, aku bergegas


keluar dari kamar, mengunci pintu, dan segera berjalan menuju rumah kaca.


(Waktunya nyiram!)


“…”


*Tap* *Tap* *Tap*



\~\~\~


*Chirp!* *Chirp!*


*Chirp!*


            Kicauan burung yang menenggelamkan kesunyian damai ini,


pepohonan rindang yang menghalangi sinar kehidupan dari matahari, hingga bangku


taman yang bersih dan tersusun dengan rapi. Kombinasi tersebut membuat taman


sekolah ini sempurna untuk mencari sebuah pelarian dari keganasan dunia ini.


*Rustle* *Rustle*


“…”


            Mengelilingi taman besar ini, aku dapat mendengar suara


gemerisik dari semak-semak yang secara naluri membuatku memudarkan keberadaan


tubuhku. Namun kehampaan aura darah dan permusuhan dapat membuatku menurunkan


kewaspadaanku, bersamaan dengan langkah pelanku menuju asal suara itu.


“Haah… Kamu lari ke mana


sih??”


            Rupanya aku menemukan seorang siswa laki-laki sedang


merangkak menghadap semak-semak di depannya, tidak jauh dari posisiku.


Almamater merah serta celana putih yang memiliki beberapa noda tanah, juga


napas berat seraya menyeka keringat menandakan seberapa lama ia telah melakukan


ini… Memikirkan apa yang telah ia lakukan pada semak-semak berantakan di


sekitarnya cukup membuatku menghembuskan napas.


“Haah… Apa yang sedang


kamu lakukan?”


“EH!!?”


            Layaknya terkena setruman dari sebuah tiang listrik,


lelaki itu segera memutarkan tubuhnya untuk menemui mataku.  Motif lencana emas pada lengan kiri itu


menandakan kedudukannya sebagai siswa kelas 3.


“O-Oh astaga kaget aku


dek! Fuuh… A-Aku sedang mencair kucing di sini…”


“…Kucing?”


“Yep… Tapi sepertinya dia


sudah berpindah tempat. Hup!”


            Melompat dari posisi semi-merangkak itu, lelaki kelas 3


ini membersihkan seragam sekolahnya dari noda tanah, sebelum mengulurkan tangan


kanannya kepadaku.


“—Namaku Bagas Galang


Saputra, 3B… Biasa dipanggil Galang atau Bagas saja.”


“…Andika Raylan, 2A.


Panggilan, Dika.”


“Sepertinya aku gak


pernah lihat Dika sebelumnya… Ah! Si anak beasiswa itu kan??”


“Benar.”


            Sesaat aku menjabat tangan kanan itu, aku rupanya


melupakan apa tujuan utamaku memanggil dirinya.


“…Jadi… Apakah Bagas


memiliki dendam kepada seekor kucing?”


“Hahaha… Gak juga sih…


Hanya saja kucing itu punyanya penjual toko di seberang jalan. Katanya dia


ngelihat kucingnya masuk sini tadi pagi.”


“…Sejak pagi?”


“Mhm.”


“…”


“T-Tenang! Aku juga


ngikutin pelajaran kok! Tapi sejak jam kosong tadi, aku ke sini saja…”


“…Bagaimana jika aku


membantumu mencari kucing itu?”


“B-Beneran?! Apa gak


keberatan?? Taman sekolah itu luas lho!”


“Kita masih memiliki 53


menit lagi.”


“Wah, makasih lho Dika…


Ayo cari dia!”


__ADS_1


__ADS_2