
"Lan, temui Zayed di lobby bawah. Aku akan menyusul sebentar lagi."
Aryan menyembulkan kepalanya dari pintu ruang kerjanya. Ulahnya itu membuyarkan konsentrasiku yang sedang mempelajari beberapa dokumen tawaran kerja sama dari beberapa perusahaan. Aku bangkit dari kursiku. Aku ambil proposal yang sudah aku siapkan untuk meeting hari ini. Aku merapikan sedikit meja kerjaku kemudian melenggang menuju lobby.
Di dalam lift aku kembali membaca proposal tersebut, dan kemudian mempelajari lagi perusahaan yang katanya milik sepupu Aryan ini tapi sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengannya. Suara bel dalam lift berbunyi dan menandakan aku sudah tiba di lantai tujuanku.
Aku melihat ada seorang lelaki yang tengah duduk di lobby. Posisinya membelakangiku. Dan di sebelahanya ada seorang lelaki yang kalau aku amati keduanya sedang terlibat perbincangan kecil.
"Selamat siang tuan Zayed." Sapaku dari belakang kursi mereka.
Keduanya segera bangkit dari tempat duduknya dan membalikan badan menghadapku. Betapa terkejutnya aku melihat lelaki di hadapanku. Sementara pria tersebut menunjukkan reaksi yang berbeda denganku. Dia berdiri mematung tanpa bersuara. Dia hanya menatapku dengan ekspresi datar. Aku tidak tahu sedang berpikir apa laki-laki di hadapanku ini mengenai aku. Ingatanku kembali dimana pertama kali kami bertemu. Aku teringat kejadian minggu lalu saat dia mengatai ku kampungan. Lantas aku langsung berdoa dalam hati. Berharap semoga pria di hadapanku ini bukan zayed, sepupu Aryan.
"Selamat siang nona." Pria berkacamata berwajah oriental di sebelahnya menyapaku dan memperkenalkan diri. "Perkenalkan nona, saya Zhang wei dan ini direktur saya Zayed Wahab."
"Mati aku." gumamku dalam hati.
Aku yang masih shock cuma bisa terdiam. aku bahkan tidak menyadari uluran tangan dari tuan zhang.
"Nona." Zhang memanggilku sekali lagi dan itu membuyarkan lamunanku. Aku salah tingkah. Segera aku jabat tangan Zhang sembari memperkenalkan diri. Kemudian aku mengulurkan tangan pada tuan Zayed.
Dia tidak menyambut uluran tanganku. Dia hanya melihat sekilas ke arah tanganku sembari berkata.
"Zhang, kamu tidak perlu repot-repot bersikap sopan pada orang yang tidak paham apa itu kata sopan." dengan enteng kalimat tersebut dia keluarkan dari mulutnya. Aku menahan emosiku. Aku tidak mungkin mendebatnya, Aryan bisa kehilangan kerja sama ini kalau aku melawan makhluk yang entah jenis makhluk apa ini.
Setelah dengan tenangnya dia mengataiku. sekarang dia ngeloyor pergi begitu saja. Aku berbalik memperhatikan kemana tujuannya. Ternyata dia pergi menghampiri Aryan yang baru saja tiba.
"Zayed." Aryan dengan sumringah menyapa sepupunya itu. Di rentangkan kedua tangannya dan di sambut hangat oleh tuan Zayed.
Aku dan zhang sama-sama mendekat ke arah atasan masing-masing. Kami memberi keduanya sedikit ruang untuk bisa bercengkrama. Tidak lama kemudian keduanya melepaskan pelukannya.
"Maaf aku tidak hadir waktu paman Hilal meninggal." sesal Aryan yang saat ayah Zayed meninggal kami sedang meeting di jepang. "Saat itu kami sedang di tengah-tengah meeting di Jepang dan keesokan harinya masih harus ada kunjungan pabrik. sekali lagi aku minta maaf."
"Sudahlah. Profesi kita sama. Aku bisa mengerti. Saat itu aku juga tidak sempat melihat jenazah ayahku. Aku tiba saat beliau sudah d kebumikan. Ya sudah mau bagaimana lagi, tidak baik membiarkan jenazah di kebumikan terlalu lama. Aku sudah mengikhlaskannya."
Hatiku tersentuh mendengar ceritanya. amarahku padanya seketika menghilang.
"Tapi kenapa kamu sampai tidak bisa pulang sama sekali saat itu? apa tidak bisa asisten mu menggantikan mu. Atau memang dia tidak kompeten?" Dia menoleh ke arahku sebentar kemudian kembali menghadap Aryan. Emosi yang sudah reda memuncak lagi.
Sementara aryan menahan tawanya sambil melirikku.
