
"Riyad ya, senang bertemu denganmu! Mulai sekarang silahkan panggil aku Neka saja ya." katanya sambil tersenyum.
"Ofu! Eh... Maksudku iya."
Tidak! Ternyata aku memang benar-benar salah tingkah, terhadap seorang wanita yang berwajah Nenek-nenek.
Bagaimana ini? Tidak, sebagai pria aku harus bersikap kalem dan santai.
"Yah... Dari tadi aku tidak bisa diam. Kurasa sekarang aku sedikit kecapean." Nekapun kembali duduk.
"Anu... Nek. Eh, maksudku Neka. Bagaimana kau bisa jadi seperti ini?" tanyaku.
"Sebenarnya semalam aku bertarung dengan seseorang. Karena aku terlalu banyak mengeluarkan auraku, mungkin itulah yang membuat aku menjadi seperti ini. Yah... Kurasa kau tidak akan percaya padaku."
"Tidak... Aku percaya kok, karena aku juga memiliki sebuah kekuatan."
"Eh?"
"Aduh-duh."
Si rambut kuning yang pingsan tadi bangun kemudian dia mengambil posisi duduk sambil memegang kepadalanya.
"Ah, kau sudah sadar ya. Maafkan aku soal yang tadi ya!"
Neka berdiri dan menghampirinya.
"Ah... Tidak apa, kau tahu kadang-kadang hal seperti ini terjadi."
"Kurasa ini tidak penting bagimu, tapi. Aku bukanlah Nenek-nenek. Aku sebenarnya masih muda umur ku sekarang adal--."
"Ya, ya. Aku tahu, aku tadi sedikit mendengarkan pembicaraan kalian."
Orang itu memotong perkataan Neka.
"Dan kau langsung percaya begitu saja?" tanyaku.
"Yah tentu saja, setelah semua yang terjadi. Hal yang dia katakan masuk akal."
"Apa yang kau maksud?"
Aku tidak memahami perkataannya.
"Maksudku setelah dia menendang 'otong' ku dengan keras bagaimana aku tidak percaya pada kata-katanya. Maksudku, bagaimana bisa seorang Nenek-nenek memiliki tenaga sebesar itu. Jika dia memang Nenek-nenek dia tidak akan bisa melakukan hal itu."
"Hmm... Benar juga ya!"
"Sukurlah kalau kau memahaminya." kata Neka.
"Setelah ini apa?" tanya orang itu.
"Ntahlah." kataku.
Gruuuk! Gruuk! Grukk!
"Suara perut siapa tadi?" tanya orang itu.
"Aku... Itu suara perutku." kataku dengan pasrah.
"Bagaimana kalau kita makan bersama? Biar aku yang metraktir kalian, sebagai permintaan maafku kepada kalian." Tawar Neka.
"Baiklah, sebelum itu. Perkenalkan namaku adalah Wandy, kurasa agak kurang sopan kalau aku tidak memperkenalkan namaku pada kalian."
"Oh... Salam kenal Wandy. Namaku Neka."
__ADS_1
"Ah, iya perkenalkan juga namaku Riyad."
"Salam kenal Neka dan Riyad."
"Iya, ayo kita menuju ke rumah makan." kata Neka.
"Ah, maaf kalau aku menahan kalian lagi, tapi aku harus mengatakan sesuatu. Aku harap kalian memaafkan ku kalau nanti terjadi hal yang tidak mengenakkan."
"Tidak apa Wandy, santai saja. Kita saat ini sudah menjadi teman. Jadi ayo kita berangkat." kataku sambik merangkul Wandy.
Kami bertigapun mulai berjalan.
◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆
Dua jam sebelumnya.
Di taman ini apakah ada hal yang menarik terjadi.
Aku berjalan lurus kedepan. Ketika aku berjalan aku melihat sesuatu yang menarik, akupun bersembunyi dan mengambik posisi pengamat.
Aku melihat seseorang memandang wanita yang sedang tidur di bangku taman dengan pandangan penuh nafsu.
"Kita lihat. Apa yang akan dia lakukan?"
Wanita itu bangun dengan cepat.
"Apa ini. Dia bukan wanita muda, dia Nenek-nenek."
Aneh sekali. Akupun mencoba menggunakan 'green eye' ku.
Green eye adalah kukuatan yang memungkinkan aku untuk melihat aura hijau yang berada disekitar tubuh seseorang.
