Not (So) Little Dream

Not (So) Little Dream
BAB 1


__ADS_3

"Iya aku sudah sampai ini. Sabar." Ujarku pada Arsh melalui telepon genggam. setelah sambungan terputus. aku mengembalikan ponsel ke dalam tas jinjing biru berlabel Michael Kors itu. Aku mempercepat langkahku untuk segera sampai ke tujuanku.


Arshita sudah menerorku dari setengah jam yang lalu. Padahal masih ada berkas yang harus aku selesaikan. Sedangkan Aryan, atasanku sedang pergi dengan Rayyan kakak tertuanya untuk menghadiri rapat pemegang saham. Aku sudah meninggalkan pesan pada Aryan untuk keluar sebentar menemui calon istrinya. Meskipun Aryan sudah menjadi teman dan sudah seperti keluargaku sendiri, Tapi di kantor aku tetaplah bawahannya. Ada prosedur kerja serta etika yang tetap harus aku jaga pada atasanku.


Jarakku semakin dekat dengan toko di mana Arsh, Keisa dan Reena berada. Tapi sangking terburu-burunya aku tidak memperhatikan orang-orang di sekitarku. Tanpa aku sadari dari salah satu toko yang di terpampang besar tulisan GUCCI di atas pintu masuknya itu, keluar seorang pria yang mengenakan setelan jas berwarna biru dengan kemeja putih di dalamnya.


Aku yang saat itu tidak siap dengan kedatangannya. Seketika menabrak tubuhnya. Pertahanan tubuhku hampir tumbang. Aku refleks menarik kemeja putihnya itu sebagai pertahanan tubuhku agar tidak terjatuh. Aku segera membenahi posisiku. Aku meminta maaf pada pemuda di hadapanku tersebut saat aku sadar apa yang telah aku perbuat. Yang mengakibatkan kemejanya lusuh karna cengkraman tanganku. Dan 2 buah kancing kemejanya pun copot.


"Tuan Maafkan aku. Sungguh Aku tidak sengaja." Ujarku dengan perasaan bersalah.


Dia tidak bersuara. Dia hanya menatap ke arahku dengan ekspresi wajah yang datar. Dia menarik nafas panjang dan kemudian berbalik hendak meninggalkanku.


"Kampungan."


Telingaku sempat menangkap kata itu keluar dari mulutnya. Emosiku mendadak meninggi mendengar ucapannya. Kurang ajar sekali dia berani mengataiku. Aku juga tidak sengaja menabraknya. Lagipula aku sudah minta maaf. Aku berniat mengejarnya untuk mempertanyakan maksud perkataannya tersebut. Tapi aku urungkan niatku saat samar ku dengar suara dering ponselku dari dalam tas. Aku menghela nafas. Aku tahu itu pasti telepon dari Arsh. Tanpa lagi memperdulikan pemuda tersebut aku melanjutkan langkahku untuk menemui ketiga temanku.


"Kenapa lama sekali. Kamu bilang tadi sudah sampai." Protes Keisa, temanku yang berkulit gelap eksotik. Wajahnya cemberut padaku, tapi masih tidak bisa menutupi aura manis di wajahnya. "Kami sudah hampir selesai dan kamu baru datang."


"Iya. Maaf. Tadi aku tidak sengaja menabrak orang saat dalam perjalanan kesini." Aku menjelaskan kenapa aku bisa terlambat menemui mereka.


"Jadi.....apa dia mati?" Tanya Arsh dengan wajah panik.


Aku tertawa mendengar pertanyaan Arshita. "Aku menabraknya bukan dengan mobil. Aku menabraknya dengan tubuhku." Jelasku.


"Dengan tubuhmu? Lalu terjadi adegan romantis tidak? Kalian saling bertatap dan berkenalan tidak?" kini giliran Keisa yang bertanya.

__ADS_1


"Kamu terlalu sering nonton drama. Berhenti berkhayal Keisa. Oh iya dimana Reina?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan serta saat aku tidak mendapati Reena bersama Keisa dan Arshita.


"Itu." Mata Keisa mengarah ke bagian tas. Terlihat seorang wanita berkulit putih dengan rambut hitam yang dia biarkan terurai. sedang fokus mengamati tas yang ada di tangannya.


"Ayo kita temui Reena." Ajak Arshita.


"Hei lama sama sekali." Ujar Reena begitu mengetahui jika aku sudah tiba.


"I was get little accident." jawabku singkat.


"Tapi kamu gak kenapa-kenapa kan?" Wajah khawatir Reena tidak bisa di sembunyikan.


"Aku tidak apa-apa."


"Syukurlah. Menurutmu yang mana lebih bagus?"


"Aku lebih suka yang sling shoulder. Aku tidak betah memegang tas lama-lama." Ujarku.


"Sudah hampir 20 menit dia hanya menyita waktunya untuk pilihan yang aku dan Arshita sudah berikan jawabannya. Dan jawaban kita bertiga sama." Imbuh Keisa.


Reena meletakan kedua tas yang ada di tangannya kembali ke tempat dimana dia mengambilnya.


"Kenapa kamu kembalikan?" Tanya Keisa.


Reena menghela nafas. "Sebenarnya aku tidak familiar dengan barang-barang branded seperti ini. Rayyan memintaku membelinya supaya paling tidak agar aku punya satu tas bermerk.

__ADS_1


" Kalau kamu tidak nyaman kenapa harus di paksakan?" Ujar Arshita.


"Aku tidak enak menolak Rayyan." Jawab Reena.


"Sudah begini saja. Kamu pilih. Beli salah satu. Nanti mau kamu pakai atau tidak yah terserah kamu. Kalau kamu memang tidak enak menolak permintaan suamimu." Aku memberikan pendapatku.


"Ya sudahlah." Reena meninggalkan kami untuk menemui penjaga toko dan menyelesaikan transaksi.


"Mau sekalian makan siang gak?" tanyaku pada Arshita dan Keisa.


"Iya. Aku juga lapar." jawab Keisa


"Setelah makan siang aku harus kembali ke kantor."


"Kenapa buru-buru sekali. Kami ingin ke London eye." protes Arshita padaku yang tidak bisa ikut ke London eye karena segera aku harus kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaanku.


"Arsh. Mau ke London eye lagi? Kamu udah berapa kali ke sana. Gak bosan?"


"Mana mungkin dia bosan. Setiap ke sana dia pasti teringat momen Aryan melamarnya." Celetuk Keisa.


Arshita tertawa. "Kamu ini sungguh memahami ku sekali Kei."


Aku dan Keisa beradu pandang dan saling melempar senyum melihat temanku yang sedang menjalani masa-masa bahagianya. Apalagi Aryan baru saja melamarnya. Momen romantis di mana Aryan melamarnya di puncak tertinggi saat berada di dalam gondola London eye. Berjauhan selama 4 tahun karena Arshita harus menyelesaikan pendidikannya. Setelah Arshita lulus, Aryan sepertinya tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Dia segera melamar Arshita. Aku pun turut bahagia melihat kebahagiaan keduanya.


"Sudah. Ayo kita cari tempat makan." Ajak Reena yang telah selesai dengan urusan tas nya.

__ADS_1


Kami berempat bergegas keluar toko mencari tempat makan. Perutku sudah meronta minta untuk segera diisi. Kami menyusuri jalanan menuju restoran di sekitaran downtown tempat di mana kami sering bersantap mengobati rasa lapar.


__ADS_2