
Ada sebuah gang yang lumayan besar. Jalan yang sunyi, disamping jalan itu terdapat dinding yang sangat tinggi, didepan dinding ditumbuhi pepohonan yang tingginya hampir sama dengan dinding itu. Jika hanya memandang kedepan terlihat sebuah dinding dari rumah yang besar, itu adalah sebuah tikungan jika sudah mendekati dinding itu maka di samping kiri terlihat sebuah jalan.
Neka, Riyad, dan Wandy sedang melewati gang itu, Neka berjalan didepan Riyad dan Wandy.
"Wandy apa arti tulisan yang ada dibajumu?" tanya Riyad sambil menunjuk kearah tulisan yang ada dibaju Wandy.
"Oh, Ini ya! Aku sendiri juga tidak tahu artinya." jawab Wandy.
"Begitu ya, kukira kamu tahu artinya aku lumayan penasaran dengan arti tulisan Cina itu?"
"Ini bukan tulisan Cina!" tegas Wandy.
"Eh! Lalu apa?"
"Ini itu tulisan Jepang."
"Bukankah sama saja?"
"Jelas berbeda lah."
"Hmm... Begitu ya!"
"Aku baru tahu kalau para pria suka memperdebatkan hal yang kurang penting." kata Neka tanpa memalingkan wajahnya.
"Hmp, kau tidak tahu berapa berharganya tulisan ini, ini tulisan yang penuh makna, dan bersahabat." *Wandy
"Tulisan itu bermakna ya! Apa maknanya?" tanya Riyad.
"Sudah kubilang aku tidak tahu artinya, tapi hal yang terpenting adalah bahwa tulisan ini penuh makna."
"Bukankah lebih bagus jika memakai baju buatan negara kita sendiri?"
"Iya itu benar, tapi apa salahnya aku memakai baju ini, siapa tahu yang buat baju ini orang negara kita, ini bukanlah hal yang tidak mungkin, bukankah begitu?"
"Benar juga ya! Eh-"
Riyad saat ini merasakan bahwa ada yang mengikuti mereka.
"-Mungkin hanya perasaanku."
"Ada apa?"
"Entahlah."
Keadaan kembali hening.
Dengan cepat ada seseorang yang mendekati mereka sambil berlari, lari orang itu sangat terlatih, hampir tidak ada suara yang dapat didengar darinya, sikapnya yang tenang tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Hah?!"
Merasakan ada yang mendekat Riyadpun berpaling, Neka yang lebih lambat merasakan hal itu juga ikut berpaling. Sedangkan Wandy tidak menyadari apapun.
Ketika Riyad berpaling dia melihat seseorang melompat mencoba menyerang Wandy sambil membawa sebuah pisau yang berada ditangan kanannya.
Melihat hal ini Riyad bergegas menyerang, Riyad mengarahkan telapak tangannya kearah orang itu kemudian api hitam yang banyak keluar dari tangannya, api hitam itu memenuhi jalan.
Neka yang melihat hal itu hanya bisa terdiam.
"Ada apa dengan kalian?"
Wandypun berbalik dan saat itu dia melihat seluruh jalan yang ada didepannya dipenuhi api hitam yang dikeluarkan Riyad dari tangannya.
"E-Eh... NANII?!"
Melihat hal itu Wandypun terkejut.
Api hitam yang keluar dari tangan Riyad mulai berhenti dan pandangan didepan mereka mulai kembali normal.
"Kemana orang itu? Bukankah kamu juga melihatnya Neka?" tanya Riyad sambil terheran-heran.
"Disini!"
Sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
"Eh!"
Dengan cepat mereka bertiga berpaling, didepan mereka terlihat seorang pria yang memakai topeng dan disamping kanannya ada seorang wanita.
"Yah, aku tidak menyangka bahwa ada seorang element yang melindungi mu, jadi hal ini juga yang membuat mu bisa lari selama lima hari ini." pria bertopeng itu kemudian melepas topengnya. Dia memperlihatkan mukanya yang terlihat seperti petinju "Mau bagaimana lagi, padahal aku hanya berniat membunuh satu orang saja, jika sudah begini, apa boleh buat, pertama aku akan menghabisi kau dulu element." dia menunjuk ke arah Riyad.
"Siapa kau? Apa maksudmu? Siapa yang ingin kau bunuh?" tanya Riyad.
