
Seseorang wanita yang sedang berjalan mamasuki hutan, dia di mata-matai oleh seorang perempuan yang cantik, dengan rambut ungu mudanya yang lurus sepanjang bahunya, matanya yang berwarna biru muda menjadi nilai tambah atas kecantikan yang dia punya, Neka mamakai baju kaos berwarna kuning, kaos kuningnya yang dibalut Jumpsuit (baju kodok). Inilah gambaran sempurna dari gadis yang memiliki kecantikan sekelas dunia.
Dia adalah Neka seorang perempuan yang ingin mengetahui kebenaran dibalik kejadian yang menimpa sahabatnya dua tahun yang lalu, dan orang yang sedang dia ikuti adalah Rena wanita yang melakukan pembunuhan dari kejadian itu.
Sosok Rena juga tidak kalah cantiknya dari Neka. Rena yang memakai Suiter berwarna abu-abu dengan celana Jogger ditambah rambutnya yang berwarna merah tua dengan mata yang hitam, dan nilai tambah darinya adalah tahi lalat yang berada dibagian lehernya. Hal itulah yang membuat kecantikannya juga termasuk dalam kecantikan sekelas dunia.
Neka yang entah bagaimana kebetulan bisa menemukan Rena. Kemudian Neka mengikutinya hingga akhirnya dia berada dibagian dalam hutan. dan hal yang dipikirkan oleh Neka saat ini adalah 'Sekarang sudah saatnya' Nekapun berhenti mengendap endap dan mulai menampakkan dirinya.
"Berhenti...... Rena."
Rena yang mendengar suara itu menjadi sangat terkejut dan langsung menoleh kebelakang.
"N.....Neka apa yang kamu lakukan."
"Katakan hal yang terjadi dua tahun yang lalu, didalam Perpustakaan." Neka mengatakannya dengan tatapan yang tajam.
"Maaf Neka aku tidak bisa mengatakannya." Rena mengatakannya dengan suara lembut.
Neka yang termakan amarah menaikkan tanggannya dan mulai membuat bola Api, menyadari hal itu Rena mulai memakai posisi bertahan.
"Rena Katakan apa yang terjadi? Atau aku akan membuat mulutmu yang mengatakannya."
"......." Tidak ada tanggapan dari Rena.
Nekapun mulai menyerang Rena dengan cara melemparkan bola api yang ada ditangannya. Bola api yang mengarah ke wajah Rena dengan cepat menghilang. Tidak, bola api itu tidak menghilang, karena saat ini malam hari kekuatan Rena tidak bisa dilihat. Bola api yang cepat tadi telah ditelan oleh Aura hitam yang tiba tiba muncul dihadapan Rena.
"Ap... apa yang kamu lakukan." Kata Neka dengan wajah yang sangat penasaran.
"Neka kamu yang sekarang memang kuat, tapi itu saja tidak akan cukup untuk mengalahkanku, aku sudah tidak selemah dulu."
Mengabaikan perkataan Rena, Neka dengan cepat Membuat bola api, jumlah bola apinya meningkat, lima buah bola api dengan cepat mulai mengarah menuju ke arah Rena, tapi Aura hitam muncul dihadapan Rena dengan membentuk lingkaran yang besar hingga tubuh Rena tidak bisa dilihat, tiga diantara bola api Neka tertelan dan dua diantarannya meleset dan mengenai pohon, bola api itu dengan cepat membakar pohon, tetapi kemudian aura hitam Rena melahapnya.
"L..... Lagi." Neka dengan suara yang terdengar marah mengatakkannya.
Neka dengan cerobohnya kembali membuat bola api dengan jumlah yang banyak, dua kali lipat dari yang dia buat tadi.
Rena yang mulai merasa cemas, diapun berbicara.
"Neka kau tahu ada betasan tertentu yang tidak boleh dilampaui dalam menggunakkan Aura."
Neka kembali melemparkan bola api itu, dan Rena kembali menggunakan prisai Aura hitamnya. Kejadian ini terus berulang hingga Neka sudah tidak bisa membuat bola api lagi.
"Sepertinnya inilah batas dari Aura yang kamu miliki Neka."
"......." Neka terdiam sebentar. Tetapi kemudian, Neka memaksakan diri untuk membuat bola api.
"Berhenti Neka kamu sudah kehabisan Aura yang bisa kamu pakai."
Neka menghiraukannya dengan amarah yang meningkat membuat Neka bisa membuat bola api lagi, tetapi ini berbeda, sungguh ini adalah bola api yang sangat berbeda, jumlahnya hanyalah satu tetapi ukurannya yang sangat besar sepuluhkali dari bola api yang tadi dia gunakkan.
