
Setelah membuatkan kopi untuk pak Santo, Nayala langsung pergi kedapur untuk membantu bi Asih mengerjakan pekerjaannya, sedangkan yang lainnya tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Ehhh... maaf" ucap Naya saat tak sengaja menyenggol seorang pelayan yang umurnya tak jauh beda dengannya.
"Ahh iya tidak apa-apa..." ucap Ema, ya pelayan iti adalah Ema.
"Sekali lagi aku minta maaf ya..." ucap Naya merasa bersalah, karena kecerobohannya dia sampai membuat wanita itu terjerembab jatuh.
"Yaampun ini tidak apa-apa... aku tidak sampai terkula kok, santai aja" jawab Ema tulus.
"Kenapa Nay...?" tanya bi Asih saat melihat Naya dan Ema berbincang.
"Tadi aku gak sengaja menyenggolnya bi...." kata Naya merasa bersalah.
"Yaampun bi... sungguh aku tidak apa-apa, jangan merasa bersalah seperti ini" ucap Ema tak mau membuat Naya semakin merasa bersalah.
"Nay.. Ema gak papa, dia baik-baik aja..."
"Ehh sekalian bibi kenalin Ema ini Naya dan Naya ini Ema salah satu pelayan muda dan berbakat..." kata bi Asih memperkenalkan keduanya dan mereka saling berjabat tangan dan tersenyum senang.
"Ihh bibi bisa aja..." ucap Ema malu atas pujian yang bi Asih lontarkan, Ema berbakat dalam membuat cake apapun dia bisa buat dan juga pandai bermain alat musik.
"Cake buatan kamu itu paling enak Em... dan juga kamu pinter banget mainin alat musik.. bikin kita yang mendengar merasa adem..." puji bi Asih dan semakin membuat Ema malu.
"Wahh.. henat sekali, aku mau diajari dong Em.." ucap Naya semangat kala dia mendengar alat musik, dia cukup pandai memainkannya juga dan point plus nya Nayala punya suara indah jika sedang bernyanyi.
__ADS_1
"Boleh... nanti malam, kita main ditaman belakang..." kata Ema tak kalah semangatnya dengan Naya, dan Naya yang mendengar itu memekik senang.
"Yasudah... sekarang kembali bekerja lagi yuk... sebentar lagi tuan turun pastikan semuanya sudah selesai..." titah bi Asih dan diangguki oleh keduanya.
"Tadi kamu kenapa Em...?" tanya Sarah dengan raut wajah tak sukanya.
"Itu... Naya pelayan baru disini gak sengaja nyenggol aku Sar.. kenapa emangnya?" tanya Ema saat melihat raut wajah Sarah, 'kenapa dengan wanita ini? kok kayak yang gak suka sama Naya..?' ucap Ema dalam hatinya.
"Cik... dasar pelayan baru, sudah untung bisa bekerja disini eh.. malah ceroboh" cebik Sarah tak suka.
"Ehh kok kamu gitu Sar gak baik tau..." Ema yang mendengar penuturan Sarah langsung diabuat tak percaya, memang sikap Sarah selalu begitu, jutek dan nyebelin.
"Bodo..." jawab Sarah kesal dan langsung meninggalkan Ema sendirian, dan Ema menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan sikap Sarah.
Stevan sedang pokus pada layar laptop didepannya terganggu dengan gumuruh suara perutnya yang minta di isi, dengan malah Stevan berdiri kemudian merapihkan mejanya sebentar dan langsung berjalan menuju ruang makan, saat sudah sampai disana dia mencium aroma yang sangat enak. 'aroma apa ini...? ummm enak sekali' ucap Stevan sembari tersenyum senang dan mempercepat langkahnya menuju ruang makan disana tersedia banyak makanan, dan ada satu makanan yang menyita perhatian Stevan yaitu Cumi lada hitam, saat dirinya sudah duduk dikursinya dan langsung melihat-lihat makanan yang didepannya.
"Mau dengan apa tuan....?" tanya bi Asih.
"Cumi lada hitamnya bi..." jawab Stevan tanpa ragu, dia justru penasaran dengan tampilan serta rasa masakan milik Nayala.
"Ahhh... baik tuan" ucap bi Asih dan langsung menyendokkan Cumi lada hitamnya dan disimpan dipiring Stevan.
"Ada lagi tuan...?" ucap bi Asih.
"Cukup bi... dan duduklah, temani aku makan" kata Stevan dan membuat bi Asih gugup.
__ADS_1
"Jangan tuan..." tolak bi Asih.
"Ini perintah...duduklah" kata Stevan dingin tanpa expresi membuat bi Asih mau tak mau menuruti perintahnya.
"Bi... Cumi lada hitam ini buatan bibi?" tanya Stevan memastikan, karena saat masakan itu masuk kedalam mulutnya rasanya sangat enak dan nikmat, membuat Stevan tak percaya jika Nayala lah yang membuatkannya.
"Tidak tuan... ini Nayala yang membuatnya" jawab bi Asih seadanya, memang Nayala lah yang membuatnya dan bi Asih juga dibuat terkejut saat menikmati masakannya yang enak nya seperti makanan resort bintang lima.
"Emmm... enak" ucap Stevan entah dia sadar atau tidak, dan itu membuat bi Asih tersenyum senang, ternyata Nayala bisa diandalkan dan dia membuat Stevan senang dengan hidangannya.
"Tambah lagi tuan...?" tanya bi Asih saat melihat piring Stevan yang sudah hampir habis.
"Iya boleh bi..." jawab Stevan dan langsung diangguki bi Asih kemudian bi Asih membantu menganbilkan lauk pauk, nasi, serta Cumi lada hitamnya lagi.
"Bi setelah ini, suruh Nayala pergi keruang kerjaku... dan jangan lupa ambilkan makanan riangan serta kopi hitam" ucap Stevan dan bi Asih terdiam sejenak.
"Baik tuan..." jawab bi Asih.
30 menit berlalu dan mereka pun sudah menyudahi acara makan siangnya, bi Asih membersihkan piring kotornya sementara Stevan langsung pergi keruangannya tanpa mengatakan apapun padanya.
"Tolong bersihkan yang ini aku akan menemui Nayala dulu..." ucap bi Asih dan merekapun mengerti kemudian membersekan meja makannya dengan telaten, sementara bi Asih tengah mencari keberadaan Nayala dan medapatkannya saat dia tengah memotong rumput ditaman.
"Nay..." panggil bi Asih.
"Iya..bi" jawab Naya dan membalikkan tibuhnya menghadap bi Asih.
__ADS_1
"Disuruh keruangan Tuan Stevan sekalian ambil Makanan sama kopinya.. kamu yang buatin kopinya ya Nay, bibi tiba-tiba mules nih" keluh bi Asih.
"Ehh iya bi yasudah Naya kedapur dulu ya..." ucap Naya dan langsung ditinggalkan bi Asih yang berlari kecil menuju kamar mandi, dan sontak membuat Nayala terkekeh dengan tingkah bi Asih yang kocak menurutnya.