
Siapa tadi? Namanya Wandy, 'kan! Aku tidak salah dengar bukan?
Dengan cepat aku mengambil Hadphoneku yang berada di saku kananku dan aku berusaha menelepon seseorang. Akupun mencari nomer telpon orang yang ingin aku hubungi.
"Ah, ini dia."
Akupun langsung menelepon orang itu.
Melihat tiga orang yang aku mata-matai berjalan akupun mengikuti mereka.
Aku mengikuti mereka bertiga sambil menunggu panggilanku di angkat.
Beeeef! Beeeeef! Beeeef! Beeftruk!
"Hallo ketua."
"Oh. Nero ya, ada apa?"
"Ah mereka..."
"Ada apa?"
Aku melihat mereka bertiga memasuki sebuah gang.
Akupun juga masuk ke dalam gang itu sambil mengendap-ngendap.
"Ah... Aku sampai lupa, ketua. Aku melihat Wandy anak orang itu, ternyata benar bahwa dia kabur dari rumahnya."
"Benarkah! Saat ini dimana dia?"
"Aku sedang mengikutinya melewati sebuah gang, aku sendiri tidak tahu ini dimana, yang pasti disekitar daerah sini ada taman."
"Hmm... Baiklah, aku beri kamu tugas ajak dia ke markas pada saat pertemuan tiga hari yang akan datang."
"Kenapa tidak sekarang Ketua?"
"Nero kamu tahu? Kalau keberadaan dia sekarang ini menjadi ancaman, yang pasti kamu ajak saja dia untuk ke markas nanti, tidak perlu melakukan kekerasan."
"Kenapa dia menjadi ancaman ketua? Aku masih belum paham."
"Saat ini dia di incar oleh keluarganya sendiri, sepertinya sedang ada perebutan harta, tapi karena semua hartanya di wariskan ke dia, makanya kerabatnya yang lain mengincarnya, Nero kamu sudah memastikan kalau dia Wandy yang asli apa tidak, soalnya banyak orang yang namanya Wandy."
"Sudah. Aku juga sudah lihat fotonya, itu memang dia."
Aku melihat ada seseorang yang berusaha menyerang mereka dari belakang.
"Oh, ini ternyata alasannya ya."
"Nero?"
"Ah, tidak apa-apa ketua, ada seseorang yang menyerang mereka bertiga."
"Bertiga? Jadi bukan hanya Wandy yang kamu ikuti."
Aku tersenyum ketika melihat orang yang kalau tidak salah namanya itu 'Riyad' mengeluarkan api hitam dari tangannya.
"Ah. Iya dia bersama dua orang temannya, salah satunya ternyata bisa menggunakan aura dan yang satunya lagi aku punya firasat kalau dia juga bisa menggunakan aura."
"Ya sudah kalau begitu kamu bantu mereka kalau mereka tidak bisa mengalahkan orang yang menyerang mereka."
"Ah muncul lagi satu orang."
Aku sekarang melihat mereka bertiga berhadapan dengan dua orang musuh, salah satunya yang menyerang mereka tadi dan yang satunya.
"Wanita."
"Nero! Nero kamu dengar?"
"Ah iya ketua."
"Pokonya kamu ajak mereka bertiga ke markas nanti agar Wandy tidak curiga, buatlah alasan agar mereka bertiga akan datang nantinya."
"Iya ketua barusan aku sudah tahu alasan apa yang tepat untuk mengajak Wanita itu."
Melihat wanita yang berwajah Nenek-nenek ini mengigatkanku pada Rena. Dan ternyata benar dugaanku kalau Wanita ini adalah Neka, sahabatnya Rena, untung saja aku tadi mendengar dia menyebutkan namanya, kalau tidak aku tidak akan tahu hal ini, Rena pernah menceritakannya padaku.
"Salah satu teman Wandy wanita?"
"Iya, tapi wajahnya keriput, bisa dibilang kalau dia adalah Wanita yang berwajah nenek-nenek, tapi dia bukan nenek-nenek, badanya seksi dan ah.... Susah menjelaskannya nanti ketua juga akan paham kalau melihatnya. Ah..."
Aku melihat kalau wanita berwajah keriput ini 'Neka' menggunakan aura biru, yang di wujudkan menjadi api.
