
Setelah selesai makan kamipun berjalan keluar dari restoran itu.
"Hoahh... Kenyang! Kenyang!" kata Riyad sambil menguap.
"Kalau bisa harusnya kau menutup mulut mu ketika menguap." saranku.
"Baiklah, akan ku coba nanti. Jadi kita akan kemana Wandy?" tanya Riyad.
"Ah... Kita akan pergi ke rumahku." sahut Wandy.
"Jadi kita akan berjalan kesana?" *Riyad
"Tentu saja tidak, aku sendiri tidak ingin melakukan perjalanan yang jauh. Jadi apakah diantara kalian berdua ada yang memiliki Handphone?" *Wandy
"Kalau aku tentu saja tidak punya." kata Riyad, setelah itu dia menatapku.
"Aku juga tidak memilikinya."
"Sudah kuduga! Mana ada nenek-nenek yang memiliki Han--... Aduh!"
Riyad menunduk memegang perutnya tepat setelah aku memukulnya.
"Kalau begitu perhatikan baik-baik."
Wandy menatap ke samping kanan dan kiri secara bergantian. Hingga dia melihat seseorang yang berjalan. Wandypun kemudian menghampirinya.
"Permisi mas... Punya Handphone? Kalau punya boleh aku pinjam?"
"Tidak! Kenapa aku harus meminjamkan Handphoneku kepada orang yang tidak aku kenal?"
"Ah... Tenang saja aku bukan penjahat kok." kata Wandy yang sedang memasukkan uang kedalam saku baju orang itu.
"Kurasa kamu memang bukan orang jahat, nah, ini dia silahkan." kata orang itu, diapun memberikan Handphonenya ke Wandy dan langsung memeriksa saku bajunya.
Wandypun mencoba menghubungi seseorang.
"Bukankah kita baru saja melihat realita kehidupan?" kata Riyad sambil berbisik.
"Aku tidak paham apa yang kau maksud, tapi kurasa aku setuju."
"Ah, diangkat... Maron. bisa kamu jemput aku di depan Restoran Jepang yang biasa aku kunjungi?"
Wandy menutup teleponnya kemudian dia mengembalikan telepon itu.
"Terima kasih ya! Sudah selesai, kamu sekarang bisa pergi." kata Wandy sambil tersenyum.
"Ah... Tidak! Saya juga terima kasih."
Orang itupun pergi.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Riyad.
"Tinggal menunggu saja, sekitar limabelas menit menurutku."
Tidak lama kemudian datang sebuah mobil hitam mewah yang berhenti tepat didepan kami bertiga.
Dari mobil itu keluar seorang pria tua dengan pakaian ala pelayan yang rapi, dia berhenti tepat didepan kami.
Dia menunduk dengan tangan kanan yang memegang dadanya.
"Tuan Wandy! Sekarang jam tigabelas lewat empatpuluhdua menit."
"Baiklah, silahkan berdiri Maron."
"Baik Tuan muda... Eh, Tuan."
"Panggil aku sesukamu Maron. Dan juga perkenalkan mereka berdua adalah teman baruku, yang pria namanya Riyad dan yang wanita namanya Neka." kata Wandy yang menunjuk kami berdua secara bergantian.
"Ah... Hai aku Riyad."
"Salam... Saya Neka."
"Neka! Riyad! Perkenalkan ini Maron pelayan pribadiku."
"Kalau pelayannya saja seperti berpakaian rapi seperti itu kenapa tuannya mamakai pakaian biasa." bisik Riyad.
"Aku tidak tahu, tapi, jika dilihat dari penampilan pelayannya sepertinya Wandy benar-benar orang kaya."
Ehem!
"Ayo kita berangkat." kata Wandy sambil berjalan menuju mobil.
Maron kemudian membukakan pintu mobil sambil menunduk.
__ADS_1
"Silahkan Tuan!"
Wandypun memasuki mobil.
"Kalian berdua juga, silahkan masuk."
"Oke." *Riyad
Aku dan Riyadpun memasuki mobil.
Ketika berada di dalam mobil udara menjadi dingin, pengharum mobil yang menenangkan tercium, walaupun aku tidak tahu jenis pengharum yang di pakai mobil ini, tapi aku yakin kalau pengharum ini memiliki kualitas yang sangat bagus.
"Wah segar sekali ya." kata Riyad sambil mengendus aroma mobil ini.