"Lani cukup kompeten. Dia sangat baik mengerjakan tugas-tugaanya. Hanya saja saat itu jenis kerja sama kami di bidang usaha yang baru. Pembuatan jam tangan yang sekaligus bisa untuk melakukan panggilan. Aku kan belum berpengalaman menjalankan bisnis itu. Apalagi sedang merintis untuk merk baru. Makanya aku juga perlu tau prospek dan keuntungannya. Sama seperti kita sekarang ini. Meski sepupu, bisnis ya bisnis. kita berdua perlu tau keuntungannya untuk perusahaan kita." ungkap Aryan. "Selain bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Lani juga baik dan dia masih single."
Kamu cari mati aryan. beraninya dia bicara sembarangan seperti itu. Oke aku single, terus apa perlunya hal itu di ketahui oleh sepupu kurang ajarnya itu.
__ADS_1
"Tidak heran dia single. laki-laki yang ingin bersamanya harus berpikir ulang berkali-kali."
Astaga, seburuk itukah aku. kurang ajar sekali mulutnya itu. batinku.
"Tambahkan pelajaran sopan santun untuknya Aryan. Mungkin setelah itu baru ada pria yang mau mendekatinya."
Aryan tekikik mendengar ucapan sepupunya.
"Sudahlah. ini sudah hampir jam makan siang. Bagaimana kalau kita pergi makan siang dulu, setelah itu baru kita meeting." tawar Aryan.
Si tuan mulut kurang ajar itu dengan cepat menerima tawaran Aryan. Kemudian aryan berjalan di sebelah nya sembari merangkul pundaknya. Sementara aku dan Zhang mengikuti dari belakang.
"Kamu mau makan apa?" terdengar aryan mengajukan tanya pada Zayed. "steak? fancy lunch?" Aryan menyebutkan beberapa pilihan.
"Aku bosan. Sejak tiba di London aku hanya makan steak dan Chinese food." ujar Zayed.
"Oh iya, ngomong-ngomong kapan kamu tiba di London?" tanya Aryan lagi.
"Kurang lebih seminggu yang lalu. Aku ada tawaran kerja sama dengan perusahaan finchtech. jadi menyelesaikan urusan dengan mereka dulu."
"Jadi kamu sudah seminggu di sini. Kenapa tidak mengabari?" protes Aryan saat dia tau Zayed sudah seminggu berada di London.
"Maaf. Aku benar-benar sibuk. Banyak sekali proposal yang harus aku pelajari. Termasuk proposal tawaran dari perusahaan mu ini. Bagaimanapun kita harus profesional. Saudara ya saudara. Bisnis ya bisnis." ujar Zayed tegas.
keduanya berhenti sesaat berjabat tangan kemudian melanjutkan lagkah keluar gedung menuju parkiran.
"Lalu sekarang kamu ingin makan apa?" tanya Aryan lagi saat tiba di depan mobilnya. Tapi yang mulia Zayed belum memutuskan mau makan apa.
Dasar. Manja sekali. Kenapa harus di perlakukan spesial seperti itu dia. Di tanya mau makan apa segala. Biasa juga klien kalau mau makan main bawa-bawa aja ke resto mana. Spesial sekali anak emas ini. Mentang-mentang sepupu gerutuku kesal dalam hati. Sebenarnya aku tidak pernah bermasalah klien mau di bawa makan kemana. Begitu juga dengannya. Masalahku padanya hanya karena dia sudah seenaknya mengata-ngatai ku di depan Aryan dan pria yang aku terka sebagai asistennya itu.
"Apa ibu mu masih sering memasak Kushari." tanya Zayed pada Aryan. Dia menyebutkan satu nama masakan yang asing di telingaku. Apa itu. Baru kali ini aku mendengar nama itu.
"Mungkin. Aku jarang makan di rumah. Tapi setiap aku di rumah, ibu tidak pernah menghidangkan masakan itu padaku." kata Aryan.
"Kalau begitu kabari bibi Zoonira. Aku mau ke rumah. Makan kushari buatannya." pinta Zayed.
"Baiklah. Kamu makan di rumah saja. Sekalian aku kenalkan pada calon istriku. Ayo naik ke mobil." Thomas dengan sigap membukakan pintu belakang mobil.
Saat aku ingin menarik tuas pintu mobil bagian depan. Aksiku tersebut urung karena Aryan memintaku duduk di belakang. Tentu saja permintaanya itu membuat moodku berantakan. Malas sekali aku harus duduk berdekatan dengan laki-laki berlidah setajam pisau itu.