Aura tidak bisa dilihat jika hanya menggunakan mata telanjang. Aku harus memfokuskan aura hijau yang berada disekelilingku kebagian mata agar aku bisa melihat aura hijau milik orang lain
Hanya saja aura dibagian wajahnya tidak setabil, maksudku jumlah aura hijau yang mengelilingi dirinya, dibagian tubuhnya aura hijau itu terlihat sama seperti aura hijau milik orang biasa, tapi wanita ini. Aura dibagian wajahnya sangat sedikit.
Mungkin hal itu yang membuatnya terlihat seperti Nenek-nenek, apa jangan-jangan dia sedang menyamar menjadi Nenek-nenek untuk menipu orang itu.
Bahaya aku harus menolongnya, Nenek ini mungkin saja dia adalah Nature. Seseorang yang sangat ahli dalam menggunakan aura hijau.
Punch!
"Sial aku terlambat, Nenek ini sudah memukulnya."
Eh bukannya tadi sebuah pukulan biasa.
"Ah Wanita itu marah, sepertinya aku terlalu melebih-lebihkannya. Dari seperti yang kuamati, sepertinya dia tidak tahu cara mengembalikan mukanya seperti semula."
Aku terus mengamati mereka hingga datang lagi satu orang pria, pria itu memegang bahu wanita itu dari belakang.
Wanita itu dengan cepat berpaling dan menendang alat kelamin pria itu.
"Aaaaaaaa. Ngilu!"
Pria itu kemudia jatuh pingsan.
Posisiku yang agak terlalu jauh membuatku hanya bisa mengamati tindakan mereka.
Akupun berusaha mendekat hingga aku bisa mendengar suara mereka.
"Hei kamu. Bantu aku mengangkatnya ke bangku."
"Kenapa aku haru-"
__ADS_1
"Sudah jangan perotes."
Sudah dekat, aku bisa mendengar pemrkataan mereka.
Mereka mengangkat orang yang pingsan itu ke atas bangku kemudian mereka berdua diduduk disamping orang yang pingsan itu.
"Maafkan aku untuk yang sebelumnya ya!"
"Oke, tidak apa."
"Coba saja kalian berdua tidak mencoba untuk memprank ku, maka dia tidak akan pingsan begini."
"Eh. Apa maksud mu Nek?"
"Bukannya kalian berkerja sama untuk menipuku?"
"Tentu saja tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya."
"Eh, berarti aku beneran Nenek-nenek?"
Dari perkataan mereka, sepertinya benar dugaanku bahwa Nenek ini bukanlah Nature. Sepertinya hanya aku terlalu berlebihan tadi.
Akupun kembali mendengarkan perkataan mereka.
"Eh... Tunggu... Ini tidak mungkin!"
Wanita itu mengeluarkan cermin kecil yang ada di kantong bajunya dan dia menatap ke arah cermin.
"A."
Sekejap setelah melihat ke arah cermin dia langsung berdiri dan melempar cerminnya hingga cermin itu pecah.
"Yah... Mari kita lupakan tentang yang sebelumnya terjadi." Wanita itu mengulurkan tangannya. Dia mengajak orang itu untuk bersalaman "Perkenalkan namaku Neka. Umurku duapuluh tahun ya, ingat. Duapuluh, duapuluh."
Neka ya, tunggu! Rasanya aku pernah mendengar nama ini tapi aku lupa. Kapan ya! Aku pernah mendengarnya.
Biarlah nanti juga aku akan mengingatnya sendiri.
Mereka berdua bersalaman.
"Tangan ini!"
Aku tidak percaya ini, pria itu sepertinya orang aneh, bagaimana bisa dia bersalaman dengan wanita itu dengan cara seperti ini.
Dilihat dari manapun dia seperti memikirkan hal yang menjijikan. Aku yakin itu.
"Anu... Bisa kau katakan namamu, hal ini membuat ku sedikit canggung!"
Sampai kapan kamu akan melepaskan tangannya hah?!
"Ah, iya... Perkenalkan namaku Riyad. Hehehe."
Hehehe palamu, dia yang berwajah Nenek-nenek saja bisa membuat orang itu begini, apalagi kalau dia sudah mengembalikan wajahnya menjadi muda, mungkin saja para pria bajingan itu akan langsung menerjangnya seperti orang gila.
Kalau aku tentu saja tidak akan melakukan hal seperti itu.
"Riyad ya, senang bertemu denganmu! Mulai sekarang silahkan panggil aku Neka saja ya."
"Ofu! Eh... Maksudku iya."
Hal ini sangat tidak benar, kurasa aku harus terus mengawasi si Neka ini hingga aku bisa mengingatnya.
__ADS_1