Nenek Sihir

Nenek Sihir
Episode 3


__ADS_3

Seketika Nenek seksi itu bangun dengan cepat. Bangun seperti orang yang bermimpi buruk dan berteriak.



"RENNNNAAAAAAAAAAAAA!" kata Nenek itu.



Pada saat itu si Nenek seksi terbangun dari tidurnya dan langsung mengambil posisi duduk.



"Ada apa Nek? Apakah nenek bermimpi buruk?" Tanyaku



"Tidak apa. Eh-siapa yang kamu panggil Nenek?!"



Nenek itu kelihatannya sedang kebingungan.



"Hah! Bukankah sudah jelas kalau yang aku maksud itu Nenek." kataku sambil menunjuk Nenek itu. "Ya, Nenek yang ada dihadapan ku."



Disini aku berusaha agar bersikap sesopan mungkin supaya aku terlihat seperti pemuda yang baik.



"K.. ka.. kamu! Kamu menghinaku ya?" Kata Nenek itu kepadaku sambil memberikan tatapan yang penuh dengan kebencian.



"Tidak Nek. saya tidak bermaksud menghina Nenek."



"Kamu..."



Tiba-tiba Nenek itu bangun dengan cepat dari bangku taman dan langsung memukul perutku.



"A.. AA.. AAAAAAAA!"



Akupun terjatuh ke tanah Sambil memegang perutku.



Baru pertamakalinya aku merasakan pukulan Nenek-nenek, apakah pukulannya memang sesakit ini? Aku sudah sengaja tidak menghindarinya, tapi tak kusangka pukulannya sangat kuat.



"S.... sakit Nenek!"



"Sudah kubilang siapa yang kamu panggil Nenek? Hah*" kata Nenek seksi itu dengan ekspresi yang penuh kebencian.



Jujur saja. Nenek ini lebih menakutkan dibandingkan pereman yang tadi.



Kemudian datang seorang pemuda yang kira kira seumuran denganku. Pemuda dengan rambut yang berwarna kuning memakai baju kaos yang ada tulisan bahasa asing mungkin itu bahasa Cina atau Korea, dia datang dari belakang Nenek itu dan langsung memegang pundak nenek itu dan berkata.



"Sudah-sudah hentikan perkelahian antar pasangan ini, kalian tahu ini adalah taman, tempat umum bukankah tidak bagus bertengkar disini? Kan." kata si rambut kuning itu dengan wajah yang penuh dengan keyakinan.



"Hah."



setelah mengatakan 'Hah' nenek itu kemudian menghadap ke arah orang itu.



Si rambut kuning itu saat melihat wajah Nenek yang pundaknya 'sekarang' sedang dia pegang membuat dia terkejut. Kemudian dia dengan cepat melepaskan tangannya dari pundak Nenek yang seksi.


__ADS_1


"Ah. Maaf Nenek saya tidak tahu kalau anda sedang menghukum cucu yang nakal, maafkan saya kalau menggangu. Hehehe."



"Hehehe dengkulmu! Jangan se enaknya memegangku."



Nenek itu pun berdiri dan langsung mengayunkan kakinya kebelakang. Hal yang tidak mengenakanpun terjadi, Nenek itu menendang alat kelamin orang itu.



"AAAAAAAAAAAAAAAAA!" Dia/Aku/Kamu.



Aku melihatnya dengan tepat dihadapanku, jangankan berada diposisi itu. Melihatnya saja sudah membuatku berteriak.



Kurasa dia harus mengucapkan 'selamat tinggal masa depan' atas hal yang baru saja dia alami.



Terdiam tanpa berkata apapun setelah alat kelaminnya ditendang, membuatku berpikir.



"Jangan-jangan dia..."



Tidak bisa di pungkiri si rambut kuning itu jatuh dengan perlahan, setelah jatuh tidak ada satu suara ataupun gerakan yang terlihat. Hal ini membuktikan bahwa dia 'pingsan seketika' setelah menerima tendangan itu.



"Kalian ini sepertinya buta ya! Bukankah kalian bisa melihat kecantikanku yang sesungguhnya." kata Nenek itu dengan bangga, mata Nenek itu melihatku kemudian dia mengibaskan rambut indahnya dihadapan ku.



