
SWOOOOOOSSSSSSSSHHHHHHHH!
Tiba-Tiba sebuah tendangan yang dilapisi petir kuning mengenai kepala Kmaks.
"Kick Beam!"
Tubuh Kmakspun terlempar. Kakinya mencoba untuk menahan tubuhnya sekuat tenaga tetapi yang dia lakukan sama sekali tidak berpengaruh. Tubuhnya terlempar dengan cepat hingga menabrak tembok.
Tembok itu hancur dan meninggalkan sebuah lubang, ditengahnya ada Kmaks yang tertimbun batu bata.
"LAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNN!" teriak Tifa dengan keras sambil berlari ke arah Kmaks.
"Wow! Jauh sekali, apakah dia mati?" kata Wandy yang meletakkan tangan kanannya di atas alisnya.
"Sepertinya tidak, orang seperti dia tidak akan mati semudah itu, tapi, mungkin dia akan memerlukan perawatan dirumah sakit." *Petir Kuning
Wandy dan Petir Kuning berjalan mendekati tubuh Kmaks.
Tubuh Kmaks perlahan bergerak.
"Lan! Kamu masih hidup ya." *Tifa
"Benar bukan dia masih hidup, aku tahu itu." kata Petir Kuning Dengan wajah yang sangat yakin.
"Kuat juga ya dia, jika dia manusia biasa pasti dia sudah mati." *Wandy
Tubuh Kmaks dengan perlahan berdiri. Dengan badan yang sempoyongan Kmaks berhasil berdiri.
"Kau..." *Kmaks
Emosi Kmaks mengalir, terlihat sebuah senyuman terukir di wajahnya, entah itu senang atau rasa yang lainnya.
Melihat hal itu Wandy perlahan mundur.
"Tenang. Aku masih bisa menghadapinya." *Petir Kuning
Kmaks mengambil langkah pertamanya, sebuah langkah yang sangat berat, disekitar tubuhnya keluar aura yang berat. Satu langkah saja memberi tekanan yang hebat.
Tekanan aura, aura itu keluar karena sebuah tekat, aura yang keluar karena rasa tidak ingin kalah dari orang lain, sebuah aura yang dipenuhi emosi.
Rasa takut akan keluar secara alami apabila seseorang sedang menghadapi tekanan aura yang hebat.
Tapi disini ada hal yang sangat membingungkan, dari ketiga orang yang berada di dekat Kmaks hanya Tifa saja yang merasakan tekanan aura ini.
Alasan Wandy mundur ialah untuk menjaga jarak, bukan karena tertekan oleh aura Kmaks.
Kmaks mulai mengambil langkah kedua, tetapi pada saat itu juga tubuhnya terjatuh, Kmaks berhasil di kalahkan dengan sekali serang oleh Petir Kuning.
Melihat hal itu Tifa langsung mengangkat Kmaks dan mulai merangkulnya.
"Kami sudah kalah, jadi biarkan kami mundur." kata Tifa dengan nada pasrah.
"Silahkan!" *Petir Kuning
"Dozo!" *Wandy
Tifa kemudian membawa Kmaks, mereka berdua dengan cepat menghilang.
"Yah untung saja kalian selamat." *Petir Kuning
__ADS_1
Wandy menghiraukan Petir Kuning kemudian berjalan menghampiri Riyad dan Neka.
Wandy menghampiri Riyad terlebih dahulu dan langsung merangkulnya kemudian dia membawanya ke pinggir jalan. Setelah itu Wandy menyandarkan Riyad di bawah pohon.
Wandy juga menghampiri Neka yang sedang berdiri sambil terengah-engah, kemudian Wandy merangkul Neka dan membawanya ke bawah pohon dan menyandarkannya di samping Riyad.
Neka yang baru saja bersandar dibawah pohon menanyakan sesuatu pada Wandy.
"Wandy! Bagaimana kamu tahu jika aku memiliki kekuatan untuk menghadapi wanita yang tadi, aku tidak pernah memperlihatkan kekuatanku pada mu, benar kan?"
"Yah, sebenarnya ketika kita pertama kali bertemu aku menyadarinya, kau ingat ketika kau menendang ot*ng ku, saat itu aku tahu bahwa gerakan yang kamu pakai bukan gerakan yang sembarangan, aku pikir mungkin kamu menguasai tekhnik bela diri, walaupun aku tidak menyangka bahwa kamu bisa menggunakan api, bukankah itu keren." kata Wandy dengan wajah yang antusias.
"Jadi begitu ya." *Neka
Uhuk! Uhuk!
"Jadi dia yang kamu tunggu ya?" *Riyad
"Hah, dia! Tentu saja tidak." kata Wandy sambil menunjuk ke arah Petir Kuning. "Dan juga siapa kamu?"
"Hah, jadi bukan dia, lalu untuk apa aku mengulur waktu." *Riyad
"Kau tahu, sebenarnya aku tidak mempunyai rencana apapun untuk mengalahkan mereka, awalnya aku hanya mencoba mengecoh mereka agar mereka tidak fokus dan kalian berdua bisa mengalahkan mereka dengan mudah." *Wandy
"APAAAAAAA! Jadi kamu berniat membunuh kami ya." *Riyad
"Tentu saja tidak, buktinya kalian bisa selamat, karena 'keberuntungan' jadi bersukurlah, kita adalah teman sehidup semati, makanya aku tidak kabur ketika kalian melawan mereka berdua." *Wandy
"Sudahlah, kalian tidak perlu mempermasalahkan hal yang kecil, yang terpenting kalian sudah selamat sekarang." *Petir Kuning
"Bukannya dari awal sudah kotor." sahut Wandy. Eh! jawab pertanyaanku siapa kau?" tanya Wandy. Wandypun menatap curiga kearah Petir Kuning.
