
Selesai makan siang, kami kembali ke kantor untuk melanjutkan meeting dengan si tuan kurang ajar dan sialnya Aryan memintaku yang memimpin rapat. Aku berusaha sebaik mungkin untuk bisa mengesankan zayed agar bisa mendapatkan kerja sama dengan perusahaan miliknya. Aku habis di kuliti oleh Zayed. Berbagai macam pertanyaan dia ajukan. Bahkan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan kerja sama ini pun di tanyakannya.
Sementara Aryan hanya senyum-senyum dari kursinya melihat kekesalanku karena ulah sepupunya itu. Dia sama sekali tidak membantuku. Bahkan saat aku terjebak tidak bisa menjawab pertanyaan Zayed, Aryan masih dengan mode senyum di tempat. Hal tersebut mengakibatkan sebuah omongan tidak sedap harus kembali aku dengar dari mulut sepupu menyebalkannya itu. Setelah bertarung beberapa jam dengan si Zayed itu akhirnya meeting pun selesai.
"Prospek kerja sama ini menguntungkan. meskipun asisten mu itu tidak pandai menerangkan dan menjelaskan dari segi mana saja kita bisa mendapatkan keuntungan. Tapi aku bisa memahaminya. untung aku pintar." ujarnya santai.
Kesabaranku benar-benar sadang di uji. Ya tuhan, kenapa bibi Zamira yang baik itu harus punya anak seperti dia ini. Ayasya yang notabene juga cuek dan dingin tapi mulutnya tidak sejahanam pria ini. Aku mendumel dalam hati.
Aryan dan Zayed berdiri dari kursi masing-masing sambil berjabat tangan. setelah saling memberi selamat kami bersiap-siap keluar dari ruang rapat. Aryan jalan lebih dulu di depan dan aku mengikuti tepat di belakang Aryan. Aku tidak sadar kalau Zayed berada di belakangku sampai Zayed membisikkan sesuatu padaku di depan pintu saat hendak keluar ruangan.
"Yang tadi belum seberapa. Bersiaplah untuk siksaan yang lain. Ini bayaran untuk ke kurang ajaranmu padaku."
Aku berhenti dan menoleh ke arahnya. dia tersenyum sinis padaku. Kemudian dia berjalan melewatiku sembari tangannya mempermainkan rambutku dan diikuti oleh Zhang. Aku cuma bisa mengumpat di belakangnya. Sungguh menyebalkan sekali laki-laki ini.
Detelah berpisah di parkiran. Aryan kembali ke rumahnya dan tuan kurang ajar itu kembali ke penginapannya. Sementara aku langsung bergegas kembali ke apartemenku. Aku memarkirkan mobilku di basement setelahnya aku menaiki lift menuju lantai di mana kamarku berada.
Aku berdiri di depan pintu kamarku yang luasnya berukuran 25 meter persegi tersebut. Aku tempelkan cardlock milikku ke gagang pintu, setelah terdengar bunyi dan muncul lampu hijau berkedip di gagang pintu segera ku buka pintu dan aku masuk ke dalam kamar.
Apartment ini aku beli dari hasil jerih payahku. sudah cukup lama aku membeli apartemen ini, tapi baru beberapa bulan aku menempatinya karena aku merasa butuh sedikit privasi. Lagipula, aku tidak enak terus-terusan menumpang di kediaman mereka.
Aku menuju kamarku. Ku letakan semua barang-barangku di atas tempat tidur. Aku berbaring di sebelah tumpukan barangku. Ku pejamkan mata, mengistirahatkan tubuh dan pikiranku yang lelah. Dan kali ini batinku juga lelah menghadapi sepupu Aryan itu. Setelah bekerja begitu lama tidak pernah terlintas ingin meninggalkan pekerjaanku. Tapi sejak berhadapan dengan Zayed, aku seperti ingin berhenti kerja agar tidak lagi melihat wajahnya yang menyebalkan itu. Entahlah, apa aku bisa bertahan harus bekerja bersamanya.
Aku bangkit dari tempat tidurku. Aku menyalakan musik dari box mp3 player milikku. Tidak lama kemudian terdengar lagu miliknya MLTR berjudul take me to your heart di kamarku.
Aku mengambil ikat rambut di atas meja rias. aku menguncir tinggi rambut coklat bergelombangku. Aku melepaskan pakaian kerjaku dan meletakkannya di keranjang laundry. Kemudian aku mengenakan piyama mandiku. Aku duduk di meja rias, membersihkan wajahku dengan selembar tisu yang sudah ku beri toner pembersih wajah. Saat sedang mengerjakan ritual pembersihan wajah. Ponselku berdering dari dalam tas. Segera ku ambil telepon genggam berlogo apel tergigit itu dan ku terima panggilan dari Keisa tersebut.
__ADS_1
"hai Kei." sapaku.
"Ini aku bos mu." bukan suara Keisa yang menyapa tapi justru terdengar suara Aryan.
"Oh. ada apa?" tanyaku pada Aryan.
"Kita mau hangout malam ini. Jadi cepatlah datang."
"Kenapa tiba-tiba sekali?" tanyaku lagi.
