Not (So) Little Dream

Not (So) Little Dream
BAB 6


__ADS_3

Moodku benar-benar rusak. aku sama sekali tidak bersemangat untuk menanggapi atau sekedar memberi opini pada pembahasan pernikahan Arsh dan Aryan. Beberapa kali mereka bertanya tentang opini ku untuk tema pernikahan kedua sahabatku itu.


"Lan, kamu sakit? kenapa diam saja?" tanya Ibu Zoonira yang duduk di antara aku dan Zayed.


Aku yang sedari tadi lebih banyak tertunduk bermain dengan ponselku, akhirnya mengangkat kepala dan mengarahkan pandanganku ke arah Ibu Zoonira yang berada tepat di sebelah kiri ku.


"Aku hanya sedikit lelah Bu." Aku memaksakan senyumku. Meskipun sulit sekali rasanya untuk tersenyum dengan tulus ketika mataku secara tidak sengaja melihat Zayed yang tersenyum seolah mengejekku.


"Kasihan anak Ibu. Aryan, kenapa kamu membuat Lani bekerja sangat keras?" ujar Ibu Zoonira sembari mengusap-usap rambutku.


Aryan tertawa kecil sembari berkata. "Bertahun-tahun dia bekerja denganku, apa Ibu pernah lihat dia selelah dan semuram ini. Jangan Ibu tanyakan padaku, coba Ibu tanya pada calon suaminya itu.


"Hah? calon suami? calon suami yang mana?" aku mencoba mencerna perkataan Aryan. Kalimatnya membingungkanku. Calon suami yang mana? pacar saja aku tidak punya.


Tiba-tiba Ibu Zoonira melepaskan tangannya dari kepalaku. Kini dia merubah arah duduknya menghadap ke arah Zayed


"Kamu jangan macam-macam ya Zayed. Ibumu menitipkan calon menantunya pada bibi untuk bibi jaga."


Aku masih bingung, tapi refleks mataku langsung tertuju ke arah Zayed. Dengan senyum masamnya dia sadar sedang aku perhatikan dan kemudian dia juga menatap ke arahku. Tatapan kami saling beradu. Tak lama aku membuang pandangan ke arah Aryan dan aku bisa melihat dengan jelas ke arah tiga pasangan sedang saling menahan tawa.


"Kalian berhutang penjelasan padaku." ujarku dalam hati.


Mereka berenam masih menahan tawa sambil saling berbisik. Aku yang tidak tahu apa-apa bingung ada apa sebenarnya. Tapi sudahlah, nanti saja, akan ku tanyakan pada mereka. Berselang beberapa menit, aku merasakan panggilan alam karena aku barusan terlalu banyak minum air putih. Aku pamit sejenak untuk pergi ke toilet. Selesai buang air kecil aku keluar toilet setelah membersihkan kedua tanganku.


Betapa terkejutnya aku melihat Zayed berdiri di depan pintu. Tatapannya tajam memandang ke arahku. Aku yang mulai risih dengan keadaan tersebut berniat meninggalkanya. Aku melangkah mendorong mundur tubuhnya untuk memberiku jalan. siapa sangka Zayed justru menarik tanganku dan kemudian mendaratkan tubuhku di dinding tepat di sebalah pintu kamar mandi.


Aku menggerak-gerakan tubuhku agar dia melepaskanku. Alih-alih melepaskan cengkramannya di bahuku, justru cengkramannya semakin kuat lalu dia menghardikku.


"DIAM!"


aku langsung mematung. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku.


"Ini yang kamu mau kan? Ini rencanamu bukan? Kau memanfaatkan keluguan Ibuku, meminta Bibi Zoonira untuk merayu Ibuku agar aku menikahimu. Dengar baik-baik jangan berharap aku terjebak dalam permainanmu. Aku mau lihat sampai mana kemampuanmu melawanku." Ujar Zayed dengan berapi-api


"Anak ini sudah gila." batinku. Aku kembali meronta agar dia melepaskanku.


"Aku sudah hafal betul permainan jenis wanita seperti mu. Murahan. Menjebak pria kaya untuk mendapatkan hartanya. Tapi jangan harap kamu bisa menjebakku." ujarnya lagi yang kemudian menyulut emosiku. yang kemudian menghantarkan telapak tanganku mendarat sempurna di pipinya.


Sebuah tamparan ku hadiahkan pada Zayed untuk semua kata-katanya yang menyakitkanku. Aku sendiri tidak tahu sama sekali tentang pembahasan yang Ibu Zoonira katakan tadi.