"Yasudahlah, nanti ketika kamu dan mereka bertiga menuju ke markas pastikan agar tidak ada yang mengikuti kalian."
"Oke Ketua."
__ADS_1
"Baiklah aku tutup telponnya."
"Ahshiap ketua." kata ku sambil meniru Atta.
Aku melihat ketidak seimbangan dalam pertempuran, jelas sekali terlihat kalau musuh mereka kuat, walaupun teman Wandy bisa menggunakan aura tapi dia masih bisa dengan mudah dikalahkan.
Dan juga wanita berwajah keriput ini 'Neka' dia sepertinya termakan amarah hingga dia menggeluarkan bola api yang besar tanpa berpikir.
Wanita keriput itu pun melemparkan bola apinya sehingga membuat jalan berlobang karena bola apinya.
Sepertinya Wanita kriput ini kelelahan karena menggeluarkan bola api yang basar tadi.
"Keadaan mereka sepertinya terdesak."
Aku melihat orang yang bernama 'Riyad' itu sangat terdesak.
"Dia akan dibunuh."
Melihat hal itu, akupun kesana untuk membantu mereka bertiga, dengan menambahkan sedikit kecepatanku dengan mengalirkan listrik dibagian kakiku.
Dengan cepat aku menyerang orang yang sudah mengalahkan Riyad menggunakan jurus tendangan andalanku.
"BEAM KICK."
Beam Kick adalah sebuah tendangan yang dilapisi aliran petir yang banyak di tambah dengan kekuatan dari tendangan ku, ini tendangan yang sangat kuat.
Orang itupun terlempar.
◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆ ◇ ◆
Aku saat ini berada di sebuah tempat makan yang aneh bagiku.
"Bagaimana, ini restoran Jepang."
Aku duduk di hadapan Wandy, dan Riyad berada di sampingnya.
"Yah, aku tidak tahu tempat apa ini, tapi aku yakin makanan di sini sangat enak." Kata Riyad sambil mengacungkan jempolnya.
"Kenapa kita makan disini? Harusnya aku saja tadi yang memilih tempatnya." tanyaku.
"Tenang saja Neka. Coba saja rasakan masakan Jepang ini enak loh."
"Benar itu, ah..." kata Riyad sambil melihat buku menu.
"Permisi saya mesan Kari, air minumnnya Jus Alpukat ya." kata Wandy kepada seorang pelayan yang ada disampingnya.
Dia memesan tanpa melihat menu.
Kuharap ada Mie Ayam disini.
"Ah, apa ini?"
Aku menunjuk ke arah gambar sebuah Mie yang ditambahkan banyak toping.
"Oh Ramen, ini enak loh coba saja." *Wandy
"Baiklah Saya pesan Ramen mba, air minumnya es sirup manis ya."
"Oke Nek."
Pelayan ini buat aku naik darah saja, aku bukan nenek-nenek tahu. Kalau aku tidak menahan diri pasti dia sudah lari ketakutan sekarang.
"Permisi saya pesan Ramen, Kari, Chiken Karage, dan Chiken Katsu dengan minum Jus buah Naga." kata Riyad sambil mengangkat tangannya.
Banyak sekali dia makan, dasar tidak tahu malu.
"Baik, saya ulangi pesanannya ya dua Ramen, Dua Kari, satu Chiken Karage, satu Chiken Katsu, satu Jus Alpukat, satu Jus buah Naga, dan es sirup manis, apakah ada yang ingin di tambah?"
"Tidak." Aku/Riyad/Wandy
"Baiklah ada sesuatu yang akan aku sampaikan pada kalian." *Wandy
"Apa itu?"
"Aku sebenarnya sedang karbur dari rumah, karena ayahku baru saja meninggal seminggu yang lalu."
"Kenapa kau kabur?"
"Karena surat Wasiat ayahku yang dibawakan oleh temannya dua hari setelah kematian ayahku, menyatakan kalau semua hartanya di serahkan kepadaku dan tidak diberikan sepeserpun kepada ibuku dan adik ku, hanya untukku."
"Hah apa maksutnya?"
"Artinya dia mendapatkan uang yang banyak." kataku kepada Riyad.
__ADS_1
"Tak kusangka orang yang memakai jas hitam keren ternyata tidak paham apa yang aku katakan."
Wandy menyindir Riyad.
"Mau bagaimana lagi inikan pakaian kerjaku."