"Ya tidak apa-apa. Sekaligus ada yang harus kita bahas. Beberapa hal tentang pernikahanku dan urusan kantor apa saja yang harus kamu handle."
"Ya sudah. aku mandi dulu."
"Oh iya Lan. Jangan lupa jemput Zayed dan Zhang di hotel tempat mereka menginap. kamu sudah tahukan tempatnya. Sampai jumpa nanti."
Belum sempat aku mengutarakan rasa keberatanku atas permintaan Aryan untuk menjemput sepupu bedebahnya itu. Sambungan telepon sudah terputus. Aku mengumpat sejadi-jadinya. Enggan sekali aku harus berurusan dengannya setiap hari.
Cukuplah aku tersiksa berinteraksi dengannya selama jam kerja. Jangan tambahkan penderitaanku di luar jam kerja. ujarku dalam hati.
Aku mengembalikan ponselku ke atas kasur. Tubuhku langsung lunglai. Semangat mandiku pun hilang sudah. Aku sungguh malas bertemu dengannya. Tapi untuk memutuskan untuk tidak datang ke pertemuan malam ini juga tidak mungkin. karena ada hal yang harus di bahas tentang pernikahan sahabat-sahabatku. Mau tidak mau aku harus menjemputnya. Meskipun hatiku berat untuk melakukannya.
Selesai mandi dan berpakaian rapi. Aku segera meninggalkan apartemenku. Setelah memastikan pintu terkunci. Aku menuju baseman tempat di mana mobilku terpakir. Ku nyalakan mesin mobil. Terdengar suara mobil menderu, setelahnya aku langsung tancap gas menuju hotel tempat Zayed menginap.
Aku melajukan kendaraanku dengan sangat lambat. Sepanjang perjalanan pikiranku bercabang. Aku memikirkan apa yang harus aku lakukan saat berada di dalam mobil bersama si lidah tajam itu.
__ADS_1
"Aarrggg" teriakku frustasi. "Kenapa aku harus bertemu makhluk setengah setan seperti dia itu." aku bermonolog pada diriku sendiri.
aku sengaja semakin memperlambat laju mobilku. Berharap saat aku tiba untuk menjemputnya, dia sudah tertidur. ataupun dia sudah enggan untuk ikut karena bosan menunggu terlalu lama.
"Kenapa harus aku yang menjemputnya. sudah menyebalkan. merepotkan pula." aku masih mengoceh sendirian di dalam mobil.
Dari kejauhan gedung tempat dimana Zayed dan zhang menginap sudah terlihat. Semakin dekat jarak dengan hotel, kadar mood baik dalam diriku pun semakin berkurang. Mobil masuk ke halaman hotel. klKu parkiran mobil di antara beberapa mobil pengunjung hotel yang berada di halaman parkir hotel tersebut.
Aku meraih ponselku. Aku segera menghubungi nomor Zayed yang ku simpan sebagai alien di kontak dalam ponselku.
"Halo. Aku sudah di halaman parkir hotel mu." ujarku.
Tanpa berkata sepatah kata pun dia langsung menyudahi sambungan telepon. Setelah menunggu beberapa menit, aku melihat dia dan Zhang keluar dari hotel. Dia mengenakan setelan celana jogger biru navy bertuliskan Nike pada bagian pahanya. Serta atasan hoodie oversize berwarna putih dengan logo Nike berwarna hitam di bagian tengah dada. Sementara zhang menggunakan setelan celana jogger hitam polos dan hoodie berwarna senada bertuliskan Adidas di bagian tengah dada. Sungguh, jika mulut Zayed tidak semenyebalkan itu dia aka terlihat sangat tampan. Tapi ketampanannya sirna jika dia sudah berbicara.
Dia langsung membuka pintu penumpang bagian depan. Masuk ke dalam mobil dan mendaratkan bokongnya dengan nyaman. Lalu dia menutup pintu mobil. Diikuti oleh Zhang di belakang.
Belum satu menit dia di dalam mobil. makhluk yang mungkin titisan siluman ini sudah berulah.
"Zhang, syukurlah yang menjadi asistenku itu kamu. Kamu selalu bisa di andalkan. sigap, cepat tanggap dan pintar. Kalau saja asistenku seperti asisten sepupuku. Mungkin aku sudah mati darah tinggi menghadapinya. Selain tidak sopan, lambat dan sepertinya juga isi otaknya kosong." tanpa beban beraninya dia menyindirku seperti itu.
Aku menoleh ke arahnya. "Kamu mengataiku?"
Tanpa merubah pandangannya yang masih lurus menatap ke arah depan kembali kalimatnya membuat tensi darahku meninggi.
"Zhang, aku tidak bohongkan. Isi otaknya memang tidak ada. Dia masih saja bertanya." wajah tengilnya dengan ekspresi datar itu ingin sekali rasanya ku siram dengan asam sulfat.
__ADS_1
Aku mengatur nafasku. tanpa berlama-lama lagi ku injak pedal gasku sedalam yang aku bisa agar segera sampai ke kediaman duppont. Menjijikan sekali harus Berlama-lama dengan monster yang ada di sebelahku saat ini.