"REENNNNAAAAAAAAAA." Teriak Neka dengan nada suara yang sangat marah.
Neka pun mulai melepaskan bola api itu.
"Panas sekali."
Rena tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan bola api yang sangat besar itu. Bola api pun mulai menuju kearah Rena.
__ADS_1
Bola api membakar hutan, api yang sangat besar, Walaupun itu Rena sepertinya dia tidak bisa menghindari serangan itu.
Tidak bisa dipercaya setelah menerima serangan itu Rena masih berada ditempatnya tanpa terluka sedikitpun, dengan tubuhnya yang diselimuti oleh aura hitam, bagaimanapun juga aura itu membuat dia selamat.
Neka yang menyaksikan ketika Rena masih baik baik saja tanpa terluka sedikitpun membuatnya kecewa.
Seketika Nekapun mulai kehilangan kesadarannya dan dia jatuh pingsan.
◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆
Dipagi hari yang cerah ini, aku seorang yang tidak berguna sedang berjalan ditaman, untuk apa aku berjalan ditaman, mungkin untuk, menghibur diriku yang sedang kelaparan karena aku belum memakan apapun selama dua hari ini.
"Ah... Perutku lapar sekali." Kataku dengan muka yang sedikit lemas.
Aku adalah seseorang yang tidak berguna, yang bisa kulakukan hanyalah lari, lari dan lari, lagi dan lagi. Untuk orang yang tidak berguna inilah hal yang pantas untukku.
"Sepertinya sekarang sekitar jam 09.69, eh... Siapa juga yang peduli dengan jam, dan juga tidak ada menit ke 69. Kurasa saking laparnya otakku sudah tidak bisa berpikir dengan logis lagi."
Tiba tiba ada dua orang pria dengan tampang yang agak menjijikan menghampiriku. Tampang mereka seperti preman, biar kutebak orang yang berada disebelah kanan itu pasti bosnya, badannya yang tinggi dengan wajah yang sangar. Tidak salah lagi 'itu' pasti dia.
"Hei kau." Kata orang pendek yang berada di samping orang yang berwajah sangar.
Ah sudah kuduga pasti si bawahan yang akan berbicara terlebih dahulu.
"Ada apa? Cebol!" kataku sambil memandang ke arah bawahan pereman itu.
Aku tidak takut dengan pereman atau apapun itu. Aku bisa menghabisi mereka dengan sekali serang kalau keadaan tubuhku baik.
"K-kau, kau harus sopan terhadap pereman yang paling ditakuti diwilayah ini, bos Iyan." kata pereman yang berwajah sangar.
"Akulah bos dia bodoh, percuma kau memakai jas yang keren itu kalau penilaian mu masih kurang." Kata preman cebol itu dengan wajah yang meyakinkan. "Dari pada itu, kau tahu, kau harus memberikan iuran perlindungan kepadaku." pereman cebol itu pun mengangkat tangannya kemudian dia menyatukan jari telunjuk dan jari jempolnya, kemudian dia menggesek-gesekkannya.
"Aku tidak perlu membayar iuran itu karena aku bisa melindungi diriku sendiri." sahutku dengan yakin.
"Heh boleh juga nyali mu, tapi kau tahu kalau kau tidak bisa membuktikannya kau harus membayar dua kali lipat. Kau tahu itu?" kata pereman cebol itu sambil mengepalkan kedua tangannya kemudian dia memukul secara bergantian layaknya seorang petinju yang sedang melakukan pemanasan.
"Kalau kau kalah serahkan uang yang kau punya. Tidak uang yang kalian punya." kataku sambil menunjuk kearah mereka berdua.
"Kau hanya mempunyai dua pilihan, membayarku atau membayar biaya rumah sakitmu. HAHAHAHAHA!" kata pereman cebol itu sambil tertawa keras.
"Aku akan memilih pilihan ke tiga, yaitu mengalahkanmu dan mendapatkan uang, setelah itu makan, kemudian kesini lagi menghampiri kalian lagi dan mendapatkan uang lagi. Aku akan melakukan hal itu terus agar aku bisa makan. HAHAHAHAHA!" kataku sambil tersenyum jahat.
"Apa katamu, kalau kamu sudah babak belur jangan menyesal ya."
"Baiklah sekian basa-basinya, lakukanlah secara jantan dan adil." kata pereman berwajah sangar.