"Pertama-tama perkenalkan. Tidak... Kalian bisa memanggilku Kmaks, begini-begini aku lumayan waspada jadi aku tidak akan memberi tahu nama ku. Dan dia ini adalah Tifa tentu saja itu bukan nama aslinya."
__ADS_1
"Kalian, siapa yang kalian incar?" bantah Riyad.
Saat ini Riyad berpikir 'siapa yang mereka incar?' Riyad melihat kearah Neka 'Neka atau Wandy' melihat Neka yang memandang Wandy dengan curiga 'Ah, mungkinkah' Riyad teringat perkataan Wandy yang sebelumnya.
===========
"Ah, maaf kalau aku menahan kalian lagi, tapi aku harus mengatakan sesuatu. Aku harap kalian memaafkan ku kalau nanti terjadi hal yang tidak mengenakkan."
============
"Wandy?"
"Jadi kalian sudah menyadarinya ya, maafkan aku telah melibatkan kalian, tak ku sangka bahwa mereka akan menyerang ku ketika ada kalian." Wandypun berlajan kedepan. "Katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian Adikku, Pamanku, atau Mamaku? Siapa itu. Pasti diantara mereka bukan."
"Tidak bisa, ke rahasiaan pelangganku tidak bisa keberitahu, dan juga bukankah kau sudah tahu bahwa aku tidak akan mengatakannya, jadi buat apa bertanya." *Kmaks
"Satu hal yang pasti ketika dia bertanya hal itu, pasti dia tidak sepintar yang kita pikirkan." Tifa
"Kau benar ya." Kmaks
"HAHAHAHAHAHAHA." Kmaks/Tifa
"Terserah apa kata kalian tapi aku sudah mempersiapkan serangan balik." Wandypun tersenyum jahat.
"Apa katamu? Tidak mungkin!" *Kmaks
"Apakah wajahku ini terlihat berbohong." Wandy menunjuk wajahnya yang dipenuhi senyum.
"Kalau begitu kami hanya harus menghabisi kalian saja dulu." *Kmaks
"Mari kita lihat saja siapa yang akan tertawa pada akhirnya."
"Wandy apa maksudmu?" tanya Riyad.
"Untuk saat ini tahan orang itu. Riyad aku perlu bantuanmu agar kita bisa selamat. Neka juga." kata Wandy sambil berbisik.
"K-Tifa kamu habisi Nenek itu, aku akan menangani si element, setelah itu aku akan menghabisi target kita." *Kmaks.
"Oke." *Tifa
Mereka berdua berpisah, Kmaks kearah kanan dan Tifa di arah kiri.
"Kalian berdua tahan mereka." *Wandy
"Apa kau gila, kau meyuruh wanita untuk bertarung." *Neka
Riyad dan Nekapun menghadapi lawan mereka, Riyad melawan Kmaks dan Neka mekawan Tifa.
"Baiklah apa kalian siap! 1... 2... 3. Mulai!"
"Kenapa kamu bersikap seperti wasit? Dan juga saat ini aku merasa seperti sedang di manfaatkan." *Riyad.
Riyad yang saat ini menghadapi Kmaks sedang memikirkan cara mengalahkannya.
Bagaimana ini, pertama-tama aku akan menggunakan serangan biasa.
Riyad menyerang Kmaks, ditangan Riyad mengalir api hitam yang meyelimuti tangannya.
Dua buah serangan dilancarkan Riyad tapi bisa di hindari oleh Kmaks dengan mudah.
Kemudian Riyad meyerang bagian muka Kmaks tetapi juga berhasil dihindarinya.
"Kurasa memang akan sangat sulit."
"Ini bukan sulit, tapi mustahil bagimu yang saat ini beradaa ditingkat ini untuk mengalahkanku."
"Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi, lagipula aku sudah melakukan latihan yang berat."
"Latihan itu tidak ada apa-apanya, jika kau hanya berada ditingkat itu."
"Usaha akan membuahkan hasi---"
Riyad kembali melancarkan beberapa serangan dan dikombinasikan dengan serangan kakinya. Tapi itu juga bisa dihindari Kmaks.
"Coba saja kau tidak menghindar."
Riyad saat ini berpikir 'Ini aneh, bagaimana dia bisa menghindari seranganku, ini seperti dia bisa mengetahui apa daerah mana yang akan kuserang.'
