
Nayala berjalan tak tentu arah, dan tak sadar bahwa kini dia berjalan hingga ketengah jalan raya, dan Ckitttttt..... terdengar suara mobil yang berhenti mendadak, Nayala yang sadar langsung melihat sekitar dan betapa terkejutnya dia berada ditengan jalan, dengan posisi tubuhnya yang jatuh terhuyung kebelakang saking kagetnya.
"Pak... ayok turun...." ucap bi Asih panik, karena mobil yang dikendarai pak Santo hampir menabrak seorang gadis. bi Asih keluar dengan langkah cemasnya menghampiri gadis yang tentu saja masih sadar, dia tidak apa-apa hanya saja sedikit kaget dengan pristiwa ini.
"Yaampun... kamu tidak apa-apa nak? ada yang sakit atau terluka? biar bibi lihat..." Ucap bi Asih panik.
"Ahh.. tidak apa-apa bi, saya baik-baik saja" ucap Naya sedikit tak enak, karena kecerobohannya dia membuat orang lain panik.
"Kamu yakin tidak apa-apa " Ucap pak Santo sembari membantu Naya bangkit dari posisi duduknya, sebenarnya Naya malu karena disana banyak orang yang melihatnya.
"Yakin pak, saya tidak apa-apa" ucap Naya kembali memastikan keadaanya yang baik-baik saja.
"Kita kepinggir dulu yuk.... jalan disini banyak pengendara yang lalu lalang ngeri...." ucap bi Asih sembari bergidik ngeri.
"Ah.. iya bi" ucap Naya dan mengambil barangnya dan dibantu oleh bi Asih, padahal dia sudah menolak bantuannya, tapi bi Asih kekeh membawakan Naya barangnya.
"Sebenarnya kamu kenapa nak....? kok bisa berada ditengah jalan seperti tadi, bahaya tau..." ucap bi Asih mempertanyaan keberadaanya tadi ditengah jalan.
"Hah.. itu.. itu bi aku, aku juga tidak tahu kenapa bisa berada disana" ucap Nayala sendu dan menundukkan pandangannya, dia enggan memperlihatkan kesedihannya didepan orang lain.
"Sebenarnya kamu kenapa nak...? ini kok bawa tas gede kayak gini, kamu diusir atau sengaja pergi dari rumah..." tebak bi Asih saat melihat tas besar yang dibawa gadis itu, iya yakin gadis ini tidak sedang baik-baik saja.
"Hah... itu bi, saya..." ucap Naya serba salah, dia tak tahu harus mengatakan apa.
__ADS_1
"Kau bisa menceritakannya jika kamu mau nak" ucap bi Asih pada gadis didepannya, dengan senang hati mau mendengar curhatannya atau keluh kesah gadis didepannya.
"Aku diusir dari kontrakan bi, dan aku tidak tahu harus mencari tempat tinggal dimana, ayah ibuku sudah tiada, dan kini aku hidup sebatang kara..." ucap Naya menceritakan sedikit tentang kehidupannya.
"Ahh iya bi, perkenalkan aku Nayala Pradipta" ucap Nayala dengan raut wajah senang memperkenalkan dirinya pada bi Asih, dia enggan untuk berlama-lama larut dalam kesedihannya.
"Hemmm gadis yang cantik, jadi namanu Nayala..." ucap bi Asih senang, dapat mengetahui nama gadis itu.
"Iya... bi namaku Nayala, panggil aku Naya saja....." ucap Naya senang dan mengangkat tanganya untuk menjabat tangan bi Asih, dan bi Asih yang melihat itu ikut serta mengangkat tangannya dan menjabat tangan Nayala dengan erat.
"Aku Asih... orang selalu memanggilku dengan panggilan Bibi, kau pun boleh memanggilku dengan sebutan bibi..." ucap bi Asih yang kini sedang memperkenalkan dirinya.
"Senang mengenalmu bi..." ucap Naya sembari memeperlihatkan senyum manisnya.
"Ah iya pak perkenalkan aku Nayala...." ucap Naya sembari menjabat tangan dengan pak Santo.
"Senang berkenalan denganmu nak...." ucap pak Santo dengan senyum lebarnya.
"Terus sekarang kamu mau kemana nak..." ucap bi Asih penasaran, dia ingin menawarkan pekerjaan buat Naya tapi sebelum itu dia harus bertanya dulu mau apa tidaknya.
