Nayala Dan Stevan

Nayala Dan Stevan
Rumah Mewah Stevan


__ADS_3

Setelah selesai berbelanja, bi Asih segera membayarnya dibantu Naya membantu mendorong keranjangnya menuju kasir.


"Mba... semuanya jadi berapa?" ucap bi Asih.


"Jadi 18 juta bu..." ucap si Mba kasir.


"Hah... 18 juta?? apa itu tidak terlalu banyak" ucap Naya heran sekaligus terkejut, uang sebesar itu hanya dipakai belanja saja, sangat menyayangkan sekali, jika dia memegang uang sebesar itu akan dia pakai belanja bulanan seperlunya dan membayar kontrakan, kemudian sisanya dia simpan untuk keperluan lainnya.


"Hemm... ini Mba" ucap bi Asih langsung membayarkan belanjaannya, dan sedikit terkekeh dengan keterkejutan Naya.


"Ini sudah biasa Nay...." ucap bi Asih sembari terseyum pada Naya.


"Ouhh... sudah biasa ya, pantas saja bibi tidak terkejut saat melihat nominalnya" ucap Naya polos dan membuat orang yang ada disekitar terkikik geli karenanya.


"Iya Nay... nanti harus dibiasakan ya" ucap bi Asih.


"Hee... iya bi siap" ucap Naya semangat dan memamerkan senyum indahnya.


"Ini bu struknya... terima kasih telah berbelanja ditoko kami" ucap kasir sembari memberikan struk pembelanjaannya, bi Asih langasung mengambilnya kemudian membawa barang-barang belanjaannya keluar dibantu oleh Naya dan pak Santo yang sudah siap angkat barang belanjaan.


Sesampainya diparkiran pak Santo langsung mengangkat barang belanjaannya kebagasi mobil dan bi Asih serta Naya sudah masuk kedalam mobil, setelah pak Santo selesai mengankat belanjaannya, dia langsung masuk mobil dan mengendarai mobilnya menuju rumah tuannya, selama diperjalanan tak ada percakapan sama sekali, Naya yang lelah karena kelamaan berbelanja langsung tertidur dengan posisi yang bisa dibilang tidak nyaman, posisi kepalanya yang miring kesamping membuat bi Asih extra waspada takut Naya terjatuh.


"Gadis unik..." ucap pak Santo.


"Hemm... semoga saja dia betah ya kerja bersama kita" ucap bi Asih sembari mengelus rambut Naya lembut, dia sudah menganggap Naya sebagai anaknya walau pertemuan dirinya dan Naya sangatlah singkat.


Dua puluh menitpun berlalu mobil yang dikendarai sudah memasuki pekarangan rumah mewan milik Stevan Xylon, bi Asih membangunkan Naya dengan perlahan, dan Naya pun terbangun karena ada tepukan ringan di pipinya.


"Nay.. bangun yuk, kita sudah sampai..." ucap bi Asih sembari menepuk pelan pipi Naya.


"Emmm iya bi... eh maaf Naya jadi ketiduran bi" ucap Naya merasa bersalah, mengucek matanya karena masih lengket kemudian melirik sekitarnya dan betapa terkejutnya saat melihat begitu luas dan mewah.


"Bibi.. ini dimana waahhhh... luas banget halamannya eh rumahnya gede banget bi yaampunnn...." ucap Naya terpesona melihat keindahan dan kemewahan rumah itu.


"Ini rumah tuan Stevan majikan bibi Nay..." ucap bi Asih menjawab pertanyaan naya sedikit terkekeh, lagi-lagi wanita itu membuatnya kerkekeh karena kepolosannya.

__ADS_1


"Serius bi...? pantes aja bibi belanja sebanyak itu..." ucap Naya mengingat belanjaan bi Asih yang banyaknya minta ampun.


"Iya Nay..." ucap bi Asih.


"Bi... rumah sebesar ini bibu yang beresin sendiri....??" tanya Naya sedikit ngeri jika dia bekerja dirumah sebesar ini sendirian.


"Haduhh.. Nay, Nay mana sanggup bibi beresin rumah segede ini sendirian.... disini tuh banyak pelayan yang beda-beda tugasnya dan ada juga anak buah tuan Stevan.... jadi bibi gak usah beresin semuanya karena tugasnya sudah dipegang masing-masing... dan kebetulan bibi disini bertugas sebagai kepala pelayan dan bibi yang sering mantau mereka sekaligus bibi juga yang belanja keperluan rumah ini..." ucap bi Asih.


"Kepala pelayan....? wah bibi hebat" puji Naya saat mengetahui jabatan bi Asih disini sebagai kepala pelayan.


"Haduh.. Nay hebat apanya, ayo jangan ngobrol terus kita masuk dan bawa barang-barang belanjaan nya kedalam nanti keburu tuan nanyain bisa gawat...." kata bi Asih sembari bergidik kecil.


"Ihh bibi nakutin Naya" ucap Naya.


"Ehh enggak Nay... yasudah ayo cepat, pak bantu masukin ya" ucap bi Asih pada anak buah Stevan yang kebetulan berjaga disana.


Disudut lain ada seorang pelayan yang sedikit risih karena kedatangan bi Asih yang membawa seorang wanita muda dan cantik, dia merasa bakalan ada saingan lagi dalam memperebutkan hati tuannya.


