Not (So) Little Dream

Not (So) Little Dream
Prolog


__ADS_3

Hari ini seperti biasa. Aku masih harus berkutat di depan layar komputerku padahal jam sudah menunjukan pukul 9 malam. sementara jam kerjaku hanya sampai jam 4 sore. Tapi demi sebuah kata Profesionalitas aku masih harus rela menghabiskan waktuku di kantor. Aku harus masih menyiapkan dokumen yang minggu depan harus aku bawa dalam rapat pengajuan proposal kerja sama dengan salah satu perusahan dari Dubai corporation.


Perusahaan tempat aku bekerja bergerak di bidang elektronik dan sedang mencoba mengembangkan sayap perusahaan di bidang tambang minyak bumi. Oleh karena itu perencanaan dan sistem kerja yang akan perusahaan kami tawarkan harus benar-benar matang. Di tambah lagi atasanku memberi tanggung jawab penuh padaku untuk mengurusi segala keperluan kerja sama ini, karena beliau sedang fokus mengurus keperluan untuk pernikahannya dengan teman baikku.


Saat tengah sibuk menyunting proposal yang minggu depan harus aku presentasikan. Konsentrasiku haru pecah karena sebuah nada dering menggema yang dari ponsel pribadiku yang tergeletak di atas meja. Sembari terus tanganku menari di atas keyboard, mataku menilik sekilas layar ponselku.


Arsh. Nama pemanggil yang tertera di layar ponsel. Ku hentikan aktivitasku. Aku raih ponsel yang tergeletak dan segera menggeser layar. Panggilan pun tersambung.


"Kamu di mana Lan?" tanya seseorang dari ujung telepon.


"Aku masih di kantor." jawabku singkat.

__ADS_1


"Ya ampun. Ini udah jam berapa Lani." Sahutnya kembali dengan nada terkejut.


"Ini tugas kan dari calon suami kamu." Sambungku lagi.


"Kamu sih ngasih tugas gitu banget. ini udah jam berapa coba." terdengar sebuah perdebatan kecil di ujung telepon dari pemilik suara yang sebelumnya berbicara denganku. Yang tak lain adalah Arshita. Sahabatku.


"Aku gak minta dia lembur Arsh." terdengar suara pembelaan dari seorang laki-laki di sana.


"Kesinikan teleponnya." Terdengar percakapan keduanya.Dimana si pria hendak mengambil alih ponsel. "Hei, aku kan tidak menyuruhmu kerja sampai selarut ini."


Aku spontan terkikih mendengar kalimat yang atasanku katakan dengan nada kesal itu.

__ADS_1


"Masih bisa tertawa kamu." Ujarnya lagi. "Aku cuma menyuruh mu mempersiapkan segala keperluan dengan baik. Proposal juga sudah selesai. Lantas kenapa masih di kantor?"


Aku masih tertawa kecil mendengar ocehannya. "Kalian ini benar-benar pasangan yang cerewet. Katakan pada Arsh sebentar lagi aku pulang. Aku bercanda tentang kamu yang menyuruhku lembur."


"Kamu sungguh mencemarkan nama baikku di depan calon istriku." Protes atasanku yang sekaligus temanku itu. "Bilang saja kamu sengaja lembur supaya bisa berduaan dengan security baru yang tugas jaga malam di kantor kita. Iya kan?"


"Sembarangan sekali mulutmu itu Aryan." Protesku kesal.


"Sudahlah jangan berkila. Kalau perlu mulai besok aku akan memintanya menjadi pengawal pribadimu. Biar kamu tidak kesepian di apartemen mu." Aryan yang kini berbalik menggodaku.


"Ah sudahlah. Omongan dari mulutmu lama kelamaan tidak ada yang bermakna. Aku mau bersiap-siap untuk pulang dulu."

__ADS_1


Sambungan telepon sudah ku putuskan. Aku membereskan sisa pekerjaanku dan bersiap untuk pulang. Aku berjalan ke halaman parkir menuju ke arah mobil Mercedes Benz silver yang terparkir sendiri tanpa ada mobil lainnya lagi. Segera aku melaju meninggalkan kantor untuk kembali ke apartemenku. Tubuhku mulai terasa lelah. Beberapa kali aku membunyikan leherku karena dia mulai terasa kaku. Di tengah kelelahan, aku membayangkan sesampainya di apartemen aku ingin berendam air hangat di dalam bath up sambil menyalakan lilin aroma terapi dan mendengarkan musik favorit sepanjang masa miliknya boyband yang berasal dari negara dimana sekarang aku sedang mencari nafkah.Blue, yang bertajuk best in me. membuatku menekan pedal gas, menambah kecepatan laju mobil agar segera tiba di apartemen.


__ADS_2