
"Lani ke ruangan saya sekarang" suara dari seberang telepon membuat Lani buru-buru meninggalkan pekerjaan yang sedang berusaha dia selesaikan.
Lani bergegas meninggalkan meja kerjanya masuk ke ruangan sang atasan demi memenuhi panggilan dari atasannya tersebut. setelah menutup kembali pintu ruang Lani duduk di kursi di depan meja kerja atasannya.
"Ada apa tuan?" tanya Lani segera
"Berkas-berkas untuk rapat minggu depan sudah selesai?" Tanya Aryan padaku.
"Untuk Dubai Corporation?" meyakinkan berkas mana yang Aryan maksud.
"Iya, untuk Dubai Corporation."
"Semua sudah selesai tuan." jawabku singkat.
"Trus sekarang apa pekerjaanmu?" Aryan kembali bertanya.
"Saya sedang cek laporan keuangan bulan lalu yang tuan minta di pastikan kembali bahwa tidak ada kesalahan."
"Jadi apa sudah selesai?"
"Belum tuan. Sedikit lagi." jawabku.
"Kalau begitu, lanjutkan nanti saja. Sekarang kamu ikut saya." Aryan memberi perintah.
"Baik tuan." Aku kembali ke mejaku membereskan pekerjaanku. menyimpan data pekerjaan yang aku kerjakan. kemudian mematikan komputer.
__ADS_1
Tidak berapa lama Aryan keluar dari ruang kerjanya. Dia berjalan melewati meja kerjaku. Aku meraih tas tanganku dan mengikutinya dari belakang. Kami menuju ke halaman di mana mobil mercy Aryan di parkirkan. Supir yang dari kejauhan melihat Aryan datang sudah bersiaga membukakan pintu.
"Terima Kasih Thomas." Ujar Aryan pada pemuda yang menjadi supirnya itu.
Anak muda yang baru berusia 23 tahun tersebut di jadikan Aryan supir pribadinya sejak Aryan kembali ke London untuk mengurus perusahaannya di sini. Pria bernama Thomas yang merupakan penduduk asli London itu secara tidak sengaja bertemu dengan Aryan. Waktu itu Aryan memiliki janji dengan Arsh untuk bertemu di salah satu kawasan di taman kota. Aryan yang baru membeli sebuket bunga untuk Arshita lari terburu-buru di pinggiran jalan London. Aryan tergopoh-gopoh. Sebelah tangannya membawa buket bunga, sebelah tangannya sedang memegang dompet yang berusaha dia masukan ke dalam saku jasnya setelah selesai membeli buket bunga. Sangking repotnya Aryan tidak sadar bahwa dompet yang dia masukan ke dalam saku tidak benar-benar masuk. Dompet itu terjatuh. tapi Aryan tidak menyadarinya. Dia terus berlari. Sampai beberapa menit berlari, Aryan di kejar oleh seorang pemuda kaukasian bermata biru berambut coklat terang. Pemuda itu tak lain adalah Thomas. Dia mengejar Aryan sambil berteriak.
"Tuan. Dompet anda." Teriak Thomas sambil terus berlari mencoba menyusul Aryan. "Tuan dompet anda."
Beberapa kali teriakan, Aryan masih menghiraukannya. Tapi Thomas tidak menyerah. Sampai akhirnya Aryan terusik dengan teriakan Thomas. Dia refleks memegang saku jasnya. Tempat dimana dia merasa menaruh dompetnya. Tapi saat dia meraba saku jas nya, dia tidak mendapati dompetnya. Seketika Aryan menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan melihat Thomas berlari ke arahnya sambil mengacungkan dompetnya.
Jarak keduanya semakin dekat. dan tak lama pemuda itu sudah berada di hadapan Aryan. Aryan sepintas memperhatikan penampilan pemuda tersebut. Dia terlihat lusuh dan tak terawat. Pipinya ada noda kotoran. Tercium aroma yang kurang sedap dari pemuda itu. Tapi santunnya Aryan, dia tidak memperlihatkan ekspresi jijik atau tidak suka. Pemuda itu tiba-tiba mundur beberapa langkah.
"Maaf tuan kalau bau tubuhku mengganggu. Aku cuma mau mengembalikan ini." pemuda itu menyerahkan dompet Aryan.
"Terima Kasih. Siapa namamu?" Aryan dengan santai mengambil dompetnya dan mengajak Thomas ngobrol.