"Entahlah bu... saya akan pergi mencari kontrakan dekat dan murah, setelah itu saya akan mencari tempat kerja untuk memenuhi biaya hidup saya..." ucap Naya dengan senyum yang masih setia memperlihatkannya pada bi Asih dan pak Santo.
"Bagaimana kalo kamu kerja bersama bibi, kebetulan tadi tuan meminta bibi untuk mencarikan seorang pelayan untuknya.... apakah kamu mau?" ucap bi Asih harap-harap cemas, dia tidla tahu apa keputusan Naya dan dia juga tidak begitu yakin jika Naya mau ikut kerja dengannya sebagai pelayan.
__ADS_1
"Hah... serius bi, Naya mau Naya mau bi" ucap Naya senang, dan tanpa bisa disangka dia langsung memeluk bi Asih senang, dia tak menyangka ada orang yang mau menolongnya dijaman sekarang yang serba sulit ini.
"Kamu beneran mau Nay...." ucap pak Santo memastikan, melihat Naya dari atas kebawah membuatnya tak yakin jika Naya bisa bekerja menjadi pelayan dirumah tuannya.
"Kenapa pak... apa ada yang salah dengan Naya?" Tanya Naya heran, saat tak sengaja matanya melihat pak Santo melihatnya dari atas kebawah.
"Bukan begitu Nay... bukannya saya meragukanmu namun, pekerjaan pelayan tidaklah mudah dan kamu punya tubuh semampai seperti ini tidak cocok jadi pelayan, kalo mau tuh jadi model pasti banyak yang mau narik kamu Nay...." ucap pak Santo, dan membuat Naya dan bi Asih terkekeh.
"Naya tuh sudah biasa kerja kayak gitu pak, dan jadi model bukanlah cita-cita Naya... Naya kalo dikasih kerjaan apa saja akan nanya ambil... yang penting itu pekerjaannya baik-baik" Ucap Naya menegaskan bahwa dirinya tidak akan tergiur dengan pekerjaan seperti itu, dan itu membuat bi Asih senang, dia tidak perlu repot-repot mencarinya kesana kemari, toh kini dia sudah dipertemukan dengan seorang gadis camtik nan baik, jadi tugas bi Asih sudah selesai tinggal belanja, ngomong-ngomong belanja bi Asih jadi keingat bahwa dia belum belanja biasa gawat nanti kalau ketahuan berleha-leha seperti ini.
"Yaampun... pak kita belum belanja" ucap bi Asih panik, dan pak Santo menepuk jidatnya karena dia sama-sama lupa, Naya yang melihat itu sedikit kerkekeh dengan kekonyolan pak Santo.
"Iya.. yaampun saya lupa" ucap pak Santo ikutan panik.
"Yasudah ayo..." ucap bi Asih dan pak Santo langsung memasuki mobilnya dengan cepat, melihat kepanikan dua orang tadi membuat Naya sedikit kecewa, dia yakin dia akan terlupakan dan tawaran tadi hanya sebatas ucapan saja, namun perkiraan Naya sangalah salah. Bi Asih dengan raut wajah kesalnya memanggil pak Santo untuk membantu membawakan barang-barang Naya dengan cepat, dan Naya melongo dibuatnya, bi Asih menggenggam tangan Naya erat dan ditariknya untuk ikut masuk kedalam mobil itu, perasaan Nayala campur aduk antara senang dan sedih.
"Lah kok kamu kayak mau nangis kenapa Nay....?" tanya bi Asih heran sekaligus panik.
"Naya seneng ketemu bibi sama pak Santo... " ucap Naya terharu.
"Yaampun Nay...bibi kira kenapa...? bibi sudah anggap kamu sebagai anak bibi, jadi kamu harus nurut sama bibi ya...." ucap bi Asih menirukan seperti orang tua yang sedang menceramahi anaknya.
"Hee.. siap bi" ucap Naya senang, dan mobil itupun berjalan membelah jalanan menuju pusat pembelanjaan, sesampainya disana Naya ikut turun dan membantu bi Asih belanja dan mencarikan beberapa keperluan yang dibutuhkan bi Asih agar cepat belanjanya, sedangkan pak Santo menunggu diluar.
__ADS_1
'Terima kasih.... karena engkau telah mempertemukanku dengannya....' ucap Naya dalam hati sembari menatap lekat bi Asih, dan tanpa sadar air mantanya terjun indah dari pelupuknya dan dengan cepat Naya menghapusnya dan langsung melanjutkan aktivitas belanjanya dengan bi Asih.