Tendangan Riyad berhasil di hindari, setelah itu Riyad mundur dan mengambil posisi meyerang, ini adalah posisi awal yang dia gunakan saat dia meyadari Kmaks akan meyerang Wandy.
Dari telapak tangan Riyad kembali keluar api hitam yang banyak.
Sementara itu Neka.
Neka dan Tifa bertukar serangan, Tifa menyerang Neka menggunakan pisau yang tadinya dipakai Kmaks.
__ADS_1
Refleks Neka cukup bagus tapi pisau Tifa berhasil mengenai bagian tangannya dan kakinya.
Mereka berdua saling menyerang dan menghindar, Tifa yang memakai pisau dan Neka yang tidak memakai senjata apapun.
"Nenek ini! Jangan menghindar Nek, kulit Nenek sudah bau tanah, jadi matilah dengan cepat."
"Siapa yang kamu bilang Nenek, aku ini masih muda tahu."
"Aku tidak peduli mau Nenek tua atau muda yang terpenting cepat mati sana."
Neka agak lengah, Tifapun mengambil kesempatan itu untuk melancarkan serangan.
Nekapun terjatuh terkena tendangan Tifa.
"Rasakan itu Nenek tua."
Neka yang terjatuh kembali berdiri.
"Sudah kubilang aku bukan Nenek-nenek."
Neka termakan amarah. Dia mengangkat tangannya, dari tangannya mulai terbentuk bola api yang lumayan besar.
"Apa? Nenek ini juga element."
Api yang dibuat Neka tidak seperti api Riyad, api ini memiliki tingkat suhu yang sangat panas.
"Panas!" Wandy yang merasakan panas mulai mundur.
Nekapun melempar bola api itu kearah Tifa, Tifa sadar akan hal itu dan dia langsung menghindarinya.
Bola api mengenai tanah dan meninggalkan bekas lubang besar, bagian sisi lubang itu berwarna hitam, sisa api yang mengenai tanah tadi masih menyala.
Kembali ke Riyad.
Setelah selesai mengeluarkan api hitam dari telapak tangannya, Riyad langsung berpaling dan melancarkan serangan dengan tangannya yang diselimuti api hitam.
"Bukan hanya kamu yang bisa membaca gerakan Kmaks."
Kmaks yang baru saja tiba dibelakang Riyad tidak punya waktu untuk menghindari serangan Riyad.
"Tubuh Kuat."
Kmaks tidak berusaha menghindarinya, dia hanya berdiam dan tidak melakukan apapun.
Riyad berhasil memukul bagian perut Kmaks, tapi... Tidak berefek sama sekali.
"Apa-apaan ini."
Serangan Riyad tidak meninggalkan bekas atau efek apapun.
"Sekarang kamu tahu, bahwa sejak awal sangat mustahil untuk mengalahkanku."
"Ini sangat curang, apa-apaan itu, harusnya seranganku berefek, setidaknya bisa membuat mu pingsan."
Kmaks mulai melancarkan sebuah serangan balik, serangannya sangat cepat sehingga Riyad tidak bisa menghindar.
Sebuah pukulan mengenai perut Riyad.
"Rasakan serangan balik ku."
"AAAKKKHHH! Sakit sekali, rasanya seperti menghantam besi yang besar."
Riyad terjatuh ketanah sambil menyentuh perutnya, jatuh sambil mengeliat kesakitan.
Riyad yang terbaring kesakitan, Neka yang kelelahan.
Saat ini keadaan mereka sangat terpojok.
"Sampah seperti kau mana bisa menang melawan ku." *Kmaks
Kmaks berjalan menghampiri Riyad yang sedang kesakitan, dia kemudian mengangkat kakinya, Kmaks mencoba untuk menginjak kepala Riyad.
"Jangan berpikir kalau kau tidak akan mati jika ku injak, percayalah setelah ini kau tidak akan bisa membuka mata."
"Lakukan saja." kata Tifa yang baru saja datang, Tifapun langsung menghampiri Kmaks.
SWOOOOOOSSSSSSSSHHHHHHHH!
Tiba-Tiba sebuah tendangan yang dilapisi petir kuning mengenai kepala Kmaks.
"Kick Beam!"
__ADS_1
Tubuh Kmakspun terlempar.