
Gara langsung menggendong tubuh Zia ke dalam kamar dan merebahkannya secara perlahan di atas ranjang diikuti oleh Juna dan Nesya. Sementara Yurdha dan Denim pergi mencari obat maagh ke apotek terdekat. Gara tidak bisa menyembunyikan kepanikannya melihat Zia yang terus merintih merasakan sakit di bagian perutnya yang kata iklan di televisi itu cekit cekit cekit cekit kayak di tusuk-tusuk jarum.
“Releks sayang… Kakinya di lurusin, biar perutnya gak tegang.” Perintah Gara. Zia hanya mengangguk dan menuruti perintah Gara. Gara pun tidak segan mengusap keringat dingin pada wajah cantik Zia.
Ingin rasanya Zia protes pada Gara dan mengungkapkan rasa kesalnya pada Gara karena Gara berani memuji wanita lain di hadapannya, namun rasa sakit yang Zia rasakan membuat Zia tidak mampu untuk marah pada Gara. Apalagi sikap lembut Gara ini, benar-benar membuat Zia meleleh.
“Jun, tolong carikan minyak kayu putih di kotak obat. Sepertinya aku tadi lihat kotak obat di lemari dekat televisi.” Juna pun mengangguk dan menjalankan perintah Gara.
“Nes, minta tolong buatin Zia minuman hangat ya.” Tanpa membantah, Nesya pun langsung membuatkan minuman untuk sahabat perempuan satu-satunya itu.
“Masih sakit?” Tanya Gara yang sangat merasa bersalah.
“Banget!” jawab Zia lirih sambil meringis.
"Sayang, please jangan berpikir macam-macam, jangan termakan omongan Juna dan Denim. Kamu tahu kan bagaimana akhlak buruk sahabat kita itu... kalau aku gak mengiyakan ucapannya, pasti mereka akan terus memojokkan aku dan membuat kamu cemburu, aku cintanya sama kamu... dan aku udah buktiin itu dari dulu hingga detik ini. Jangan salah sangka ya..." Jelas Gara dan Zia mengangguk sambil mencoba tersenyum tipis.
Zia tau Gara sungguh-sungguh dalam ucapannya tapi tidak bisa Zia pungkiri jika dia cemburu karena omongan Denim dan Juna itu. Zia wanita normal yang memiliki rasa cemburu yang teramat besar. Namun sejauh ini, Zia mampu mengendalikannya dengan sangat baik.
“Maaf ya… Aku….” Gara yang mengusap lembut rambut Zia dan ingin berbicara penting sama Zia mendadak menghentikan ucapannya karena melihat Juna sudah kembali ke kamar dengan membawa minyak kayu putih.
Tidak masalah, yang penting Zia tidak salah paham perihal Sabrina.
Gara yang hendak menuang minyak kayu putih ke telapak tangannya yang kemudian akan diusapkan ke perut Zia, langsung di tahan oleh Zia.
“Aku bisa sendiri yangg..” Ucap Zia menolak bantuan dari Gara. Mendengar penolakan Zia, Juna pun tersenyum.
“Belum SAH Ga, gak boleh menyentuh yang belum menjadi hak elu.” Sindir Juna dengan kalimat yang sering Gara ucapkan. Zia pun mengusap perutnya dengan minyak putih di balik baju yang masih melekat sempurna di tubuh Zia.
Zia sedikit rileks mencium aroma minyak kayu putih.
“Nih Zi, minum dulu biar perut elu enakan.” Kata Nesya yang baru saja memasuki kamar.
Dengan di bantu Gara, Zia pun duduk di ranjang dan meminum teh hangat buatan Nesya.
__ADS_1
“Makasih Nes.” Ungkap Zia lirih setelah kembali berbaring kembali sambil meringis merasakan perih di perutnya. Zia rasanya ingin menangis, dibuat gerak saja perutnya terasa sangat sakit.
“Udah sekarang elu istirahat aja. Biar cepat enakan dan nanti sore kita bisa langsung main ke Pantai.” Kata Nesya yang tidak ingin rencana liburannya tidak berjalan sesuai rencana apalagi acara kejutan untuk Zia yang menjadi alasan utama liburan ini terjadi.
“Maaf sudah merepotkan kalian semua.”
“Nggak ada yang merasa direpotkan sayang!” Ucap Gara lembut.
“Iya Zi, sebagai sahabat udah tugas kita saling membantu dan menjaga. Elu istirahat dulu aja sambil menunggu Yurdha dan Denim datang bawain obat buat elu, jangan banyak gerak.” Sambung Juna. Zia mengangguk dan tersenyum mendengar Juna berkata bijak layaknya orang waras.
“Kalau begitu, kalian berdua keluar dari sini biar Zia istirahat.” Perintah Gara.
“Terus elu?” Tanya Juna mengernyit menatap Gara penuh selidik.
“Gue tetap di sini jagain Zia lah.”
“Elu berdua di kamar sama Zia mau ngapain Ga? Mau minta DP ya? Kan kalau cuma berdua, yang ketiga setan.” Goda Juna yang merupakan manusia aliran sesat.
“Otak elu sepertinya perlu di ruqyah!” Kata Gara kesal membuat Juna tertawa terbahak-bahak. Bisa-bisanya Juna masih berusaha terus menggoda dirinya saat Zia sedang kesakitan.
“Emangnya elu yang suka ambil kesempatan dalam kesempitan! Ayo keluar!” Nesya langsung menarik tangan Juna dengan kasar agar Juna keluar dari kamar yang ditempati Zia bersama dengan Nesya nanti malam.