"Perkenalkan namaku Nero aku dari 'Destroyer of Darkness' aku disini ingin mengajak kalian berdu... Ah bertiga untuk datang ke markas kami." *Nero
"Apa itu Destroler of Darkness?"*Neka
"Yang benar itu Destroyer of Darkness! Destroyer of Darkness adalah sebuah organisasi yang bertujuan untuk menghancurkan pasar gelap." *Nero
"... Oh." Sebuah tanggapan yang membuat kesal para pria di ucapkan oleh Neka.
"Satu hal yang ku mengerti, kau bohong! Namamu pasti bukan itu." *Wandy
"Kenapa aku harus bohong? Namaku memang itu." *Nero
"Tidak, tidak, pertama Kick Beam! Sekarang kau bilang namamu Nero. Itu adalah hal yang sangat tidak bisa diterima, satu hal yang kutahu, kau pasti wibu akut yang tidak bisa mewujudkan keinginannya, kemudian kau menamai jurusmu dengan nama itu setelah itu kau juga mengganti namamu agar terdengar keren kan." *Wandy
Note:Wibu adalah sebutan untuk orang yang sangat menyukai negara Jepang, bukan hanya dari segi anime, namun budaya jepang itu sendiri.
"Lagi-lagi kalian mempermasalahkan hal yang sepele." *Neka
"Nama seranganku dan namaku adalah pemberian temanku, karena dari awal aku tidak mempunyai nama. Ini serius aku tidak bohong." *Nero
"Untuk saat ini aku masih tidak bisa menerimanya, tapi aku akan mengabaikannya sementara ini. Jadi apa tujuanmu? Kamu pasti memiliki tujuan bukan, karena sudah menolong kami." *Wandy
"Seperti yang aku bilang sebelumnya aku ingin mengajak kalian datang ke markas Destroyer of Darkness dalam tiga hari mulai dari besok." *Nero
"Apa yang akan membuat kami bertiga akan menyetujuinya?" *Neka
__ADS_1
"Pertama, Wandy jika kamu datang ke markas kami, kamu bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi satu minggu yang lalu." *Nero
"Hmm... Lumayan menarik. Tapi aku tidak akan kesana jika aku sendiri. *Wandy
"Maka dari itu aku mengajak kedua temanmu. Neka dan Riyad. Walau kalian masih kurang kuat aku yakin kalian bisa melindungi wandy." *Nero
"Tidak, aku menolaknya, aku mempunyai hal yang lebih penting dari pada ini." *Neka
"Rena." *Nero
Setelah mendengar nama itu Neka terkejut.
"Dari mana kamu tahu nama itu?" *Neka
"Mudah saja, Rena adalah salah satu anggota 'Destroyer of Darkness' jadi jika kamu ikut, kamu bisa bertemu dengannya." *Nero
Mendengar hal ini Neka kemudian menunduk.
"Jadi hanya aku yang tidak memiliki alasan untuk datang kesana ya." *Riyad
"Tidak, kamu akan tetap kesana, karena kamu tidak memiliki tujuan." *Nero
"Kamu orang yang cukup berani ya, aku bisa saja berbalik menjadi musuh mu." Wandy mengeluarkan sebuah ancaman.
"Jika dilihat dari sikapmu kurasa itu tidak akan terjadi, apalagi setelah kejadian tadi." *Nero
"Aku akan ke markas Destroyer of Darkness jika kalian berdua kesana." Wandy menatap Riyad dan Neka
"Kurasa aku akan ke sana, tentu saja tujuanku adalah Rena." *Neka
"Karena aku tidak memiliki tujuan jadi, kurasa aku akan ikut dengan kalian." *Riyad
"Berarti sudah diputuskan, kita akan bertemu ditaman tempat kalian bertiga bertemu dalam tiga hari lagi mulai besok." *Nero
"Hei, bagaimana kamu tahu bahwa kami tadi bertemu ditaman, apakah kamu meng---" *Wandy
"Yah... Kurasa peranku habis sampai disini jadi sampai jumpa lagi." *Nero
Setelah memotong perkataan Wandy. Neropun langsung pergi.
"Dia itu, pasti memata-matai kita." kata Wandy dengan nada kesal. "Jadi selanjutnya apa yang akan kita lakukan?" tanya Wandy kepada Neka dan Riyat.
Gruuukkk! Gruuuukkk!
"Yah kurasa kita akan melanjutkan tujuan kita sebelumnya, kita akan makan bersama, tentu saja aku yang akan mentraktir kalian sebagai permintaan maafku, jadi niat Neka yang tadi kita batalkan saja, untuk tempatnya aku yang akan memilih, di sekitar sini ada sebuah rumah makan, kalian bisa makan apa saja sepuasnya." *Wandy
"Benarkah?" tanya Riyad dengan antusias.
"Tentu saja, aku juga akan menjelaskan sesuatu disana nantinya." *Wandy
"Baiklah mengigat apa yang terjadi pada ku, aku sudah memutuskan akan menguras uangmu, karena aku juga sudah sangat lapar." Riyad
"Silahkan, makanlah sepuasnya!" *Wandy
"Kalian, ayo cepat, jangan membuang waktu lagi." kata Neka yang entah kapan dia sudah berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Wandy dan Riyad.
"Ingat kita akan makan di rumah makan pilihanku." *Wandy
__ADS_1
Wandy dan Riyadpun berjalan menyusul Neka.