
'Itu beneran Azza bukan sih?'
'Gilaa cuyy! Gak salah liat gue?!'
'Kenapa gak di DO aja sih?'
'Dia tuh anak sulung Anita.Group, plus anak kedua keluarga Dwitama, mana mungkin bisa di DO, mustahil tau gak?!'
'Bener juga!"
-
Bisikan terus terdengar sepanjang jalanan yang dia lalui, namun seakan tidak peduli, dia pun terus melangkah hingga sampai di kelas nya.
Di sanalah ke empat gadis yang benar-benar dia kenal berhamburan memeluk nya.
Namun hanya beberapa saat mereka bisa melepas rindu pada sahabat nya yang lama menghilang itu, karena bell masuk yang memekakkan telinga sudah berbunyi nyaring.
-
Istirahat
Di jam istirahat usai pergi ke kantin, lima gadis cantik nampak tengah mengobrol serius di tepi danau buatan yang berada di belakang halaman sekolah tersebut.
"Ck, lagian kenapa sih lo bisa ada di sana sama dia?" Kesal satu gadis seraya melempar batu kerikil ke kearah danau, sedikit merasa heran dan penasaran dengan apa yang di lakukan oleh sahabat nya tersebut, dia Meli.
"Kok Meli jadi nyalahin Naya sih?!" Satu gadis nampak mencoba membela, dia Nara, gadis yang paling polos di antara mereka.
"Emang lo tau apa?" Celetuk satu gadis lain dengan santai, dia merasa heran pada Nara, mana mungkin dia membela tanpa tau apa-apa, dia Michelle, gadis yang sebelas dua belas dengan Meli.
Belum sempat Nara menjawab, satu gadis berdiri seraya mencoba melerai.
__ADS_1
"Kenapa harus pada debat sih? Santai aja kali, kita gak punya banyak waktu buat ngobrol di sini, lagian gak aman juga, malem ini lo bisa kumpul gak Nay?" Tanya gadis tersebut seraya menatap Naya, yang lain hanya menunggu jawaban dari Naya, berharap bisa agar semua pertanyaan di benak nya dapat tersampaikan, dia Vio.
"Malam ini gue ada janji sama Ayah, gue gak tau dia mau ngapain lagi, tapi yang pasti ini penting, paling agak maleman gue dateng." Jawab Naya usai berpikir sejenak, membuat senyuman sumringah dari ke empat gadis yang begitu mengkhawatirkan nya beberapa bulan ini pun terbit juga.
Tak lama lima gadis itu kembali ke kelas, jam pelajaran akan kembali di mulai, itu lah mengapa Vio mengatakan jika tidak ada banyak waktu untuk bisa berbicara santai di sana.
-
Hari mulai menggelap, langit berubah hitam dengan hiasan kerlip bintang di atas sana,, Naya nampak sudah siap dengan gaun elegant dan rambut yang di biarkan ter gerai.
Melihat putri kedua nya sudah siap, seorang pria yang sudah menunggu dengan seorang wanita yang berada di samping nya pun berdiri, begitu juga satu lelaki yang nampak hanya berbeda satu tahun dengan Naya, tentu saja dia kakak lelaki nya.
"Ayo, kita hampir terlambat." Dingin pria tersebut seraya berjalan dengan langkah panjang menuju bagasi dimana mobil nya terparkir.
Naya hanya menatap nya lurus tanpa ekspresi, sedangkan wanita yang di duga Ibu nya melangkah tanpa sepatah kata pun untuk menyusul sang suami.
Sedangkan kakak nya hanya menghela nafas melihat itu, sebelum pergi menyusul kedua orang tua nya, dia meletakkan tangan nya di pundak Naya, menguatkan si gadis, dia tahu kemarin diri nya tidak di sambut dengan baik di rumah megah yang mirip dengan istana itu.
Tanpa pembicaraan lagi, usai Naya memasuki mobil mewah keluarga nya, mereka pun langsung menancap gas menuju suatu tempat yang sudah di tetapkan.
-
"Waduhh, lama juga kita gak ketemu Than?" Ucap Ayah dari Naya, dia menghampiri pria yang nampak seumuran dengan nya, kemudian berjabat tangan dan saling memeluk satu sama lain, sekedar melepas rindu usai di sibuk kan oleh pekerjaan masing-masing, dia Rayyan.