“Sabar Nes, gue bisa jalan sendiri!” teriak Juna.
“Ga, gue tutup pintunya ya, biar kalian tenang mainnya di kamar!” Ucap Juna sebelum menutup pintu kamar. Gara hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan sahabatnya itu.
Setelah dua sahabatnya itu menghilang dari balik pintu yang kini sudah tertutup dengan rapat, Gara kembali menatap Zia dengan tatapan intens namun meneduhkan. Mendapatkan tatapan yang seperti itu, membuat Zia mendadak gugup. Rencananya untuk menghindari Gara hari ini terpaksa gagal karena perutnya yang gak bisa diajak kerjasama.
“Aduh, gue harus bagaimana? Mana perut masih sakit banget lagi.., eh ditambah malu gara-gara kejadian tadi pagi.” Batin Ziva yang memilih langsung memejamkan matanya agar tidak melihat wajah tampan Gara yang selalu di puja kaum hawa.
“Masih sakit banget ya yangg?” Tanya Gara melihat Zia yang terlihat sangat jelas sedang menahan sakit. Zia pun mengangguk lemah.
“Perih banget yangg, benar-benar kayak di tusuk-tusuk sampai ke ulu hati rasanya!” Jawab Zia masih dengan mata yang terpejam agar tidak gugup.
__ADS_1
“Sabar ya, semoga Yurdha dan Denim segera balik dan bawa obat buat kamu…” Gara mengusap pucuk kepala Zia dengan penuh cinta dan sayang.
Otak Gara mendadak berpikir bagaimana caranya agar Zia tidak menghindarinya lagi atau bersikap canggung lagi. Sebab Gara tahu saat ini Zia sedang gugup saat berdua dengannya, apa harus pula-pula amnesia dengan kejadian pagi tadi? Coba aja ah,
“Zi, kenapa semenjak dari rumah hingga sampai sini kamu seolah menghindari aku dan menjaga jarak sama aku?” Tanya Gara yang mencoba pura-pura amnesia.
“Nggak. Perasaan kamu saja!” Ucap Zia membuang wajahnya ke samping yang berlawanan dengan posisi Gara saat ini.
“Gara Segara, kamu itu bukan tipe lelaki yang gak peka! Jelas jelas kamu tadi pagi melihat penampilanku yang tanpa bra, dan pelukan aku yang tidak seperti biasanya? Masa kamu gak merasakan sih? Gak mungkin kamu gak merasakannya, terus kenapa kamu sekarang tanyanya begitu? Aku bingung harus jawab gimana Gara?” Batin Zia.
“Kalau aku salah, aku minta maaf Zi… tapi please, jangan menghindari aku dan mendiamkan aku lagi ya?” Pinta Gara dengan tulus.
“Bukannya kamu yang justru bersikap dingin sama aku dan mendiamkan aku?” Zia berbalik tanya pada Gara membuat Gara membisu. Zia langsung bisa membalikkan posisi dengan cepat.
“A.. aku?” Gara langsung nampak salah tingkah.
“Kenapa kamu mendiamkan aku dari tadi dan gak ada inisiatif lebih dulu buat ngajak bicara sama aku. Bahkan kamu lupa buat ngajak aku sarapan.” Protes Zia yang sudah berani menatap Gara namun masih sambil meringis merasakan sakit perut.
“Kan kamu gak minta sarapan?”
“Bagaimana aku minta sarapan kalau kamu diemin aku dan enggan buat lihat ke aku? Apa jangan-jangan kamu udah gak cinta sama aku?” Tanya Zia asal yang ingin memojokkan kekasihnya. Padahal Zia masih bisa merasakan seberapa besar cinta Gara terhadapnya.
“Kok malah jadi begini sih? Apa mungkin lebih baik dibicarakan saja masalah pagi tadi biar tidak ada rasa canggung antara aku sama Zia?” Batin Gara.
“Aku diam karena aku gugup dan bingung Zi, bukan karena aku udah gak cinta sama kamu. Bukan!” Jawab Gara.
“Alasan! Pasti karena si Sabrina itu kan, jadi cinta kamu berkurang buat aku?” Zia berkata tanpa berpikir panjang mengingat Gara mengatakan bahwa Sabrina cantik.
“Astaga Zia… ini itu gak ada sangkut pautnya sama Sabrina. Coba deh kamu jadi aku, bagaimana bisa aku gak gugup setelah melihat dada kamu yang tercetak jelas di balik baju tidur kamu itu? Belum lagi kamu saat peluk aku, aku dapat merasakannya untuk pertama kali hanya dengan penghalang tipis Zi, aku lelaki normal Zi. Aku diam karena aku mencoba mengembalikan kewarasan aku Zi.” Jelas Gara dengan jujur dan panjang lebar yang justru membuat Zia melotot dengan wajah memerah karena malu.
Demi apapun, ini benar-benar di luar benak Zia dimana Gara akan berbicara se vulgar itu mengingat Gara tidak pernah berkata mesum. Tidak seperti Juna dan Denim, karena Gara satu frekuensi dengan Yurdha, tipe-tipe cowok kalem, penyayang, polos dan perhatian.
“Sayang, aku bener-bener mati-matian menahan diri aku buat gak penasaran sama….”
__ADS_1
“Gara Stop! Aku malu!” Teriak Zia yang langsung menutup wajah cantiknya dengan menggunakan kedua telapak tangannya.
To be continued