"Siapa dia....? kenapa bisa ada disini" ucap Sarah mencebik kesal karena melihat seseorang wanita yang tubuhnya bak model dan cantik rupawan, dirinyapun bisa kalah saing dalam mendapatkan hati tuan Stevan.


"Hah.. enggak kok" ucap Sarah sembari bertingkah serba salah.


"Ouhh yasudah ayo kerja lagi... nanti tuan marah jika melihat kita berdiam diri seperti ini" ucap Ema sembari menepuk punggung Sarah, dan Sarah pun mengangguk mengiyakan ucapannya.


"Ehh aduh bi...kok tangan Naya ditarik-tarik segala sih..." ucap Naya mengaduh karena tangannya ditarik paksa bi Asih, sedangkan bi Asih tak sabar mengenalkan Naya pada tuannya, sesampainya di lantai 3 rumah Stevan dan diruangan yang terlihat seram dan sepertinya ini ruangan kerja, tapi ruangan siapa?


"Tuannya ada?" tanya bi Asih saat berpapasan dengan anak buah Stevan.


"Ada bi... tuan sedang didalam" ucap anak buah Stevan sembari membantu bi Asih membukakan pintunya.


Seketika nafas Nayala terkecak dia bingung antara senang dan takut saat dirinya akan diperkenalkan oleh tuannya, Naya tak tahu tuannya seperti apa? apakah sudah berumur dan atau kah masih muda? jika sudah berumur maka Naya pastikan tuan itu mukanya seperti badut dan perutnya pun buncit dan.....


"Ehh kok kamu melamun ayo...." ucap bi Asih menyadarkan Nayala dari lamunannya dan menggiring Naya ikut masuk keruangan tuan Stevan.


"Permisi tuan...." ucap bi Asih saat sudah memasuki ruangan itu dan berhenti tepat didepan meja besar itu. Naya melihat sekitaran ruangaan itu yang catnya dominan berwarna hitam dan ada rak buku besar yang menambah kesan bahwa ruangan ini adalah ruangan kerja, tapi kenapa mirip seperti perpustakaan, banyak sekali buku-bukunya.

__ADS_1


"Bi dia lagi ngapain...?" ucap Naya saat matanya melihat seorang pria yang kini tengah melihat keluar jendela, dalam artian kini Stevan sedang membelakanginya, sehingga Naya tak tahu wajah rupawan pria didepannya.


"Sut...." ucap bi Asih meminta Nayala diam dan tak bersuara, dan wanita itupun memgangguk patuh.


"Ada apa bi....?" tanya Stevan dan langsung membalikkan wajahnya, dan betapa terkejutnya saat yang dia lihat pertama kali adalah seorang gadis cantik dan itu bukan bi Asih, dia mengucek matanya guna membenarkan penglihatannya dan betapa gugup dan malunya Stevan saat dia melihat bi Asih berdiri disebelah gadis cantik itu.


"Tuann...?" ucap bi Asih.


"Aahhh.. ya" jawab Stevan sedikit gugup dan langsung menormalkan raut wajahnya, kemudian menatap bi Asih penuh pertanyaan.


"Saya kesini untuk laporan, sekaligus memperkenalkan gadis cantik disamping saya..." ucap bi Asih dan membuat Naya gugup karena disebut gadis cantik olehnya, melihat kegugupan gadis itu membuat Stevan penasaran dengannya.


"Silahkan..." jawab Stevan melangkan maju dan duduk dikursi kebesarannya.


"Saya mau melaporkan bawa saya sudah menemukan seorang pelayan yang anda inginkan tuan, dan dia adalah Nayala Pradipta yang akan menjadi pelayan disini...." ucap bi Asih.


"Hemmm... bi bisa tinggalkan saya dengannya" ucap Stevan dengan penuh harap, dan bi Asih merasa ada yang janggal tapi tak apalah, namanya juga perintah dan diapun mengiyakan ucapan Stevan untuk meninggalkan ruangan itu.


"Ehh.. bi aku takut, aku gugup... aku" ucap Nayala terhenti kala suara dingin dan cool itu memotong perkataannya.


"Biarkan bi Asih keluar... saya akan menginterview kamu tanpanya karena kini dia mempunya tugas diluar sana...." jelas Stevan dan bi Asih pun mengangguk mengiyakan ucapan tuannya dan dengan berat hati Nayala melepaskan bi Asih keluar meninggalkan dirinya bersama tuan Stevan.


"Duduklah...." ucap Stevan dingin.


"Ahh.. i..iya tuan" ucap Nayala gugup, baru kali ini dia berada diruangan berdua bersama pria.


"Kamu gugup....?" tanya Stevan memastikan.


"I...iya saya gugup" ucap Nayala tanpa sadar menjawab pertanyaan Stevan dengan benar dan tentu saja dia malu, 'kenapa harus keceplosan seperti ini sih....?' ucap Naya dalam hati sembari memukul mulutnya pelan.


Melihat tingkah Nayala yang memukul-mukul mulutnya pelan membuat Stevan terkekeh, masih ada gadis polos sepertinya yang tak menjaga image didepan pria keren dan kece didepannya.


"Sudah...?" tanya Stevan dan dengan cepat Naya menghentikan aksinya, menunduk malu serta memainkan jarinya.


"Maaf..." cicit Naya pelan, membuat Stevan terpaku karena ucapannya, baru kali ini Stevan menemukan seorang wanita yang bertingkah unik seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2