"Iya Ray, kita sama-sama sibuk selama ini." Jawab teman nya yang kemudian melerai pelukan, menunjukkan senyuman indah di bibir nya seraya menatap sahabat kecil yang kini berada di hadapan nya, dia Nathan.
Sementara itu, Ibu dari Naya tengah sibuk cipika-cikipi dengan seorang wanita yang juga sudah menunggu nya sendari tadi.
"Duh, maaf ya Yu, aku jadi gak enak sama kamu, kamu pasti udah lama nunggu kita." Ucap nya seraya melerai pelukan, dia Mika.
"Udah gak papa Ka, lagipula gak lama kok nunggu nya, yaudah, ayo duduk." Balas wanita tersebut seraya mempersilahkan ke empat insan itu untuk duduk, dia Ayu.
__ADS_1
"Ahh, jadi.. gimana Than? Anak aku udah siap-siap aja kok." Ucap Rayyan setelah duduk di sebelah Mika seraya menatap kearah Nathan.
Tetapi Nathan menatap putra nya, yang kini balas menatap bingung, namun beberapa saat kemudian baru mengerti.
"Aka setuju aja apa kata Bunda." Jawab nya tersenyum tipis, dia Aka.
"Syukurlah kalau gitu, tapi gimana soal tanggal nya? Bukan nya belum kita tentuin nih?" Tanya Mika seraya menatap Rayyan dan Nathan secara bergantian.
"Untuk tanggal sih, awal bulan depan, karna.. kita juga masih rada sibuk di kantor, lagipula mereka juga butuh waktu untuk saling kenal." Balas Nathan yang di angguki Ayu.
"Oh iya, memang nya Naya udah setuju? Masyallah, cantik banget calon mantu Bunda." Ucap Ayu, ia yang duduk di sebelah kiri Naya memudahkan nya untuk mengusap pelan pundak Naya.
Naya tersenyum manis, sejak tadi dia hanya diam, mencoba mencerna setiap kata yang mereka ucapkan, dan mengingat siapa wanita yang kini tersenyum meminta jawaban dari nya, Naya hanya sedikit aneh pada wanita itu, karna biasanya seseorang yang baru mengenal Naya akan menyebut nya sebagai Azza, di mana Naya adalah panggilan seseorang yang sangat dekat dengan nya.
Beberapa waktu Naya hanya diam, hingga ia ingat betul jika wanita itu adalah Bunda kedua nya, dia sangat-sangat dekat dengan wanita ini dahulu, ketika diri nya pertama kali datang di kediaman keluarga Dwitama.
Menoleh kearah Aka, dirinya nampak tertegun sebentar, tepi kemudian berkata;
"Naya setuju kok Bunda." Jawaban yang Naya berikan membuat Mika dan Rayyan beserta Aska kakak nya sedikit kaget dan tidak percaya, tidak ada persetujuan sebelum ini, mereka pikir Naya akan menolak nya mentah-mentah, tetapi justru sebalik nya.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau gitu." Balas Ayu sumringah.
Pembicaraan belangsung sedikit lama, Naya yang terlihat dingin pagi tadi berubah menjadi ramah tanpa memperlihatkan kebingungan sedikit pun di mata nya bahkan tanpa menghilangkan senyuman manis di bibir nya.
Hingga kedua keluarga yang sama-sama di kenal di kalangan keluarga kaya tersebut pun berpisah, Naya memasuki mobil mewah itu dengan wajah yang sudah berubah menjadi datar.
"Reva! Saya tau kamu punya rencana di balik itu, apa mau kamu?!" Tegas Mika bertanya, membuat suasana semakin dingin di dalam mobil, apalagi wajah ke empat nya sama-sama begitu datar.
"Reva gak mau di kekang, kalau kalian mau Reva nikah tanpa tapi sama Aka, kalian gak boleh ikut campur tentang Reva dan ngatur Reva lagi." Ucap Naya yang biasa di sebut Reva oleh kedua orang tuanya.
Mendengar ucapan Naya, Aska hanya melirik nya, sedangkan Mika tertegun sedikit lama.
__ADS_1
"Oke! Asal kamu gak boleh nolak sedikit pun tentang itu!"
-