__ADS_1


"Kamu tahu apa yang lebih tinggi dari ilmu? ADAB. Mungkin kamu kaya,pintar dan berilmu, tapi adabmu minus. Aku tidak tahu bibi Zamiara punya anak yang lidahnya tajam melebihi pisau. Lebih baik aku menjadi pengangguran seumur hidupku, dari pada aku harus menikah dengan pria seperti mu. Minggir."


Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh Zayed yang lebih besar dariku. Sungguh kata-katanya sangat melukaiku. Aku sendiri tidak tahu apa-apa dan harus jadi bahan pelampiasan amarahnya. Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang ke arahnya. Aku kembali bergabung dengan yang lain.


"Lani, kita udah sepakat tema pernikahannya garden's party.


"Aku setuju saja. Bed's party juga boleh." jawabku sembarangan karena hatiku sedang kesal.


"Bed's Party nya ntar kamu aja berdua sama yang ada di belakang kamu." timpal Zayan sembari matanya mengarah ke belakangku.


Aku tidak perlu membalikan badan untuk memastikan siapa yang di maksud oleh Zayan karena tidak lama berselang Zayed muncul dari balik punggungku dan kembali duduk di bangkunya.


"Dan Arshita udah mutusin sebagai bridesmaid dan best man nya itu, Zayan dengan Keisa, Rayyan dengan Reena, lalu kamu dan Zayed." ujar Keisa.


Mendengar nama itu perutku seketika mules rasanya. Kalau aku harus berpasangan dengan Zayed lebih baik aku tidak usah menghadiri pernikahan itu. Tapi mana mungkin, itu acara pernikahan kedua sahabatku.


Kepalaku mau pecah rasanya kalau harus memikirkan hal tersebut.


waktu terus beranjak, malam menjadi semakin larut. Kami menyudahi perkumpulan malam itu. Aku ingin cepat-cepat sampai di rumah rasanya. Aku ingin segera menyatu dengan kasurku. Tapi sebelum itu aku harus mengantar Zayed bedebah itu terlebih dahulu.


Sebelum pulang, Aryan menitipkan tas berisi dokumen-dokumen pekerjaan padaku. Karena mulai besok Aryan tidak akan masuk kerja karena harus fokus ke persiapan pernikahan yang sisa 1 bulan lagi. Makanya Aryan menitipkan dokumen-dokumen kerja tersebut padaku. Aku meraih tas dalam genggamannya.


Setelah itu kami berpamitan. Aku kembali mengantar Zayed ke hotel tempat dia menginap. Aku kira setelah mengantarnya masalahku untuk hari ini akan segera berakhir. Tapi aku salah besar. mimpi buruk baru akan terjadi.


Tadinya aku kira setelah mengantarnya dia akan membiatran aku pulang dan beristirahat dengan tenang. Tapi siapa sangka, dia memintaku ikut dengannya untuk membahas pekerjaan.


"Gak bisa besok kita bahas? ini sudah jam berapa?" protesku dengan nada judes.


"Zhang sungguh aku beruntung punya asisten sepertimu. Kamu benar-benar professional. Kamu tidak pernah menolak ketika aku mengajakmu membahas masalah pekerjaan meskipun itu menyita jam tidurmu." Zayed kembali melempar sindiran padaku. "Ayo Zhang kita turun, sepertinya aku mulai menyesal dengan kerja sama ini."


Bajingan itu seenaknya keluar mobil begitu saja. Meninggalkanku dengan pikiran berkecamuk sampai akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengannya. Kerja sama ini sangat berarti untuk Aryan. Aku tidak akan mengecewakannya. Akanku hadapi sepupu brengseknya itu.


Aku turun mobil dan langsung mengikuti langkahnya yang sudah beberapa meter lebih dulu di depanku. Kemudian aku memasuki lift bersamaan dengannya. Tiba di lantai 10 kami bertiga keluar lift. Berjalan menyusuri koridor hotel. Sampai di salah satu kamar berpintu coklat dengan nomor bertinta emas tertera 1010 di permukaan pintunya.


Zhang berhenti dan berpamitan padaku. setelah mengucapkan selamat malam zhang masuk ke kamarnya. sementara Zayed masih terus berjalan.


"Bukannya mau membahas dokumen pekerjaan ya, kenapa Zhang kembali ke kamar. Atau mau ada yang di ambil ya?" tanyaku dalam hati saat Zhang justru kembali ke kamar.


Aku mempercepat langkahku menyusul zayed takut tertinggal.