Mobil yang kami naiki mulai berjalan.
Bagiku dia terlihat seperti orang kampung, walaupun aku tidak pernah naik mobil mewah seperti ini, tapi meski begitu aku masih bisa menjaga sikap.
Sepertinya bukan hanya aku yang menjaga sikap. Wandy sepertinya juga sedang menjaga sikapnya karena dari tadi dia tidak banyak berbicara.
"Benar sekali, segar bukan!" kata Wandy sambil meniru Riyad.
Ku tarik kembali perkataanku yang tadi, dia memang tidak sedang menjaga sikapnya.
Tak lama kemudian terlihat sebuah rumah mewah yang berwana putih, rumah itu terlihat seperti istana. Mobil yang kami naiki menuju ke rumah itu. Ketika memasuki pintu pagar, terlihat halaman rumah yang sangat luas.
Di jalan menuju rumah itu terlihat ada air mancur yang berada di tengah jalan, hal itu membuat jalan terbagi menjadi dua.
Di samping kiri halaman rumah itu terlihat kebun bunga yang luas, di sebelah kebun bunga itu ada sebuah kolam ikan yang lumayan besar, walaupun dari jauh, ikan yang ada di dalam kolam masih bisa terlihat.
Bagian kanan halaman rumah itu sangan berbeda dengan bagian kirinya, ada lapangan sepak bola yang besar, dan beberapa lapangan olah raga seperti basket dan voli, juga terlihat sebuah arena pertarungan terbuka berbentuk bulat.
"Mungkin hanya perasaanku, apakah itu arena pertarungan?" tanya ku sambil meragukan arena bulat itu.
"Iya, adik ku sering memakainya untuk latihan." jawab Wandy.
Ketika sampai didepan rumah, pintu rumahpun terbuka, keluar sekelompok pelayan wanita yang berbaris di samping kiri dan kanan. Kemudian ada seorang pelayan wanita yang berjalan menghampiri mobil.
Si pelayan tua (Maron) yang berada di mobil langsung keluar dan langsung membukakan pintu mobil.
"Silahkan Tuan."
"Selamat datang kembali Tuan Wandy." kata pelayan wanita yang menghampiri kami.
"Perkenalkan mereka berdua adalah temanku, Neka dan Riyad. Mulai sekarang mereka akan tinggal disini, jadi perlakukan mereka dengan baik."
"Baik tuan!"
"Wah... Cantik sekali! Pelayan di sini sangat berkelas, jika aku tingal di sini selamanya, pasti hatiku akan senang."
"Kamu bisa berkata begitu karna belum menjalaninya Riyad."
"Baiklah aku akan menjalaninya."
Ntah kenapa prilaku Riyad membuat ku jadi agak malu.
"Riyad. Sebaiknya kamu jaga ucapanmu, nanti kamu akan menyesal!"
Muka ceria Riyad menjadi cemberut ketika mendengar perkataanku.
"Baik! Nek... Ka." jawab Riyad dengan nada yang membosankan.
Saat ini keluar seorang wanita dari dalam rumah, hal itu membuat para pelayan mulai menunduk.
"Ibu..."
"Hah?"
Melihat wanita itu membuatku kesal, tidak tahu kenapa, tapi aku yakin kalau wanita ini adalah tipe orang yang sangat ku benci.
Wanita itu menghampiri Wandy.
"Selamat datang kembali Wandy! Kemana saja kamu lima hari ini? Kamu membuat aku khawatir Wandy." kata wanita itu sambil sengusap air matanya.
"Perkenalkan mereka berdua teman baru ku, yang ini Riyad dan yang ini Neka."
Wandy kembali memperkenalkan kami berdua.
"Oh... Riyad dan Neka. Terima kasih sudah menjaga Wandy ya!" kata wanita itu sambil tersenyum.
Ketika aku melihat senyum itu, aku yakin kalau senyuman itu di penuhi sandiwara.
__ADS_1
"Neka. Riyad. Ini Ibuku, lebih jelasnya Ibu tiriku."
"Ah... Hai!" kata Riyad sambil tersenyum.
"Kakak!"
Tiba-tiba terdengar suara 'Kakak' yang membuat semua orang yang berada di tempat itu menengok ke arah sumber suara.
Terlihat seorang pria muda dengan pakaian pelaut, pria itu kemudian menghampiri Wandy.