Meskipun rasanya enggan tapi aku memaksakan diriku untuk menuruti permintaan Aryan. Zayed masuk terlebih dahulu dan di ikuti Aryan. Sementara dari arah yang bersebrangan aku bertukar posisi dengan Zhang. Kini dia yang menduduki bangku di sebelah supir dan sungguh sial aku harus bersebelahan dengan sepupu Aryan itu.
Sebelum mobil benar-benar meninggalkan halaman kantor. Aryan memintaku menghubungi orang rumah untuk memberi kabar Zayed akan datang dan meminta ibu memasak untuknya. Aku segera menghubungi ponsel Keisa. Tak lama setelah nada sambung terdengar panggilan pun terhubung.
__ADS_1
"Hai lan. Ada apa?" tanya Keisa dari ujung telepon.
"Aku, Aryan dan klien terhormatnya akan segera pulang. dia minta di masakan kasuari."
"Kasuari?" Keisa terdengar bingung. Dia mengulang kata yag baru saja aku ucapkan.
"Kushari Lan." Aryan membenarkan kata yang aku salah dalam penyebutannya.
Zayed mencebik. tersenyum mengejekku.
"Hh maaf Kei, maksudku Kushari. Dia meminta Kushari buatan ibu."
"Baiklah. Akan aku katakan pada ibu. Tapi ngomong-ngomong benarkan dia tampan. Bagaimana menurutmu?"
Kenapa anak ini harus membahasnya sekarang. "Kita bahas nanti. Sampai jumpa." aku langsung mematikan sambungan telepon. Bahasan ini bisa panjang kalau tidak cepat-cepat di akhiri.
Begitu sampai di halaman rumah dan mobil berhenti sempurna. Tiba-tiba saja Aryan meminta ku dan Zayed untuk turun. Hei, apa-apaan ini. Sebenarnya aku sudah biasa menghadapi sikap Aryan seperti ini yang sering meninggalkan ku berduaan dengan klien-klien yang masih muda di luar jam kerja. Biasanya aku tidak keberatan.
Saat Aryan melakukan hal itu. Aku biasanya hanya membawa klien-klien tersebut jalan, ngopi atau hanya sekedar keliling kota. Tapi dengan lelaki di sebelahku, melihatnya saja aku sudah enek mau muntah. apalagi harus berjalan bersama dengannya. Ya tuhan ini sungguh menyebalkan.
"Memangnya kamu mau kemana sih Aryan?" tanyaku dengan nada kesal.
"Aku harus kembali ke kantor sebentar, ada dokumen yang harus aku ambil. Zayed, aku bawa Zhang sebentar ya."
"Kenapa tidak nanti saja. Kita kan akan kembali ke kantor." ujar Zayed.
"tidak bisa. Ini penting. Sudah kalian turunlah." perintah Aryan lagi.
Aku masih bergeming. sampai Zayed menegurku.
"Apa kamu tidak dengar? butuh alat bantu telinga?"
Emosiku sudah di ubun-ubun. Aku menghembuskan nafas berusaha meredam amarahku. Aku buka pintu mobil dengan kasar. Aku segera keluar dari mobil dan di ikuti oleh Zayed. Tak berapa lama mobil melaju meninggalkan halaman rumah.
"Awas kamu Aryan. Aku tahu kamu tidak ke kantor. Ini akal-akalanmu saja." rutukku pada Aryan dalam hati.
Aku mempercepat langkahku. Aku naiki anak tangga yang menuju pintu masuk. Di dua anak tangga terakhir langkahku terhenti oleh panggilan Zayed.
"Tunggu."
Aku tidak menjawabnya. Aku berhenti dan berbalik badan menghadapnya. Dia melepaskan jasnya kemudian melemparkan kepadaku saat jarak kami sudah tidak terlalu jauh. Dan setelah dengan seenaknya dia melemparkan jas itu dengan entengnya dia berjalan mendahuluiku. Aku berlari kecil menyusulnya. Kemudian ku kepal jasnya dan ku lempar ke wajahnya. Dia terkejut dengan perbuatanku. Matanya sempat membulat tapi kemudian wajahnya kembali datar.
"Aku bekerja untuk Aryan. bukan untuk jadi pesuruhmu. Dan ini di luar jam kerja, aku tidak perlu menghormati orang yang tidak bisa menghormatiku."
__ADS_1
Setelah menyelesaikan kalimatku. Aku putar gagang pintu dan pintu terbuka. Dengan langkah tergesa-gesa aku pergi meninggalkan dia menuju kamar Arsh. Aku tidak bisa kalau harus terus-terusan di suguhi wajahnya itu. Bisa-bisa aku stroke karna tekanan darahku menjadi sangat tinggi. Aku meninggalkannya di belakangku tanpa ada niatanku untuk berbalik melihatnya lagi.