Thomas masih mematung tak bersuara. Aryan meraih saku celananya dan mengambil ponselnya. Dia mencoba menghubungi calon istrinya yang saat ini sedang menunggunya.
"Sayang. Aku mungkin terlambat agak lama. Aku barusan bertemu dengan teman lamaku. Kamu pesan saja makan duluan. Atau kalau mau menunggu kita makan bersama, setidaknya ganjal perutmu dengan roti agar tidak terlalu lapar. Maafkan aku ya sayang karena terlambat." Aryan mengabarkan pada Arshita melalui telepon bahwa dia datang agak terlambat.
"Ya sudah sayang tidak apa-apa." Balas Arshita kemudian sambungan telepon terputus.
Kembali pada Thomas yang belum bergerak dan belum menjawab pertanyaan Aryan.
"Siapa namamu?" Aryan mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"T-thomas tuan." jawab Thomas terbata-bata.
Aryan membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang kertas dan menyerahkannya pada Thomas.
"Ambillah. Terima kasih sudah mengembalikan dompetku." Ujar Aryan.
"Tidak tuan. Aku hanya mengembalikan hak milik anda." Jawabnya seraya menolak halus pemberian Aryan.
"Anggap saja ini ucapan terima kasih dariku." Aryan masih memaksa memberikan sejumlah uang pada Thomas.
Thomas mendorong pelan tangan Aryan. "Tuan, kalau tuan menganggapku naif atau sok suci terserah tuan. Aku bukan tidak menghargai pemberian tuan. yang aku lakukan bukan hal yang besar. Aku hanya mengembalikan hak anda tuan."
Hati Aryan tersentuh mendengar ucapan Thomas. Aryan selalu menghargai orang-orang jujur yang dia temui.Aryan menganggap satu orang jujur lebih berharga dari seribu teman tapi suka berpura-pura.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau mengambil uang ini untukmu. Berikan pada keluarga mu." Aryan masih memaksa Thomas untuk menerima uang pemberiannya.
"Aku tidak punya siapa-siapa tuan. Aku hidup sendirian di jalanan."
Hati Aryan semakin tersentuh mendengar penuturan dari Thomas bahwa dia sebatang kara. Hal itu membuat Aryan mengingat Arshita. Aryan melihat Arshita di sosok Thomas dengan jenis kelamin dan asal yang berbeda, tetapi punya latar belakang kisah hidup yang hampir sama.
"Ketimbang tuan memberi saya uang, lebih baik tuan memberi saya pekerjaan. saya bersedia tuan bekerja apapun." Thomas memberanikan diri mengutarakan keinginannya pada Aryan.
Aryan berpikir keras apa pekerjaan yang bisa di berikan pada Thomas. Sampai akhirnya Aryan memutuskan untuk menjadikan Thomas supir pribadinya meski sebenarnya Aryan tidak terlalu membutuhkannya. Aryan dan ketiga saudaranya terbiasa melakukan perjalanan dengan mengendarai mobil sendirian tanpa bantuan supir. Dimanapun mereka menetap, belum ada yang pernah menggunakan jasa seorang supir untuk mengemudikan kendaraan roda empat mereka. Untuk pertama kalinya Aryan memutuskan untuk menggunakan supir di dorong rasa empatinya pada Thomas. Selain itu Thomas penduduk lokal yang akan lebih tahu kawasan sekitar. Meski Aryan sudah memahami seluk jalanan London tapi ada beberapa kawasan yang Aryan masih membutuhkan bantuan google map untuk bisa ke sana.
Jadilah Aryan meminta Thomas menemuinya esok hari di kantor. Aryan meninggalkan alamat kantor pada Thomas. Keesokan harinya Thomas dengan semangat menemui Aryan. Aryan memberikan tanggung jawab pada Thomas untuk mengantarkan Aryan kemanapun yang Aryan mau tuju. Sayangnya Thomas tidak bisa mengendarai mobil. Tapi bukan Aryan namanya kalau dia menyerah. Dia mengajarkan Thomas sama seperti dia mengajarkanku. Dia membuat kami merasakan proses perkembangan diri. Sampai seperti sekarang ini. Sampai sudah 7 tahun aku mengabdi padanya. Sementara Thomas yang sudah 1 tahun lebih ikut dengan Aryan.
__ADS_1