__ADS_1


sampai di depan pintu berangka 1020 akhirnya Zayed menghentikan langkahnya. Dia membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk. Dengan ragu aku melangkah masuk ke dalam kamar president suit yang luasnya tiga kali lipat dari luas kamar apartmentku. Aku masih berdiri mematung. Sedangkan mataku masih aktif menyusuri tiap sudut kamar.


Sedang asik melihat-lihat, tiba-tiba aku dikejutkan saat sepasang tangan merangkul pinggangku. Aku terlonjak. Spontan aku hempaskan tangan tersebut dari pinggangku. Aku berbalik. Aku lihat Zayed sudah menyeringai jahat.


"Kenapa kaget? ini yang kamu mau bukan?" Zayed dengan sorot matanya yang tajam perlahan melangkah maju mendekatiku. Sementara aku yang ketakutan, terus berjalan mundur menjauhinya.


"Mau apa kamu?" Bentakku.


Dia tersenyum sinis. "Aku sedang mengabulkan kemauanmu."


Zayed mulai melepas hoodienya dan melemparnya sembarangan. Aku semakin ketakutan melihat pemandangan ini. Tanpa pikir panjang aku segera lari melewatinya menuju pintu. Tapi niatku tidak berhasil aku lakukan. Zayed menarik pergelangan tanganku. Dia menyeretku, tak berapa lama dia melemparku ke atas tempat tidur.


"Apa sebenarnya....."


Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Tangan Zayed membekap mulutku dan kini dia sudah berada di atasku.


"Kamu mau uangkan. Tidak perlu merayu Ibuku agar kita di nikahkan. Setelah kamu melayaniku, aku akan beri berapa banyak uang yang kamu mau. Tapi setelah itu.... Enyah dari hidupku." Zayed membentakku.


Aku semakin ketakutan mendengar ucapannya barusan. Aku benar-benar tidak tahu apapun.


"Kamu tahu, untuk pertama kalinya Ibuku menamparku dan itu karna kamu. Benalu yang bertahun-tahun hinggap di rumah sepupuku dan sekarang mau menggerogotiku."


Perkataan Zayed barusan sungguh menyakitkan hatiku. Tanpa di sadari air mataku mengalir keluar begitu saja. Perasaanku sungguh campur aduk saat ini.


"Layani aku. Akanku beri imbalanmu." Zayed menjauhkan tangannya dari bibirku. Kemudian kerja dari tangannya yang sebelumnya kini di gantikan oleh bibirnya.


Ya bibir Zayed kini yang membekap bibirku.


Mataku terbelalak saat Zayed melakukannya. Aku masih meronta agar terlepas dari tindihan badan zayed. Belum selesai aksi ******* Zayed, kini tanganya yang berkeliaran di area dadaku. Aku semakin bergidik. Tiba-tiba saja aku mendapat ide. Saat dia sedang asik mencumbu bibirku, tanpa Zayed sadari aku menggigit bibirnya sekuat tenaga.


Dan hal itu berhasil menghentikan aksinya. Dia berdiri sambil memegang bibirnya yang sudah berdarah. Saat dia masih lengah aku kembali memberikan serangan. Satu bogem mentah mendarat di hidungnya. Dan lututku berhasil mendarat di perutnya. Saat dia sedang kesakitan, ku gunakan kesempatan itu untuk kabur meninggalkannya.


Aku cepat-cepat lari meninggalkan kamarnya. Aku tak lagi menggunakan lift. Aku turun tangga dari lantai sepuluh menggunakan tangga darurat. Aku berlari menuruni anak tangga tersebut. Sampai di lantai basement hotel aku segera keluar dari tangga darurat dan pintu keluarnya tepat berada di area parkir. Ku buka pintu mobilku dan aku duduk di bangku mobil sembari mengatur nafas sejenak.


Sial, aku baru ingat. Tas dokumen tertinggal di kamarnya. Tasku juga. Tapi untungnya hp dan kunci mobil aku letakan di saku celanaku.


tapi kunci apartemen ada di tas selempangku. Dompet dan semua kartu identitas serta kartu atm ada di sana.


Aku menyalakan mesin mobil dam segera kembali ke apartmen. Hari ini terpaksa aku tidur di mobil karena untuk mengurus kunci cadangan harus dengan resepsionis. resepsionis baru datang pagi nanti. Jam segini yang ada hanya security.

__ADS_1


"Kenapa hari ini aku sial sekali tuhan." teriakku dari dalam mobil.


__ADS_2