
Beberapa hari berlalu, Naya dan teman nya sering kali berkomunikasi melalui panggilan suara, mereka sepakat, Vio, Nara, Meli dan Michelle akan ikut pindah ke Santara Bangsa, mereka khawatir jika sesuatu terjadi pada Naya, apalagi luka di punggung dan lengan nya masih belum kering, selain itu, Raisha selalu mencari gara-gara dengan nya.
Namun sayang, kelas nya terpisah, membuat mereka harus menunggu jam istirahat untuk saling bertemu lagi, karna selama seminggu ini mereka tidak berkumpul sekali pun dengan Naya, gadis itu lebih memfokuskan diri pada pemulihan luka-luka nya.
Di Kelas
Naya sudah merapikan meja, bermaksud pergi ke halaman belakang sekolah untuk menemui teman-teman nya.
"Lo mau kemana Nay?" Tanya Raisha ketika Naya beranjak.
"Bukan urusan lo!" Balas Naya yang kemudian melangkah menuju pintu kelas.
Raisha hanya menatap nya lurus, begitu juga dengan anggota inti Vegos, mereka sedikit curiga dan heran dengan Naya, namun semua hal semacam itu segera mereka tepis, Naya adalah adik dari Aska selaku wakil ketua di Vegos, mana mungkin bisa di curigai, pikir nya.
"Untung aja dia adek lo Ka." Ucap Raisha seraya menyenderkan punggungnya di senderan kursi.
"Tapi perasaan gue pernah liat mata dia deh, suara nya juga kaya gak asing, padahal 'kan baru ketemu pas dia pertama kali masuk kelas waktu itu." Ucap Devan yang berhasil mengalihkan perhatian teman-teman nya, termasuk Aska yang ingin menanggapi ucapan Raisha.
"Masa sih kalo dia Linna?" Aka bersuara.
Hening, semua berpikir hingga akhirnya..
"Nama panjang adek lo sape Ka?" Tanya Raga pada Aska.
"Mana gue tau, tapi kalo mau tau hadir aja ke acara akad si Naya ma Aka, 'kan pasti di sebutin tuh." Jawab Aska sekenanya, dia memang tidak tahu menahu soal Naya, bahkan sekedar nama panjang gadis itu.
"Kaya nya lo bukan kakak nya deh Ka, masa nama panjang adek sendiri aja kagak tau." Beo Kevin seraya menunjukkan wajah heran nya.
"Emang bukan kali." Bukan Aska, tapi Naya yang kembali bersama teman-teman nya, membuat anggota inti Vegos mengalihkan pandangan kearah Naya juga ke empat sahabatnya.
"Eh, hehe.. ada Naya ternyata, sejak kapan Nay?" Kekeh Jefran selagi Naya duduk di bangku nya, begitu juga dengan ke empat gadis yang sendari tadi memasang wajah datar.
__ADS_1
"Kok dia panggil Naya?" Beo Nara yang masih bisa di dengar oleh mereka.
"Orang enak nya manggil Naya kok." Balas Jefran santai.
Sementara itu, di sisi lain Vio dan Raisha tengah beradu pandang, kini Nara pun mengalihkan pandangan nya ke arah Raisha, yang seketika langsung mengubah wajah nya.
"Lah? Kok pada liatin gue gini sih? Kaya nya circle adek lo pada gak suka ma gue deh Ka." Ucap Raisha.
"Kenapa harus kesini sih Nay?" Michelle yang duduk di bangku sebelah Naya melipat tangan dengan raut wajah kesal, sedangkan Naya hanya diam.
Vio yang duduk di depan Naya menghela nafas panjang, menetralkan nafas nya seraya mengalihkan pandangan.
"Lo mau kumpul gak Nay malem ini?" Tanya Meli, dia menatap Naya, lebih tidak peduli dengan mereka.
"Gak tau." Singkat Naya.
Meli menganggukan kepala tanda mengerti, sedangkan Nara masih berusaha meredam amarah nya, tapi..