Apanya yang cantik? Satu hal yang bisa kulihat disini adalah seorang Nenek-nenek memakai baju kekinian dengan tekstur badannya yang agak awet muda.



Aku yakin ketika membayangkan tubuhnya mungkin akan membuatku bahagia. Tapi... Apa ini, walaupun aku agak menyukai bentuk tubuhnya hal itu tidak akan membuatku untuk jatuh cinta kepada Nenek-nenek.



Sangat mengherankan kenapa Nenek ini tidak bisa menghadapi kenyataan bahwa sebenarnya dia itu adalah Nenek-nenek.




"Eh... Dia. Pingsan!" kata Nenek itu sambil menunjuk tubuh orang itu.



Nenek itu kebingungan, dia melihat ke arah ku dan si rambut kuning itu secara bergantian.



"Hei kamu. Bantu aku mengangkatnya ke bangku."



"Kenapa aku haru-"



"Sudah jangan perotes."



Karena takut akan pandangannya yang mengerikan, akupun menuruti keinginan Nenek itu untuk membantunya mengangkat si rambut kuning ini ke atas bangku.



Kami berdua pun dudu di bangku yang berada di samping bangku tempat si rambut kuning itu terbaring.



"Maafkan aku untuk yang sebelumnya ya!" Nenek itu membuka kembali percakapan dengan meminta maaf kepadaku, kata maaf yang Nenek itu ucapkan terdengar tulus. Sepertinya Nenek ini benar-benar menyesal.



"Oke, tidak apa." balasku



"Coba saja kalian berdua tidak mencoba untuk memprank ku, maka dia tidak akan pingsan begini." kata Nenek itu sambil menunjuk kearah si rambut kuning yang berada di sampingnya.

__ADS_1



"Eh. Apa maksud mu Nek?" tanyaku dengan heran.



"Bukannya kalian berkerja sama untuk menipuku?"



"Tentu saja tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya."



"Eh, berarti aku beneran Nenek-nenek?"



"Hah?"



Nenek itu mencoba menyentuh mukanya, setelah tangannya menyentuh pipinya dia menjadi panik.



"Eh... Tunggu... Ini tidak mungkin!"



Nenek itu mengeluarkan cermin kecil yang ada di sakunya.



Dia melihat ke arah cermin.



"A."



Sekejap setelah melihat ke arah cermin dia langsung berdiri, kemudian dia membanting cermin itu ke tanah.



"Yah... Mari kita lupakan tentang yang sebelumnya terjadi." Nenek itu menggerakan tangannya kearahku. Dia mengajakku untuk berjabat tangan. "Perkenalkan namaku Neka. Umurku duapuluh tahun ya, ingat. Duapuluh, duapuluh." *tersenyum.



Awalnya aku sedikit ragu, tapi aku pun mencoba menjabat tangannya.



Kami pun bersalaman.



Aku tidak habis pikir.



"Tangan ini!"



Walaupun wajahnya terlihat seperti Nenek-nenek tapi, aku sangat yakin bahwa tangan ini, tidak ini, tangan ini adalah perwujutan dari wanita yang cantik, memang terdengar seperti orang gila, tapi aku tahu bahwa ini sangat nyata. Kelembutan tangan ini. Sensasinya. Kalian tahun ada orang yang berkata 'tangan ini tidak akan aku cuci' aku berpikir bahwa mereka adalah orang gila. Tapi, aku yakin inilah saat-saat yang mereka maksud.



"Anu... Bisa kau katakan namamu, hal ini membuat ku sedikit canggung!" Kata Nenek itu, tidak. Kata Neka. Diapun menaruk tangannya.



"Ah, iya... Perkenalkan namaku Riyad. Hehehe." kataku sambil menggaruk kepalaku.



Apanya yang 'hehehe' aku mulai salah tingkah hanya karena berhadapan dengan Nenek-nenek.



"Riyad ya, senang bertemu denganmu! Mulai sekarang silahkan panggil aku Neka saja ya." katanya sambil tersenyum.



"Ofu! Eh... Maksudku iya."



Tidak! Ternyata aku memang benar-benar salah tingkah, terhadap seorang wanita yang berwajah Nenek-nenek.

__ADS_1




__ADS_2