"Kakak!" kata pria itu sambil melepas sarung tangannya dan kemudian dia melemparkannya ke arah Wandy. "Kamu tahu kan artinya ini, 'kan Kak?"
Melihat itu Wandy terdiam sejenak.
"Aku menolaknya." kata Wandy.
"Heh... Apa yang terjadi? Aku tidak paham dengan apa yang sedang mereka lakukan." tanya Riyad sambil berbisik kepadaku.
"Ntahlah, aku juga tidak paham."
"Itu adalah tantangan, orang luar pada jaman dulu melemparkan sarung tangan yang mereka pakai jika ingin menantang orang tersebut." kata Maron yang menghampiri kami ketika dia mendengar pertanyaan Riyad.
"Ooh... Jadi begitu, seperti yang aku lihat jadi dia adalah adiknya Wandy. 'kan?" Kata Riyad sambil menunjuk pria itu.
"Iya, dia adalah adiknya Tuan Wandy. Tuan Sandi. Itulah namanya."
"Heh... Apakah dia pelaut?" Riyad kembali bertanya kepada Maron.
"Tidak. Saya sendiri juga tidak tahu kenapa beliau memakai pakaian itu."
"Aku tidak terima kalau kakak yang meneruskan bisnis ayah, jadi kita akan melakukan duel, siapa yang lebih pantas untuk meneruskannya."
"Maka dari itu aku menolaknya, kau tahu Sandi? Seorang pemimpin itu harus tenang dan tidak termakan emosi, jadi aku tidak akan menerima tantangan mu."
"E... Sudah kuduga kakak tidak akan menerimanya, tapi, aku masih mempunyai senjata rahasia, agar kakak mau menerima tantanganku."
"Terserah apa itu, aku tidak peduli." Wandypun berjalan menuju rumah. "Ayo! Neka. Riyad. Tidak ada gunanya berlama-lama di luar sini."
"Baiklah... Kamu yang meminta aku untuk menggunakannya kak." kata Sandi sambil mengepal tangannya.
Aku dan Riyad hanya diam dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenarnya hal apa yang akan adiknya lakukan agar Wandy menerima tantangan darinya?
Pertanyaan itulah yang muncul di pikiranku.
"KUREMI ITU LO***! WAIFU KOK LA****!" teriak adik Wandy dengan keras.
"APA!" Wandy yang tadinya ingin memasuki rumah mendadak berpaling dan menghampiri adiknya.
"Hah?" aku dan Riyad sama-sama terkejut.
"BAIKLAH KALAU KAMU YANG MINTA, OKE! AKU AKAN MELAWANMU." kata Wandy sambil menunjuk dada adiknya. "DAN YANG PASTI. AKU AKAN MENANG, INGAT ITU."
"Dia tadi bilang tidak akan termakan emosi, tapi kenapa dia jadi emosi karena kata-kata itu." bisik Riyad kepadaku.
"Diam! Aku juga tidak tahu kenapa dia marah hanya karena kata-kata itu."
Huh!
Wandy menghela nafas untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah, kita akan bertanding tigapuluh menit lagi, jadi siapkan dirimu, jangan meremehkanku karena aku tidak menguasai teknik bertarung, dan juga jangan kasihan padaku. Kalau kamu mengabaikan peringatanku ini, maka sudah jelas aku yang akan menang nantinya." setelah mengatakan hal ini Wandypun berbalik dan pergi.
"Sepertinya adiknya sendiri terkejut dengan perubahan sikap kakanya." kata Riyad.
"Yah... Kurasa begitu."
"Mina. kamu tunjukkan kamar Riyad dan Neka."
"Siap Tuan!" sahut pelayan wanita yang berada di dekat ku.
"Dan juga, Maron. Kamu ikuti aku." Wandypun berjalan memasuki rumahnya dengan ekspresi yang menunjukkan kalau dia sangat kesal.
"Baik Tuan!"
Melihat Wandy yang berjalan masuk kedalam rumah Maronpun mulai mengikutinya.
"Silahkan Tuan Riyad dan Nyo... Nen... Eh." kata Mina dengan bingung.
"Panggil aku Neka saja, tidak perlu sopan, karena kita seumuran."
"Eh? Baik...Nek... Neka! Silahkan ikuti saya."
__ADS_1
Kamipun berjalan mengikuti Mina.