"Lo pada kenapa sih sama gue?!" Raisha ikut kesal seraya berdiri menantang, membuat Nara juga ikut berdiri menatap nya.
"Nara emang gak suka sama Shasa! Dasar munafik?!" Sarkas kasar Nara.
"Lo pikir gue suka sama pembunuh kaya dia?" Balas Raisha seraya menunjukkan tangan kearah Naya.
"Cih! Shasa tuh gak pernah tau apa-apa dan gak pernah mau tau tentang hal itu! Shasa yang nuduh sembarangan, malah jadi penghianat lagi?!" Balas Nara semakin meninggikan suara nya.
PLAKK
Naya berdiri, mendorong pundak Nara supaya menjauh.
"Lo mau apa sih Sha? Hm?.." Santai Naya, sedangkan Vio segera membawa Nara ke dalam pelukan nya, Nara tidak sekuat itu jika di hadapan sahabat nya, apalagi dia yang paling dekat dengan Raisha selain dengan Naya.
__ADS_1
"Gue? Gue cuma mau lo ngerasain apa yang gue rasain." Balas Raisha seraya melipat tangan nya dan menatap manik Hitam milik Naya.
"Fine! Tapi lo cuma punya masalah sama gue Sha, jangan lo bawa orang-orang di sekitar gue, mereka gak salah." Sahut Naya yang balik menatap manik milik Raisha.
"Ya gak bisa gitu lah, dia salah ya dia tau apa akibat nya, lo pikir siapa yang bisa lawan gue?"
"Lo pikir gue takut sama lo?"
"Lo pikir lo bisa apa?" Raisha kembali membalas setelah terkekeh meremehkan.
"Woy! Ngapain jadi pada berantem gini sih?! Sha? Lo juga, lo gak pernah tuh ngomong ada masalah sama Naya apalagi sama temen-temen nya." Aka melerai.
Naya menghela nafas. "Yang penting gak ada urusan nya sama lo 'kan?" Ucap nya seraya beralih menatap Aka.
"Lah? Tapi 'kan lo berantem depan gue, ya gue lerai lah, lagian gue gak mau Shasa pake pasukan Vegos cuma karna ngurusin lo yang susah di bilangin, kalo sampe kejadian baru tau rasa lo." Balas Aka tak mau kalah.
"Haha! Gue gak takut." Ucap Naya, sedangkan tangan nya menahan tangan Raisha yang hendak menampar karna ucapan Naya sendiri.
"Heh! Gue tau semua tentang lo, jadi mending lo cari aman aja deh Nay, dari pada lebih parah dampak nya buat lo,, lepasin tangan gue!" Kesal Raisha.
"Lo pikir lo siapa Sha? Gak ada satu pun orang yang tau lengkap tentang gue! Apalagi lo." Balas Naya seraya melepaskan tangan Raisha dengan kasar.
"Apa? Lo—
"Ck, udahlahh.. gak usah berantem di sini bisa gak sih? Pusing gue dengerin lo pada ngomong." Vio berbicara, "Lagian Sha, masalah itu udah beres di mata semua orang, bahkan yang cuma denger gosip nya aja tau kalo Naya juga korban!" Lanjut nya, kini Nara sudah berada di pelukan Meli, sedangkan Michelle masih duduk seraya melipat tangan di dada dan hanya menyimak.
"Tapi lo tau apa yang terjadi sama nyokap gue Yo! Kalo gitu kenapa dia juga gak mati aja?" Kesal Raisha yang membuat Naya mengeraskan rahang nya.
"Sha! Kalau gue bisa milih, gue gak akan ambil tempat satu-satu di rumah sakit itu?! Bahkan gue gak tau apa-apa sama sekali! Lo kenapa sih?!" Naya semakin merendahkan suara nya, pertanda dia semakin kesal.
"Halah! Banyak bacot lo." Raisha menyudahi, bell sudah berbunyi lagi, sedangkan Naya memutuskan pergi dari kelas di ikuti ke empat teman nya.
__ADS_1
-