
Kami sampai di salah satu Avenue di kota London. Kami langsung menuju tempat dimana Arshita fitting baju untuk pernikahannya. Sementara jas untuk mempelai pria dan best men nya di tempah di tempat yang berbeda tapi tidak terlalu jauh jaraknya dari tempat yang kami tuju sekarang. jadi kami memutuskan ke tempat Arshita terlebih dahulu, setelahnya baru ke tempat fitting baju para pria. Semua sudah berkumpul. Hanya tinggal menunggu aku dan Aryan tiba saja.
"Akhirnya mempelai pria datang." Sambut Keisa saat melihat kehadiran Aryan dan Aku.
Aku dan Aryan bergantian menyapa seluruh anggota keluarga yang ada di sana. Kemudian aku duduk di dekat Keisa dan Zayyan. Sementara Aryan duduk di sebelah Ibunya.
"Kenapa lama sekali?" Protes Ibu Zoonira yang tak lain adalah Ibu kandung Aryan.
"Jangan salahkan aku salahkan asisten pribadiku itu." jawabnya sambil cengar-cengir menatapku.
"Kenapa jadi aku? Kamu yang lama memanggilku." protesku yang tidak terima di jadikan kambing hitam oleh Aryan.
Aryan hanya terkikih melihatku mendengus kesal. Ya seperti itulah hubunganku dan Aryan di luar pekerjaan kantor. Kami layaknya seorang sahabat. Aku menyayangi Aryan seperti kakak lelakiku. Begitu juga dengan yang lain. Mereka sudah seperti keluargaku. Aku yang memang tidak dekat dengan keluargaku merasa beruntung bisa menjadi bagian keluarga ini. Apalagi sejak Ibuku meninggal, Ibu Zoonira yang kini berperan sebagai Ibu untukku dan sudah seperti Ibu kandungku.
"Dimana calon istriku?" tanya Aryan sembari matanya berkeliaran mencari sosok calon istrinya.
"Dia masih di dalam. meeting dengan desainer untuk menentukan model gaun pengantinnya." Jawab Reena istri kakak tertua Aryan.
"Gaun kalian?" tanya aryan lagi.
"Kami sudah selesai, tinggal gaun untuk Lani." imbuh Reena lagi.
"Aku samakan saja dengan kalian." jawabku.
"Katakan nanti pada desainernya. jadi tinggal ukur badan saja." timpal Keisa.
"Ngomong-ngomong kalian jadi bekerja sama dengan perusahaan milik Zayed?" tanya Rayyan tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
"Jadi. Lani sudah aku minta buat seluruh dokumen presentasinya." jawab Aryan.
"Perusahaan zayed ini sulit untuk dimasuki, jika prospeknya dia rasa tidak terlalu baik untuk perusahaannya ataupun kedua belah pihak, meskipun itu perusahaan milik saudara sendiri kerja sama itu tidak akan pernah terjadi." Terang Rayyan. "Waktu itu perusahaan Ayasya juga dia tolak." lanjut Rayyan.
__ADS_1
mendengar nama Ayasya memoriku teringat sosok wanita arab yang badanya tinggi semampai, cantik dan elegan. Sepupu dari Aryan, anak tertua dari kakaknya Ibu Zoonira. Wanita yang terlihat cuek di luar tapi setelah dekat pribadi Ayasya sangat menyenangkan. sama seperti sepupu-sepupunya, keluarga Ayasya juga sangat baik.
"Apa Ayasya yang di maksud adalah Ayasya anaknya bibi Zamira?" tanyaku dengan intonasi yang pelan pada Keisa yang saat itu tepat berada di sebelahku.
Keisa mengangguk mantap. "Perusahaan adiknya kan yang akan kalian ajukan proposalnya minggu depan."
Kening ku berkerut. " Maksudmu dengan adiknya? si Fahd? bukannya dia masih SMA kalau aku tidak salah. Bagaimana bisa dia memiliki perusahaan?"
"Bukan Fahd. Ayasya punya adik satu lagi. Anak nomor 2.Namanya Zayed." sambung Keisa.
"Tapi waktu kita bertemu dengan mereka di paris tahun lalu aku hanya melihat Ayasya dan Fahd."
"Kata bibi Zamira, Zayed sedang menyelesaikan S2 nya di amerika. Bibi Zamira menceritakannya saat kami sedang bersantap siang. Waktu itu hanya ada aku, Arsh, Ibu dan Ayah. Kalau tidak salah saat itu kalian masih sibuk jalan-jalan keliling kota."