Pada saat berbicara tadi wajah sangar pereman itu meningkat.
Kemudian pereman berwajah sangar itu berdiri menghadap kearah ku dan pereman yang cebol itu.
"Satu... Dua... Tiga... Mulai!" layaknya seorang wasit pereman berwajah sangar itu memulai duel perebutan uang ini.
Pereman cebol berlari menuju ke arahku dengan tangan kanan yang dikepal. Dia berusaha menyerang bagian kepalaku, tetapi aku bisa menghindarinya dengan mudah, ketika dia menyadari aku bisa menghindari serangannya dia juga menyerang menggunakan tangan kirinya, kali ini aku juga bisa menghindarinya dengan mudah.
"Boleh juga kamu."
Dia kembali menyerangku, kali ini dia menyerang secara acak, tidak ada serangan yang berhasil mengenaiku. Seketika kakinya mengarah ke bagian perutku. Mungkin kalau aku orang biasa aku sudah terkena serangannya, tapi tidak jika melawanku, aku juga berhasil menghindarinya dengan memundurkan tubuhku kebelakang.
__ADS_1
Pereman itu terlihat sangat kesal. Nafasnya yang tergesa-gesa membuat dia berhenti sejenak.
"Apakah hanya ini kekuatan dari mu cebol?" Kataku sambil mengejeknya.
"Kamu berani mengatakan itu karena belum tahu sekuat apa bosku itu." kata pereman berwajah sangar dengan wajah yang penuh percaya diri.
"Aku tidak tahu hal apa yang kamu banggakan oleh si cebol ini."
"APA KATAMU........."
Pereman cebol sangat marah. kemudian dia berusaha menyerangku lagi, tetapi aku dengan cepat mengeluarkan api hitamku dibagian kaki. Hal itu membuat kecepatanku meningkat dengan cepat.
Pereman cebol itu berhenti, seolah kebingungan dia menoleh kesana-kemari.
"DIMANA KAMU!" katanya sambil berteriak.
"Apa? Aku ada dibelakangmu tahu."
"APAAAAA----!"
Saat pereman cebol itu berkata 'apa' aku menendang pinggangnya dengan keras, kemudian dia terjatuh dan pingsan.
"A ..... Apa yang barusaja terjadi?!" kata pereman bermuka sangar.
Pereman bermuka sangar itu kebingungan, ketika dia melihat bosnya yang jatuh pingsan. Kemudian dia melihat tempat dimana aku menggunakan apiku, kemudian dia berkata.
"Ta ..... Tanahnya hangus?"
Dia kebingungan melihat tanah yang tadinya ditumbuhi rumput hijau sekarang berwarna hitam.
"Bagaimana bisa hangus, dan juga hangusnya dibagian tempat kamu tadi berdiri."
"Kurasa kamu tidak perlu tahu. Bagaimana apakah masih ingin melanjutkannya?"
"Sepertinya kamu menang, ini uang yang aku miliki." kata pereman berwajah sangar sambil mengeluarkan uang dari saku celananya, uang sebesar seratus ribu. "Inilah uang yang aku punya, terimalah."
Akupun mengambil uang itu.
"Akhirnya aku bisa makan."
Kemudian pereman berwajah sangar itu pergi sambil membawa bosnya yang pingsan.
Setelah itu berjalan menuju kearah keluar dari taman.
Saat berjalan keluar dari taman aku melihat perempuan yang tertidur dibangku taman. Kemudian akupun menghampirinya, saat aku berada disampingnya aku melihat wajahnya.
"A ... Apa ini, bukan kah ini Nenek-nenek."
Aku agak terkejut, mungkin ini akibat lapar, aku jadi tidak bisa membedakan perempuan dengan nenek nenek. Eh bukannya tidak berbeda nenek nenek adalah perempuan jadi aku tidak salah kan? Tetapi kalau dilihat dari jarak dekat Nenek ini terlihat seperti bukan Nenek-nenek, ah bagaimana menjelaskannya ya? Aku serius, nenek ini seperti nenek yang seksi, wajahnya seperti Nenek-nenek, bukan maksudku badannya seperti bukan Nenek-nenek, 'arghh' kenapa aku harus pusing memikirkannya.
Seketika Nenek seksi itu bangun dengan cepat. Bangun seperti orang yang bermimpi buruk dan berteriak.
"RENNNNAAAAAAAAAAAAA!" kata Nenek itu.
Pada saat itu si Nenek seksi terbangun dari tidurnya dan langsung mengambil posisi duduk.
__ADS_1