"Baiklah akan aku lanjutkan, ibu dan adik ku tidak terima akan hal itu dan mereka menentangnya, sebenarnya aku bisa memberikan mereka sebagian harta warisan yang aku dapatkan, tapi ibuku menolaknya. Sedangkan adikku ingin menguasai pekerjaan ayahku, makanya dia tidak ingin harta. Kemudian Ibuku berkerja sama dengan pamanku untuk membunuhku agar harta warisan itu berpindah tangan."
"Ooh... Begitu."
Makanan yang kami pesan akhirnya datang.
"Ini pesanannya maaf karna lama."
"Ah tidak apa-apa, silahkan berikan ke dia dulu ya." kataku sambil menunjuk ke arah Riyad yang terlihat sangat kelaparan.
"Terima kasih Nek... Ka."
"Hei kau sengaja memotong nama ku kan tadi."
"Baiklah akan aku lanjutkan, aku menyadari kalau ibuku bekerja sama dengan pamanku ketika pamanku datang ke rumahku pada saat pembacaan surat wasiat itu, aku melihat ibuku dan juga paman memandang aneh ke arahku, memahami hal itu aku sadar akan bahaya yang akan mengancamku akupun kabur dari rumah, ternyata pilihanku untuk kabur ternyata benar, sejak aku kabur banyak sekali percobaan pembunuhan yang menghampiriku dan yang paling sulit untuk ku hadapi adalah orang yang kalian lawan, mereka berbeda daripada pembunuh sebelumnya."
Makanan yang aku pesan sudah datang.
"Ini dia Ramen, Kari, Chiken karage dan minumannya, pesanannya sudah lengkap, 'kan?"
"Iya, sudah lengkap semua."
Melihat Riyad yang makan dengan lahap dari tadi juga menbuatku tambah lapar.
"Silahkan dilanjutkan ceritanya." kataku kepada Wandy.
"Oke, saat ini sudah lima hari sejak aku meninggalkan rumahku--"
"Berarti apakah artinya ayahmu orang yang sangat kaya?" *Riyad
"Benar, maka dari itu saat ini aku masih kabur jadi aku akan tinggal di rumahmu Riyad."
"Hah, mustahil, aku tidak punya rumah, ke adaanku saat ini aku juga kabur dari bosku, jadi aku tidak akan kembali ke tempat mengerikan itu, sudah seminggu sejak aku kabur."
"Heh, jadi kau juga kabur ya, berarti hanya rumah Neka saja yang menjadi tempat bagi kita."
"Hah... Tidak." kataku sambil mengambil makanan yang aku pesan.
Akupun memandang Ramen itu. Apakah ini lebih enak dari Mie ayam atau tidak.
Glek!
Aku mencoba memakan Ramen itu.
"Tolong Neka! Tolong jadikan rumah mu sebagai markas kita dalam tiga hari kedepan." *Wandy
Aku menghiraukan perkataan Wandy dan fokus ke Ramen.
Akupun mulai memakan Ramen.
"Ini..."
Apa-apaan rasa ini, kaldunya yang kental serta toping jamurnya yang enak di tambah daun bawang membuat rasanya padu.
Ramen ini rasanya seperti membawaku kembali ke alam yang hijau dipenuhi dengan berbagai tumbuhan dan hewan.
Aku mencoba memakan ayam kentucky.
"Apa ini?"
"Ah itu Karage." balas Wandy.
"Yah... Lumayan enak juga."
"Neka. Kenapa kamu tidak ingin kami berdua tinggal dirumahmu?" *Riyad
"Kalian tahu, sebenarnya aku baru sadar kalau hari ini mukaku berubah menjadi Nenek-nenek, jadi kalau ibu kos nanti melihatku dia tidak akan percaya, jadi itu tidak mungkin." kataku sambil menikmati ramen yang enak ini.
Ramen juga enak ya, walau tidak sebanding dengan Mie Ayam.
"Seperti tidak ada pilihan lain ya, baiklah aku akan pulang, kalian juga bisa tinggal di rumahku." *Wandy
"Bukankah itu berbahaya?" *Riyad
"Tidak apa-apa aku sudah punya rencana, setelah ini kita akan ke rumahku, jadi cepat habiskan makanannya." *Wandy
Wandypun mulai memakan makanannya.
__ADS_1