"Pantas saja aku tidak pernah tahu." ujarku sekenanya.
"Sekarang dia yang melanjutkan perusahaan ayahnya sejak ayahnya meninggal beberapa bulan lalu."
"Berarti yang kalian bilang kakak ipar laki-laki ibu yang meninggal itu adalah ayah Ayasya."
Keisa mengangguk mantap.
"Zayed tampan loh. dan masih belum punya pacar." celetuk Zayyan tiba-tiba sembari terkikih.
aku mencebikkan bibirku. "Terus? urusan denganku apa?"
"Siapa tahu kamu berminat jadi pacarnya. Lalu jika kalian menikah hubungan kita akan semakin dekat. Kita akan benar-benar menjadi keluarga." Rayyan pun turut menimpali dari kursi di seberang ku sambil ikut tertawa bersama Reena.
Ketiga kakak beradik itu kalau harus meledek dan menggodaku mereka paling senang. Apalagi aryan, dia suka sekali menjodoh-jodohkanku dengan para kliennya yang masih muda dan single. Dan setiap dia melakukan hal itu aku selalu akan berkata,
"Aku tidak akan menikah. Hidupku akan aku berikan untuk mengabdi di keluarga ini." ujarku dengan lantang.
__ADS_1
"Jangan lagi mulai bicara yang tidak-tidak Lani." protes Ibu Zoonira dengan suara yang tegas. "Mana boleh kamu begitu. kamu juga harus menikah. kamu juga berhak mendapatkan kebahagiaan kamu."
"Kebahagiaanku saat ini yaitu memiliki kalian bu. ini sangat sangat cukup. Aku tidak mau meminta lebih bu."
Perdebatan antara aku dan ibu Zoonira terhenti saat melihat Arshita melenggang keluar dari sebuah ruangan, berjalan menghampiri kami. Aryan bangun dari tempat duduknya dan menyambut calon istrinya itu. Aryan mengulurkan tangannya pada Arshita saat jarak keduanya sudah semakin dekat. Arshita menyambut hangat tangan Aryan sambil menghadiahkan senyuman manisnya pada Aryan.
"Sudah?" tanya Aryan dengan lembut sambil menuntun Arsh duduk di sofa beludru panjang berwarna peach di mana Aryan duduk sebelumnya.
Arshita hanya mengangguk menjawab pertanyaan Aryan. "Kenapa kamu lama sekali?" giliran Arshita yang mengajukan tanya pada aryan.
"Temanmu itu giat sekali mempersiapkan dokumen untuk meeting minggu depan dengan zayed, sampai dia lupa waktu."
Sebuah aksi fitnah kembali aryan lancarkan. aku malas sekali harus mendebatnya. Aku memilih bungkam sambil meliriknya tajam
"Mungkin setelah acara pernikahan kalian, selanjutnya kita akan mengadakan pesta pernikahan untuk Lani." siapa sangka Zayyan pun ikut menggodaku.
"Menikah? dengan siapa?" tanya Arshita bingung. "Kamu dekat dengan seseorang Lan? kenapa tidak cerita?" wajah Arshita terlihat masam. Mungkin dia mengira aku sungguh memiliki satu hubungan dengan lawan jenisku dan merahasiakannya darinya.
"Berapa lama kamu sudah mengenal calon suami mu dan saudara-saudaranya. Kenapa masih begitu mudah kamu mempercayai kata-kata mereka tentang para pria yang entah siapa saja yang mereka sebutkan."
Aryan dan keluarganya tertawa melihat wajahku dan Arshita yang sama-sama masam.
"Jika aku menyukai seseorang mana mungkin aku merahasiakannya darimu." ujarku lagi.
Kemudian seorang wanita berambut coklat sebahu dan berkacamata mendekati kami. Dia terlihat begitu anggun dengan setelan kemeja putih berlengan panjang. yang di masukan kedalam rok span berwarna biru navy yang panjangnya sebetis.
"Ada lagi anggota keluarga yang mau di ukur?" tanyanya dengan lembut.
"Saya." aku berdiri menghampirinya.
"Baik. mari ikut saya." dia berbalik badan menuju ruangan dimana tadi Arshita baru saja keluar.Aku mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Jangan lupa buat 2 gaun. Satu untuk gaun bridesmaid mu dan satu lagi simpan untuk bakal gaun pengantinmu." teriak Rayyan dari tempat duduknya.
ingin sekali aku melepas sepatuku dan ku lemparkan kepadanya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya aku memilih diam dan melanjutkan saja langkahku.